Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab 22


__ADS_3

Setelah kejadian ditempo lalu yang terkena taik cicak membuat ku malu saat berpapasan dengan Farel, apa lagi dengan Devan berdecak melihat ku.


Nita, sampai ketawa terbahak setelah mengetahui nya dari farel yang ditanya.


"Pak Devan ini minumnya… dijamin enak dan manis seperti saya" ujar Nita dengan senyuman manisnya, berjalan dengan sok anggunnya.


" Kasihan aku melihatnya…sudah berapa cara Nita.. menggunakan idenya untuk menarik perhatian Devan, tenyata zonk tidak berhasil…cek…cek," gelengku melihat pertunjukan gratis siapa lagi kalau bukan tingkah Nita, aku terus melihat nya dari balik kaca.


" Mau.. saya pijitin pak," tawarnya tanpa dihiraukan oleh sang empedu.


" Biar badan nya lebih enak da…" belum juga selesai bicaranya…


" Tetap ditempat mu..! Jangan pernah melangkah sedikit pun kearah saya…!!" Tegasnya tanpa melihat kearah Nita, masih sibuk dengan kertas nya.


" Saya tidak sudi disentuh…. termasuk istri sekalipun…!" Tegasnya lagi membuat Nita bungkam sekaligus dengan ku.


" Apa lagi menyentuh kulit pegang bajunya saja aku tidak pernah…" ternyata lebih miris aku sebagai istri nya, gumanku.


Nita rela berdiri ditempat saat Devan menyuruh nya jangan melangkah kaki kearahnya.


Sesekali aku mengejek kearah nya, menjulur lidah. Heh ! Dia pikir Devan akan menyuruhnya duduk apa.


Seperti gak tau sikap Devan saja…gimana wataknya. Rasa kepedulian sama wanita itu tidak ada apa lagi dengan orang asing seperti nya, ya…termasuk aku juga yang bomatlah.


Karena rasa pegel nya membuat Nita duduk sesaat.


" Dev eh Pak mau kemana…?" Lihat Nita, Devan susah mau keluar.


" Maaf Nita, kami mau meeting dulu ," jawab Farel.


Walau pun Devan sekilas melihat kearah ku, dengan ku yang masih fokus pada Nita. " Dasar istri aneh…" umpat Devan padaku, karena mengabaikan nya tadi.


" Semangat pak Devan meeting nya !" Teriak Nita.


"Sebaiknya kamu jangan bikin masalah atau gara-gara ulah mu bisa bikin para karyawan pikir yang tidak-tidak tentang mu dan pak Devan…" jelas farel menyusul Devan.


" Itu lebih bagus…" senangnya.


Nita tidak menghiraukan ucapan farel, malah itu yang dia inginkan.


" Pekerjaan Nita, yang tidak masuk akal saja sudah menjadi bahan cerita apa lagi dengan tadi memberikan semangat pada Devan pasti jadi hoex lagi," ujarku dalam hati.


Kulihat karyawan yang mulai menggosip dengan pelan. " Hei kalian…jangan menggosip kerja yang benar sebelum pak Devan mengetahui nya. Bisa-bisanya dipecat menyebar berita hoex," peringatku pada membuat mereka yang ketakutan dan mencebik.

__ADS_1


" Bilang aja cemburu..!" Ketus Nita, malah menyebarkan berita hoexnya lagi.


" Terserah lah…yang penting aku sudah memperingatkan, apa lagi sampai Aurel mengetahui semua ini pasti jadi perang…" geretu dalam hati.


Tadi aku ada ditawarin oleh Farel untuk ikut meeting tapi, karena tadi pagi mama ingin ngajak aku makan siang bersama nya, makanya tidak mengikuti Farel di meeting.


Hem pasti ada hal penting yang ingin mama, sampaikan pada ku.


" Kenapa kamu tenang saja sih..! Saat suami kamu sudah tunangan dengan cewek lain dengan aku yang ikutan menggoda nya..hem.., aku jadi penasaran gimana sikap Aurel…" pikir nya.


" Itu bukan urusan mu aku cemburu atau tidak… kalau Aurel tahu kamu godain Devan, hem.. habis lah kamu…" takutiku pada Nita kelihatan biasa saja ekspresi nya.


Baru mau angkat bicara tiba-tiba, seorang karyawan datang kesini.


" Mbak Janna, ditungguin sama… nyonya Monika dibawah…." Ujar karyawan itu.


" Oh baik mbak, makasih…saya akan kesana sekarang juga…" ucapku, yang membuat Nita mencebik.


" Ganggu saja..!" Ketusnya masuk ke ruangan Devan.


Baru saja aku mau mengucapkan hati-hati pada Nita, dari kejauhan sana aku melihat Aurel datang ke sini dengan muka merah padam.


Membuat ku memanggil nya.


" Ada apa sih…!" Keselnya menghampiri ku.


" Aurel sudah datang kesini aku lihat tadi sana belum jauh…sebaiknya kamu sembunyi karena temp…"


" Berisik tahu…aku gak takut," potong nya membuat ku kesal.


Niat hati ingin tolong malah tidak dihargai, membuat ku langsung pergi meninggalkan nya sendiri, saat Aurel semakin mendekat membuat ku refleks bersembunyi sesaat di bawah meja orang lain.


" Mudah-mudahan dia tidak melihat ku…" gumanku sedikit cemas.


Bukannya aku takut dengan nya…bukan. Karena aku tidak ingin dipermalukan seperti di pesta malam itu. Karena tidak ada yang peduli dengan ku saat dipermalukan di muka umum, malah aku yang dituduh salahkan.


Oleh sebab itu aku tidak ingin ikut campur, bisa-bisanya aku diikut libatkan. Apa lagi dengan sikap Nita yang tidak menyukai ku, malah langsung menyudutkan ku nanti nya.


" Karena aku tidak ingin mendaftar musuh lagi didalam buku ku cek…cek… bisa-bisanya Devan malah ketawa senang." gumanku.


" Belum setahun kerja sudah banyak dapat musuh…" takut diejek Devan begitu.. dalam kepalaku.


" Tidak…tidak mau," segahku dalam hati.

__ADS_1


Aurel sempat melihat kearah mejaku lalu netranya menuju keruang Devan yang terbuka. Aku langsung pergi meninggalkan mereka apa yang akan terjadi nanti…yang jelas bukan urusan ku.


Bukannya Nita yang suka tantang orang menjadi musuhnya, jadi.. tinggal nikmati saja musuh didepan matanya, tawaku dalam hati.


Setelah aku sampai aku melihat Mama ada dimana, tiba-tiba….


" Sini kamu…lama amat dari tadi saya tunggu…" ujarnya menarik tanganku, membuat ku kaget tiba-tiba ditarik oleh mama, dari belakang.


Aku melihat Mama membawa ku kekantor kantin." Biasanya hanya karyawan biasa saja yang makan disini, yang lain lebih memilih diluar atau pesan.


" Kamu tidak keberatan kita makan nya didalam banget kan…?" tanyanya.


" Tidak ma…," jawab ku.


" Pasti sesuatu yang penting ingin mama bicarakan sampai duduk di dalam bukannya diluar, ku lihat hanya ada beberapa orang saja, mungkin karena belum waktunya istirahat," gumanku dalam hati.


" Silahkan nikmati nyonya, mbak semoga suka…mari," ujar pelayan itu.


Dan kulihat sudah diantar makan. " Tidak perlu bingung, saya yang sudah pesan duluan. Sebaiknya makan dulu sebelum saya bicara," ujarnya langsung memulai makan, sambil sekali-kali mama melihat ponselnya.


Karena aku sudah lapar kalau sudah mencium bau makanan, membuat ku dengan lahap menyantap makanan nya.


" Maksud saya ngajak kamu makan siang, untuk bicara hal penting…" katanya melihat kearah ku, membuat ku manggut-manggut saja.


" Saya akan beri kamu apa pun dan dengan jaminan panti akan masa depan yang cerah nantinya…." Jedanya, membuat perasaan ku sedikit tidak enak.


" Berapapun yang kamu inginkan akan saya penuhi asal … tinggal kan Devan.." ujarnya mantap.


Deg…!


Membuat ku bingung harus tanggapi bagaimana semua yang dikatakan oleh mama. Jujur saja aku belum ada perasaan untuk Devan, cuma disatu sisi aku tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan yang suci …lagian aku sudah janji dengan Nenek untuk selalu mendampingi Devan dalam keadaan apapun itu.


Lagi pula panti sudah ada jaminannya oleh nenek, sebelum aku menikah dengan Devan sudah membuat perjanjian akan masa depan panti dengan pengorbanan ku untuk menikah dengan Devan.


Membuat ku menghela nafas sesaat….


" Bagaimana dengan tawaran saya berikan ? Apa keputusan mu?" Tanya Mama menatap kearah ku dengan intens.


" Saya tahu pasti kamu bingung, harus ambil keputusan apa. Akan saya berikan kamu waktu tapi jangan lama-lama memutuskan nya. Kalau tidak saya akan memaksa mu menjauh dari kehidupan Devan..!" Ujarnya dengan senyuman anehnya.


" Jujur saja ma, aku tidak ada keinginan untuk minta apa-apa sama mama selain kebagian ku dipanti, dan aku tidak ada perasaan dengan Devan jadi… bukan berarti aku bisa mempermainkan sebuah pernikahan yang suci ini….hem, itu aku serahkan kepada Devan gimana maunya. Aku belum bisa memutuskan nya sendiri…. jikalau kami tidak berjodoh maka sesuai keinginan mama…" jelasku tidak semangat.


" Saya tidak mau tahu… ingat ! Keputusan ada di tangan kamu, saya tunggu kabar baiknya.. !" Ujarnya pergi dari sini meninggalkan ku dalam kemurungan ku.

__ADS_1


__ADS_2