
" Ya.. hallo, baiklah aku akan kesana sekarang ," katanya mematikan ponselnya.
Membuat nya sedikit gelisah. " Apa yang mau dia bicarakan… ini pasti tentang pernikahan Devan dengan Janna," gumannya.
Langsung mencap gas kan mobilnya menunju tempat tujuannya.
" Apa aku salah untuk memisahkan mereka Devan dengan Janna, lagi pula diantaranya tidak saling menyukai nya… mudah-mudahan sesuai dengan rencana …" gumannya dalam.
Tit… Saptam membuka pintu gerbang.
Lalu keluarlah seorang menuju mansion yang megah di hadapannya. Matanya melirik kearah sudut dimana orang yang ingin dia temui.
" Wow akhirnya kamu sampai juga Monika…" ujar seorang melihat kedatangan Monika, lalu dia menyambutnya.
" Apa kabar Maya…semakin cantik saja sekali pulang ?" Basa-basi Monika.
" Apa maksudmu… aku emang selalu cantik kamu saja baru saja sadar…!" Sedikit ketusnya.
Monika langsung duduk di hadapan Maya. " Siang mom and mama …" sapa Aurel dari arah tangga.
Ya Aurel adalah tunangan Devan…yang bertetapan dengan pesta perusahaan mereka bertunangan setelah Janna pergi dari pesta, untuk mengalihkan perhatian lagi untuk melupakan kejadian sesaat, itu rencana awal oleh kedua orang tua dua pihak.
Meski Devan sedikit terkejut dengan bertunangan dengan Aurel, membuat nya terpaksa demi kebaikan mamanya dan orang tua Aurel. Jujur saja Devan tidak menyukai Aurel dia melakukan itu untuk menyakiti Janna, selain itu tidak lagi atas hasutan Mamanya.
" Siang kembali sayang…".
" Siang Aurel, semakin cantik saja auranya…" puji Monika cipika-cipiki dengan Aurel.
" Pasti cantiklah kan anak aku gitu lohh…" sombong Maya membusungkan dada nya. Maya langsung duduk disamping Monika.
" Iya-iya mommy memang cantik setelah aku…" sahut Aurel, membuat Maya mencebik.
" Untung anak aku… lagi pula kecantikan nya turun dari aku," guman Maya hampir tidak kedengaran.
Monika sudah biasa melihat anak dengan lbunya sama saja tidak mau kalah cek….
" Ini nyonya minumnya silahkan di minum," datang bibik menaruhkan air minum di meja, yang diangguki oleh Monika. " Cepat pergi sana… !" usir Maya, membuat bibik sedikit gemetaran kalau lama disini.
" Bai-k nyonya…" ujarnya hampir saja jatuh.
Monika meminum air nya sesaat setelah melihat kearah Maya dan Aurel." Jadi apa yang ingin kamu bahas Maya…?" Ucap Monika meletakkan gelasnya dimeja dengan tatapan nya tidak lepas dari gerak-gerik Maya yang tersenyum licik nya.
" Kamu pasti tahu pertanyaan dari ku Monika jadi, tidak perlu tanya lagi…" jawab Maya membuat Monika mencebik.
__ADS_1
" Atau… biarkan anak ku yang ingin bertanya…" membuat Aurel berhenti main gagdet nya.
" Ehem..! Makasih mom, gini Ma… apa benar Devan sudah menikah ?" Tanya Aurel dengan dag dig dug.
" Sudah kuduga… mereka mengetahui nya," batin Monika.
" Jujur saja aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari mommy makanya aku bicara langsung dengan Mama…" lanjutnya.
" Percuma saja kalau aku bilang bukan pasti tidak percaya…" batin Monika menghela nafas.
" Iya benar …" jawabnya.
" Ta-pi kenapa bisa…! Devan hanya boleh milikku bukan milik orang lain… apa bila aku tidak bisa memiliki Devan maka orang lain tidak bisa memiliki nya juga…!!" Amarah Aurel menggebu-gebu.
" Tenang dulu sayang…kendalikan amarah mu sebelum mendengar penjelasan calon mertua mu…," tenang Maya pada anaknya.
Aurel menghirup udara dengan rakus dan menghembusnya dengan kasar. " Baiklah mom, maafin aku ma… kare-..."
" Mama mengerti sayang… Mama akan marah juga jika berada di posisi mu.." potong Monika.
" Dan apakah benar ma…kalau gadis kampung yang aku permalukan di pesta itu adalah istri Dev-an…?!"
" Iya benar…" jawab Monika.
" Kurang ajar…!" marah Aurel melempar gelasnya.
" Tenangkan dirimu Aurel… Mama janji akan mempersatukan kamu dengan Devan serta perlahan kita harus menyakiti Janna setelah kamu menikah dengan Devan, baru kita mengusir nya, Janna akan merasa sakit hati karena Devan lebih memilih kamu dari pada dirinya sendiri …" jelas Monika membuat Aurel sedikit lega.
" Mama sebenarnya tidak pernah merestui mereka…itu adalah pilihan nenek untuk Devan, makanya mama terpaksa mengiyakan…"ujar Monika.
" Tapi a-ku takut jikalau Devan jatuh cinta dengan gadis kampungan itu ma..!"
" Lihat kearah mama.. kamu percaya kan sama mama…" yakinnya yang diangguki oleh Aurel.
Meski dari sudut hati yang dalam Aurel tidak rela dan ada ketakutan jikalau tidak sesuai dengan harapan nya.
Maya hanya tersenyum saja, melihat kedua nya. " Ingat Monika, jangan sampai kamu memberi harapan palsu pada anaknya jikalau tidak sesuai…maka resikonya kamu tahu sendiri…," sedikit ancaman Maya membuat Monika menghela nafas dengan kasar.
Setelah itu Monika mengantarkan Aurel kedalam kamarnya yang ada diatas.
" Jangan banyak pikir tidurlah dengan tenang, biarkan ini menjadi urusan mama…" ujar Monika menyelimuti Aurel.
" Maafkan aku ma, aku ingin turun tangan langsung menyingkirkan nya jikalau gadis kampungan itu tidak mau meninggalkan Devan ku…" gumannya dalam hati.
__ADS_1
Monika langsung meninggalkan tempat tidur Aurel, lalu menuju ke tempat Maya yang sedang menikmati suasana ditepi kolam renang.
" Kamu selalu menjadi ancaman bagi keluarga ku Maya, jikalau aku tidak menuruti keinginan mu…" kesel Monika dalam hati, melihat Maya senang….
"Sampai kapan kamu berdiri di sana Monika..?" Sahut Maya, membuat Monika sedikit terkejut.
" Tidak ada.. hanya lebih suka menikmati dari kejauhan sesaat yang melihat mu lagi senang.." ujar Monika menghampiri Maya.
" Apakah kamu sedang tidak memikirkan rencana bukan…misalnya untuk mencoba menyingkirkan ku…" senyum nya dengan licik.
" Oh aku mana berani apa lagi merencanakan mencoba pikir saja tidak berani…lagian siapa lagi yang akan mengancamku lagi kalau bukan kamu Maya…" ujar Monika dengan senyum sindirnya.
" Kamu bisa saja Monika, dan sudah mulai berani melawan cek…cek.."
" Sudahlah…jangan pikirkan lagi…"
" Ooh baiklah…" jawab Maya.
Hingga sesaat Maya mulai bersuara. " Kamu masih ingat saat kamu mau mencoba menyelamatkan adik tiriku…yang sudah aku potong rem mobil. Kamu terus mencari mereka sampai kamu melihatnya di jalan dan sekuat tenaga kamu mengemudi mobil untuk mengerjakan mobil adik tiriku… pas didepan mata mu sendiri mereka mati dan Dam…!" Mengejutkan Monika diakhir katanya, membuat Monika terkejut dan mengelus dada nya.
" Santai saja gak usah terkejut…" ejeknya.
" Sampai mobilnya tertabrak pohon dan meleda…"
" Cukup…! Maya.. kenapa kamu mengungkit masa lalu.. kau membuat mood ku buruk..!" Marah Monika.
" Haha… itu belum seberapa Monika… apakah kamu tahu suamiku yang kesakitan dulu… membuat ku jengah melihat nya dan dengan sengaja aku membunuhnya dengan racun…" bisik Maya ditelinga Monika.
Membuat Monika muak mendengar nya. " Dasar wanita kejam iblis tidak punya hati…" gerutu Monika dalam hati.
" Terserah kamu mau bilang apa…aku mau pulang dulu, bisa-bisanya aku naik darah kalau disini terus…!" Kesal Monika meninggalkan tempat dimana membuat nya marah dan terancam.
" Oh pulang lah…pasti suamiku sudah mencari-cari kamu, hem aku pikir mau mengajak kamu makan tapi..ya sudahlah lain kali saja…" ujar Maya masih didengar oleh Monika.
" Tidak perlu…aku masih kenyang.. !" sahutnya dari jauh.
Didalam perjalanan Monika masih berpikir maksud perkataan Maya yang menceritakan masalah masa lalu…dan suaminya yang dibunuhnya sendiri.
Oh tidak..tidak…!
" Aku yakin Maya pulang ke sini pasti ada tujuan, apakah itu ada hubungannya dengan masa lalu yang belum di selesaikan… atau jangan-jangan dia sudah tahu apa yang aku sembunyikan selama ini… ini tidak bisa dibiarkan aku harus berhati-hati mulai sekarang…" gumannya dalam hati.
Lalu Monika lagi memikirkan sesuatu.
__ADS_1
" Aku yakin dengan wataknya Aurel yang keras kepala dan terobsesi pada Devan… Aurel pasti akan turun tangan untuk menyakiti Janna, sebelum itu terjadi aku harus memikirkan sesuatu…" tekadnya dengan rencana nya.
Bersambung.