Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab 23


__ADS_3

" Alamak.. aku harus segera menyusul keruangan Devan, bisa berabe kalau ruangan Devan hancur berantakan…aku pasti kena getahnya…"


" Sama-sama gak becus…! yang ada membuat masalah saja yang bisa kalian lakukan…!!" aku menggeleng kepala kalau seperti itu di bilang dalam pikiran ku.


Aku terus berlari…tanpa mpedulikan orang sekitar, segera menekan lift dan menerobos orang yang disana.


Bruk..!


Aku hampir saja terjatuh kalau gak di pegang oleh seseorang didepan. " Kamu gak papa…?" Tanya nya, masih memegang kedua bahuku dengan tangan nya.


" Iya tidak a-pa," jawabku melihat kearah nya yang sedang sedang melihat kearah dadaku…


Aku langsung mendorong nya, membuat dia hampir jatuh." Kurang ajar lihat depanku…!" Ketus ku meninggalkan nya, untung yang lain sedang fokus ke arah Nita dan Aurel.


Drett…!


" Ah…hp pakek bunyi lagi.." kulihat ternyata Farel. Aku mengabaikan panggilan nya.


Hus…


Nafas ku sedikit ngos-ngosan. " Hentikan…!" Teriakku dengan kencang menjadi pusat perhatian, dan mereka memberikan aku jalan.


Dengan keadaan Nita yang begitu prihatin dengan muka dicakar, rambut kusut baju tersobek, seperti orang gila.


Dan tidak bedanya dengan Aurel meski lebih parah Nita, karena diwajahnya kebanyakan ada goresan.


Apa lagi dengan Aurel mempunyai kuku yang panjang, orang nya tinggai . Profesi nya saja model pasti kalah Nita.


" Lepaskan rambut dari tangan kalian berdua…!" Lihat ku masih saling memegang rambut satu sama lain. Ya…karena tadi aksi saling menarik rambut. Hebat kan mereka bertengkar dikantor.


" Kamu tidak usah ikut campur…! Kalau tidak mau akibat nya…!!" Tunjuk Aurel dengan mata merahnya.


" Ini kantor bukan tempat tinju…dan kalian kenapa lihat saja hah ! Mengapa membiarkan bocah dewasa bertengkar di ruang pak Devan…!"


Aku yakin bukannya mereka tidak ikut campur atau merelaikan pertengkaran mereka berdua, mungkin karena mereka tidak mau ikut campur. Malah memilih pura-pura tidak tahu, apa lagi dengan Aurel yang berpengaruh tunangan Devan, makanya dibiarkan.


" Kurang ajar… gue bukan bocah ya…!" Marahnya mau melayangkan tamparan di mukaku.


Aku pikir akan menangkap tangannya sebelum menyentuh kulit ku, ternyata ada yang menghentikan.


Kalau para karyawan sudah duduk ditempat semula sebelum sang empedu datang, seakan-akan bagi mereka karyawan tidak terjadi apa-apa.


" Hentikan !!!" Sayang banget tangannya berhenti diudara, seperti dilambai-lambai untuk mencari sasaran nya.


" Kalian bertiga ikut dengan saya…!!" Siapa lagi kalau bukan Devan.


" Dan kalian tetap melakukan tugas masing-masing, kalau sedikit saja salah maka tau akibatnya…!" Perintahnya pada karyawan membuat mereka takut.


" I-ya Pa-k..," jawab mereka.


Farel melihat kearah ku, dia tanya dengan tatapan nya. Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu permasalahan mereka.


Lebih baik pura-pura tidak tahu saja, batinku.

__ADS_1


" Apa yang kalian lakukan disini hah ! Kalian pikir ditempat saya adalah pertunjukkan yang bebas kalian lakukan dalam kantor saya hah !!" .


" Dan kamu…kamu…"saat Devan mau menunjuk ke arah ku.


" Aku tidak tau apa-apa…" sanggahku.


" Bohong…kamu juga ikutan..!" Bantah Aurel.


" Setuju…" sahut Aurel.


" Saya tidak mau tahu…salah atau tidak kalian harus mempertanggung jawabkan…! "


" Aurel kamu mau apa datang kesini…sampai bertengkar …!" Dingin Devan.


Aurel langsung bilang bahwa ia tidak suka ada orang yang mendekati Devan atau menggoda nya, meski dalam rangka mencari perhatian sekecil pun.


Apa lagi dengan pekerjaan Nita yang tidak masuk akal. Dia ingin Nita dapat hukuman yang setimpal.


" Jadi aku harus apain mereka…apakah aku pecat saja…?!"


" Boleh…dan aku ingin pernikahan kita dimajukan…" manja nya membuat ku jijik.


Deg..!


" Jangan sentuh aku Aurel…!" Dingin Devan membuat Aurel cemberut.


' Sakit rasanya pernikahan kami baru seumur jagung malah aku dimaduin … dan lebih parahnya tidak dianggap sama sekali hadirnya aku…seakan-akan aku tidak ada seperti sejenis kasat mata,' batinku menghela nafas dengan kasar.


" Aku lebih di pecat saja…" sahutku dikeheningan mereka.


" Siapa suruh kamu keluar…kamu tetap kerja disini sebagai office…dan kamu Nita dipindahkan sebagai cleaning servis…"keputusannya.


" Tapi…pak Devan Janna tidak salah, lihat vidi-"


" Keputusan ku sudah bulat terima atau tidak itu bukan urusan ku… Aurel ikut aku mari kita bicarakan tentang pernikahan kita…"


Aku langsung lari dari tempat yang dimana membuat hidup ku berubah tanpa ku pedulikan panggilan Farel maupun Nita…lebih baik aku ngundur diri dari pada lebih sedih melihat perlakuan Devan pada Aurel yang tidak pernah dilakukan padaku.


' Padahal Aurel dengan Nita yang jadi masalah aku yang kena…dan dia tidak marah sama Aurel…apakah mereka saling cinta. Yang berbeda dengan ku telah salah hadir di antara mereka berdua'.


Membuat ku bosan dengan lingkar kehidupan sekarang.


" Rupanya kamu disini aku cari-cari tidak ada, hush…" hembusnya.


" Apa kamu tidak ingin membatalkan pernikahan mereka atau sekedar untuk menyelesaikan kesalahan pahaman tadi…"


Farel duduk di hadapan ku di taman, yang membuat ku sejuk dan tenang.


" Aku tidak peduli terserah dia mau lakukan apa…? Dan aku tidak ada hak untuk melarangnya…aku lagi malas bicara biarkan suasana seperti ini…".


Hingga sesaat kami sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. " Apakah kamu tidak mencintainya..?" Aku hanya menggeleng.


" Apa rencana kamu selanjutnya..?"

__ADS_1


" Entahlah…" jawabku dengan malas.


Apakah aku harus pergi dari kehidupan mu…menjauh dari semua orang, ku ingin hilang tuk sementara waktu untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk dua pihak.


" Farel…aku ingin pulang dulu," ujarku meninggalkan nya.


" Perlu aku antar," tawar nya saat aku baru beberapa langkah.


" Tidak perlu nanti Devan mencari mu…" tolakku meninggalkan nya sendiri.


Aku melihat Aurel di parkiran mobil. " Nunggu siapa lagi dia, apakah itu mungkin aku… ah sebaiknya aku abaikan saja", gumanku mendahului nya.


" Tunggu dulu…aku ingin bicara dengan mu," aku membalikkan badan menghadap ke arah nya.


" Mau bicara apa..aku lagi buru-buru ini."


" Cih..! Sok sibuk lagi," decihnya .


" Aku ingin kamu segera mundur, sebagai mana Devan telah memilih ku dan kami akan segera menikah…!" Senangnya mengejekku.


" Lantas apa urusannya dengan ku…"


" Kamu.. beraninya sok jadi kuat padahal udah pengen nangis..!" Aku mengernyit mendengar ucapannya.


" Sejak kapan aku nangis untuk nya, sia-sia kali…" gumanku dalam hati.


" Emang aku kelihatan mau nangis…?"


" Tidak sekarang, mungkin nanti. Uh senangnya ternyata Devan lebih memilih ku…"


Aku memutar bola mata dengan malas.


" Kata siapa Devan lebih memilih mu, aku yang dipilih oleh nya sampai di jadiin istri.. aku lihat dari mata Devan tidak ada cinta untuk mu…cek…kasihan sekali kamu, mimpi mu terlalu jauh.. ujung-ujungnya nangis."ejekku pengen ketawa lihat sikap nya yang sudah merah mukanya.


Dengan tangan terkepal, dan tangan nya hendak mendarat di muka jikalau aku tidak menahan nya. Aku sedikit melintir tangan nya apa lagi gara-gara dia sampai aku kena kemarahan Devan.


"Aww.. lepaskan tanganku..! Aku tidak sudi disentuh oleh orang rendahan sepertimu…kamu hanya lah istri tid…awww sakit ..!"


" Semakin kamu mengumpat semakin tanganmu ku melintir kan sekuat tenaga ku…dan ini akibat hinaan kamu waktu malam pesta itu…" senyumku membuat nya semakin benci dari matanya.


Dan dengan entengnya tanpa berdosa dia tidak mendapatkan hukuman malah mendapat kabar yang membuat nya bahagia, menikah.


Cih.. membuat ku kesal, hari ini aku mematahkan semangat nya atas kesombongan nya dan sikap semena-mena nya.


" Ingat Aurel diatas langit masih ada langit aku yakin kebahagiaan mu tidak berlangsung lama, orang seperti mu tidak pantas bahagia diatas penderitaan orang lain…kita lihat saja apakah Devan benar-benar menikahimu atau sekedar untuk menyenang hati mu sesaat…" ujarku mendorong nya.


" Cih..membuang waktu ku saja…," ujarku meninggalkan nya saat taksi ada di depan.


Karena dari jauh Devan mau datang kesini.


" Halo ma, aku ingin bicara sesuatu dengan Mama…"


" Iya ma, biarkan aku berlibur untuk sementara waktu.. siapa tahu dengan berlibur aku bisa memutuskan sebuah pilihan yang mama tawarkan waktu itu…. Baiklah ma kalau begitu sampai tujuan nanti.." ponsel mati dari seberang sana, membuat ku sedikit lega.

__ADS_1


Setidaknya aku sudah mematahkan semangat Aurel, aku tahu dia pasti bimbang dan tidak nyaman dengan perkataan ku.


Bersambung.


__ADS_2