
Rupanya masih taguh dengan pendirian nya.
" Baiklah kalau gak mau bergerak juga," ucap ku melihat mereka yang belum bergerak sama sekali .
Dengan cara ini aku bisa membuat mereka bergerak, batinku memulai aksi.
Aku mengambil hp dalam kantong baju dan menekan sebuah angka.
Sebelum itu mereka melihat kearah ku, atas apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Ada yang penasaran ada yang merasa was-was.
" Hallo nek, lagi dimana apakah aku mengganggu waktu nenek, oh syukurlah.. kebetulan ada ingin aku bicarakan, ini masalah pelayan ingin aku pecat kan karena tidak…."
Belum sempat aku selesai ngomong sudah dipotong oleh mereka.
" Ah baik-lah kami mohon jangan mengadu pada nek lta, kami siap melanjutkan sisa nya," jawabnya salah satu dari mereka. Dan menyenggol teman yang lainnya untuk segera ikut membersihkan.
" Dasar tukang ngadu… !" Ketusnya.
" Iya Nek, seperti nya ada satu atau dua yang ingin aku pe…. " Aku menaikkan satu alis, karena ada yang memegang kakiku.
Seolah-olah aku bertanya kenapa. Membuat ku sedikit heran.
" Saya janji tidak akan mengulangi lagi dan kapan-kapan jikalau Non Janna, butuh bantuan akan saya bantu dan siaga… saya mohon jangan pecat kami dan mengadu pada nek lta" cicit nya pelan.
"Oh udah dulu ya nek, nanti aku telpon lagi dan bahas lagi dada… Nek , sampai nanti malam," kataku pura-pura mematikan hp.
Padahal aku hanya pura-pura menelpon nenek, tawaku dalam hati.
Karena sudah berhasil mengerjai mereka.
" Atas jaminan apa saya bisa percaya sama ucapan kamu ?"
" Jikalau saya melanggar dengan ucapan saya maka, saya siap untuk dipeca-t atau bisa menghukum saya dan sekali lagi saya mohon maaf atas sikap kami tadi," sedikit gugup nya.
" Oke, saya pegang perkataan mu. Awas kalau berani melanggar … begitu juga dengan kalian yang ingin berurusan dengan saya, dan satu lagi saya tunggu pembalasan diantara kalian yang tidak menerima semuanya hari ini," senyum ku membuat mereka mengepalkan tangannya yang tidak suka dengan ku.
Aku membalikkan badan, " pokoknya semua rumah ini harus bersih dan kinclong awas kalau masih ada sedikit kotorannya yang terlihat disini… gaji kalian akan menjadi taruhannya," ucapku dengan kemenangan dan rasa lelah hilang dengan mengancam mereka.
Setelah itu aku meninggalkan mereka yang bertambah tidak menyukai ku terutama pelayanan yang disogok oleh Mama mertua.
******
Hari berganti senja menuju gelapnya malam akan diganti oleh sinar rembulan akan keindahan langit yang ditemani kerlap kerlip bintang.
Aku sedang menikmati perubahan di malam ini akan menjadi Cinderella, membuat ku tertidur atas perlakuan mereka yang sedang merubah tampilan ku.
__ADS_1
Ingin rasanya aku tidak mau bangun, entah kenapa aku merasa malas berurusan dengan namanya pesta, yang ada berisik apa lagi pesta orang kaya yang kebanyakan bermuka dua.
" Mbak… mbak bangun, sudah ada yang jemput itu ."
" Em, jangan mengganggu tidur ku … "
Sehingga mereka keluar akibat kode seseorang. " Misbahul Janna…. Ada ular dikakimu… !"
" Hah mana bang Al… kamu… ," bangunku terkejut dengan hewan ular, dan aku tidak melanjutkan ucapan ku .
Aku melihat kearah, karena sudah menahan aku agar tidak jatuh.
" Sangat cantik dari Aurel, bahkan ini cantik alami, cek… membuat ku membawa pulang kalau bukan istri bos," gumannya dalam hati, terus menatap kearah ku.
" Ah maaf kan aku." Aku langsung menjauh dari nya membuat ku salah tingkah.
" Ingat Jan… dia bukan bang Al. Tapi bisa kebetulan aku teringat dengan kelakuan mereka berdua yang hampir sama menakuti aku dengan ular ya ?" Gumanku bingung.
" Ehem ! Bisa kita langsung pergi sebelum terlambat sampai….!" Tanyanya dengan senyuman yang membuat ku nyaman.
" Ah iya duluan sa-ja. "
Dia mengangguk berjalan duluan membuat ku mengikuti dari belakang, meski mendadak aku kepikiran dengan bang Al atas kejadian tadi.
Jadi ini yang nama Farel asisten Devan, hem lumayan juga ganteng… bisa cuci mata dalam perjalanan nanti.
Pasti dipesta nanti banyak yang ganteng…. Jadi gak rugi amatlah aku datang, nyengiku dalam hati.
" Kamu tidak apa-apa, coba kulihat dimana ada yang sakit ?" Membuat ku menggeleng tanda tidak perlu.
" Sebaiknya kita langsung pergi, sebelum terlambat," ujarku masuk duluan.
" Duduk didepan saja, oh ya Nenek tidak jadi datang, dan salam katanya untuk mu satu lagi nenek ingin melihat foto kamu dimalam ini ," walaupun sedikit sedih nenek tidak datang, tapi tidak apa anggap saja aku datang sambil cuci mata.
Karena aku tidak ada nomor Nek lta, jadi aku berfoto berdua dengan Farel ada juga yang sendiri.
" Ini untuk memastikan saja bahwa kamu benar datang dan sangat cantik, tidak salah dengan pilihan nenek . Oh ya kamu saja yang kirim atau aku ?" Ia menoleh terhadap ku.
Walau pun aku senang mendengar dia mengatakan aku cantik, tapi distuasi lain aku sedih dengan nasib pernikahan ku.
" Ah ya, kamu saja yang kirim ke nenek kan amanah nya sama kamu. Aku cuma ingin nenek saja ," pintaku membuat nya melaksanakan.
" Ok siap," antusias nya. Sesekali melirik ke arah ku.
" Hush nasibku yang tidak bisa melihat yang cantik kalau sudah depan mata," batin Farel menggeleng kepala.
Tidak percakapan selama dalam perjalanan, bicara hanya perlu saja. Karena aku lebih suka menikmati suasana malam di jendela.
__ADS_1
Aku sempat mendengar Farel bicara dengan Mama mertua, meski keberatan saat mendengar aku yang jadi datang ke pesta.
" Apa kamu mengenal Aurel ," tanya ku hati-hati.
" Aurel.. iya kenal apa ada sesuatu yang mengganggu mu Janna, kok bisa tahu nama Aurel ?" Tanya menyelidik.
" Tidak ! Hanya nanya saja kebetulan aku pernah dengar namanya yang begitu kenal," jawabku , membuat nya ber oh saja.
" Boleh tahu Aurel siapa didalam keluarga Devan ?" Lanjut ku.
" Kenapa ?"
" Tidak lupain saja ," sanggahku membuat nya tersenyum.
" Tidak perlu malu bertanya, kamu lucu deh kalau seperti ini, bilang saja mau tahu apa tentang Aurel ," katanya sedikit menggoda ku.
Membuat ku kesal dan memalukan saaat menanya tentang Aurel yang berhubungan dengan keluarga Devan.
" Pasti dia berpikir aku mulai suka dengan Devan, ah tidak aku biarkan dia berpikir seperti itu," gumanku dalam hati.
" Ah bukan begitu, aku cuma nanya saja karena aku tanpa sengaja melihat fotonya dengan Mama Monika di beranda," sanggahku, semoga saja dia tidak curiga dengan jawaban ku.
" Haha… baiklah kalau begitu, Aurel itu teman kami sewaktu SMP dulu termasuk aku dan suamimu. Sekaligus rekan kerja Tante Monika ah sampai juga ," lega nya.
" Aku sedikit tidak nyaman dengan kata suami," bantahku dalam hati.
" Ayo keluar kenapa melamun lagi ," ujarnya melihat ku yang sedikit aneh.
" Bentar dulu aku gak tahan nih,"
" Gak tahan kenapa, mabuk, atau mau muntah …? " Herannya melihat aku menahan sesuatu.
Membuat ku menggeleng, dan dia semakin mendekat. " Kenapa hem…?" Ucapnya lembut.
" Jangan mendekat," membuat nya sedikit panik. Malah mendekat dan…..
Tuuutt… !
" Ah leganya…. "
Brak … !
" Sial … !" umpat Farel.
" Dan bau… " lanjutnya.
" Maaf Farel, gak sengaja aku keluar gas . Lagi pula aku sudah bilang jangan mendekat…" nyengir ku menahan tawa melihat kearah Farel yang cemberut.
__ADS_1
" Lebih baik kentut di mobil dari pada di pesta, iya kan,"
Meski ada yang melihat kearah kami akibat suara pintu mobil yang keras.