
Dengan tangan gemetar Monika, membawa Janna, yang masih berumur satu tahun. Ke sebuah tempat yang paling aman dari jangkauan Maya, dan tidak diduga oleh nya atau siapapun itu.
Sebelum itu Monika sudah memeriksa kondisi Janna, yang tidak apa-apa setelah diperiksa oleh dokter kepercayaan sendiri. Setelah menemukan tempat yang baik, Monika, membawa Janna, disamping kursi kemudi disampingnya. Dengan segala perlengkapan yang sudah disiapkan uang, bahkan keperluan susu Janna, dan yang lainnya.
Tak lupa pula secarik kertas nama. Dengan tangisan Janna, membuat Monika beranjak segera pergi. Di tengah malam nan sunyi, bayi bungil nan cantik menangis tak henti. Membuat sang empedu rumah membuka pintu, dan melihat bayi didepan pintu, membuat nya kaget.
Barulah Monika meninggalkan tempat itu sesaat setelah mengintip, dengan jarak mobil dari sini sedikit jauh diparkir.
" Maafkan Tante, Janna. Meski satu saat kamu akan melihat Tante, yang membencimu. Hanya dengan ini bisa melindungi mu dari jarak jauh tanpa ada kecurigaan dari orang lain.
" Selamat tinggal dan sampai jumpa suatu saat nanti …." Lirihnya, melirik ke arah dimana meninggalkan sosok yang membuat langkah nya kaku.
Setelah itu Monika, berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
******
Sekarang….
" Maafkan Mama, Devan. Mama tidak maksud untuk menyakiti nya …." Lirihnya.
Devan menghela nafas sesaat, lalu menghembuskan secara perlahan.
" Mama, tidak salah. Mari akhiri semuanya, sebagai menembus kesalahan yang Mama, lakukan atas rasa takut yang menghantui masa lalu yang belum selesai …." Jedanya sesaat.
" Dan restuilah hubungan kami, tanpa hambatan setelah semua selesai, mari … membuka lembaran baru."
Monika mengangguk, memeluk Devan.
" Meski ini berat untuk kamu mendapatkan keadilan atas kejadian masa lalu … Mama, sudah merestui hubungan kalian sebelum kamu meminta nya, setelah semuanya selesai kamu harus menyusul Janna, dan menjelaskan semua kepadanya secara perlahan-lahan …."
" Baik ma, itu pasti. Dan terima kasih atas pengertiannya," senyum Devan, tak terduga Monika, mendukungnya.
Monika lega, setelah menceritakan semuanya, tinggal menuntaskan apa yang belum selesai.
Dari sinilah memulai rencana untuk mendapatkan keadilan yang telah dilakukan Maya.
__ADS_1
******
Seseorang terikat dikursi, dengan kepala sampai muka ditutup dengan kain hitam.
Dari tadi tidak hentinya berteriak sampai sang pelaku sampai. " Lepaskan brengsek … saya udah tadi, berteriak ! Dimana Aurel ! Dimana menyekap Aurel ! Kenapa tidak ada suaranya? Devan … ku yakin kau yang telah melakukan semuanya !! "
Dengan napas berburu, dan tenggorokan yang kering akibat, tak hentinya berteriak sampai sang empu membuka suara .
" Apa kabar tante Maya, oh … pasti nya sehat 'kan, sampai sekarang sifat liciknya tidak berubah, tapi tidak sangka nya ada yang lebih licik darinya."
Sinis Devan, Maya mengepalkan tangannya dengan erat, sampai nadi uratnya terlihat. " Lepaskan penutup kepala nya !."
Sebelum Maya, mengetahui pelaku dibalik kekacauan perusahaan nya.
Devan mencari kelemahan nya, yang tak lain adalah Aurel, anak kesayangan.
" Tenang dulu calon mer … maksudnya calon mantan mertua, Aurel sedang istirahat yang cukup di sebuah kamar mewah, dalam keadaan yang terlalu nyenyak. Untuk menghadapi esok akan kenyataan yang dihadapi nantinya."
Devan menghidupkan sebuah layaran dimana di sana ada Aurel, yang terpulas bagaikan orang mati nyenyak nya tidur.
" Apa maksudmu ! Dan apa yang kau lakukan pada Aurel, sampai dia tidak sadar ….! Dan apa yang kamu inginkan dariku !"
Devan tersenyum, melihat ekspresi Maya, semakin marah. Dengan sedikit kode pada anak buahnya.
Anak buah yang mengerti langsung saja melakukan reaksinya. Mengambil sesuatu di dalam tas, dengan sarung tangan. Dan terlihat lah suntik yang siap akan menyuntikkan seseorang yang begitu pulas tidur di dalam mimpi nya.
" A-pa yang kamu lakukan, cepat katakan apa yang kamu inginkan !!!"
" Menyerah lah dan tanda tangan sebuah surat perjanjian agar tidak mengkhianati suatu saat nanti dengan resiko besar jikalau melanggar nya."
" Dengan jaminan Aurel, selamat. Dan tidak masuk penjara dengan kasus apa anda lakukan pada saudari tiri sendiri."
Maya tercekat mendengar nya, dengan susah disembunyikan akhirnya sia-sia.
Dengan berbagai ancaman dan menakuti Maya, untuk menyerah. Walau tidak mudah, dengan akhirnya setuju juga. Atas pengakuan dengan adanya polisi di ruang lain ikut mendengarkan nya.
__ADS_1
Sehingga memperkuat kan bukti.
Dengan senyuman terukir di wajah Devan, apa yang dilakukan nya berhasil. Tinggal menyusul Janna, disana. Meski sedikit tidak sabaran.
Meski dalam kejutan licik, menyusul Janna, akibat bayangan rindu yang menggebu didalam hati nya.
" Mari kita memulai dari awal Janna … aku menyusul kesini atas restu dan kejutan yang akan aku berikan kepada mu , " sebuah pesan dikirim kan nya.
Meski sang empedu tidak peduli dan mengabaikan, karena tidak tahu ada nomor sesat muncul di hp nya.
" Halo, Bik. Saya akan sampai disana sesaat lagi, jangan beritahu Janna, Dan saya butuh bantuan bibik, untuk melancarkan rencana saya. Atas kesalahan saya pada istri sendiri."
" Dan biarkan Janna, tetap di kamarnya. Sebelum saya sampai …. Baiklah."
" Aku yakin, nanti kamu tidak akan menolak aku lagi. Meski kamu akan sedikit tidak percaya, jangan meminta kesedihan selain kebahagiaan Janna, aku janji akan menjadi suami yang baik untuk keluarga kecil kita," gumanku Devan , memenjam mata sesaat.
" Sudah sampai Pak."
Devan, menarik napas sesaat, lalu melihat dimana tempat yang dia tuju sudah sampai, dengan jantung yang berolah raga tak henti dalam menemukan belahan jiwa nya.
Dengan keadaan mendung disertai hujan yang tiba-tiba mengunyur bumi, sampai basah akan dahaga pohon, serta makhluk yang hidup.
Sebelum itu mengabarkan Monika, karena sudah sampai di tujuan. Tak lupa pula menunggu di pintu, menunggu seseorang siapa lagi kalau bukan bibik, sebelum Janna, mengetahuinya.
" Tolong bibik, masukkan ini dalam teh Janna, setelah bibik, selesai dengan tugasnya maka bisa pergi, dan ini ada sejumlah uang untuk keluarga bibik, bersenang-senanglah…."
Bibik, terharu sekaligus senang. Apa lagi sudah lama ia tidak pernah makan bersama keluarga kecilnya, atau sekedar libur bersama.
" Untuk 3 hari dari sekarang bibik bisa libur, ambillah."
" Makasih Den, bibi–"
Bibik yang mengerti langsung melakukan tugasnya tanpa bertanya apa isi yang diberikan.
Apa pikir panjang lagi setelah selesai tugas nya, dengan senyuman tidak lepas dari bibirnya. Membuat nya tidak sabaran untuk segera sampai di rumah.
__ADS_1
Devan melangkah pelan ke sebuah kamar Janna, yang sedang termenung di balkon sambil melihat rintihan hujan, setelah meminum teh yang hangat. Dengan suasana yang berubah secara perlahan tanpa tahu apa yang terjadi.