
Huamm.
Aku terbangun dengan suara alarm hp. " Ah ternyata aku belum cabut cas hp ," gumanku.
Jam 5 lewat, waktunya aku berwudhu dan mencuci muka serta sikat gigi sebelum berwudhu.
Aku mengambil sajadah dan mukena di lemari, hingga sesaat aku selesai shalat subuh.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh….
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh….
Kebetulan tenggorokan ku sangat sakit, aku melihat kearah naskah. " Rupanya tidak ada air," lirihku.
Membuat ku mengambil didapur dan mengambil lebih untuk jaga-jaga nanti malam kalau kehausan.
Ceklek…
" Aduh… apa yang kau lakukan… !" Marahnya membuat ku kaget.
Karena tidur di pintu kamar ku otomatis dia terjatuh tertidur dilantai yang dingin akibat bersandar di pintu.
Membuat ku mengusap dada akibat terkejut.
" Ngapain kamu tidur di depan pintu saya ?" Ujarku melihat nya belum sadar penuh.
" Jangan ngacau deh ! Seharusnya aku yang tanya kenap… " tidak lanjut lagi karena baru sadar setelah melihat sekitar nya.
" Kenapa saya bisa disini ?" Tanya nya langsung bangun, membuat ku mengangkat bahu tanda tidak tahu.
" Minggir aku mau ambil air minum," sedikit menyenggol nya, karena aku tidak mau berdebat dengan kondisi tenggorokan ku yang sakit sebelum minum air putih.
Aku papasan dengan Mama yang baru bangun tidur menuju ke arah kamar ku.
" Apa yang terjadi, kenapa berisik sekali… ?"
Aku tidak peduli dengan ucapannya, langsung berlalu dihadapannya .
" Beraninya kamu mengacuhkan saya ..!" Marahnya, aku tetap berjalan menuju ke dapur tanpa mempedulikan kemarahan mama.
" Apa yang terjadi Devan, kenapa kamu bisa di depan kamar gadis kampungan itu ?" tanyanya melihat tampilan Devan sedikit berantakan dengan baju yang masih sama dengan sebelumnya .
Devan tidak bergeming sama sekali, lalu Devan melihat kearah jam tangan nya setelah itu langsung menuju ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Monika.
__ADS_1
" Devan, masuk duluan Ma ," pamitnya dengan datar menutup pintu kamar nya tanpa mempedulikan ekspresi Monika yang kesal.
" Tidak gadis kampungan dan tidak dengan Devan yang ikut-ikutan tertular penyakit gadis kampungan itu… " gerutu nya.
" Akhirnya mereka bubar juga ," legaku, karena aku menunggu mereka bubar baru aku masuk ke kamar sendiri.
Karena takut di cecar oleh mama nanti, dan malah nuduh aku yang enggak-enggak nanti tambah parah masalah nya .
" Huh aman," gumanku sudah dikamar.
Dret…!
" Ternyata Nenek yang telpon," gumanku langsung menggeser tombol hijau.
" Iya Nek, Janna belum makan…"
" Tidak perlu makan…"
" Nanti aku bisa lapar kalau tidak makan bisa-bisanya kurus nanti dan pingsan…."
Nenek lta menghela nafas mendengar coleteh aku .
" Denger nenek dulu sebelum memotong nya …,"
" Ah iya Nek…"
" I-ya.. Nek, tapi siapa yang menjempu-t…. "
" Siapkan dirimu saja tidak perlu tahu siapa yang akan menjemput dan jangan terlalu cerewet sampai nanti," putus sepihak oleh nenek sebelum aku selesai bicara.
" Emang ada yang salah, kalau aku sedikit cerewet," gumanku.
" Atas dasar apa Nenek, mengajak aku makan ditempat nya. Apakah ada hal penting mudah-mudahan tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam," batinku sedikit khawatir dan penasaran.
Ah tidak ada waktu aku memikirkan nya, sebaiknya aku siap-siap sebelum jemputan Nenek datang.
" Dasar gadis kampungan yang tidak jelas… "
Aku menoleh rupanya Mama yang main masuk saja. " Ah ternyata aku lupa kunci pintu, habislah aku … tidak bisa siap-siap duluan sebelum menyelesaikan masalah Mama. Apa salah ku… " kesalku dalam hati.
" Ah mama, ada apa ? Ada yang bisa aku bantu," tawar ku dengan senyuman manis.
" Sini kamu … gara-gara kamu aku dicuekin oleh Devan hari ini," nyalah Mama, menjewer telinga ku.
__ADS_1
" Aww… aduhh ma, sak-it . Maafkan aku jika gara-gara aku mama, dicuekin oleh Devan." Cicitku.
Jewernya kuat lagi, membuat ku kesakitan menahannya.
" Itu yang kamu inginkan hah…! Dasar tukang merusak anak dengan mamanya bertengkar…"
" Aww sakit ma.. jangan kencang tariknya takut putus telingaku kalau seperti ini," ujarku dengan sedikit mengiba.
" Sejak kapan aku merusak hubungan anak dari mamanya ?" Gumanku dalam hati.
" Saya tidak peduli …. Karena kamu bukan siapa saya ," ketusnya.
Membuat ku sedikit sakit mendengar nya. Ternyata aku tidak ada artinya sama sekali dimatanya.
Apa kesalahan ku sampai membuat mama tidak menyukai ku. Apa karena aku menantu yang tidak diinginkan karena sudah merusak kebahagiaan anaknya dengan perbedaan derajat. Seandainya aku bisa menukar dengan orang lain sudah kulakukan dari dulu.
Lagi pula aku tidak ingin berada di posisi yang tidak dianggap kan .
" Apa yang Mama lakukan dikamar, Janna ?"ucap seseorang siapa lagi kalau bukan Devan.
Karena kamar kami sebelahan, syukurlah Devan muncul dengan setelan jas yang sudah rapi melekat di tubuhnya.
" Gara-gara kamu saya kena getahnya akibat kamu mengacuhkan mama sendiri ," sahutku cepat sebelum mama angkat bicara.
" Lihat nih… telinga ku merah akibat kena jeweran ," lanjut ku tanpa sebut nama mama.
Devan hanya menaik sebelah alis saat mendengar ucapan ku.
Walau pun Mama melotot kearah ku untuk tidak bicara, malah membuatnya sedikit kegelapan.
" Ah buka-n begitu…." gugup mama, langsung aku memotong ucapan nya.
" Sebaiknya kalian selesaikan diluar saja aku mau mandi dulu," ujarku memasuki kamar mandi meninggalkan mereka berdua.
Dum… !
" Biarkan saja Mama marah, karena sudah membuat mood ku sedikit buruk. Lagi pula aku harus siap-siap, karena waktu ku sudah terbuang dengan kehadiran mama menyerobos masuk ke kamar ku," ucapku dalam hati.
" Hem… ini tidak kelihatan norak kan dengan sedikit dandan… aku tidak mau kelihatan memalukan saat sampai di rumah nenek lta, pokoknya aku harus kelihatan elegan," tanyaku pada diri sendiri.
" Ternyata ampuh juga salap Farel, luka dibibir ku sudah mendingan hilang," aku sedikit menepuk muka ku.
Aw..
__ADS_1
" Ternyata masih sakit… mama sih meninggalkan cap rasa sakit," cemberut ku.
" Tidak apa-apa yang penting aku tetap cantik," pedeku dengan baju sudah pas dengan makeup yang tipis walaupun kelihatan sederhana.