Cinta Tulus Berondong

Cinta Tulus Berondong
memulai kehidupan baru


__ADS_3

Devan merebahkan tubuh di ranjangnya yang luas,ia mengambil hp dan memasang aerphone di telingnya, meniKmati musik kesukaannya,mencoba menenangkan hatinya.


" kemana Devan pergi?",kenapa ia belum kembali"


Hati Tiara gelisah menanti kehadiran bocah yang akhir-akhir ini mengisi kesepiannya.Tiara jadi banyak melamun mengenang masa bersama putranya Leo dan Devan.


Berhari hari tak ada kabar tentang Devan.ia bagaikan ditelan bumi


'Teeettt


'Teeetttt


Mendengar bunyi bel rumahnya tia segera melompat dari tempat tidurnya,ia berlari,berharap Devan muncul di hadapannya


Segera ia membuka pintu,


'Klek graaaakk..


Senyumnya yang merekah seketika sirna..


" akh.. Dokter"


Dr.mengerutkan alisnya " sedang menunggu seseorang?"


"ah...tidak" Tia meringis " mari masuk"


Dokter merasa Tia sedikit berbeda dari terakhir mereka bertemu,Tia lebih banyak diam dan melamun


"sedang memikirkan sesuatu?" dokter mencoba menggali


"hah?" Tia tak fokus dan tak mendengar dokter berkata apa


"akh..apa ibu punya waktu? , cuaca hari ini sangat cerah.. Kalo ada waktu,saya mengajak anda jalan diluar?" Dr.sangat memahami keadaan Tia,ia hanya berusaha menghiburnya,berharap dapat mengurangi beban pikiran Tia


"hmmmh..saya lagi tak ingin keluar" jawab Tia dengan malas


"bagaimana kalo saya memaksa" Tia menatap mata Dr. dan tersenyum.."baiklah"


Didalam mobil Tia masih banyak diam


"sudah makan?"


Tia hanya menggeleng


Dokter mengajak Tia ke taman,disana lumayan ramai pengunjung,


"mari duduk disini" Dr menunjuk sebuah bangku panjang


"tunggu sebentar" Dr. berlari kecil meninggalkan Tia.Ditaman banyak sekali anak kecil sedang bermain,Tia merasa sedikit terhibur ia tersenyum dan tertawa melihat tingkah anak-anak yang asyik bermain.Dr.memperhatikannya dari jauh


"silahkan" Dr.menyodorkan roti dan susu kotak,dan duduk di sebelah Tia

__ADS_1


"terimakasih,lihat lah dokter mereka sangat menggemaskan" Tia sangat menikmati pemandangan yang tlah lama tak ia rasakan. ia membuka bungkus roti dan melahapnya, matanya terus fokus pada anak-anak yang sedang bermain


" bukankah bu Tia pernah bercerita kalo ibu punya toko roti" mendengar kata dokter,mulutnya berhenti mengunyah,ia terdiam .


"akh..maaf saya mengganggu selera makan anda"dokter merasa salah bicara" mungkin waktunya belum tepat" pikirnya dalam hati


" akh.. tidak.. dokter mengingatkanku bahwa ada kehidupan lain yang menanti kehadiranku" Tia tersenyum,ia menoleh dan menatap tajam Dr.


"pak dokter punya banyak waktu hari ini?"


"tentu"


" tak keberatan membantuku?"


"dengan senang hati"


" baik,kita ke toko roti sekarang"


"tentu, apa kita perlu tos?" jawab dokter ragu


"dokter benar mari kita tosss"


'plak! kedua tangan mereka bertepuk dan mereka tertawa bersama dan pergi


Setibanya di toko roti milik Tia


Tia membuka pintu toko yang lumayan lama ia tinggalkan


ia memandangi di setiap sudutnya,mengenang kenangan sebelum Leo meninggalkannya.


" tentu" mereka mulai membersihkan,


" maaf dokter aku sangat merepotkanmu.."


"tak masalah asal bu Tia bahagia" mereka tertawa


"bukankah panggilan ibu terlalu tua untukku?"


dokter tersenyum mendengar Perkataan Tia


"harus saya panggil apa? honey.. say.. sweety..?"


"ckh.. dokter benar-benar lucu"


Mereka mulai membersihkan toko,menyapu,mengepel,me lap kaca, mencuci segala peralatan mereka lakukan bersama


"hah.. Capeknya.." Tia merebahkan tubuhnya di kursi, dokterpun menghampiri dan duduk di sebelahnya..


"tak ku sangka dokter begitu ahli bersih-bersih"


"hemh.. Itu karena setiap hari saya harus membersihkan rumah sendiri"

__ADS_1


"benarkah?" tia seakan tak percaya


"yach.. Suatu saat mungkin aku akan mengajak bu tia membereskannya" sambil melirik Tia,namun Tia tak mengerti maksud Dr. ia hanya menganggapnya candaan saja


"ahaha.. tentu ..aku akan siap membantu" dokter pun hanya tertawa


"kapan mulai buka?"


"kurasa besok aku sudah siap"


"ok! Semangat!!"


"yap semangat!!"


'tok 'tok 'tok


suara pintuk kamar Devan


"Devan.. Ini nenek.."


Dengan malas Devan membuka pintu


'Cklek


Ia kembali berjalan dan naik ke atas ranjang tanpa sepatah katapun


Nenek yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman meletakkannya di meja


"Cucuku sayang makanlah.. Sudah berhari-hari kau mengurung dirimu,bagaimana kalau nanti sakit"


"ckh siapa yang peduli"


Nenek menghampiri Devan dan duduk disebelahnya.. Ia mengelus rambut Devan


"jangan berkata seperti itu, sebenarnya mama dan papamu sangat sayang padamu.. Mereka cuma sibuk jadi nenek yang menjagamu.. "


Devan menyunggingkan bibirnya


"bukankah nenek sering mengatakan itu"


"soal uang kemarin,mereka hanya tak ingin kau salah bergaul itu saja"


"Devan juga butuh perhatian dan kasih sayang nek, dari Devan kecil alasan mereka sibuk mencari uang untuk masa depan Devan,tapi ketika Devan menggunakan sedikit uang mereka,apa yang mereka lakukan?, apakah uang mereka lebih berharga dari Devan?" ia mengeluarkan segala yang ia pendam selama ini, nenek pun hanya terdiam dan menitihkan air mata,


Devan berlutut di depan nenek, ia menangis dan menciumi tangan neneknya


"terimakasih nek,nenek sudah sangat baik menjaga Devan slama ini,Devan banyak belajar tentang hidup dari nenek,Devan skarang sudah besar nek,sudah tau mana yang baik dan yang buruk,nenek tak perlu lagi mencemaskan Devan" mereka hanyut dalam kesedihan,nenek tak bisa berkata lagi,hanya isak tangis mereka berdua yang terdengar


Devan beranjak ,membuka laci mengambil segebok cek diletakannya di atas meja,diambil juga dompet dikeluarkan semua kartu kridit dan atm.ia berjalan menuju almari diambinya beberapa potong baju dan celana,dimasukkanya kedalam ransel


" Devan.. Nenek mohon jangan pergi nak.." nenek mecoba menghalangi devan yang melangkah keluar

__ADS_1


"Devan akan buktikan pada papa dan mama,kalo Devan bisa menjadi orang yang berharga"


Devan meninggalkan neneknya,meninggalkan rumah yang menaunginya dengan kemewahan selama ini


__ADS_2