Cinta Tulus Berondong

Cinta Tulus Berondong
taruhan


__ADS_3

Mobil mereka berjalan beriringan menuju rumah Tiara


selama perjalanan Devan terus menekuk wajahnya " kenapa cemberut..." Devan hanya memaNyunkan bibirnya,


" ckh.. malah manyun?minta di cium?"


"tadinya mau kesalon ngrapiin rambut"


"maaf..." Pasang wajah memelas,


Devan hanya melirik "wajah tante aneh" meledek


"hmm.. kau ini.. nakal ha.." tiara menggelitik pinggang Devan


Dr.Rizal merasa tak asing dengan wajah Devan tapi entah dimana mereka bertemu,dalam perjalanan Dr.mencoba terus mengingat tapi tak kunjung teringat,dan itu menyebabkan jarak mobil mereka lumayan jauh namun masih dalam jangkauan mata


Mobil Devan telah memasuki perumahan, tak berapa lama mobil Dr.pun tiba .Sejauh mata memandang tak terlihat lagi mobil Devan,mengharuskan Dr.menghentikan mobilnya di pos dan turun menghampiri satpam


" permisi pak"


"iya Tuan,ada yang bisa dibantu?"


"Rumah ibu Tiara sebelah mana?" satpam itu melihat Dr.dari atas kebawah " kenapa setelah kepergian putranya banyak sekali lelaki tampan nan kaya mencari Nyonya Tia" gumam satpam


"bapak bilang apa?" satpam itu terkejut mendengar suara dokter


"akh.. bukan apa-apa.." berkilah


"ckh.."


"ini dari sini lurus ada perempatan belok kiri,rumah paling ujung cat pink"


"oke terimakasih"


segera dokter meluncur sesuai arahan satpam


sesampainya dirumah Tia


Dr. Mandangi keindahan rumah Tiara " mungkin jika aku memiliki istri rumahku akan seindah ini"


"silahkan.." lamunanya buyar terdengar suara tiara menyambut


Mereka berjalan memasuki rumah


"kenapa dokter lama sekali" celetuk Devan


"Devan..." mata Tia melotot


"akh iya maaf .. Tadi saya sempat kehilangan jejak" jawab dokter terkekeh


Devan terlihat sibuk menyiapkan peralatan memasak


"silahkan dokter" mempersilahkan dokter duduk


"bukan kah dokter tinggal sendirian" Tia membuka percakapan


"benar" " kulihat dokter belanja banyak sayur,coba ku tebak.." sambil memainkan telunjuk di bibir ,Tia berfikir.Dokter Rizal tersenyum melihat tingkah Tia


"dokter jago masak juga?"


"ckh..anda terlalu berlebihan.. "jawab dokter terkekeh.."masak untuk dimakan sendiri,cukup ada rasa asin saja sudah nikmat haha.." lanjut dokter "haha.. dokter benar,apalagi kalau sedang sangat lapar.." mereka tertawa bersama


"kalo gitu tak usah beli sayur, stok aja garam yang banyak" celetuk Devan kesal yang dari tadi merasa di cuekin,"itu juga boleh" canda dokter membuat Devan semakin kesal,


"dokter,bagaimana kalo kita bergabung dengan Devan.." ajak Tiara "hmm boleh.."


"ckh.. apa- apaan ini" gerutu devan dalam hati

__ADS_1


"oke ..begini saja,kita taruhan.. siapa masakanya yang lebih enak" tantang Devan dengan sombong


"waaahhh.. bakalan seru nih" tia tersenyum


"lalu,apa taruhannya.." dokter menjawab santai


"hmmm..yang menang bisa kencan dengan tante" melirik Tia sambil menyungging kan bibirnya licik


"hah..kenapa aku bahan taruhannya" Tia kebingungan


" tentu saja itu tawaran yang bagus,ayo kita lakukan" jawab dokter serius


" ka..kalian serius.. ,tidak adakah jalan lain" tawar Tia


" ayolah tant.. kita sudah sepakat" rengek Devan


"ok kalo itu membuat kalian semangat"


membuka almari dan mengambil 2buah celemek,


"satu untuk dokter, satu untuk Devan" membagikan celemek


" tante tak usah repot, aku punya baju memasak sendiri, Devan mengambil baju chef dan memakainya dengan tanda pengenal di dada kirinya DEVANO MOEDJITO dengan bangga ia memamerkanya pada dokter dan Tia


dokter mengerutkan alisnya "Moedjito?"


dokter membuka ponselnya,di bukanya galeri mengotak atiknya dan ditemukanya foto Devan saat menghadiri pesta peresmian rumah sakit dahulu." pantas tak asing,bukankah dia putra sulung keluarga Moedjito" gumamnya dalam hati, dokter menyunggingkan bibirnya.


"ada apa dok?" tanya Tia cemas,karena tiba-tiba dokter sibuk dengan ponselnya


"akh..tidak ada"memasukkan ponsel dalam saku


"Tante duduk disana,kami akan mulai berlomba"Devan kesal karena Tiara terlihat memperhatikan dokter.


Tiara meninggalkan mereka dan duduk di meja tamu


Devan tersentak "apa maksud dokter?" Devan sedikit bingung dengan pertanyaan dokter


"tak usah berpura-pura.., ku yakin kau tau maksudku,bukankah bu Tia hidup seorang diri tak punya saudara? " Devan terdiam


"dokter banyak tau tentang tante Tia?" mencoba mengalihkan pembicaraan


"yah.. putranya pasienku,kami sering berbincang"


"kemana suaminya?" tanya Devan penasaran


"ckh... apa motifmu sebenarnya,kau suka padanya?" ejek dokter


" mari kita selesaikan " jawab devan singkat


mereka memasak dengan serius, bahkan tak keluar lagi kata-kata hingga selesai


mereka menghidangkanya di depan tia


"hmmm.. wanginya.. pasti nikmat" Tia mencicipi kedua hidangan itu


"hmm.. keduanya benar-benar nikmat, tapi punya dokter sedikit keasinan"


dokter terkekeh,


"aku pasti pemenangnya" celetuk Devan dengan bangga


drrtt.. drrttt.. hp Devan berbunyi


'Mama'


" permisi" ijin Devan dan lari keluar rumah

__ADS_1


"hallo.."


" pulanglah .. mama ingin bicara"


"iya"


segera ia mematikan hpnya dan masuk kedalam menemui Dokter dan Tia


" maaf semuanya aku harus pergi" devan melepas semua atribut masaknya,dan segera melangkah pergi


"Devan mau kemana?"tanya Tia cemas,karena Devan terlihat sangat buru-buru


"bagaimana keadaan anda, pasti sangan kesepian"


tanya dokter kepada Tia


"akh dokter... tentu saja aku kesepian" jawabnya sambil tertawa.Tia sangat pandai menyembunyikan kesedihan dalam hati


"Tapi tak terlihat anda kesepian"


" ya mugkin sedikit terhibur dengan orang-orang yang peduli" Tia memikirkan Devan


" apa saya termasuk?" goda dokter


"memang dokter peduli? "


" emh.. saya juga tak tau apa yang membawa saya kesini" timpal dokter


mereka tertawa bersama dan melanjutkan makan malam


Devanpun sampai dirumah,ia segera memasuki ruang keluarga.terlihat ayah,mama dan nenek sudah menantikan kehadirannya.


"duduklah sayang..." sambut nenek melihat kedatangan cucu tersayangnya.


Devan pun segera bergabung


Mama menyodorkan selembar kertas ke hadapan Devan.


"ini laporan keuanganmu,ada penarikan dana sebesar 1M " Devan sempat kaget,slama ini belum pernah ia mengambil tabungan sebesar itu mezki jumlah tabungannya banyak


"mama tak mempermasalahkan jumlahnya,mama hanya ingin tau untuk apa?"


"sisilia.." gumamnya dalam hati, "harus bilang apa"devan hanya menunduk sesekali memejamkan matanya,ia belum menemukan alasan


" dan juga kemana saja kau semalam tak pulang kerumah? kenapa akhir akhir ini kau banyak berulah" timpal mama dengan wajah sedih


"jawab devan!" gertak tegas papanya


"sejak kapan kalian peduli padaku? " jawaban Devan mengagetkan papa mamanya" kemana saja kalian saat aku terbaring di rumah sakit?"


"Devan! Slama ini papa mama bukan tak peduli padamu,kami percaya pada nenek,nenek pasti mendidikmu dengn baik"


"bukankah mendidik anak adalah kewajiban mama papa?"


"kau tau kesibukan kami" jawab tegas papa


" ckh klasik!" jawab Devan meninggalkan ruang keluarga


"Devan! " cegah mama


"biarkan dia pergi,dia butuh menenangkan hatinya,jangan terlalu keras padanya"nenek berusaha meredam amarah orang tua Devan


"mami tau kan ia tak pernah seperti itu,kami hanya tak ingin ia salah pergaulan" mama devan memberi penjelasan


"biar mami yang mengurusnya nanti" nenek mencoba meyakinkan


Devan mengunci diri di dalam kamar

__ADS_1


__ADS_2