Cinta Tulus Berondong

Cinta Tulus Berondong
1M


__ADS_3

Saat mengetahui Devan kabur,mamah Devan merasa bersalah karena selama ini tak pernah ada disampingnya "kau harus mencari Devan..bawa dia pulang" mama Devan merasa cemas mengingat Devan tak pernah bergaul di luar,sedang papa Devan menolak,ia merasa sakit hati karena untuk kedua kalinya Devan membangkang


"aku pasti mencarinya tapi tidak untuk membawanya pulang"


"apa maksudmu? Devan tak pernah tau dunia luar,bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya?"


"Devan bukan anak kecil lagi,ia sudah menentukan jalan hidupnya, dia akan benar-benar tau bagaimana hidup tanpa kasih sayang orang tua" Ayah Devan menyunggingkan bibirnya


"aku hanya mengurus anak yang patuh padaku,jika mereka memilih jalannya sendiri,aku tak melarang..belum cukupkah kau melihat putra pertamamu Rendra?..Tunggu saja, seberapa lama ia bisa bertahan,ia pasti kembali seperti apa yang dilakukan kakaknya dulu" ucap ayah Devan penuh keyakinan


Tia dan Devan sibuk membuat roti, Devan yang memang sudah berbakat dengan mudahnya mempelajari setiap resep yang Tia ajarkan


"kulihat kau sangat berbakat"


"Ckh.. Tante terlalu memuji.."


"mm.. Jika kau punya 1M akan kau gunakan untuk apa?" Tia memancing pembicaraan


"aku tak pernah melihat uang sebanyak itu" jawab Devan dengan santai, membuat Tia bertanya-tanya


"bukankah kemarin kau mengatakan kau menghabiskan uang sebesar 1M?"


Devan terdiam,ia menarik nafas dalam


"itu bukan aku, aku hanya memberi cek kosong pada mantan pacarku"


"apah??" Mata Tia terbelakak mendengar penjelasan Devan


"kenapa bukan aku saja yang jadi mantanmu?hah?..dasar bocah,tak berfikir dulu sebelum bertindak" Tia merasa sangat kesal " kau tau, kau bisa membangun sebuah restoran dengan uang sebesar itu" Devan hanya tertunduk diam


" kalau aku yang jadi orang tuamu, pasti sudah aku gulung dan ku pukul- pukul seperti ini" sambil meremas adonan roti


Devan juga kesal mendengar omelan dan tingkah Tia, lalu ia pergi meninggalkan Tia ke etalase depan


"Devan.." panggil mia

__ADS_1


"iya? "


mia datang membawa sebuah box roti siap kirim


" bisa antar pesanan roti ke alamat ini?" Devan berfikir "baik..ini kesempatanku menghirup udara dari pada mendengar omelan tante Tia"


"tentu" jawabnya dengan tersenyum


"ini kunci motornya.. Hati-hati ya.. "


Devan pergi meninggalkan toko


" bukankah tadi dia tersenyum kepadaku.." mia kegirangan terbayang bayang senyum manis Devan


Setelah lama berputar- putar akhirnya sampailah pada alamat yang dituju


Ting.. Tong.. Di pencetnya bel beberapa kali " Tia bakery" teriak Devan


Keluarlah seorang gadis cantik "Devan??.. " bisiknya, Devan hanya mengerutkan alisnya karena merasa tak kenal dengan gadis di depannya


" Sisil..." gadis itu berteriak memanggil seseorang,tak lama tiga orang gadis cantik keluar dari dalam rumah, Devan mengenal salah satu dari mereka, dia Sisilia mantan Devan


" bukankah dia Devan mantan lo?"


Sisilia tak menjawab ia masih tak percaya melihat Devan


"maaf , ini notanya silahkan tanda tangan" Devan menyodorkan kertas kepada gadis pemesan kue. Gadis itu menandatanganinya " apa hartamu cuma 1M? Sekali ambil langsung habis?? Haha. " salah seorang teman Sisil mengejek Devan, Devan tak menjawab ia berusaha mengontrol emosinya,setelah selesai Devan segera melangkah pergi,namun langkahnya terhenti karena lengannya di tahan sisil


"maafkan aku.." Sisil merasa besalah melihat keadaan Devan


" untuk apa?"


" semua salahku, sehingga keadaanmu jadi seperti ini.."


" ckh.. Jangan salah paham.. Ini tak seperti yang kau lihat" Devan melepaskan tangan Sisil, mengambil helm dan pergi

__ADS_1


"hmmm..1M lagi.. Kenapa hari ini yang di bahas 1M terus..seberapa berarti harta itu bagi mereka?" gerutu Devan dalam hatinya


Sesampainya di toko, Devan merebahkan tubuhnya di kursi, ia memejamkan matanya, terlihat seperti orang yang sedang marah


"kau sudah kembali? " sapa Tia, membawakan susu hangat untuk Devan.


Devan menarik nafas panjang,ia meraih gelas dan meneguknya sampai habis


" bagaimana perjalanan pertamamu?"


" menyenangkan" jawabnya singkat


"mau makan malam di luar?"


" terserah tante"


Mendengar jawaban Devan ,Tia hanya menganggukkan kepalanya


Dalam perjalanan pulang kerumah Devan hanya terdiam, Tia pun tak berani mengusik, sesampainya di rumah Tia segera membersihkan diri , begitupun Devan, ia langsung masuk kamar,merebahkan tubuhnya ke ranjang, dan di pejamkan matanya berharap segera melupakan masalahnya


'tok tok tok.. '


Tia beberapa kali mengetuk kamar Devan namun tak ada jawaban, mengingat Devan pernah mencoba bunuh diri,Tia menjadi panik


'ceklek


Tia lega karena pintunya tak di kunci, dengan jantung yang berdebar Tia melangkah masuk,dilihatnya Devan yang terbaring pulas di atas ranjang


"huft.." ia membuang jauh rasa takutnya, ia menghampiri devan, menatap wajah imutnya yang slalu membuat ia merasakan kehadiran Leo putranya. Tia memainkan telunjuknya di atas wajah Devan.. Mata.. Hidung..bibir.. Semua tentang Leo


Telunjuk Tia terhenti karena tangan devan memegang lengan Tia, mata Devan terbuka, mereka saling menatap.Jantung Devan berdebar kencang, Tia hanya tersenyum


"kau sudah bangun?, cepat bersihkan dirimu,kita makan di luar"


Devan tersadar dan melepaskan genggamannya

__ADS_1


Dibawah guyuran shower Devan terus memikirkan perasaanya pada Tia


"kenapa ia terus melakukan itu padaku" Devan memegang dadanya" perasaan apa ini, jantungku terus berdebar ketika ia mendekat,bisakah aku menahan rasa ini?"


__ADS_2