
Devan keluar kamar setelah selesai membersihkan dirinya.. Ia melihat Tia sudah menantinya di ruang tamu, Dengan mini dress yang anggun
Devan terpana melihat kecantikan Tia yang semakin hari semakin terpancar
jantung Devan berdebar,ia memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya
"iya..saya segera berangkat.." Tia menutup telpon,ia baru menyadari kalo Devan sudah keluar dari kamar
"kenapa bengong.. Ayo berangkat"
Devan berjalan membuntuti Tia
"kenapa berpakaian seperti itu" protes Devan yang merasa tak nyaman melihat Tia berpakaian sexy di malam hari
"kenapa? Ada yang salah dengan bajuku?" sambil membolak mbalik badannya
"rok tante terlalu pendek ini sudah malam apa tante tak kedinginan?" Tia cemberut sambil berfikir sejenak"akh dia benar.. " bisiknya dalam hati
"kenapa kau cerewet sekali" Tia berlalu memasuki kamarnya untuk ganti baju.
Devan tersenyum puas karena Tia mau menuruti perkataannya,
Devan merebahkah tubuhnya di sofa,ia sangat senang
' Ceklek
Tia keluar dari kamarnya dengan muka yang masih di tekuk
" bagaimana dengan ini" ia memperlihatkan dress lain yang ia pakai
"tidak.. Jangan pakai itu.. Meski rokmu agak panjang tapi lengamu masih terbuka" bantah Devan
Tia pun kembali kekamarnya
"padahal memakai apapun ia tetap cantik" Devan tertawa geli,
'ceklek
Tia keluar dengan dress panjangnya,membuat Devan semakin terpesona,matanya tak berkedip melihat kecantikan Tia.
"kenapa diam?ayo berangkat"
"Tidak.. Apa tidak ada baju lain? Kenapa kau senang sekali memamerkan lekuk tubumu.." Devan mendorong Tia masuk kamar,ia membuka lemari mencarikan baju untuk Tia.diambilnya sebuah celana jeans dan sebuah kemeja,diletakkannya di atas ranjang
"pakai ini"
"aku bukan remaja lagi Devan" jelas Tia "siapa peduli??" Devan mengangkat bahunya
Tia sangat kesal namun tak bisa menolak permintaan Devan, ia membawa bajunya menuju kamar mandi
Klek graak...
Tia melangkahkan kakinya, ia merasa aneh memakai baju yang sudah lama tak pernah ia pakai
"sempurna.." Devan tersenyum puas melihat Tia,diambinya sebuah sweeter dan di kalungkannya di pundak Tia
Tia hanya terdiam,ia merasakan desiran aneh dalam dirinya,jantungnya berdebar,ia memberanikan diri menatap Devan,perlahan ia mengangkat kepalanya,Kini mata mereka bertatapan,menatap sangat dalam...
"haah.. Bulu mata tante lepas.." sentak Devan
mata Tia terbuka lebar, getaran jiwanya rontok seketika,ia jadi salah tingkah
"benarkah??" ia langsung memalingkan badannya ,berlari kecil menuju meja rias,di depan cermin ia membetulkan riasannya"Perasaan apa itu" ia memikirkan apa yang barusan terjadi,hatinyapun menjadi gelisah
Drrtt.. Drrtt..
Hp Tia bergetar membuyarkan lamunannya.
" maaf.. Maafkan saya, saya segera sampai"
Tia menutup panggilannya,dilihatnya Devan dari tadi memperhatikannya
"Hmmmh.." Tia menarik nafas panjang"sadarlah Tia" ia berusaha keras membuang jauh ingatanya tentang kejadian yang baru saja ia alami
Segera ia mendekati Devan,Tia memaksakan senyumannya
__ADS_1
"ayo.. Kita sudah telat. " tia berusaha bersikap seperti biasa
" aku yakin,tante tadi menatapku penuh arti akh..." Devan berusaha meyakinkan hatinya
Devan dan Tia berdiri di depan gerbang menantikan kehadiran taxi yang sudah di pesan Tia
" kenapa naik taxi?" tanya Devan memecah keheningan
"lalu kau mau naik apa?"
" kita bisa naik motor? , lihat dandanan kita, bukankah kita mirip pasangan yang sedang berkencan?" Mengingat Devan memaksanya memakai pakaian abg,tia jadi kesal
"ckh kau ini.. Mana ada kencan dengan bocah ingusan" jawab tia sinis,ia tak sadar bahwa perkataanya menyakiti hati Devan,kekecewaan tergambar di wajah Devan
taxi pun akhirnya datang,Tia merasa lega tak sabar ingin segera berangkat,namun tiba-tiba Devan berubah pikiran
"kunci motor mana?"
Tia mengerutkan alisnya,tak paham maksud Devan
"mau apa?"
"mau jalan sendiri" mendengar jawaban Devan,Tia menjadi sedikit bimbang,ia bertanya-tanya dalam hatinya apa yang membuat Devan seperti itu matanya terus menatap Devan,dan ia bingung harus berbuat apa
"maaf mbak jadi jalan sekarang ?" tanya sopir taxi yang dari tadi menunggu.
Tia sedikit marah karena Devan mengacaukan semuanya,tapi Tia merasa tak tega meninggalkannya
"maaf pak saya cancel"
taxi pun segera berlalu meninggalkan mereka
Tia melangkah menghampiri Devan yang dari tadi tak acuh
"jadi naik motor?" Tanya tia sedikit kaku,karena menahan amarahnya,Devan tersenyum puas karena lagi-lagi Tia menuruti keinginannya
mereka berboncengan menuju restoran mewah
Di dalam restoran Tia melambaikan tangan pada seseorang yang telah lama menunggunya, Devan menghentikan langkahnya,setelah tau Tia akan makan malam bersama dokter Rizal
Tia menghampiri Dr.
"maafkan saya, menbuat Dr.lama menunggu" Tia merasa bersalah
"jangan sungkan duduklah..," Dr.menarik sebuah kursi mempersilahkan Tia duduk
"anda terlihat lebih muda" Dr.membuka percakapan.Tia teringat baju yang ia kenakan,ia merasa sangat malu"makan malam bersama seorang pria yang tampan dalam resto mewah dengan pakaian seperti ini..aduch..dikemanakan muka ini"gumamnya dalam hati,ia teringat Devan dan merasa sangat kesal
"mm.. maaf tapi dreess yang saya punya semua sedang di laundry.." jawab Tia dengan senyum terpaksa
" tak masalah, anda terlihat modis malam ini," goda Dr,wajah Tia memerah mendengar pujian Dr."silahkan memesan,bukan kah kita kesini untuk makan malam?" Dr. menyodorkan buku menu pada Tia
" akh.. tentu saja,untuk makan malam" Tia jadi salting,
"Devan" Tia teringat Devan "kemana anak itu pergi" membuat Tia sedikit gelisah, ditengoknya kanan kiri namun ia tak menemukannya
" sedang mencari seseorang?" tanya dokter yang dari tadi memperhatikan tingkah Tia
" akh.. tidak.. " kilahnya, tia mencoba lebih tenang dan melupakan Devan,
"bukankah ia bukan anak kecil, kenapa aku mesti mencemaskannya"
"bagaimana kabar anda?" Dr.membuka percakapan
dengan senyum manisnya Tia menyambut
"ehmm.. sangat baik"
"aku senang mendengarnya.. bagaimana usaha anda?"
"cukup lancar"
"kapan-kapan aku pasti akan mampir" goda dokter
"suatu kehormatan..." mereka berdua asyik mengobrol
__ADS_1
Sedang Devan,
"motor sialan.." ia mendorong motor yang kehabisan bensin.ditengah jalan ia melihat sebuah warung kaki lima,tanpa berfikir panjang ia segera masuk dan memesan makanan untuk mengisi perutnya yang dari tadi keroncongan
di dalam lumayan ramai pembeli
Devan yang datang dengan wajah tampan nan imutnya,dengan dandanannya yang cool bak bintang film langsung menjadi pusat perhatian."ada yang salahkah dengan diriku?" dalam hati ia bertanya-tanya, bahkan beberapa diantara mereka memandang dengan tatapan menggoda.sampai Devan mengernyitkan dahinya,ia merasa geli melihat tatapan mereka.
"silahkan.. " makanan yang di pesan pun tiba,Devan melahabnya dengan santai, ia tak menggubris orang-orang di sekitarnya.
setelah selesai.makan ia membuka dompetnya,matanya membelakak, ia terlupa semuanya yang ia miliki telah ia tinggalkan
"****** .."desisnya, ia berjalan mendekati sang penjual,
"mm..maaf uang saya ketinggalan" bisiknya kepada sang penjual
"dibelakang banyak piring kotor" jawab penjual itu dengan santai
"aish... " sambil menggosok lehernya
"lima puluh ribu, tukar nomer hp.. hm?" seorang cewek muncul memotong pembicaraan.cewek itu memberikan uangnya kepada pemilik warung,meski Devan belum menjawab.
cewek itu menatap Devan, mengangkat alisnya dan menyodorkan hp ke Devan,
Devan menerima dan mengetik sebuah nomor, lalu ia kembalikan,
"bagaimanapun terimakasih banyak"
Devan meninggalkan warung dan kembali mendorong motornya.cewek itu berlari mengejar DevanY setelah sadar nomer yang Devan beri tidak terdaftar.
"hoooiii... stooop" terdengar teriakan dari belakang, Devanpun menyadarinya ,segera ia mendorong dengan sekuat tenaga dan lebih cepat agar tak terkejar,sampai nafasnya mau habis..
'tiinn. tinn..
sebuah mobil menghampiri Devan
"Devan.. " terlihat Tia keluar dari mobil
Devan senang melihat Tia.senyumnya merekah,meski nanfasnya masih tersenggal
"apa yang terjadi" Tia panik mihat keadaan Devan
tangan Devan menunjuk seorang cewek yang berlari kearahnya
"tolong tante beri dia uang lima puluh ribu"
segera Tia membuka dompet dan mengambil selembar uang,diberikannya pada cewek yang mengejar Devan
" dasar miskin!" umpat cewek itu kepada Devan
" sebenarnya apa yang terjadi?" mengharap penjelasan dari Devan
"sopir tante nungguin tuh" Tia terlupa Dr.Rizal yang memberinya tumpangan
"akh..dokter maafkan saya,saya turun disini saja"
Tia merasa tak enak namun ia tak ingin sesuatu terjadi pada Devan
"baik," jawab Dr.singkat
"terimakasih dan hati-hati" Tia melambaikan tangannya sampai mobil berlalu
sesampainya di rumah Devan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa"huft capeknya..."
devan tersenyum melihat tia yang masih bediri didepannya dengan lengan menyilang di atas dada,"aih... jangan melotot seperti itu.. tante membuat takut anak ingusan ini"
"kau ini.." Tia merasa jengkel dan meninggalkan Devan menuju kamarnya..
"makan malam yang berantakan,bukannya memikirkan dokter ganteng,pikiranku penuh dengan Devan" Tia merasa sangat kesal "tapi kalo ingat cerita Devan, itu sangat lucu haha.."
Tia melangkahkan kakinya menuju dapur karena merasa haus "kebiasaan, kenapa tidur di sofa,dasar bocah" ia menghampiri Devan yang tertidur pulas
"ia sangat imut.. " jemari Tia menari di atas wajah Devan seperti sebelumnya
"jangan menggodaku.." terdengar suara Devan meski matanya masih terpejam,
__ADS_1