Cinta Tulus Berondong

Cinta Tulus Berondong
aku bukan anak kecil


__ADS_3

Pagi itu,


Harum bau masakan membangunkan Devan yang semalam terlelap di sofa ruang tamu, ia mengerjapkan matanya diarahkan pandangannya ke dapur,terlihat tia sibuk menyiapkan sarapan pagi,ia tersenyum melihat wanita yang akhir-akhir ini mengisi harinya,ia memperhatikan setiap gerak-gerik Tia,seorang wanita cantik dan tangguh yang ia kagumi


"kau sudah bangun" tanya Tia


"ya.." devan mengangkat kepalanya perlahan,ia memutar lehernya yang dirasa kaku,"awh... Punggungku.." devan meringis kesakitan,


"kenapa?" Tia merasa cemas,ia mematikan kompor dan segera menghampiri Devan


"kaku..." jawabnya menahan sakit


"tunggu disitu akan ku ambilkan cream.." Tia berlari kecil mengambil sesuatu dalam kamar dan segera kembali


"mana yang sakit,biar ku olesi ini sebentar?"


Devan segera membuka bajunya, terlihat dadanya yang bidang, membuat tia sdikit malu


"apa Yang kau lakukan,cukup di buka saja jangan dilepas semua" protes Tia yang merasa tak nyaman


"jangan cerewet, cepat.. Ini sakit.." gerutu Devan


Bagaimanapun juga Tia adalah wanita normal, meski Devan dianggapnya masih bocah, namun situasi ini membuatnya canggung


Tia duduk di samping Devan, jantungnya berdebar


"balikkan badanmu" perintah Tia


Devan membalikkan badannya memunggungi Tia


Tia menarik nafas dalam..


perlahan ia mengoles pungung Devan dengan cream


"lemaskan ototmu.." perintah Tia


" aku tak enak badan, mungkin tak bisa bekerja"


" tak apa, istirahatlah, aku sudah memasak untukmu, semoga lekas sembuh, aku akan berangkat sekarang"


Tia beranjak, mengambil tas dan melangkahkan kakinya keluar rumah


Terdengar suara motor meninggalkan rumah


Di toko roti


Tia sibuk dengan adonan rotinya


"maaf mbak Tia" mia datang dari etalase depan dengan tergesa


"ada apa?"


"ada seorang wanita mencari mbak tia, sepertinya dia orang kaya,"


"ckh.. Tau dari mana?" Tia tersenyum geli mendengar penjelasan mia

__ADS_1


"dia datang dengan mobil mewah,dan sangat formal" mia menunjukkan kekagumannya


" kembalilah kedepan, aku segera menyusul" suruh Tia yang masih sibuk memasukkan adonan ke dalam oven. Ia mencuci tangan dan mengganti bajunya


Tia menghampiri mia, dan mia menunjuk seorang wanita paruh baya yang duduk dengan elegan di kursi depan, Tia menganggukkan kepalanya tanda mengerti


Segera ia menemui wanita itu


" slamat siang" sapa Tia


Wanita itu berdiri


" siang.. Anda nona Tia? Maaf mengganggu waktu anda.."


"ahk ya.. Silahkan duduk" mereka duduk berhadapan


"saya tak kan basa basi,langsung saja, saya telah mendapatkan informasi, anak saya tinggal bersama anda" tia terdiam mendengar ucapan wanita paruh baya itu, ia belum mengerti


" akh ..Ya.. Saya ibu Devano moejito"wanita itu memperkenalkan diri


"owh... Devan?" Tia mulai sadar


"terimakasih telah menampung Devan selama ini, anda pasti kerepotan"


" dia sudah dewasa, aku hanya memberinya tumpangan,tak begitu merepotkan" ucapnya Tia sambil tersenyum


" saya merasa bersalah dan menyesal ketika ia tak lagi bersama keluarga. kami banyak mengabaikannya..dia adalah anak penurut,hanya mungkin kami yang terlalu mengekangnya" Tia mendengar setiap curhatan wanita itu mengenai Devan


"anda tak keberatan untuk sementara waktu biarkan dia tinggal bersama anda? saya ingin anda menjaganya, sampai ia memutuskan untuk kembali kepada kami?" wanita itu memohon kepada Tia, sedang Tia masih tak bergeming dan hanya mendengarkan


"saya tak yakin ia mau menerima jika tau ibunya yang memberikan ini,jadi saya minta anda merahasiakannya" Ibu Devan menatap Tia dengan penuh harap,


"aku yakin anda pasti sangat mencemaskannya. Aku akan berusaha" dengan mantap ia memenuhi keinginan ibu Devan


"saya sangat senang, terimakasih saya pamit.."


Wanita itu meninggalkan Tia


siang itu Devan sudah merasa baik, ia merasa bosan di rumah tak mengerjakan apapun


"huft.. kenapa jadi orang aku gk guna banget yach.." dia memikirkan sesuatu yang bisa ia kerjakan


"gimana kalo bikin makan malam yang romantis dengan tante,akh.. ide bagus.aku akan masak yang enak untuk tante.." segera ia berlari kedapur, dibukanya kulkas milik Tia,ia mengerutkan alisnya.. karna tak menemukan apapun.


" huft tak ada apapun yang bisa ku masak" ia terunduk lesu "aku harus belanja" pikirnya dengan hati senang ia berlari kecil,namun langkahnya terhenti karena ia teringat sesuatu, wajahnya murung " belanja pakek apa?? uang tak punya" ia merebahkan tubuhnya di sofa


setelah lama ia berdiam akhirnya bosan juga,ia memutuskan untuk berjalan-jalan


Devan mengikuti langkah kakinya yang tak tau menuju kemana, hingga sampailah ia di depan pertokoan dekat komplek.langakah Devan terhenti di depan sebuah toko sepeda,ia melihat anak kecil menangis dan merengek kepada ibuknya untuk di belikan sebuah sepeda,terpampang jelas wajah sedih sang ibu yang berusaha membujuk dan memberi pengertian anaknya bahwa ia belum mampu membelikannya.


Devan merasa iba melihatnya.


Devan teringat pada orang tuanya, tak pernah sekalipun ia meminta sesuatu pada orang tuanya karena segala yang ia butuhkan sudah terpenuhi tanpa ia meminta


kecuali waktu, hanya waktu untuk bersama yang ia pinta .

__ADS_1


Devan menarik nafas panjang, dan melangkahkan kaki meninggalkannya


Devan memasuki sebuah pasar besar,ia menuju penjual sayur.


terlihat ia sibuk memilih sayur


"silahkan.. anda membutuhkan apa?.." sapa salah satu penjual dengan ramah,


"saya memerlukan banyak sayuran, tapi saya tak punya uang.." jawab Devan dengan santai,


seketika wajah penjual yang penuh senyuman berubah


" kau kira aku akan memberinya dengan gratis ha?"ia memaki Devan, bahkan ia mengambil sawi lalu di pukulkan ke pundak Devan


"aku bahkan belum membawa barangmu!"jawab Devan dengan kesal


"kau kira dengan wajah polosmu aku akan tertipu?"matanya melot,penjual itu terus memaki dan memukul, tak hanya di pundak bahkan muka Devan tak luput dari pukulannya,Devan tak di beri kesempatan untuk membela,"kesetanan apa ni orang?" dalam hati Devan berbisik. ia pun memutuskan mengambil langkah seribu,tak cukup hanya seikat sawi,tomat kubis,lobak semua di lemparnya..Devan sampai lari terbirit-birit


"enyahlah kau!!" teriak pedagang sayur


Devan bejalan meninggalkan pasar,dan pulang kerumah Tia.


langkah Devan terhenti ketika memasuki rumah,


ternyata Tia sudah menunggu kepulangan Devan


"dari mana?" Tanya tia dengan tegas.devan tak menjawab,Devan hanya melirik Tia dan berlalu menuju kamarnya


Di hempaskan tubuhnya di atas ranjang,matanya menatap langit-langit rumah,hatinya merenung tentang kejadian yang ia alami hari ini


" sebegitu hinanya kah orang yang tak punya apa-apa?, hmmmh..apakah tanpa harta kita tak tampak di mata mereka?, mungkin ini yang membuat orang tuaku rela kehilangan waktu bersamaku?, salahkah aku yang meninggalkan mereka?"


'tok 'tok


suara ketukan pintu membuyarkan renungannya,


Tia menghampiri Devan,dan bersandar di depan almari,tanganya dilipat di depan dada, ia menatap Devan


Devan segera bangun dan duduk wajahnya tertunduk,


"apa yang terjadi?" tanya Tia penasaran,ia mengambil kursi dan duduk menghadap Devan yang tak bergeming,tangannya mengangkat dagu Devan


"katakan sesuatu"


mata mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat


desiran aneh sangat terasa di tubuh Devan


"jangan menggodaku,aku bisa memakan tante" jawab Devan dengan lirih


"ckh.. " tia tertawa dan melepaskan tangannya "aku bukan sedang menggodamu,bukankah ini yang dilakukan setiap orang tua untuk menenangkan anaknya" jelas tia


"tapi aku bukan anak-anak lagi" kata kata Devan membuat Tia geli, ia menyungingkan bibirnya keatas seakan meledek Devan yang tak ingin di sebutnya anak kecil,ia memajukan wajahnya dan mempertegas perkataannya


"tapi kau tetap lah seorang bocah di mataku" devan semakin kesal mendengar perkataan Tia, ia meraih kedua pipi Tia dan mendaratkan sebuah ciuman

__ADS_1


__ADS_2