
Dalam perjalanan ke toko
"ada masalah apa sampai memutuskan kabur?"
"orang tuaku tak membutuhkan aku"
"ckh.. Mana ada orang tua seperti itu"
"aku menggunakan uang mereka sebesar 1M"
"Apa?" Tia sangat kaget sampai langkahnya terhenti,ia menatap Devan
"kenapa?" Tanya Devan dengan wajah santainya
"lalu untuk apa uang sebesar itu?"
"hmmmh.. Ceitanya panjang, tante takkan punya waktu untuk mendengarkan" kilah Devan karena malas membahas masalahnya
"kenapa tak punya" Tia menyipitkan matanya
"ini sudah hampir pukul 8" Devan mengulurkan tangannya,segera di raih Tia dan dilihat jam tangan Devan
Ia terperangah "ahh..... Tidak.. Cepat ayo.." Tia langsung menarik tangan Devan dan berlari,sampai Devan hampir terjatuh.
"aishhh.. Kau tak apa?" memeriksa keadaan Devan
"lepaskan tangan tante,aku bisa lari sendiri" Tia segera melepaskan tangan Devan yang sedari tadi ia genggam erat
"a..akh.. Iya..maaf aku panik" Tia terdiam ia panik tidak tau harus berbuat apa
"kenapa diam,ayo lari lagi"
"akh..iya"Tia segera lari meninggalkan Devan
Tia berlari secepat ia bisa sampai ia terlupa dengan siapa ia pergi tadi
" tante capek?" Sapa Devan yang tiba-tiba datang dengan sepeda ontel
"haahh... Kau..dasar curang..." teriak tiara yang dengan nafas tersenggal,Devan terus mengayuh sepeda dan melambaikan tangannya
"tunggu...!!!..hah..hah..tega sekali" Ia pun mempercepat larinya..
Tia melihat Devan menunggunya di persimpangan jalan,
didalam hati tia berbisik
"hmm.. Akhirnya dia tak tega..awaz ya.."
"akh.. Trimakasih telah menungguku..kau memang anak yang baik"
"tante jangan salah paham,aku cuma bingung kemana aku harus berbelok"
Dilihatnya memang mereka sedang berada di perempatan
"hmmmh.. Kau benar..." sambil mengatur nafasnya
"kalau kau tak mau memboncengku,aku takkan beri tau"
"akh.. Iya.. Naiklah .."
Tia naik dan merengkuh pinggang Devan
"sepertinya sepeda ini tak asing bagiku?"tia mengamati sepeda yang mereka pakai
"tentu saja pinjam pak satpam"
"dasar kau anak nakal" tia menggerutu.."apa tante bilang?"
Tia hanya terkekeh
Sesampainya di toko roti
"maaf semuanya sudah membuat kalian menunggu lama" Tia meminta maaf pada kariawannya,ada 2 orang yang membantu Tia di tokonya,
__ADS_1
Mereka mulai bekerja,
Devan menikmati pemandangan di dalam,ia mengamati setiap perabotan toko
"mbk siapa cogan itu?"tanya salah mia salah satu karyawannya
"hah?" Tia baru teringat kalau ia datang dengan Devan
"itu Devan,keponakanku"
"kenalin donk mbk.. " mia memohon pada Tia, ia terus mengamati setiap gerik Devan dengan pandangan bergairah seakan ingin menerkam Devan.
Tia merasa jijik dengan tingkah karyawannya itu, ia memicingkan matanya
" mia! Berhenti dengan tingkah anehmu,cepat kembali bekerja!" perintahnya karena merasa kesal
"maa..af, baik"
Tia menghampiri Devan yang sedang duduk melamun
" sebentar lagi para pelanganku akan datang, kau mau membantu atau cuma ingin jadi pajangan disini?"
Devan tersenyum mendengar candaan tia,
" Menurut tante, apa ada yang menarik dalam diriku sehingga cocok untuk di pajang?"
"setiap manusia punya daya tarik tersendiri, kau tau setiap Wanita yang melihatmu bahkan dengan jarak sejauh 100m,mereka akan tergoda padamu,percayalah.." devan memalingkan wajahnya dari jendela kaca dan menatap tia
" ckh.. Benarkah?"
" hmm.."Tia mengangukkan kepalanya
" termasuk tante?"
"hah?" mendengar pertanyaan itu Tia kaget,
"owh... Babyku sayang..."
Devan terlihat kesal,bibir manyunnya terlihat sexi
Jantung Devan berdebar karna tiba-tiba tangan Tia menyentuh poni Devan "kau manis sekali" bisiknya, membuat wajah Devan memerah,Tia tersenyum melihat expresi devan,lalu tia mengacak-ngacak rambut devan"ayo masuk"
Tia beranjak dari tempat duduknya
mengajak Devan masuk untuk melayani pelanggan
"aku iri melihat mbak Tia, ia terlihat sangat akrab dengan keponakannya yang gantengnya gk ketulungan" curhat mia kepada rini " akupun iri tapi gak seheboh kamu" jawab rini sinis,keduanya karyawan Tia yang seusia dengan Devan
Tia membawa Devan menemui Mia dan Rini
"ini rini dan ini mia, mereka karyawan disini kau akan membutuhkan mereka"
mereka sangat senang akhirnya Tia memperkenalkan Devan, mereka melempar senyum tiada henti,namun Devan hanya menganggukkan kepalanya memberi hormat
" kembali bekerja" perintah Tia yang dari tadi memperhatikan tingkah mereka
" dia dingin sekali.. " gerutu mia
"bukankah itu yang membuat kita semakin penasaran hihi..." saut rini
jam istirahat puntiba para pelajar SMA mulai berdatangan
"silahkan.." Mia menyambut kedatangan pelanggan nya, seorang anak SMA, tapi ia tak menyahut sambutan Mia,ia memandangi Devan yang sedang sibuk menata roti, dan anak itu memilih menghampiri Devan sambil tersenyum
" mas mau yang ini, ini juga boleh mmm...ini terlihat sangat manis,kurasa ini juga manis"
Devan mengambil satu persatu roti yang ditunjuk,lalu Devan mengambil kotak untuk membungkusnya
"tidak jangan di bungkus,aku ingin menikmati rotinya disini"
" akh.. iya" "apa iya akan dimakan semua roti sebanyak ini?" gumam Devan dalam hati
anak itu terus menatap Devan sambil tersenyum,
__ADS_1
"silahkan bayar ke kasir"
anak itu masih saja tersenyum melihat Devan,sampai tak sadar waktunya membayar
"hei.. kau baik-baik saja?" bentak rini yang tersadar anak itu terpesona kepada Devan
"akh.. iya" segera anak itu berlari ke kasir,ia membayar dan duduk di bangku depan, dan terus melihati Devan
"kerasukan apa tu cewek,ikh.. serem" Dwvan mulai tak nyaman
pelanggan kedua,ketiga dan seterusnya terulang lagi kejadian itu,
Tia yang dari tadi sibuk membuat roti di belakang telah selesai,ia keluar untuk mengisi etalase
matanya membelakak melihat kejadian yang belum pernah ia lihat,toko rotinya penuh pelanggan sampai bangku yang ia sediakan tak mampu menampung,dan sederet antrian di depan kasir
" wah... ada apa ini?" bisik Tia di telinga rini
"entahlah, tapi mereka rela mengantri untuk mendapat pelayanan dari keponakan mbak Tia"
Tia mengalihkan pandangannya ia menatap Devan. terlihat cemberut karena harus menghadapi para wanita yang terpesona kepadanya,Tia sangat mengerti perasaan Devan, dia bukan anak yang suka tebar pesona dan tak suka keramaian
"Devan.. kau pasti capek, masuklah..biar tante yang menggantikan"
" ya" jawabnya singkat dan segera meninggalkan etalase
Tia segera menyelesaikan pekerjaannya
satu persatu pelanggan meninggalkan toko
Tia segera menyusul Devan yang masuk dan beristirahat di teras belakang, ia terlihat sedang duduk mengenakan aerphone
Tia duduk di sebelah devan
Dengan perlahan Devan membuka aerphone
" aku minta maaf.." Devan tak bergeming
"aku tau kau pasti belum terbiasa dengan semua ini,tapi.."
" aku senang bisa membantu tante, tapi aku tak suka dengan ini"
"Devan.. aku tau kau bukan orang biasa, kau pasti dari keluarga bermartabat yang tak terbiasa bergaul dengan kalangan seperti ini" Dengan tenang tia mencoba membuat Devan memahami keadaan
"bukankah kau akan membuktikan pada keluargamu kalau kau manusia yang berharga? ,disinilah kita memulai.. temukan siapa dirimu..
,gunakan apa yang Tuhan anugerahkan padamu"
"tapi aku risih menghadapi mereka tant.." jelas Devan yang dari tadi menahan kekesalannya
" cobalah memahami keadaan dan nikmati.."
Tia menggenggam tangan Devan dan memberinya semangat
" mereka tak kan memakanmu, mereka hanya mengagumimu..jangan masukkan dalam hati.."
Devan masih terdiam
"ok,kau belajar membuat roti bersamaku di belakang, biar Mia dan Rini yang melayani pelanggan"
Devan tersenyum
"kau tersenyum? kau senang? hmm.."Tia menggelitik pinggang Devan dan mereka tertawa bersama
Tia merasa lega karena Devan mau mengerti
"padahal aku sangat senang rotiku tadi sangat laris hmmh.."
"Tante mau memanfaatkanku?"
"huum seandainYa kau tak ngambek..haha.." tia mengejek dan berlari masuk kedalam
"aish... tante terlalu jujur " Devan mengejarnya..
__ADS_1