
Devano memacu mobilnya
setelah lama berputar putar di jalanan
dia memasuki perumahan
dihentikannya mobilnya di sebelah pos satpam
"permisi.. "
seorang satpam keluar dari pos
"iya mas, ada yang bisa di bantu?"
Devan menyodorkan kertas yang dibawanya
"alamat rumah ini sebelah mana pak? "
satpam itu mengerutkan alisnya,ia memandangi devan dari atas kebawah
"ada yang salah? " tanya Devan keheranan
"akh tentu tidak.. silahkan masnya lurus aja,ada perempatan belok kanan, rumah cat warna pink paling pojok"
"oke.. "
"maaf mas.. boleh pinjam ktpnya?"
" tentu.. " sambil merogoh dompetnya ia mengeluarkan ktpnya"
satpam itu mengeluarkan ponselnya dan memfoto ktp Devan
"makasih mas.. cuma buat laporan.. "
"oke.. "
Devan segera berlalu meninggalkan pos satpam
ia mengememudikan mobilnya sesuai arahan satpam tadi
sampailah ia dirumah cantik bernuansa pink dan banyak tanaman bunga
Devan turun dari mobilnya..
ia berdiri di depan pagar kayu yang tertutup rapat
'teeeeeettt..
'teeetttt..
devan memencet bel beberapa kali..
lama menunggu tak ada jawaban
'teeetttt..
'teeeettt..
diulanginya lagi..
"apa mungkin Dia tak dirumah ya? " gumamnya
saat Devan melangkahkan Kakinya hendak pergi
'klek.. graaakkkk.. ' pintu gerbang terbuka
__ADS_1
langkah Devan terhenti,ia membalikkan tubuh nya
Tiara berdiri dihadapannya, seorang wanita yang ia lihat di rumah sakit waktu itu
wajahnya tertunduk dengan rambut yg sedikit acak-acakan,sangat terlihat seperti orang yang sedang frustasi
"apa kakak baik-baik saja? "tanya Devan memicingkan matanya
mendengar suara lembut Devan,Tia mengerjap matanya
perlahan ia mengangkat kepalanya
air matanya mengalir,dadanya sesak
Tia mengangkat kedua tangannya menyentuh kedua pipi Devan,matanya menatap wajah Devan
Devan memang baby face, ia mirip dengan Leo,anak Tiara.Bahkan Tiara menyadarinya sejak pertama kali mereka bertemu.
Tia tersenyum lalu ia menangis dan memeluk erat Devan.Devan yang tak tau apa yang terjadi hanya terdiam kebingungan
setelah merasa puas menangis,Tia tersadar dan melepaskan pelukannya
ia menghapus air matanya
"mmmhhaaakh.."Tia menghela nafas panjang
"maafkan aku.. " meski matanya terlihat lembam namun terlihat ia tersenyum pada Devan
"akh.. i.. iya" jawab Devan yang masih kebingungan
" mau masuk?"
"tentu"
mereka berjalan memasuki rumah..
Rumah tiara berkonsep minimalis sehingga dapur dan ruang tamu tak memiliki sekat tembok
"kopi? teh? "
"akh.. tak usah repot kak" Devan mengikuti langkah tia ke dapur
"mmm.. kakak punya susu hangat?"
"akh kau ini.." tia tersenyum lebar sampai gigi putihnya yang berjajar rapi terlihat
"ngapain ikut kesini.. duduk sana.. "
"rumah kakak asyik.. aku suka" Celetuk Devan kegirangan
Devan duduk di sofa ruang tamu
"kakak tinggal sendiri?"
pertanyaan Devan membuat tiara terdiam sejenak matanya merlirik keatas memikirkan kejadian yang menimpanya..
ia memejamkan matanya menarik nafas panjang
"iya.. " jawabnya singkat
Devan yang tersadar jika ia menyinggung perasaan tia,hanya bisa menggigit bibir nya
" maaf.. boleh tanya lagi?" Devan sedikit takut untuk bicara
" kau ini banyak bicara seperti wartawan saja" canda tia
__ADS_1
"kak.. "
"apa? " Tia memasang wajah cemberutnya, sambil berjalan membawa susu ke meja tamu
"kita belum kenalan.. hakh.. " jawab Devan sambil tertawa
Tia juga kaget
" benarkah??.."
mereka tertawa bersama
"Devano" mengulurkan tangannya
"Tiara" mereka berjabat tangan
"apa yang membawamu kemari?"
mata Tia tak lepas dari wajah Devan
Devan bingung harus berkata apa
"akh..Aku.. aku.. hanya ingin tau keadaan kakak" Devan tertunduk,
"Apa kau berfikir aku akan bunuh diri?"
Devan menoleh teringat kejadian dirumah sakit
"aish.. kakak mengejekku" devan kesal,ia mengerucutkan bibirnya..
" idiiikh... cakep bener kalo lagi ngambek.. " goda Tiara
"kakak.. " teriak Devan manja
drrrttt..
drrrrtt..
handphone Devan bergetar
'my honey' tulisan dilayar hpnya
"permisi sebentar" pamit devan mengangkat telfon
Tia hanya mengangkat kedua alisnya
"iya"
"aku di cafe biasa, mari ketemu"
Devan tak menjawab,ia mematikan panggilan telefonnya
"maaf kak..aku ada urusan.aku pergi dulu"
Tiara hanya mengangkat kedua bahunya
Tia mengantarkan Devan sampai gerbang
"hati-hati.."
"tentu..kita belum selesai, aku akan mampir lagi"
Devan berlari menuju mobilnya dan berlalu
"ckh.. " Tia Hanya tersenyum melihat tingkah Devan yang masih di anggapnya bocah
__ADS_1
#jangan lupa like dan komenya kawan