
"hah? " Tia kaget mendengarnya
Devan tersenyum melihat expresi Tia
"pergilah.. aku senang jika tante bahagia"
Tia pun ikut tersenyum
'
teeettt. teeettt
Tia yang sudah bersiap dari tadi segera membukakan pintu
Dr. Rizal tertegun sejenak melihat Tia yang menggunakan gaun berwarna merah tampak anggun,
"mm... mau berangkat sekarang?? "
pertanyaan Tia membuyarkan lamunan Dr.Rizal
sedikit terkejut dan malu ia menjawab
"akh.. tentu.. "
Tia segera mengunci pintu dan merekapun berangkat
dlm perjalanan-
"hari ini anda terlihat sangat cantik"
"apa itu berarti tiap harinya tidak cantik .. "
"akh. .bukan begitu, mungkin hari ini terasa spesial"
Tia hanya tersipu malu
" oh ya.. aku tak melihat keponakan anda?" karena tadi tak terlihat Devan yang selalu membuntuti Tia
" akh.. tadi pagi dia ijin keluar main kerumah temannya, dia jg bilang mungkin pulang agak malam"
__ADS_1
Dr. Rizal hanya tersenyum mendengar penjelesan Tia,karena ia yakin Devan akan menghadiri pesta juga
" kita akan ketemu dia nanti" jawab Dr. dengan lirih
"apa? " Tia penasaran karena mendapat jawaban yg samar
"hah.. bukan apa apa.. " jawabnya mengelak
sesampainya di sana Tia terkagum melihat pesta yang megah..
banyak kaum elite yang hadir
Dr. Rizal menganggat tangannya mempersilahkan Tia untuk menggandeng, dengan malu Tia pun melingkarkan tangannya
"hai.. Dr. Rizal.. bawa calon " sapa seorang temannya
"hehe.. masih teman.. " jawabnya sedikit malu,sambil melirik Tia
Tia hanya tersenyum
"cepetan di sah in.. keburu diambil orang " goda temannya..
"kau pulang?"
seorang lelaki paruh baya menghadap luar jendela dengan senyuman sinis,bertanya pada Devan yang baru memasuki sebuah ruang kerja
hanya hening dalam ruangan
lelaki itu ayah Devan, Moedjito.
" apa yang sudah kau dapatkan di luar sana?"
lelaki itu menghampiri kursi besar di sebelahnya, dan duduk disana
"Devan.. Kau tau kakakmu hari ini hadir di tengah kita. Dia dulu sama sepertimu,seorang pembangkang.tapi ia sadar tak ada yang bisa diharapkan diluar sana, akhirnya ia kembali. lihat lah dia sekarang.. seorang yang sangat membanggakan keluarga"
"belum pa"
entah apa yang dipikirkan Devan sehingga ia berani menjawab. ia hanya merasa banyak hal yang tak ia dapat dari Keluarganya selama ini
__ADS_1
"Devan banyak belajar tentang kehidupan diluar sana, mungkin sekarang Devan belum bisa buktikan, tapi Devan janji.. Devan juga bisa jadi kebanggaan mama papa"
mendengar penjelasan Devan, Tuan moedjito hanya menyunggingkan ujung bibirnya
"omong kosong" ucapnya lirih
meski lirih tapi perkataan ayahnya menusuk hati Devan.
Devan pun pamit dan meninggalkan ayahnya
~Ditengah pesta Devan hanya mampu menatap Tia dari jauh karena ia tak ingin Tia tau keberadaannya
"tante Tia sangat cantik malam ini,senyumnya,membuat hatiku berdebar tak karuan.. " gumam Devan sambil memperhatikan Tia yang sedang sibuk ngobrol dengan teman-teman Dr. Rizal
"inilah dia tamu agung kita malam ini,yang akan bergabung di rumah sakit kebanggaan kita, ahli bedah kita ALVIN MOEDJITO beri tepuk tangan.. " suara mc menggelegar mempersilahkan
Dr. Alvin kakak Devan yang telah lama tinggal di luar negri
bak di sambar petir Tia mendengar nama itu Segera ia menoleh dan matanya tertuju pada seorang lelaki yang berdiri di atas podium
mata Tia membelakak seakan tak percaya, lelaki yang pernah mengisi hati dan hidupnya yang menanam buah cinta dan meninggalkannya, lelaki yang telah lama menghilang bak di telan bumi kini muncul dihadapannya.
tubuh Tia gemetar dan merasa lemas
Devan mengerutkan alisnya "ada apa dengannya?"
Devan yang dari tadi memperhatikan Tia merasa aneh dan khawatir
"maaf saya mau ke belakang" sambil menahan air matanya ia meminta izin pada Dr. Rizal
tanpa rasa curiga Dr. Rizal mempersilahkan
Tia berusaha kuat, ia tak ketoilet tapi pergi meninggalkan pesta.
ia menyusuri pinggiran jalan tanpa tau kearah mana ia akan pergi
langkahnya semakin lunglai bahkan sampai ia pingsan
__ADS_1
"brukh"