
Hari ini hari pertama toko roti milik Tia akan buka,dari pagi ia membuat berbagai macam roti untuk di jualnya.ia juga menghubungi beberapa partner kerjanya untuk membantunya.Dan lumayan ramai pengunjung, pelanggan yang sudah lama rindu roti favorit mereka,terutama kalangan remaja,karena tokonya dekat dengan sebuah sekolah SMA.
"kenapa tante lama tak buka?" tanya salah seorang anak SMA langganan Tia,dan ini bukan penanya pertama
"akh.. Iya.. Maaf" pelajar itu tersenyum "tapi aku senang tante sudah kembali, nggak bingung lagi cari tempat makan dan nongkrong yang asik"
Toko roti Tia tak hanya menjual roti,berbagai makanan ringan dan minuman dingin juga ada,tesedia meja kursi seperti di cafe sehingga pelanggannya bisa makan ditempat sambil nongkrong.
Hari itu hujan deras,dan malam hampir tiba, Tia pun segera beberes dan menutup tokonya, dibukanya payung dengan warna pink favoritnya.. Ia memilih pulang dengan jalan kaki, jarak dari rumahnya tak terlalu jauh hanya setengah jam jika jalan kaki,Tia ingin menikmati guyuran hujan sehingga ia meninggalkan motornya di dalam Toko.
Gemercik air hujan menambah kesunyian hatinya, ia merasa sendiri lagi,kesepian, Leo,Devan semua bergelayut dalam pikirannya
Ditengah derasnya guyuran air hujan samar-samar ia melihat ada orang duduk meringkuk kehujanan di depan rumahnya, hati Tia tak tenang ia segera berlari kecil menghampirinya, ia kenal orang itu Tia pun duduk jongkok di depannya, hatinya bergetar,air matanya mengalir
"Devan"sapanya lirih
Devan mengangkat kepalanya perlahan,melihat Tia didepannya ia tersenyum.
Hati Tia rasanya bercampur aduk,tanpa sadar ia menjatuhkan payungnya, diraihnya kepala Devan ditarunya di atas pundak Tia, "ckh.. Kemana saja kau slama ini,dasar anak nakal.."
Mereka berpelukan di bawah guyuran air hujan.
Segera ia membuka gembok pagar dan mengajak devan masuk
Tia memberinya handuk "cepat keringkan tubuhmu" lalu ia berlari masuk kamar membersihkan diri,lalu memporak porandakan isi lemari untuk mencari pakaian yang mungkin bisa di gunakan Devan, ia menemukan kaos dan celana olehraga.
"ku rasa ini bisa kau pakai" menunjukkan pakaiannya pada Devan
"tak ada yang lainkah? Ini sudah malam kenapa pakaian olahraga?"
"jangan cerewet cepat ganti bajumu!" Tia memberikan bajunya dan mendorong Devan masuk kamar mandi
Tia menuju dapur,ia memasakkan sup untuk Devan,
Hatinya sangat gembira karena Devan telah kembali
" masak apa?"
Tangan Devan melingkar di pinggang Tia,dan disandarkannya kepala Devan di punggung Tia
" akh.. Kau mengagetkanku,lepaskan tanganmu.. " Tia merasa kesal
"kepalaku terasa berat" Jawab Devan lirih.. Tia memegang tangan Devan,matanya terbuka lebar
" suhu badanmu panas" segera Tia membalikan badannya dan membopong Devan duduk di sofa,badanya panas dan lemas akibat kelelahan dan kehujanan
"istirahatlah disini.. Akan ku ambilkan sup" bergegas ia kembali kedapur mengambil semangkuk sup
"hak...buka mulutmu"
__ADS_1
Tia menyuapi Devan sampai selesai dan memberinya obat penurun panas
"tidurlah.." Tia membantu Devan merebahkan badan
Diambilnya handuk dan mengompresnya dengan air hangat, wajah Devan sangat pucat membuat Tia tak tega meninggalkannya,
Dengan tlaten Tia mengganti kompresnya sampai ia tertidur di sebelah Devan
Pagi pun tiba
Perlahan Devan membuka matanya,di ingat-ingatnya kejadian kemarin,sejenak ia memejamka matanya, ia mengangkat kepalanya karena hendak bangun tapi tetahan karena ia melihat Tia yang duduk bersimpuh di di bawah sofa,ia tertidur dengan menggenggam tangan Devan, ia sangat terharu atas perlakuan Tia terhadapnya, kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari orang tuanya. Devan menarik nafas panjang dan duduk.
Wajah Devan tertunduk lesu karena teringat masalah dengan orang tuanya
Tia pun terbangun,ia mengangkat kepalanya
"emmh.. Kau sudah bangun?" segera ia meletakkan telapak tangannya di kening Devan
"hah... Syukurlah" menghela nafas, Tia merasa lega karena suhu tubuh Devan sudah normal
" tetap disitu aku akan membuatkanmu sarapan "
Tia memasakkannya bubur ia terlihat sibuk keluar masuk kamar dan dapur karena ia juga harus bersiap untuk bekerja
Devan hanya tersenyum melihat kesibukan Tia
"makanlah.. semangkuk bubur lengkap dengan ayam sayur plus susu hangat,ku beri nutrisi yang terbaik untuk babyku"
"tentu saja bekerja,seberat apapun masalah kita,bukankah hidup akan terus berjalan?" Devan hanya mengangkat alisnya lalu melahab bubur didepannya
" mau istirahat dirumah,atau mau bantu tante?" Devan menghentikan suapannya
"bantu apa?" "cepat habiskan,dan bersihkan dirimu,kau terlihat lucu memakai baju itu" Tia tertawa melihat Devan memakai baju olah raga yang sedikit kekecilan "akh tante... " Devan merasa kesal " bukankah kemarin aku membawa ransel" Pikir devan
" tant.. Apa kau melihat ranselku? "
"akh iya.. Aku lupa ranselmu masih di luar" segera Devan berlari keluar
" pagi mas.." sapa satpam yang memang berada didepan rumah saat itu,Devan tak menjawab ia clingukan mencari ranselnya
" cari ini mas? " tanya pak satpam sambil menunjuk ransel di dalam kranjang sepedanya
"akh.. iya itu"
"tadi malam saya temukan di depan situ,kehuJanan,untung ranselnya anti air,pasti mahal ya mas?"
" pak satpam ada aja.. , bagaimanapun terimakasih banyak" ia bergegas memasuki rumah namun langkahnya terhenti
"mas! " pak satpam memanggil lagi
__ADS_1
"aduh... apa lagi sich" dalam hati merasa jengkel Devan memasang senyum manisnya
"iya pak.."
" mau ngineb lama ya.. kok bawa baju banyak?"
"iya pak sama mama di suruh nemenin tante"
"saya lihat bu Tia keadaannya udah membaik y mas,kemarin Toko rotinya juga sudah buka" Devan mengerutkan alisnya "toko roti?"
"a.. iya toko roti,saya akan bantu-bantu di sana"
"o..begitu.."pak satpam manggut manggut tanda mengerti
"ok pak saya permisi" Devan segera lari masuk kerumah
"ketemu ranselnya?"
"ya" jawab Devan bernada kesal
"bukannya senang malah manyun"
Devan hanya diam dan membongkar tasnya
"harus taruh mana?" tanya Devan masih dengan nada kesal
Tia mengernyitkan dahinya
" kenapa bawa baju banyak banget?,mau tinggal disini?" tanya Tia heran
" Tante... aku kabur dari rumah dan tak tau mesti kemana? apa tante tak kasihan pada ku?" cerocos Devan
"kabur?"
"hmm.. apa mesti ku ulang jawabanku" Devan menundukkan kepalanya ia sedih kalo ingat kedua orang tuanya
jari lentik Tiara mengangkat dagu Devan,Tia mendekatkan wajahnya,mata mereka bertemu
"kau imut sekali" bisik Tia sambil tersenyum
wajah Devan memerah
"kau boleh tinggal disini, aku juga butuh kau disini" Devan masih menatap mata Tia jantungnya berdegup kencang
" kenapa?"Devan tersentak, Tia melepaskan tangannya dan berjalan menuju kamar Leo,ia membuka pintu
"pakailah kamar Leo"
Devan memungut baju-bajunya dan masuk kedalam kamar
__ADS_1
"jangan sedih lagi..waktunya menata masa depan, cepatlah bersihkan dirimu, kita segera berangkat"
Tia memberikan semangat untuk Devan