
Sudah beberapa kali Bila menghela napas panjang, Wanita itu tidak bisa diam di dalam mobil, dari fokus bermain hp hingga mainkan jarinya. Berharap laki-laki itu tidak mengajaknya ngobrol.
Bia melihat sekeliling, ini masih jauh dari cafe. Sepertinya ia harus turun sekarang untuk mencegah apapun yang terjadi.
"Berhenti," ucap Bia, Bima menatap wanita itu keningnya juga mengerut. Ia melihat ke jalan, bukannya masih jauh jika turun di sini.
"Berhenti kenapa?" tanya Bima. Bia menghela napas gusar. "Bia mau turun di sini aja."
Bima langsung menghentikan mobilnya mendadak, membuat kening Bia terbentur keras. Bia meringis, memegang kuat keningnya. Takut sekali kalau berdarah.
Bia menghela napas lega saat melihat tangan bekas menekan keningnya tidak berdarah.
"Maaf, saya engga sengaja."
Bia langsung memberi laki-laki itu tatapan tajam. "Biar saya liat." Bima merasa bersalah karena mengerem mendadak tanpa ada aba-aba.
Bia menggelengkan kepalanya. "Engga perlu, Bia turun di sini."
"Engga, masih jauh kalau turun dari sini."
"Bia bisa naik angkot atau taksi banyak di sini, Mas duluan aja."
"Saya engga akan biarin kamu turun," ujar Bima.
Bia mendengus kesal. "Kok gitu sih."
"Saya akan anterin kamu sampai cafe, bukannya tujuan kita sama? buat apa saya jemput kamu kalau kamu turun di sini."
"Siapa suruh jemput?!" tanya Bia.
Bima memejamkan matanya sejenak. "Saya yang inisiatif jemput kamu, kalau engga kayak gini kamu engga akan bisa saya deketin."
"Saya engga mau di deketin untuk sekarang."
"Lalu kenapa saat saya melamar kamu, kamu tidak menolaknya malah mengajak berkenalan."
"Karena Bia engga mau keluarga Bia malu dan juga Mas sendiri. Perkenalkan yang Bia maksud berkenalan semata engga lebih, Bia hormati Mas aja dan Mas stop perhatian sama Bia, Bia kurang nyaman."
__ADS_1
Bima terdiam setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh wanita itu. Hatinya sedikit sakit, nyatanya harapan terlalu tinggi untuk mendapatkan wanita itu.
Cintanya kini tak di balas dengan sempurna, ia hanya mengagumi semata untuk bisa memiliki sepertinya tidak.
Dia hanya mengajaknya berkenalan tidak lebih. "Turun."
"Bukannya kamu mau turun," ucap Bima dingin. Wanita itu langsung turun dari mobil yang di tumpangi oleh Bima.
"Makasih." Bima menjalankan mobil tanpa memperdulikan Bia, wanita itu menghela napas.
Bia langsung terdiam, ia bertanya-tanya apakah bicaranya tadi sedikit menyingungkan laki-laki itu?
Bia menggelengkan kepalanya, ia sudah keputusannya untuk bertindak seperti ini. Ini cara supaya laki-laki itu menyerah dan tidak menyukainya. Bia hanya ingin berhubungan dengan laki-laki itu sebatas kakak ipar dan juga Bosnya tidak lebih.
Bia memesan ojek online setelah beberapa menit menunggu tidak ada angkutan umum yang melintas ke jalan ini.
Bima menghentikan mobil saat sampai di cafe, menghela napas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil. Bima keluar, ia langsung menuju ruangannya tanpa memperdulikan karyawan yang sedang membersihkan bagian dalam cafe.
Nana yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya, tidak biasanya Bima seperti itu. Bahkan kemarin saja senyum laki-laki itu masih terpancar cerah secerah langit.
Bia mengigit bibirnya saat turun dari motor. Terlambat sudah ia masuk sekarang. "Makasih, Mas." Bia menyerahkan helm yang ia pakai dan juga ongkos.
Lagi-lagi ia menghela napas, mulai membereskan bagiannya. Bisma yang tadinya membersihkan meja langsung menghampiri wanita itu. "Telat?"
Bia mengangguk. "Hm."
"Engga bawa motor?" tanya Bisma. Laki-laki itu tidak melihat motor ia di parkiran, biasa motor wanita itu tidak jauh di sampingnya.
"Engga tadi naek ojol."
Bisma mengangguk. "Mas Bia mau tanya, boleh?"
"Hm."
"Bos baru kita udah datang?" tanya Bia setelah melewati ribuan pertanyaan di pikirannya. Laki-laki itu mengangguk. "Sudah, ada di ruangannya."
"Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Tanya aja."
_
Bia kewalahan saat melayani pembeli, di sore hari menjelang malam biasanya pembeli mulai membeludak. Bisma dan juga Nana tidak kalah kewalahan, wanita itu lagi-lagi menghela napas gusar.
Bima memanggil Nana untuk ke ruangannya, wanita itu langsung berlari. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Buatin saya kopi espresso, biar dia yang buatnya." Bima menunjuk Bia yang sedang melayani pembeli, Nana langsung mengangguk tidak bertanya apapun lagi.
Nana menggaruk kepalanya tidak gatal, ia langsung menghampiri Bia. "Mbak."
"Hm."
Nana membisikkan sesuatu di telinga Bia. "Kata Pak Bos, Mbak Bia suruh buat kopi espresso sekalian anterin ke sana."
Sebelum mengangguk, Bia menghela napas pasrah. Nana mengambil alih pekerjaan Bia, wanita itu langsung mengambil gelas untuk membuat kopi.
Setelah selesai ia menatap Nana terlebih dahulu. "Kenapa, Mbak?" tanya Nana.
"Anterin sama Nana aja, ya?"
Nana langsung menggelengkan kepalanya. "Aduh, gimana ya Mbak. Nana takut, soalnya tadi nyuruhnya Mbak."
"Ya udah, deh." Dengan langkah berat ia menuju ruangan laki-laki itu. Setelah kejadian tadi pagi, Bima tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali kepadanya dan kepada semua orang. Laki-laki asik diam di ruangannya.
Bia mengetuk pintu ruangan tersebut, suara di dalam menyuruhnya untuk masuk. Bia langsung masuk dan langsung menyerahkan kopi yang ia buat kepada Bima.
"Ini kopinya, Pak." Bia menyimpan kopi itu di meja. "Saya permisi dulu."
"Siapa yang suruh kamu keluar?" tanya Bima, suara itu begitu dingin. Bia bisa merasakannya, tidak ada suara yang hangat keluar dari mulutnya.
Bia langsung membalikkan badannya, Bima beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju Bia. Wanita itu mundur saat Bima berjalan mendekat kearahnya.
"Mau apa, Pak?" tanya Bia.
Bima langsung membuang muka, Bia melihat laki-laki itu menghela napas berat. "Maaf saya terlalu tinggi berharap, kedepannya kita tidak lebih sebagai bos dan juga kakak ipar kamu. Saya akan mengontrol perasaan saya, untuk lamaran saya kemarin lupakan saja. Silahkan kamu keluar."
__ADS_1
Bia langsung mengangguk saat ucapan itu berakhir. Wanita itu memejamkan matanya setelah menutup kembali pintu, ia manghela napas gusar.
Bukannya ini yang dia inginkan?