
Bia mencoba meniup sikunya yang berdarah setelah di obati oleh Nana, wanita itu tidak sadar ada Bima yang memperhatikan gerak-geriknya dari tadi. "Masih sakit, Mbak?" tanya Nana.
Bia mengangguk. "Masih perih sedikit."
"Di kaki gimana, Mbak? ada yang luka?" tanya Nana lagi.
Bia terdiam, kakinya emang sakit kalau di gerakkan. "Ada," ucapnya kecil.
Nana mengangguk, Ia menyuruh Bisma dan juga Bima keluar dari dapur. Bia malu jika di lihat oleh laki-laki secara langsung. Nana menaikkan rok yang di pakai Bia, banyak sekali luka goresan di bagian kakinya.
"Yaallah, Mbak. Pasti sakit."
Bia mengangguk. "Perih."
"Biar Nana obati lagi, ya."
Bia mengangguk. Ia kembali meringis saat obat merah mengenai luka di kakinya, Nana meniup luka tersebut supaya tidak terlalu perih. "Ini sakit, Mbak." Nana menunjuk luka lebam yang berada di paha wanita itu.
"Hm."
"Bentar, Nana ambil es batu dulu." Dengan cepat Nana mengambil es batu yang sudah ia balut oleh kain untuk menempelkannya pada luka lebam di kaki Bia.
"Kamu keluar dulu, Mbak mau ganti baju." Nana mengangguk, ia keluar dari dapur.
"Gimana Bia?" tanya Bisma.
"Tanya ke Mbak Bia aja, Mas." Bima yang berada di belakang hanya mendengar, ia tidak berani bertanya soal keadaan wanita itu. Mereka masih ada jarak yang tidak bisa laki-laki itu kikis pelan-pelan.
"Suruh pulang aja." Bima akhirnya mengeluarkan suaranya, sebenarnya ia tidak tega melihat wanita itu bekerja. Berjalan saja susah apalagi untuk bekerja.
Nana mengangguk. "Mbak udah selesai."
"Iya." Nana masuk ke dalam, ia duduk di sebelah Bia yang kini sudah memakai baju ganti. "Mbak kata Pak Bima, pulang aja."
Bia menggelengkan kepalanya. "Engga Nana, Mbak masih mau di sini."
__ADS_1
Nana menghela napas pelan. "Ya udah, deh."
"Pak Bima masih ada di luar?" tanya Bia, setelah memberanikan dirinya untuk bertanya.
Nana mengangguk. "Ada sama Mas Bisma. Mau Nana panggilkan?"
"Nanti aja, deh." Nana mengangguk. "Mbak diam aja di sini, ya."
"Hm."
_
Bia berusaha untuk berdiri, ia bosan jika berada di sini. Lebih baik ia bicara dengan laki-laki itu. Siapa tau Bima mau bertemu dengan Ayahnya, entah apa yang mereka katakan nantinya.
Bia menghela napas saat mengetuk pintu ruangan laki-laki itu tapi tidak ada sautan, ia melihat sekeliling. Cafe masih tidak terlalu ramai sekarang Nana dan juga Bisma entah ada di mana sekarang.
Bia berjalan menuju keluar siapa tau ia bertemu dengan seseorang lalu bertanya di mana Bima. Wanita itu meringis saat sikunya tergores tembok di sampingnya. Matanya memejam menahan perih. "Astaghfirullah."
"Kamu engga apa-apa?" Bia langsung membuka matanya saat ada seseorang yang berbicara dengannya.
"Engga apa-apa." Bia menundukkan kepalanya. "Syukurlah." Bima memutuskan untuk pergi tapi Bia menahannya.
"Saya mau bicara, Pa." Bia memberanikan dirinya sekarang, kemarin ia berbicara penolakannya dengan berani tapi mengapa saat meminta maaf tiba-tiba tidak berani.
"Saya sibuk."
Bia memegang tangan Bima. "Plis, engga lama."
"Oke."
Bia menunjukkan taman yang jarang orang kunjung di cafe ini. Bima memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu di susul oleh Bia.
Bia menundukkan kepalanya saat laki-laki itu ada di depannya berdiri sembari menatapnya yang menunduk.
"Bicara apa?" Bia memainkan tangannya.
__ADS_1
"Saya minta maaf, Pa." Dan kata maaf itu terlontar dari mulutnya.
Bima mengerutkan keningnya. "Minta maaf soal apa?" tanya Bima.
Bia menghela napas sejenak. "Soal kemarin, maaf kalau perkataan Bia sedikit menyinggung perasaan Pa Bima."
"Itu tau mengapa kamu masih mengucapkannya kemarin? Ternyata benar penyesalan ada di akhir bukan di awal."
Bia makin menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf, engga bisa jaga mulut."
"Tentang penolakan itu saya sudah biasa, tapi penolakan itu terkesan terlambat menurut saya. Kenapa tidak dari dulu, kamu menolak saja. Mengatakan dengan benar bahwa kamu tidak ingin di dekati, mungkin saya tidak akan memberi hati saya sepenuhnya untuk kamu. Mungkin saja keadaan sekarang tidak seperti ini."
"Saya menerima keputusan kamu saat ini dengan lapang dada, bukannya ini yang kamu mau saya menjauh?"
"Saya minta maaf." Bia menggigit bibir bawahnya, perkataan laki-laki itu membuatnya semakin bersalah.
"Tapi tidak apa-apa perasaan bisa berubah seiring waktu."
Bima tersenyum miris, kesalahan wanita itu adalah memberinya kesempatan untuk berjuang tapi kenyataannya ia yang berjuang sendiri.
"Harusnya penolakan itu terjadi saat saya lamar kamu, bukan sekarang Bia. Kita bisa berbicara dengan baik dulu tapi kamu tidak melakukannya."
"Saya minta maaf."
"Saya engga perlu maaf dari kamu."
"Kamu engga salah dan saya juga engga salah. Yang salah keadaan dan juga perasaan saya."
"Saya permisi." Bima berjalan menjauhi wanita itu, perasaan tidak bisa di paksakan sama sekali. Lebih baik mundur daripada terus di paksakan akan lebih menyakitkan.
"Bisa ke rumah, Pa? Ayah mau ketemu."
"Saya usahakan." Bia menghela napas saat laki-laki berjalan menjauh darinya. Ia tidak tau laki-laki itu akan ke rumahnya atau tidak. Nyatanya perkataan laki-laki itu benar, mengapa tidak dari dulu. Mengapa ia mengajukan perkenalkan ketika ia tidak bisa menepati janjinya untuk berkenalan satu sama lain.
Bia memejamkan matanya, lagi-lagi ia mengambil napas berat. "Semoga Pa Bima ke rumah."
__ADS_1