Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
Ayah dilarikan ke rumah sakit


__ADS_3

Aldin memegang dadanya yang makin sakit, ia mencoba tersenyum saat menyalimi tamu yang datang. Laki-laki itu bahkan pura-pura tersenyum dan bercanda saat bertemu dengan rekan bisnisnya.


Aldin memegang kembali dadanya yang nyeri.


Bruk


Laki-laki parubaya itu terjatuh membuat semua orang yang berada di sana terkejut. Bia yang sedang mengobrol dengan Nana langsung berlari saat melihat Ayahnya jatuh pingsan.


Bia menepuk pipi Ayahnya sembari menangis, Anita juga ikut menangis. "Yah, bangun."


"Bawa ke rumah sakit." Ibunya seketika ikut tidak sadarkan diri membuat kondisi tidak kondusif. Bima langsung menolong Aldin di bantu oleh Arga dan juga yang lain. Membawanya ke dalam mobil di ikuti oleh Bia, sedangkan Anita tidak ikut. Ia menunggu Ibunya yang tidak sadarkan diri, jika ibunya sadar mereka langsung bergegas ke sana.


Sepanjang perjalanan Bia menangis sembari terus memegang tangan Ayahnya yang dingin, Bima yang mengemudi sesekali melirik ke belakang. "Bisa lebih cepat?"


Bima mengangguk, ia melajukan mobilnya dengan cepat. Arka yang berada di sana mencoba memberi mertuanya minyak kayu putih di hidungnya, setelah membuka bagian atas baju yang Aldin pakai.


Bia takut sekarang, wanita itu terus memanggil namanya Ayahnya sepanjang jalan. Pikirannya kini membelah dua antara Ayahnya dan ibunya, untung saja ada Anita yang menjaga ibunya.


Bima menghentikan mobil saat sampai di rumah sakit, langsung turun membantu mengangkat tubuh laki-laki itu ke brankar. Orang tua Arga mengusul dari belakang, Bia terus menangis.


Wanita itu tidak bisa diam, ia berjalan ke sana kemari saat Ayahnya sedang di periksa di dalam sana. Ia ketakutan sekarang bagaimana jika ia kehilangan cinta pertamanya, Bia tidak sanggup jika itu terjadi.


Bima yang sedang berdiri juga ikut panik, ia tidak punya kekuasaan untuk mendekat kearah Bia yang sedang menangis. Arga juga tidak kalah panik, laki-laki itu fokus menghubungi Anita yang berada di rumah.


"Duduk Bia." Wanita itu menggelengkan kepalanya.


Bia langsung berlari saat dokter yang menangani Ayahnya keluar di ikuti oleh Bima dan juga Arga. "Gimana Ayah saya, Dok?"


"Ayah saya baik-baik saja, kan?" tanya Bia.


Dokter menghela napas. "Ayah anda mengalami serangan jantung dan sepertinya ini bukan kali pertama beliau seperti ini."


Bia menutup mulutnya dengan tangan, ia tidak tau bahwa Ayahnya memiliki penyakit jantung. Ai mengira Ayahnya sehat-sehat saja dan sakitnya kemarin hanya ke kecapean.


"Ayah saya kemarin sakit tapi saya kira dia kecapean."


Dokter mengangguk. "Saya boleh lihat Ayah saya Dok?"

__ADS_1


"Boleh silahkan."


Bia memeluk Anita yang datang bersama dengan Ibunya dan juga keluarga Arga. Anita ikut menangis, ia mencoba kuat dari tadi. Mereka masih memakai baju yang sama tidak ada yang berganti pakaian sama sekali.


"Ayah kenapa, Dek?"


"Serangan jantung." Arga langsung memeluk tubuh istrinya. "Bukannya Ayah engga punya penyakit itu, Kan, Bu?" tanya Anita kepada ibunya yang sedang berada di kursi roda.


"Ibu engga tau Ayah punya penyakit jantung."


"Kita masuk, Bu."


_


Bia mendekat kearah Ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat dan tangannya dingin. Bia tidak tega melihat kondisi Ayahnya seperti ini, Bima yang berada di ruangan itu hanya terdiam. Di dalam hatinya ia terus berdoa mengembalikan kesehatan laki-laki itu seperti semula.


Anita masih menangis di pelukan ibunya. Wanita parubaya itu seperti shock dengan apa yang terjadi saat ini, selama belasan tahun menikah ia baru tahu bahwa suaminya mempunyai penyakit jantung.


Bia mendekat saat Ayahnya mulai membuka matanya. "Ibu, Ayah bangun," ucap Bia.


Anita membantu ibunya untuk berdiri, tubuh wanita parubaya itu masih lemas seperti jeli. "Yah, Ayah udah sadar. Apa yang sakit kasih tau sama Bia, jangan di genggam sendiri, Ayah punya kita." Bia menangis tersedu-sedu.


"Saya baik-baik saja."


Bia mengusap air matanya. "Ayah kenapa engga bilang sama kita kalau ayah sakit?"


"Bia kira Ayah cuma kecapean."


"Ayah udah engga apa-apa, ini Ayah udah sadar. Jangan nangis lagi, malu sama Nak Bima dan suami kamu Anita." Anita mengusap air matanya, mencoba tidak menangis lagi. Seluruh make up yang ada di wajahnya kini luntur sudah, apalagi make up Bia. Maskara milik wanita itu bahkan menempel di bagian bawah matanya.


Bima mengambil tisu yang berada di atas nakas, menyerahkannya pada Bia. Siapa tau wanita itu membutuhkannya sekarang, yang masuk keruangan hanya Ibunya, Bia, Anita, Arga dan juga Bima yang lain berada di luar.


"Makasih, Mas." Bima mengangguk. Bia langsung mengusap air mata yang berada di pipinya tanpa sadar maskara miliknya ikut terbawa.


Bima kembali lagi menyodorkan tisu bukan satu tapi seluruh. Bia mengerutkan kening bukannya satu sudah cukup. "Masih kotor."


Bia menutup matanya sembari meringis, ia baru menyadari bahwa ia memakai maskara saat ini. Bahkan maskara miliknya sudah luntur, Bia langsung menyerahkan tisu itu kearah Kakaknya. Arga langsung menerima, ia mengusap pelan jejak air mata dan juga yang lainnya di wajah Anita.

__ADS_1


"Nak Bima," ucap Aldin pelan.


Bia langsung menoleh kearah Bima saat Ayahnya memanggil laki-laki itu. "Mas kata Ayah."


Bima mengangguk, ia berjalan kearah Aldin yang tertidur di atas ranjang. "Iya, Om ini Bima." Bima tersenyum.


"Sekarang gimana, ada yang sakit biar Bima panggil Dokter?" tanya Bima.


Aldin menggelengkan kepalanya, tubuhnya sudah enakkan sekarang. Dadanya juga sudah tidak sakit lagi, tapi memang umur siapa yang tau.


"Nak sini." Aldin menyuruh Bia untuk mendekat, ia berdiri di samping Bima. Laki-laki itu tersenyum kecil saat melihatnya.


Bia mengerutkan keningnya. Tangannya di genggam oleh sang Ayah, lagi-lagi ia bertanya tanya apa maksud ini semuanya?


"Nak, putri Ayah satu-satunya." Aldin menjeda ucapannya. "Ayah boleh minta sesuatu?"


Bia mengangguk. "Anggap saja ini permintaan terakhir Ayah sama kamu Nak."


"Yah!" seru Anita dan Bia bersamaan.


Anita langsung berdiri di sisi lain bersama ibunya.


"Umur siapa yang tau, Nak."


"Mas pasti sehat."


"Benar kata Ibu, Yah. Ayah pasti sehat jangan ngomong gitu, Bia belum bisa bahagiain Ayah."


Aldin melirik kearah Bima, laki-laki itu langsung mengerti. "Om mau apa dari Bima? Insyaallah kalau yang mudah Bima bisa kabulkan hari ini juga."


"Mau bubur, roti atau apa?"


Aldin mengambil napas pelan. Ia memegang tangan Bia dan juga Bima bersamaan. "Om hanya ingin Nak Bima menikah dengan anak bungsu, Om, Bia."


Bia langsung melepaskan genggaman tangan Ayahnya, permintaan Ayahnya begitu berat. "Bia engga mau, Yah."


Aldin memejamkan matanya sejenak. "Ayah pengen lihat kedua putri Ayah Nikah, sebelum Ayah engga ada."

__ADS_1


"Ayah pasti sehat, Bia yakin. Jadi stop bicara kayak gitu, Bia takut, Yah." Bia langsung berlari keluar, Bima yang berada di sana menghela napas pelan.


Aldin menatap Bima dengan penuh harap. "Nanti Bima pikirkan dulu, Om."


__ADS_2