Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
1 hari sebelum Anita dan Arga menikah


__ADS_3

Tak terasa satu hari lagi Arga dan juga Anita akan menikah, Bia menjadi sosok yang pendiam sekarang. Tersenyum jika di perlukan saja, dadanya sedikit sesak. Ternyata mencintai dalam diam itu menyakitkan seperti ini.


Bia sangat sedih, melihat Arga akan menikah dengan kakaknya sendiri.


Bia duduk merenung, ia menundukkan kepalanya sedangkan senyum di wajah Anita tidak hilang dari pagi hingga saat ini. Wanita itu sibuk menyambut para tamu yang datang ke rumahnya.


Paha Bia di tepuk oleh ibunya, menyuruhnya untuk duduk di samping kakaknya. Bia terpaksa ganti posisinya, kini ia duduk di sebelah Anita yang sedang mengobrol dengan seseorang yang bahkan Bia tidak kenal.


Aldin berada di depan, laki-laki parubaya itu sedang bersama dengan bapak-bapak di luar.


Selama beberapa hari Bia tidak bekerja, Bima mengijinkan Bia ambil cuti sedangkan sebagian lain bekerja seperti biasa. Bia akan bekerja setelah Kakaknya menikah, Nana dan juga Bisma turut di undang. Ngomong-ngomong tentang Bima, setelah kejadian laki-laki itu ikut ke butik.


Bima hanya datang sekali ke rumahnya, mengunjungi Ayahnya. Bima tidak lagi mendekati Bia seperti dulu, laki-laki itu selalu menjauh dan menjaga jarak ketika bersama dengan Bia.


"Kapan nyusul Anita, Nak Bia?"


Bia hanya tersenyum sembari meringis, ia belum ada niat untuk cepat-cepat menikah. Banyak hal yang belum bisa Bia capai sekarang, ia fokus dengan pekerjaannya hingga nanti ia memiliki cafe sendiri.


"Tinggal s bungsu yang nikah," timbal seorang wanita berbaju hitam tidak jauh dari Bia duduk. Selama beberapa tahun tinggal di sini, wanita itu tidak begitu kenal dengan para tetangga yang berada di sekitaran rumahnya.


Bia hanya wanita rumahan dan juga pendiam sedangkan Anita sangat pandai bersosialisasi dengan orang-orang bahkan  dengan orang  yang belum ia kenal.  Orang-orang selalu memujinya, ya pujian itu bahkan sampai di telinganya sendiri.


Orang-orang selalu berbicara kalau Anita adalah menantu idaman para ibu-ibu. Anita definisi wanita sempurna dengan segala hal, karirnya juga sangat bersinar  walaupun memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Ibunya tersenyum. "Tunggu anak itu mau."


"Jangan lama-lama kalau sudah ada calonnya lebih baik nyusul Anita nikah." Ibunya mengangguk lalu membisikkan sesuatu di telinga Bia. "Tuh, denger."


Bia hanya mendengar kalimat itu hanya mengangguk lalu tersenyum saat ibu itu meliriknya. Bia merasa bosan berada di sini, yang lain sibuk ia malah asik terdiam.

__ADS_1


Wanita itu memutuskan pergi keluar, Aldin yang melihat Bia langsung menarik tangan putri bungsunya untuk duduk di sebelahnya. Bia mengerutkan keningnya, tadi saat ia keluar masih ada sekumpulan bapak-bapak tapi sekarang tidak ada. Hanya ada bapaknya saja, Bia duduk di samping Ayahnya.


Bia menghela napas gusar, ia sangat ingin bekerja saat ini. Ia rindu dengan aroma kopi di pagi hari, laki-laki parubaya itu sering melarangnya mengonsumsi kopi berlebihan.


Itu yang tidak ia sukai kalau berada di rumah, di cafe ia bisa minum kopi setiap harinya. Bia mengambil makanan yang ada di depannya lalu memakannya, ia merasa sepi sekarang. Tidak ada orang yang bisa mengajaknya bicara, Ayahnya hanya sibuk dengan koran yang tadi ia pegang.


"Mau kemana?" tanya Aldin. Bia yang merasa bosan bangkit dari duduknya.


"Bosan," jawab Bia.


Aldin menggelengkan kepalanya. "Duduk di sini daripada di suruh ibumu masuk ke dalam." Bia kembali duduk di kursinya.


Ia mengambil ponsel yang ada di saku celananya, wanita itu memainkan ponselnya. Aldin menyadari suatu hal, laki-laki parubaya itu langsung bergegas masuk ke dalam, mengambil sesuatu yang di tertinggal.


"Nak," panggil Aldin di ambang pintu.


Bia mendongak. "Iya."


Bia mengerutkan keningnya, mengapa di taruh di sini?


"Apa, Yah?" tanya Bila.


"Itu baju Nak Bima ketinggalan, anterin ke apartemennya."


Bia menggaruk kepalanya yang di lapisi oleh kerudung warna nude. Ia tidak tau apartemen laki-laki itu, Bia kira Bima tinggal dengan Arga dan orang tuanya ternyata tidak, laki-laki itu tinggal sendiri.


"Engga, Ah. Males, kaki Bia masih sakit kalau naik motor."


Kening Bia di tepuk pelan oleh Ayahnya, Aldin menggelengkan kepalanya. Anaknya begitu malas jika bertemu dengan laki-laki bernama Bima. Aldin berpikir di dalam hati apa kurangnya Bima di mata anak bungsunya?

__ADS_1


"Siapa yang suruh naik motor, Bia?" tanya Ayahnya.


"Siapa tau, Yah."


Aldin menghela napas, ia mengambil kunci mobil yang berada di satu celananya dan menyerahkannya pada Bia yang sedang berdiri di depannya.


"Cepat anterin, besok mau di pake."


Bia mengangguk. "Sabar, Yah. Ganti dulu celana." Bia berlari ke dalam kamar, mengganti celananya dengan rok sekalian membawa tas kecil miliknya.


Mobil yang akan di naiki oleh sudah terparkir dengan sempurna, rupanya Ayah begitu baik hati. Bia mengambil kunci mobil dan juga paper bag yang ada di tangan Aldin kini berganti posisi menjadi di tangannya.


"Hati-hati, ini alamatnya." Bia melihat kertas yang sedang ia pegang, lokasi laki-laki itu lumayan jauh dari tempat tinggalnya.


Bia menyalimi Ayahnya sebelum pergi.


Sepanjang jalan Bia sesekali melirik paper bag yang berada di sampingnya. Bisa-bisanya laki-laki itu lupa tidak membawanya kemarin, saat  berkunjung rumahnya. Jadi ia tidak perlu repot-repot mengantarkannya.


Setelah lima belas menit ia menyetir mobil, akhirnya wanita itu sampai di apartemen. Bia turun dari mobil setelah mengambil paper bag.


Ia melihat kertas yang ada di tangan kanannya, rupanya laki-laki tinggal di lantai dua nomor 15.


Bia menaiki lift, setelah lift itu terbuka ia langsung mencari nomor 15. Bia berjalan ke sebelah kanan, rupanya no itu berada di ujung.


Bia mengetuk menekan bel, ia menghela napas saat tidak ada yang membukakan pintu. Wanita itu terus menekan bel hingga pintu itu terbuka lebar.


Bia terpaku, matanya fokus pada satu titik. Rupanya laki-laki itu baru selesai mandi. Tubuhnya masih basah oleh air dan juga rambut. Bima hanya memakai celana pendek sedangkan bagian atasnya telanjang dada.


Bia langsung membuat wajahnya, ia menyerahkan paper bag yang tadi di berikan Ayah. "Ketinggalan."

__ADS_1


Bia langsung berlari. "Astaghfirullah." Bia mengusap dadanya, itu sangat menggoda.


Kening laki-laki itu mengerut, ia langsung melihat paper bag yang berada di tangannya. Ah, iya. Ia melupakannya kemarin.


__ADS_2