Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
kertas dan pena


__ADS_3

Semua orang yang berada di ruangan langsung menoleh kearah Bisma yang baru saja menyelesaikan ucapannya. Bia langsung mundur satu langkah, terkejut dengan ucapan Bisma. Apa Bia salah dengar?


Bisma bersedia menggantikan Bima untuk menikah dengannya?


Bima melirik laki-laki yang ada di sampingnya. Bisma sangat berani meminta Bia kepada orang tuanya setelah Bima.


Aldin melirik kearah Bisma. "Nak Bisma menyukai Bia?" tanya Aldin.


Bisma mengangguk kepalanya tanpa ragu, ia sudah lama menyukai gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Menurut Bisma, Bia istimewa dan pantas jika dijadikan istri juga ibu dari anak-anaknya.


"Semua orang pasti kagum dengan Mbak Bia, Om. Termasuk saya juga mengagumi Mbak Bia dari dulu." Bisma langsung menundukkan kepalanya, Anita yang di samping Adiknya menyenggol pelan lengan Bia.


Tidak ada Bima, Bisma pun jadi.


Aldin menghela napas, putrinya tidak sesempurna yang di bicarakan oleh Bisma.


Kepribadian  Bia memang tampak menyejukkan tapi ada beberapa sifat yang hanya di tunjukkan kepada seseorang seperti Bima dulu yaitu penolakan.


Bia menatap Bisma sembari menggelengkan kepalanya. Mereka hanya sahabat, Bia tidak mau lebih. "Om serahkan pada Bia sekarang, Siapapun pilihannya Om ikhlas melepaskan Bia."


"Bia butuh waktu," ucapnya Final.


Kali ini ia tidak boleh mengecewakan Ayahnya lagi. Bia langsung menarik tangan Bisma untuk mengikuti langkah kakinya, kini mereka berdua berada di sebuah taman.


"Mas Bisma engga salah bicara di dalam?" tanya Bia sembari memastikan apa yang di dengarnya di dalam benar.


Bisma menggelengkan kepalanya, Bia langsung memijat keningnya yang pening. Ia baru saja menyelesaikan masalahnya dengan Bima dan kali ini ia dihadapkan lagi pada sebuah pilihan. Bia tidak bisa menolak dengan cara kasar kepada Bisma karena laki-laki itu adalah sahabatnya termasuk Nana.


"Saya benar-benar mengagumi Mbak dari dulu." Bia masih memalingkan wajahnya, lebih baik mereka berteman saja daripada seperti ini.


"Bia engga sesempurna itu buat Mas Bisma kagumi."


"Mbak itu istimewa." Bia menggelengkan kepalanya. "Lebih baik Mbak pikirkan dulu sekarang,  saya juga engga maksa Mbak kok. Tenang saja."


"Mas pernah dengar ada seseorang yang pernah berkata sama Mas. Katanya, 'Kata orang lebih baik menerima seseorang yang mencintaimu daripada orang yang sedang kau tunggu'." Bisma tersenyum setelah mengucapkan kata tersebut. Bisma mencintai Bia dan ia pasti akan membahagiakannya.

__ADS_1


Bia mengangguk, ia pernah mendengar kata itu satu kali. Tapi bagaimana jika yang sedang ia tunggu malah menikah dengan orang lain?


"Tapi lebih baik kita berteman saja, Mas," ucap Bia


"Pikirkan saja dulu Mbak. Apapun keputusan Mbak Bia, saya terima kok. Kalau Mbak tolak saya, masih bisakan saya tetap menjadi teman Mbak."


"Tentu saja."


Bia memijat keningnya setelah Bisma dan Nana pulang. Sejauh ini ia tidak mengira bahwa Bisma bisa bertindak seperti itu, Bia mengira laki-laki itu menyukai Nana ternyata Bisma malah menyukai dirinya dan ia juga tidak sadar bahwa Bisma menyukainya dari lama.


"Bagaimana jika saya juga maju lagi?" Bia menoleh ke samping setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh seseorang. "Apa Mas?" tanya Bia, suara Bima terlalu kecil tidak ia dengar dengan jelas.


Bima menggelengkan kepalanya, setelah dipikirkan kembali maju tidak juga seperti jalan buntu. Tapi rasa kecewanya untuk maju terlalu besar sekarang.


"Makasih kopinya, Mas."


Bima menganggukkan kepalanya, laki-laki itu baru  tahu jika gadis di sampingnya sangat menyukai kopi. "Bisma bisa menggantikan saya untuk menikah dengan kamu."


Bima melirik kearah Bia, gadis itu  langsung menundukkan kepalanya. Jika seperti ini, lebih baik ia tidak ingin menikah saja. Daripada membuat Bisma menjadi seperti Bima olehnya.


"Kamu senang?" tanya Bima.


Bia menggelengkan kepalanya.


"Harusnya kamu senang, Bi. Ada seseorang yang rela untuk hatinya kamu permainankan lagi." Bia langsung menoleh kearah laki-laki itu, ucapannya begitu menyudutkannya sekarang.


"Maksud Mas Bima apa?" tanya Bia.


"Tidak saya cuma bercanda."


"Bercanda Mas keterlaluan." Bia langsung menyusul Anita yang berada di ruangan Ayahnya. Bima menghela napas, salah lagi ia berbicara tapi memang itu fakta bukan?


_


"Nak!" panggil Farah. Bia langsung menoleh dan duduk di sebelahnya. "Kenapa, Bu?"

__ADS_1


"Gimana?" Bia menghela napas panjang lalu menggelengkan kepalanya. "Bia bingung, Bu. Mas Bisma sahabat Bia dan Bia engga mau persahabatan kita hancur karena itu."


"Yasudah kamu pilih Nak Bima saja."


Bia menggelengkan kepalanya. "Mas Bima sudah tak mau."


Farah mengerutkan keningnya. "Siapa bilang?"


"Nak Bima memang kecewa sama kamu tapi bukannya rasa cintanya lebih besar. Sepertinya Ayah juga ragu untuk menyerahkan kamu pada Bisma."


"Kenapa?" tanya Bia.


"Ayah hanya mau kamu sama Nak Bima karena Ayah sudah mempercayai laki-laki itu."


"Coba kamu lebih terbuka lagi sama Nak Bima, jika memang kalian berjodoh. Semua yang tidak mungkin akan jadi mungkin, Nak. Ibu juga lebih  srek, kalau kamu bersama dengan Nak Bima daripada Nak Bisma."


Bia beranjak dari duduknya setelah Ayahnya memintanya untuk mendekat. Ia duduk di kursi di pinggir ranjang, "Sudah ada pilihan?"


Bia menggelengkan kepalanya, Aldin menghela napas berat. "Seperti apa laki-laki yang sebenarnya kamu mau Nak?"


Bia menundukkan kepalanya. "Seperti Arga, Yah," ucap Bia dalam hati.


"Seperti Ayah." Kata ini yang Bia lontarkan.


Aldin tersenyum. "Nak Bima dan Nak Bisma juga seperti Ayah."


Bia menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak seperti Ayah."


"Apa kamu mencari yang sempurna, Nak? Bukannya Ayah sudah bilang tidak ada yang sempurna. Menikah itu saling menyempurnakan, harga diri laki-laki itu adalah harga mati dan kamu Nak ... sudah menjatuhkan harga diri Nak Bima dengan penolakan."


"Sejauh apapun kamu memintanya kembali itu tidak mungkin, karena harga dirinya sudah hilang. Kamu engga boleh menjatuhkan harga diri siapa pun itu termasuk diri kamu sendiri. Egois boleh tapi jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain. Jangan banyak nolak laki-laki apalagi dengan berbicara kasar, nanti susah dapat jodoh. Kamu mau, Nak?"


Bia menggelengkan kepalanya.


"Ibarat begini, istri adalah Pena dan Suami adalah kertas. Bukankah itu sebuah bentuk kesempurnaan dan saling melengkapi. Jika tidak ada pena, bagaimana caranya menulis. Semua itu sama seperti pernikahan, Nak. Satu sama lain saling melengkapi seperti pena dan juga kertas. Memang bisa kertas tanpa pena tapi bukankah gambar itu akan berbeda dengan biasanya?"

__ADS_1


Bia membantu Ayahnya untuk bersandar. Aldin menunjuk dada kanannya sembari menatap putri bungsunya dengan kelat. "Harga diri laki-laki berada di sini, jika hatinya sudah goyah itu sama saja harga dirinya ikut goyah."


__ADS_2