
Bia mendengus kesal sesudah bertemu dengan Bima tadi di lorong dekat kamar mandi. Laki-laki itu menyebalkan sekali, untuk apa meminta nomor teleponnya kepada orang lain? Bia takut semua orang curiga dan berpikir aneh-aneh tentangnya.
Ia juga tidak akan memberi nomor telepon itu, untuk apa? laki-laki malah menanyakan fungsi nomor telepon kepadanya.
Bia tau maksud laki-laki itu tentang pendekatan yang di maksud beberapa hari yang lalu. Tapi ia belum siap untuk berkenalan dengan siapapun termasuk Bima, hatinya masih tersangkut pada nama Arga. Laki-laki yang meminang kakaknya sendiri.
"Astaghfirullah, gini banget sih." Bia menghela nafasnya panjang. "Ada masalah, Mbak? narik napasnya panjang banget."
Bia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ia menceritakan masalahnya pada orang lain termasuk Nana dan juga Bisma.
"Lagi cape aja."
Nana mengangguk paham, ia menarik tangan Bia untuk duduk. "Kenapa?" tanya Bia, Nana seperti ingin berbicara dengannya. Wanita itu malah melihat sekeliling sebelum berbicara.
"Mbak liat Pak Bima engga?" tanya Nana.
Bia menggelengkan kepalanya. "Engga, kenapa gitu?" tanya Bia, ingin tau.
Nana malah tersenyum sendiri, Bia menatap gadis itu dengan ngeri. "Na!"
"Eh." Nana langsung tersadar.
"Kenapa nanyain Pak Bima?"
"Cuma nanya aja." Nana langsung pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut. Bia menggelengkan kepalanya, sembari menatap punggung gadis itu yang menjauh dari pandangannya. "Ada-ada aja dia." Bia tersenyum melihat tingkah Nana, sangat menggemaskan.
_
Bia menepuk pundak Bisma yang sedang duduk di depan sembari mengisap rokok yang tinggal setengah di tangannya. Laki-laki langsung berdiri, membuang rokok tersebut ke tanah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bisma kepada laki-laki di depannya.
"Santai aja, duduk." Bisma mengangguk, ia duduk di sebelah Bima yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bisma lagi.
Bima mengangguk. "Ada."
"Boleh minta nomor telepon semua karyawan yang di bekerja di sini, soalnya saya butuh."
"Boleh, pak."
Bisma langsung mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya, menyerahkan kepada Bima. "Ini no saya, kirim saja sekarang."
__ADS_1
Bisma mengangguk. "Sudah."
"Terimakasih."
Bisma mengangguk kembali. "Jangan panggil saya seperti ini, panggil saja nama."
"Emangnya boleh, Pak?"
"Boleh, kita seumuran."
"Baik."
Bima melihat kontak yang di kirimkan oleh laki-laki yang berada di sampingnya. Ada nama kontak yang menarik perhatiannya, ini antara gadis itu aneh itu atau Bia.
"Ini siapa?" tanya Bima sembari menunjukkan ponselnya kearah Bisma.
"Mbak Bia, dia yang kasih nama sendiri." Bisma tersenyum setelah menjawab pertanyaan itu. Bia memang cantik tidak Bisma pungkiri itu.
"Oh." Bima mengangguk, ia langsung menyimpan nomor tersebut.
Bisma menyodorkan sebatang rokok kearah Bima. "Mau?" tanya Bisma.
"Boleh." Bima menerimanya lalu mengisap rokok itu hingga habis.
_
"Ada apa ini?" tanya Bia di dalam hati.
Anita dan Arga saling melempar senyum satu sama lain. Ibunya langsung menyuruh Bia duduk, ia membisikkan sesuatu di telinga Ibunya.
"Nanti juga tau." Bia menghela napas panjang, menyimpan tas yang di pakainya di samping ia duduk.
"Rencana untuk menikah maunya kapan?" tanya Dimas pada Anita dan juga Arga.
Bia menundukkan kepalanya jadi semua orang berkumpul sekarang, untuk membicarakan tentang pernikahan mereka.
"Arga maunya secepatnya, Yah." Anita mengangguk, tangannya menggenggam tangan Arga yang berada di sampingnya.
Aldin selaku Ayah Anita pun mengangguk, ia ingin anaknya segera menikah. "Bagaimana sebulan lagi, Nak?" laki-laki parubaya itu mengajukan saran.
"Kelamaan, Yah." Anita merengek pada Ayahnya.
Bia hanya menunduk tanpa ikut berbicara semua orang, dadanya terasa sakit sekarang. Sakit sekali, melihat laki-laki yang di cintainya menikah dengan kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Maunya kapan?" tanya Aldin pada Anita.
"Dua Minggu lagi," ucap Arga dengan tegas, kalimat itu membuat Bia mendongak menatap Arga yang sedang tersenyum pada Anita.
"Baiklah, jika kalian ingin dua minggu lagi." Kedua keluarga setuju dengan Arga, lebih baik di percepat dan tidak menimbulkan fitnah.
"Untuk semuanya biar Arga sama Nita yang urus, kalian tau jadi aja."
Mereka mengangguk, Anita memeluk adiknya senang. Impiannya menikah dengan Arga sekarang akan terwujud sebentar lagi.
"Senang sekali," ucapnya di dalam hati.
"Kakak senang banget, Bi." Anita memeluk tubuh Bia dengan erat, wanita itu tersenyum paksa. "Selamat Kak, semua urusan sampai hari H lancar."
Anita melepaskan pelukannya. "Aamiin, makasih."
"Selamat." Satu kata itu yang terucap di bibir Bia saat melihat Arga. Laki-laki mengangguk sembari tersenyum seperti biasa.
"Nak Bima tidak datang?" tanya Aldin ketika tidak melihat seseorang yang di carinya sekarang. Dimas menggelengkan kepalanya. "Bima sedang sibuk, maklum anak muda."
"Sayang sekali tadinya saya ingin membicarakan tentang sesuatu dengannya."
Bia langsung menepuk tangan Ayahnya. "Yah."
"Nanti saya hubungi kalau begitu." Bia memajukan bibirnya ke depan sembari menatap Ayahnya, ia bertanya-tanya apa yang akan Ayahnya katakan pada Bima.
"Apaan sih, Yah. Jangan bicara macam-macam sama Mas Bima apalagi soal yang kemarin Bia belum siap."
Aldin menjitak kening anak bungsunya. "Anak kecil engga boleh tau, ini urusan laki-laki."
"Yah."
"Sudah diam, Ayah tidak akan berbicara apapun." Bia mulai menghentikan rengekannya setelah mendengar itu. Ia berharap Ayahnya tidak bertemu Bima dalam waktu dekat.
Arga dan juga Anita langsung berdiskusi tentang apa saja yang akan di persiapkan. Ibunya malah menyuruh ia untuk bergabung, katanya untuk reperensi di masa depan siapa tau akan menikah.
"Mau di mana gedungnya, yang?" tanya Arga.
Anita menggelengkan kepalanya, Bia hanya jadi nyamuk di sana. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar daripada membuat hatinya lebih sakit lagi.
"Mau ke mana?" tanya Ibunya saat melihat anaknya berjalan menuju kamar.
"Kamar."
__ADS_1