Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
menggantikan Pak Bima


__ADS_3

"Bia minta maaf atas semuanya, Bia salah karena engga bisa jaga lisan, Bia juga mau minta maaf kalau Ayah banyak salah sama Mas Bima. Bia tahu bahwa Ayah naruh beban di pundak Mas untuk menikah dengan Bia."


Bima hanya mendengarkan ucapan yang di lontarkan oleh gadis di sampingnya, saat ini permintaan maafnya benar-benar dari dalam hati tidak seperti dulu. Bia sangat malu sekarang.


Sebenarnya, Bima juga sudah memaafkan Bia dari kemarin.


Bia tersenyum kecut. "Mas Bima sudah menolaknya jadi tidak apa-apa. Bia bisa bicara dengan Ayah nanti, jujur Bia malu karena seperti mempermainkan Mas Bima kemarin hingga sekarang. Bia mohon-mohon sama Mas untuk menikah, itu juga semua salah Bia, Mas."


"Saya sudah maafkan kamu." Bia menolah kearah Bima lalu kembali menundukkan kepalanya. "Makasih."


"Tapi untuk permintaan Ayah kamu saya engga bisa."


Bia menghela napas berat, memalingkan wajahnya sejenak sembari mengusap air matanya yang menetes.  "Bia udah pasrah sekarang, Mas. Semua urusan Bia sudah diserahin sama yang di atas."


Bima mengangguk. "Bia duluan, Mas." Bia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju ruangan Ayahnya di rawat meninggalkan Bima yang sedang duduk sembari terdiam.


"Udah?" tanya Anita setelah melihat Bia. "Bia sekarang pasrah aja, Kak."


Anita mengangguk, semakin di kejar semakin menjauh. Bia memasrahkan semua pada penciptanya, apapun yang terjadi.


"Kakak sama Mas Arga pulang aja, biar Bia yang di sini," ucap Bia.


Anita menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin meninggalkan ibunya dan Adiknya berdua di sini. Sementara dirinya pulang, harus ada seorang laki-laki yang bisa membantu mereka di sini. Apalagi jika Ayahnya ingin pergi ke kamar mandi.


"Mas engga pulang?" tanya Bia setelah Bima duduk di sebelahnya, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Mau jaga."


Bia mengangguk, ia kembali menoleh kearah Anita sembari menepuk pelan pahanya. "Kakak pulang saja, Mas Bima bakal nginep di sini."


Anita langsung menatap laki-laki yang berada di samping adiknya, Bima mengangguk. Anita menghela napas lega, mengajak suaminya untuk pulang.


Sebelum pulang Anita menghampiri ibunya yang sedang duduk. "Ibu mau ikut pulang sama Anita?"


Ibunya menggelengkan kepalanya. "Kamu saja yang pulang, Nak. Biar ibu di sini sama Bia."


"Yasudah, Dek nitip Ibu, ya." Bia mengangguk.


Anita mengambil tas pakaian kotor sebelum pergi.

__ADS_1


Bia memeluk tubuhnya sendiri, hawa dingin begitu membuatnya menggigil sekarang. Bia mengeratkan pelukannya, selimut yang di bawa dari rumah hanya ada satu. Itupun di pakai oleh ibunya di dalam. Bia berada di luar bersama Bima, hanya bisa satu orang yang menunggu di dalam.


Bima yang tadinya terlelap langsung terbangun, ia melihat ke samping. Laki-laki itu menghela napas sembari berdiri, berjalan keluar.


Bima terdiam selagi berdiri di depan Bia, lagi-lagi Bima mengambil napas. Laki-laki itu  menutup tubuh Bia dengan selimut


yang ia pinta dari sahabatnya yang berkerja di sini. Bima baru tahu bahwa Nina sahabat SMAnya bekerja sebagai perawat, mereka tidak sengaja tertentu tadi.


"Andai dulu kamu nerima saya, semuanya engga akan sampai kayak gini." Bima memandang Bia yang sedang tertidur pulas, sudut bibir Bima terangkat tipis.


Bima kembali duduk di kursi, menutup matanya kembali.


Bia membuka matanya saat adzan subuh terdengar di telinga, ia melihat sekeliling tidak menemukan laki-laki itu di sini. Bia melihat tubuhnya,  seketika terdiam. Siapa yang memakaikannya selimut semalam?


Bia bertanya-tanya, apa Mas Bima?


Bia melihat ke samping, senyumnya sedikit mengembang saat melihat segelas kopi di sampingnya dengan sebuah surat di bawahnya.


Saya tahu kamu suka kopi, semoga hari kamu menyenangkan.


Bia meneguk kopi tersebut sebelum pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat subuh.


Bia mengangguk. "Ayo ke mushola, Bu."


"Ayo."


_


"Ibu di mana, Dek?" tanya Anita setelah sampai di ruang inap Ayahnya. Bia menunjuk ke dalam. "Di dalam sama Ayah."


Anita mengangguk lalu menyerahkan baju Bia dan juga baju ibunya yang tadi ia bawa dari rumah. "Ganti dulu, biar yang punya ibu sama kakak."


"Iya."


Bia tersenyum saat menemukan sebuah sewarna bibir di tas yang di simpan oleh Anita. Kakaknya tahu bahwa bibir Bia selalu pucat dan tidak enak di pandang, Anita berinsiatif membawakannya.


"Keliatan seger, ibu mau pake?" Anita tersenyum melihat wajah Adiknya lebih berseri, ibunya menggelengkan kepalanya. "Ibu udah tua."

__ADS_1


Anita menggelengkan kepalanya pertanda tidak menyetujuinya. "Biar Nita pakaikan, ya. Biar nanti Ayah bangun ibu udah cantik."


Wanita parubaya itu menepuk lengan Anita. "Kamu bisa saja."


Bia hanya tersenyum melihatnya, ia kembali lagi duduk. Dari pagi sampai sekarang Bia tidak melihat laki-laki itu, Bia tidak tahu di mana Bima sekarang.


Bima tidak pamit kepadanya bahkan ke ibunya. Ponselnya berdering, pesan masuk dari Nana. Rupanya kedua sahabatnya akan datang ke sini untuk menjenguk. Bia memilih untuk menunggu di depan saja.


Nana memeluk tubuh Bia dengan erat. "Mbak yang sabar, ya."


Bia mengangguk. "Gimana keadaan, Om Aldin. Mbak?" tanya Bisma.


"Alhamdulilah, doain aja ya semoga cepat sembuh."


Nana memeluk Ibunya Bia, Nana sudah menganggap wanita parubaya itu sebagai ibu keduanya.  Farah selalu baik padanya apalagi saat Nana datang ke rumah Bia.


"Nak Bima mana?" tanya Ibunya.


Bia menggelengkan kepalanya. "Bima di sini, Tante." Bia menoleh arah suara, ternyata Bima sedang berdiri dengan seseorang berpakaian perawat.


Nina langsung menyalami Farah. "Saya Nina, Bu. Sahabatnya  Bima."


"Cantik sangat, Nak. Cocok dengan Nak Bima." Nina tersipu malu sedangkan Bia hanya terdiam di samping Nana yang dari tadi tidak bisa diam.


Mereka masuk ke dalam ruangan Aldin kecuali Nina, wanita itu langsung pergi setelah memperkenalkan dirinya pada Farah. Bima tersenyum saat Aldin melihatnya, ia langsung menjabat tangannya.


Kesehatan Aldin mulai meningkat sekarang tidak seperti kemarin.


"Gimana sehat, Om?" tanya Bima.


Aldin mengangguk pelan. "Maafin, Bima Om. Bima kemarin langsung pergi setelah bicara sama om."


"Engga apa-apa."


"Om tahu kalau Nak Bima tidak cocok dengan putri, Om." Bia menunduk kepala saat Ayahnya berbicara.


"Tapi Om masih ingin saya untuk menikah dengan Bia?" tanya Bima.

__ADS_1


Aldin tersenyum tipis. "Nak Bima sudah menolaknya, toh. Jadi buat apa mengharapkan yang tidak pasti. Om juga engga mau kalau Nak Bima sakit hati lagi karena putri om, lebih tak usah lanjut."


"Saya bisa menggantikan Pak Bima untuk menikah dengan Mbak Bia."


__ADS_2