Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
Hah?


__ADS_3

Bia terkejut dengan apa yang di lihat dan di dengarnya saat ini. Laki-laki yang sangat ingin ia hindari beberapa hari ke depan tiba-tiba berdiri di depannya. Bia sedikit menekan telinganya sejenak setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh ibu Mita. Apa pemilik cafe?


Bia memejamkan matanya, itu artinya Bima akan selalu berada di sekitarnya dan setiap hari akan bertemu dengannya. Bia sangat ingin menghilang dari sini saat ini juga, apa ini kejutan macam apa? Ini bukan April mop.


"Perkenalkan saya Bima, mohon bantuannya untuk ke depannya." Mereka mengangguk sembari bersorak.


"Mbak, itu bukannya yang kemarin datang ke sini, ya, dia?" tanya Nana. Wanita itu merasa tidak asing dengan laki-laki yang berada di depannya.


"Hm." Bia menjawab seadanya.


"Mbak kenapa? Kenal sama Pak Bima?" tanya Nana lagi. Wanita itu begitu cerewet sekarang, Bia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pura-pura tidak mengenal dengan laki-laki yang sedang menebar senyum kepada semua orang.


Tanpa sepengetahuan semua orang, Bima sesekali mencuri pandang pada wanita yang berada di depannya. Wajah Bia begitu tidak bersahabat membuat Bima sangat ingin tertawa melihatnya.


Bia menghela napas saat Bima sudah tidak ada lagi di hadapannya. Laki-laki pergi melihat ruangannya dengan Pak Deni, menantu Ibu Mita yang sesekali Bia lihat di cafe jika Ibu Mita sedang ada urusan.


Mungkin di depan semua orang laki-laki itu tampak ramah dan murah senyum. Tapi di mata Bia laki-laki itu sangat menyebalkan dari pada Arga.


Arga itu cocok cool yang sangat Bia hormati.


Di tempat lain, senyuman di wajah Bima tidak pernah luncur dari tadi hingga sekarang ia berada di ruangannya. Deni melihat sahabatnya, mengerutkan keningnya. Ia belum pernah melihat Bima sebahagia ini selama bersahabat beberapa tahun.


"Kenapa, lo ke sambet?" tanya Deni sembari menatap Bima.


"Engga." Deni mengangguk. "Oh, ya. Ini ruangannya, seperti yang lo lihat cukup tua untuk lo."


Deni kembali membahas apa yang tadi ia janjikan.


"Lo bisa rombak yang lo mau, sekarang ini cafe lo. Gue engga bakal larang lo mau rubuhin sekalian juga."


Bima melihat sekeliling, apa yang di katakan Deni memang benar. Ruangan ini sangat sederhana untuk dirinya, hanya ada meja dan kursi saja tidak ada yang menarik sama sekali.


Deni menunjuk pintu di sebelah kanan. "Itu kamar mandi." Bima mengangguk. Laki-laki itu membalikkan badannya, keningnya mengerut saat menatap ada pintu lain yang berada di sini.


"Itu kamar, tapi mertua gue engga pake. Belum ada isinya sih, kalau lo mau pake ya silahkan kalau engga lo bisa pake buat gudang." Bima membuka pintu yang ada Deni maksud.


Ruangannya cukup luas dan cocok untuk di jadikan kamar untuk tempat ia beristirahat. Mungkin juga menjadi tempat kedua jika ia malas pulang ke apartemen.


"Untuk yang lainnya lo bisa keliling sendiri atau lo tanya-tanya ke orang."

__ADS_1


"Oke."


Deni mengangguk, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Gue pergi dulu, waktunya jemput anak gue di sekolah. Nanti bini gue ngamuk."


"Ya, sana."


Sebelum Deni pergi, laki-laki memberikan sahabat senyum. "Selamat menjalani bisnis baru lo."  Mereka berjabat tangan.


"Bu Mita ikut lo balik?" tanya Bima.


Deni mengangguk. "Hm, gue anterin dulu mertua gue pulang langsung ke jemput anak."


Deni melanjutkan ucapannya. "Kalau lo mau kenalan sama orang-orang di sini mending sekarang. Soalnya  besok cafe mulai buka."


"Oke."


"Gue balik, salam buat yang lain."


"Hm."


"Salam buat istri lo." Deni mendengus kesal. "Engga, kawin sana."


Kening Bia mengerut saat cafe masih tutup, harusnya jam sekarang cafe sudah buka. Bia menepuk pundak laki-laki yang berada di depannya, Bisma pun menoleh.


"Mas Bisma, sekarang cafe engga buka?" tanya Bia setelah melihat sekeliling tampak kosong.


Bisma menggelengkan kepalanya. "Hm, kayaknya tutup sehari."


Bia mengangguk-angguk kepalanya.


"Eh, kayaknya pemilik yang baru seumuran sama Mas Bisma." Tiba-tiba Nana datang memecahkan topik yang sedang di bahas oleh Bia dan juga Bisma.


Mereka berdua mengangkat bahunya acuh, laki-laki hanya memperkenalkan namanya tidak dengan umurnya.  Sebenarnya Bia tau umur laki-laki itu sekarang, tapi ia tidak mungkin mengatakannya secara terus terang.


Yang ada mereka akan curiga.


"Mas Bisma sekarang berapa?" tanya Nana yang berada di hadapan Bisma.


Bisma menjawab. "27 jalan 28."

__ADS_1


"Oh." Nana ngangguk-anggukkan kepalanya. "Sama Nana beda 7 tahun."


"Engga nanya," ucap Bisma.


Nana mendengus kesal, ia membalikkan tubuhnya. Wajahnya berubah yang tadinya memasangkan wajah kesal kini tersenyum manis. "Eh." Tangan kanannya menepuk bokong Bisma yang berdiri di belakangnya.


"Apa siah, Na. Pegang-pegang engga sopan."


Bisma menggaruk kepalanya tidak gatal setelah membalikkan tubuhnya dan melihat di belakangnya adalah Bima. Bia yang menyadari laki-laki itu sedikit mundur, sedikit bersembunyi di belakang Bisma berharap Bima tidak melihatnya.


"Maaf Pak, tadi kita bercanda." Nana meminta maaf ia takut jika laki-laki dihadapannya tersinggung jika berbicara di belakangnya.


Bima menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Engga apa-apa, santai saja."


Mereka berdua mengangguk, Bia pergi ke dapur setelah memastikan laki-laki itu tidak menatapnya. Bia berlari kecil, ia menghela napas saat berhasil pergi dari sana.


"Saya Bisma, Mas."


Bisma memperkenalkan dirinya dan juga yang lain. "Yang ini Nana, yang di belakang Bia."


"Lah kemana itu anak?" tanya Bisma ketika tidak melihat wanita itu belakangnya.


"Kayaknya kebelet pipis deh."


"Mungkin."


Nana merasa tidak sopan dengan atasan sekarang. "Aduh, Mas. Maafin Mbak Bia."


"Iya, santai saja."


"Saya duluan." Nana menghela napas saat bos barunya pergi, sangat tampan Nana menyukainya.


"Ganteng banget sih bos, ya."


"Dia engga mau sama kamu, Na."


"Ish, Mas Bisma. Patahin halu Nana."


"Jangan ketinggian mikirnya nanti jatuh sakit."

__ADS_1


__ADS_2