
"Mbak!" Suara Nana membuyarkan semua lamunannya, wanita itu langsung menoleh kearah Nana yang sedang berdiri di sampingnya dan juga Bisma.
"Ayo."
Bia menerima uluran tangan dari Bisma, laki-laki itu membantunya untuk naik motor. "Hati-hati."
"Hm."
"Udah?" tanya Nana.
Bia mengangguk, laki-laki itu ikut mengantar Bia pulang. Bisma ada sedikit keperluan yang harus ia selesai sepulang bekerja.
Di sepanjang perjalanan, Bia masih melamun. Nana yang melihat di kaca spion langsung bersuara. "Kayaknya tadi pagi gini juga, ya, Mbak."
"Hah?"
Nana tersenyum sembari melihat wajah Bia yang tampak terkejut. "Pasti Mbak tadi ngelamun di jalan sampe jatuh." Ucapan wanita itu memang benar, pikiran sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Bia menghela napas panjang saat sampai di rumahnya, motor miliknya di simpan di cafe, kemungkinan besok ia akan libur karena badannya benar-benar sakit sekali.
Laki-laki itu mengijinkannya, Bima tidak bertanya apapun. Laki-laki tampak tidak perduli dengan kondisi.
Bia turun dari motor dengan pelan, ia meringis. Luka di kakinya tidak sepenuhnya sembuh walaupun sudah di obati. "Ayo, Mbak. Biar Nana pegangin."
Bia menerima uluran tangan Nana, berjalan pelan-pelan hingga akhirnya sampai di depan rumahnya. "Mbak maaf Nana engga bisa mampir." Nana merasa sangat bersalah karena tidak bisa mampir. Kondisi tidak memungkinkan, ia harus segera pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Bia tersenyum. "Engga apa-apa, sana pulang udah malam. Hati-hati." Nana mengangguk, ia melambaikan tangannya kepada Bia sebelum melajukan motornya kembali.
Bia membuka pintu rumah, semua orang sedang berkumpul di ruang tamu. "Assalamualaikum." Berjalan dengan pelan-pelan dan juga terletih.
Semua Mata tertuju padanya, kakinya perih jika harus berjalan terlalu lama.
Semua orang langsung berdiri, Ibunya berlari kearah kearah Bia. "Astaghfirullah, kenapa kayak gini?" tanya Ibu Bia sembari memeriksa tubuh putri bungsunya.
"Jatuh, Bu," jawab Bia.
"Kalau di jalan hati-hati." Ia meringis saat lukanya di sentuh oleh Ibunya.
__ADS_1
Aldin yang berada di kamar langsung keluar, laki-laki parubaya itu tampak khawatir. Ia langsung menghampiri putri bungsunya yang duduk di sofa. "Kenapa ini?" tanya Aldin.
Bia hanya tersenyum. "Jatuh, Yah." Laki-laki parubaya itu menghela napas, ia mengusap kepala putrinya. "Mangkanya hati-hati kalau di jalan, kamu ini susah kalau di nasihat sama orang tua. Engga mempan kayaknya Ayah bicara sama sekali, engga boleh bawa motor kamu ngeyel jadi anak."
Bia menundukkan kepalanya. Ia sudah besar tapi Ayahnya masih melarangnya membawa motor kesayangan yang di beli hasil usahanya sendiri. "Udah, Yah. Namanya juga musibah," ucap Anita melerai perdebatan di antara mereka.
Aldin menghela napas gusar. "Sana istirahat, Nita bantu Adekmu yang bandel ini ke atas."
Anita mengangguk, ia membantu Bia untuk naik kearah. Sesampainya di kamar, Bia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Anita menghela nafas, ia tau apa yang menyebabkan adeknya seperti ini.
"Kakak engga minta kamu penuhin permintaan Ayah buat ketemu Bima."
"Tapi—" ucapan Bia terputus.
"Kakak tahu kamu orangnya pemikir segala hal, tapi untuk saat ini jangan. Apalagi bahayakan keselamatan kamu, melamun di tengah jalan itu bahaya. Kakak udah tau kebiasaan kamu kalau ada masalah. Kakak engga suka, Dek."
"Biar Kakak yang urus permintaan Ayah." Bia langsung menggelengkan kepalanya.
"Bia udah bicara sama Mas Bima tapi Bia engga tau dia bakal datang apa engga," ucap Bia.
"Kamu sebenarnya ada apa sih, Dek? Kakak pusing."
"Engga ada."
Anita menghela napas. "Ya udah kamu istirahat."
_
Keesokan harinya, Bima berkunjung ke rumah Bia dengan Arga. Laki-laki itu akan bertemu Anita untuk fiting baju pengantin, Aldin menyambut mereka dengan bahagia.
Bia yang berdiri di dapur menyingungkan senyum tipisnya saat melihat laki-laki itu ada di sini. Hatinya sedikit lega tapi juga ada sedikit rasa was-was di hati wanita itu. Entah apa yang mereka akan katakan nantinya.
Aldin menepuk pundak Bima. Laki-laki itu langsung menyalami Aldin yang berada di depannya. "Apa kabar, Om?" tanya Bima.
"Alhamdulilah baik."
Bia yang berada di dapur kembali melanjutkan aktivitasnya membantu Ibunya sedangkan Anita sedang bersiap di kamar.
__ADS_1
Aldin mengajak Bima untuk keluar, laki-laki itu mengangguk. Mereka memutuskan untuk duduk di teras rumah dengan secangkir kopi yang tadi istrinya buat.
Bima menundukkan kepalanya, ia benar-benar mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mampir ke rumah ini. Rumah yang awalnya memberi harapan dengan pemilik rumah tapi nyatanya ia hanya jadi tamu.
Aldin menghela napas sebelum berbicara dengan anak laki-laki di sampingnya.
"Nak Bima, Om minta maaf." Bima langsung menolehkan kepalanya, ia menggelengkan kepalanya. "Om engga perlu minta maaf, Bima sudah lupain semuanya."
Aldin menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Kesalahan anak adalah kesalahan orang tuanya. Apalagi Bia anak perempuan bungsu, Om."
"Om benar-benar minta maaf, om memang tidak tau apa yang kalian katakan, tapi Om tau bahwa kata-kata yang di ucapkan anak om pasti sangat menyakitkan. Sampai Nak Bima tidak lagi datang berkunjung kemari dan menghampiri Om di masjid juga tidak."
Bima menggelengkan kepalanya. "Om engga perlu minta maaf." Ini bukan kesalahan siapapun, laki-laki parubaya itu tidak perlu minta maaf kepadanya.
"Sekecil apapun kesalahannya Om tetap yang salah, engga bisa mendidik putri Om. Supaya tidak berbicara menyakitkan orang lain, Om tau perkataan yang menyakiti itu seperti apa."
"Sebagai seorang Ayah, rasanya Om gagal mendidik putri om sendiri. Seharusnya jika salah satu dari kalian tidak saling menyukai lebih baik bicara dulu sama orang tua jangan langsung berbicara. Engga semua orang sama dalam hal menanggapi ucapan seseorang, ada yang merasa tersinggung ada yang tidak.
"Ucapan bisa begitu menyakitkan, ibarat mulut lebih tajam dari pada pisau."
Bima hanya menunduk sembari mendengarkan ucapan yang di lontarkan oleh Aldin.
"Sebenarnya Om sangat menginginkan Nak Bima menjadi menantu Om setelah Nak Arga untuk Anita. Om yakin Nak Bima bisa menjaga putri bungsu Om yang memang keras kepala dan egois. Tapi ya sudahlah, memang tidak ada yang bisa di paksakan bukan? Kalau di paksakan itu tidak baik."
Bima mengangguk, tidak ada yang bisa di paksakan di dunia ini.
"Om sangat senang dulu Nak Bima meminta putri Om saat lamaran Nak Arga. Om ikhlas jika melepaskan Bia untuk Nak Bima tapi putri Om engga mau." Aldin tersenyum tipis. "Entah apa yang ada di pikiran anak om, sampai dia menolak Nak Bima. Om engga pernah lihat Bia bersama laki-laki manapun, anak itu belum pernah berpacaran sama sekali dan sekalinya Om ingin melihat Bia bersama dengan Nak Bima bukan dengan orang lain.
"Semua sudah di atur, Om," ucap Bima walaupun di hatinya masih mengharapkan Bia.
Aldin mengangguk. "Benar, jodoh sudah di atur dan semoga Nak Bima mendapatkan pendamping yang lebih baik dari putri Om. Yang menerima nak Bima dengan lapang, yang saling menerima satu sama lain dan bisa membahagiakan Nak Bima tentunya. Pernikahan bukan ajang perlombaan, pernikahan itu ibadah. Cari seseorang yang mampu membimbing dan juga sebaliknya, tidak perlu yang cantik semata lihatlah wanita itu dari dalamnya."
"Putri Om juga sangat cantik, tapi hatinya masih tertutup. Biarlah, anak om memang seperti itu."
"Tapi jika seandainya kalian berjodoh bagaimana?" tanya Aldin, Bima langsung menoleh pada laki-laki parubaya itu.
__ADS_1
"Bima sebetulnya tidak ingin terlalu berangan-angan kembali, kalau memang antara kami berjodoh biarkan saja berjalan sesuai jalannya. Jodoh tidak akan salah tempat begitu pula Bia, Om. Jika memang Bia di takdirkan untuk Bima segala penolakan apapun yang Bia katakan itu tidak akan berarti jika Allah sudah berkehendak. Tapi jika sebaliknya, pasti salah satu di antara kita akan mundur."