
Bia melihat sekeliling tidak ada tanda-tanda Bima akan ke sini, ia memutuskan untuk duduk di kursi. Tangannya memijat keningnya, tiba-tiba saja kepalanya pusing. Segala cara untuk menjauh dari laki-laki itu akan ia lakukan.
Mengapa bisa laki-laki itu bekerja di sini, menjadi bosnya. Bia jadi serba salah jika begini, berbuat buruk takut di pecat kalau tidak pasti laki-laki itu makin gentar mendekatnya.
"Astaghfirullah, kenapa gini sih," ucapnya, ia harusnya kemarin menolak tapi ia tak mau jika semua orang menganggapnya apa jika menolak laki-laki. Ya, lebih baik mengenal dulu jika cocok di lanjut jika tidak ya jangan.
Bia melihat jam yang melingkar di tangannya, ia menghela napas panjang. Masih lama waktu pulang, sekarang masih pukul sepuluh pagi.
"Mbak!" teriak Nana yang berlari kearahnya. Bisma yang ada di belakangnya menggelengkan kepalanya.
Bia yang sedang melamun sontak mendongak kearah sumber suara. Lagi-lagi ia menghela napas ketika tidak melihat laki-laki itu.
"Mbak kok tiba-tiba engga ada di belakang?" tanya Nana.
Bia tersenyum, berbohong sedikit tidak masalah, kan? "Tadi kebelet pipis," dustanya sembari menggaruk belakang kepalanya tidak gatal.
Nana mengangguk-anggukkan kepalanya, sudah terbiasa melihat wanita itu seperti ini. Bia tidak kuat menahan buang air kecil di manapun ia berada.
"Tadi Nana malu loh, Mbak."
Bia mengerutkan keningnya. "Malu kenapa, Na?" tanya Bia kepada Nana.
Nana tersenyum. "Nana malu sama Pak Bima soalnya Pak Bima manis banget."
Bia menggelengkan kepalanya, Bisma yang ada di belakang hanya tersenyum mendengar ucapannya yang di lontarkan oleh Nana. Wanita itu memang suka sekali menghayal yang tidak pasti.
"Yang ada Pak Bima malu sama tingkah kamu," seru Bisma yang ada di belakang.
Nana mendengus kesal, ia menatap tajam laki-laki itu. "Kenapa sih Mas itu selalu patahin semua yang Nana katakan."
"Ya, supaya kamu sadar." Bisma tertawa melihat wajah Nana yang cemberut, selain galak. Nana juga sedikit lebay jika berurusan dengan laki-laki tampan seperti Bima.
Bisma juga tidak kalah tampan hanya saja, Nana sudah bosan melihat wajahnya setiap hari. Nana juga bosan melihat Bisma memakai baju kotak-kotak setiap hari, yang membedakannya hanya warnanya saja.
"Engga bosen kotak-kotak mulu, Mas?" tanya Nana.
"Engga."
__ADS_1
Setelah bertanya seperti itu, Nana yakin jika isi lemari laki-laki hanya baju kotak-kotak dan tidak ada yang lain.
Bia tertawa mendengar perdebatan yang terjadi, sampai ia tak menyadari jika Bima berdiri di ambang pintu sembari melihatnya tertawa.
Laki-laki itu tersenyum, niatnya mengambil air minum namun tiba-tiba hatinya sedikit tersipu ketika melihat wanita itu tersenyum dengan kedua sahabatnya.
"Eh, Pak."
Nana pertama kali melihat laki-laki itu, ia segera mundur lalu menunduk. Bia yang melihat itu langsung mencari cara supaya menghilang dari sini sekarang juga. "Lanjutkan, saya mau ambil air minum," ucap Bima sembari berjalan menuju dispenser yang berada di dekat Bia.
Bia langsung beranjak saat Bima mendekat kearahnya. "Kenapa?" tanya Bima.
"Dispensernya di belakang tubuh saya, pak."
Bima mengangguk, Bia mundur sedikit-sedikit saat laki-laki itu mendekat kearahnya. Nana dan Bisma mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Bia yang seperti canggung dengan laki-laki itu.
"Saya duluan, Pak. Ayo, Na." Bia langsung menarik Nana keluar, Nana yang sedang melihat Bima langsung mendengus kesal.
"Ish, Mbak. Nana lagi lihat ciptaan Tuhan." Nana menggerutu di belakang wanita itu, Bia yang mendengar itu hanya tersenyum.
_
"Dia begitu cantik jika tersenyum." Bima benar-benar mengagumi Bia, wajahnya begitu manis jika di lihat dari dekat.
Ia benar-benar ingin menjadikan wanita itu istrinya saat ini juga. Bima tidak mau mengagumi seseorang yang belum halal untuknya.
"Bagaimana cara menikahimu dengan cepat, Bia?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari melihat Bia yang sedang duduk dengan kedua sahabatnya.
_
"Mas Bisma nanti Nana nebeng, ya, kalau pulang." Nana mengedipkan matanya kepada Bisma, supaya laki-laki itu mengiyakan permintaannya.
"Engga."
"Ish, Mas." Nana mendengus kesal, mendengarnya. "Sama Mbak aja, Na."
Nana menggelengkan kepalanya. "Engga, ah, Mbak. Kasian soalnya rumah kita beda jalur."
__ADS_1
"Engga apa-apa, itung-itung jalan-jalan."
Nana menggelengkan kepalanya. "Engga, Deh. Mbak makasih." Nana menolak ajakan wanita yang berada di sampingnya. Ia tak mau merepotkannya, Nana juga takut Bia kenapa-kenapa jika mengantarkannya malam-malam.
"Yaudah, Deh."
"Mas ya, sama Mas Bisma aja."
"Engga," tolak Bisma.
Bia bangkit dari duduknya. "Ke belakang dulu, ya."
"Ke mana, Mbak?" tanya Nana saat melihat Bia beranjak dari tempat duduknya.
"Biasa." Nana mengangguk.
Bia yang sedang berjalan menuju kamar mandi tiba-tiba terkejut saat seseorang memanggilnya. Bia melihat sekeliling, tangannya tiba-tiba di tarik seseorang dari belakang dan membawanya ke suatu tempat.
"Maaf," ucap laki-laki itu, Bia yang mendengar itu menghela napas.
"Mau apa Mas tarik-tarik Bia ke sini?" tanya Bia pada Bima yang ada di depannya.
"Saya nomor telepon kamu," ucap Bima spontan, Bia mengerutkan keningnya. "Buat apa?"
"Kamu tau fungsinya no telepon buat apa, Bia."
"Hm."
"Mana no telepon kamu, biar saya simpan." Nana meraba saku celana ia tidak menemukan ponselnya. "Bia engga bawa ponsel, Mas."
"Kamu engga ingat?" tanya Bima.
"Engga."
"Yasudah, nanti saja minta sama kedua sahabat kamu." Bia langsung melotot mendengarnya. "Engga usah minta-minta sama yang lain. Nanti Bia kasih kalau Bia pegang ponsel. Permisi."
Wanita itu langsung pergi meninggalkan Bima, laki-laki itu menghela napas. Rupa Bia sedikit sulit untuk di dekati.
__ADS_1
"Jika begini terus, kapan saya akan menikahimu?"