Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
Ayah sakit


__ADS_3

Setelah kejadian itu Bia dan juga Bima tidak saling tegur sapa, laki-laki menjadi sedikit pendiam walaupun emang tidak terlalu. Bima menjalankan cafe dengan baik beberapa hari ini, laki-laki itu mencoba melupakan rasa kagum dan rasa sukanya pada wanita itu dengan menganggapnya tidak lebih sebagai bawahannya.


Persiapan pernikahan Arga dan juga Anita sudah 70%, rumah yang tadinya sepi kini ramai oleh sanak sodara. Waktu berjalan dengan cepat satu Minggu lagi pernikahan mereka akan di gelar.


Rasa belum siap di hati Bia kembali meluap, mengikhlaskan tidak semudah yang di bayangkan. Tapi ia akan mencobanya sebiasa mungkin, menghapusnya dan menganggap laki-laki itu kakak iparnya.


Beberapa hari ini, ia selalu mendapatkan pertanyaan dari sang Ayah. Laki-laki parubaya itu selalu bertanya tentang Bima kepadanya. Bia hanya menjawab laki-laki itu sedang sibuk tapi Ayahnya tidak tau apa yang terjadi di antara mereka berdua beberapa hari yang lalu.


Bima sekarang jarang sekali berkunjung, biasanya laki-laki itu menyempatkan untuk berbicara dengannya dan menjemput putrinya, Bia.


Aldin merasa ada yang tidak beres dengan mereka, Bia selalu menjawab itu-itu saja jika di tanya tentang Bima.


"Kamu engga bicara apa-apa, kan, sama Nak Bima?" tanya Aldin.


Bia terdiam mematung, laki-laki itu menghela napas pasrah. Diam putrinya menandakan iya, bahwa ada kata-kata yang di ucapkan oleh putrinya pada Bima.


"Kalau kamu engga mau sama Nak Bima bicara sama ayah, biar Ayah bicara empat mata sama Nak Bima. Ayah takut perkataan kamu menyakiti perasaannya sampai-sampai Nak Bima enggan datang lagi ke sini. Untuk bersilaturahmi sama Ayah juga engga."


Bia menundukkan kepalanya, perkataan Ayahnya begitu menyudutkannya sekarang. "Maafin Bia, Yah."


"Bukan minta maaf sama Ayah, Nak.  Minta maaf sama Nak Bima, kamu engga perlu mutus tali silahturahmi sama siapapun termasuk Nak Bima. Ayah engga suka kalau kamu begitu tanpa bilang sama Ayah."


"Ayah malu, Nak Bima adalah salah satu keluarga yang akan jadi keluarga Kakakmu Anita."


Bia mengangguk paham, matanya sedikit berkaca-kaca saat Ayahnya keluar dari kamarnya.


_


Dua hari kemudian kesehatan Aldin menurun, laki-laki parubaya itu mengeluh nyeri di dadanya. Membuat orang yang berada di rumah cemas apalagi beberapa hari lagi Anita akan menikah.


Bia yang berada di cafe memutuskan untuk pulang setelah mengetahui bahwa Ayahnya sakit. Wanita itu berlari kearah kamar, Anita dan juga Arga juga berada di sana.


"Ayah kenapa?" tanya Bia, setelah menghampiri Ayahnya yang terbaring lemah.


Aldin tersenyum, ia mengelus kepala putrinya. "Ayah engga apa-apa cuma kecapean aja."


Anita menghampiri Ayahnya. "Ayah harus sehat, Nita sebentar lagi nikah."

__ADS_1


Aldin mengangguk. "Ayah sehat kok, kalian tenang aja jangan panik."


Bia memutuskan pergi ke kamarnya kemudian menangis, sebenarnya ia pulang tidak sendirian. Bima mengantarkannya tapi laki-laki itu tidak mampir.


Bia tau Ayahnya sangat ingin bertemu dengan Bima. Ia juga belum meminta maaf atas perkataannya beberapa hari yang lalu.


Anita menghampiri Adiknya, ia memeluk tubuh Bia dengan erat sembari memberi usapan di punggungnya. "Ayah pasti sehat, percaya sama kakak."


Bia mengangguk. Anita melepaskan pelukannya, ia tersenyum menatap Adiknya. Walaupun sering bertengkar tapi mereka saling mengasihi. "Ayah tadi bilang mau ketemu Bima, kamu ada masalah apa sama dia?" tanya Anita.


Bia menundukkan kepalanya. "Engga ada masalah apa-apa." Bia terpaksa berbohong, tidak perlu ada yang tau tentang masalah kemarin.


"Ayah mau ketemu Mas Bima, Kak?"


Anita mengangguk. "Nanti Bia suruh Mas Bima ke sini."


"Iya, kamu istirahat di kamar. Biar besok kamu kasih tahunya."


"Iya."


_


Tapi ia tidak mungkin mengingkari  janjinya untuk membawa Bima ke rumah dan juga minta maaf kepadanya.


Bia mengecup kening Ayahnya yang tertidur. "Cepat sembuh, Yah."  Ia langsung keluar dan bergegas untuk pergi bekerja.


Di sepanjang perjalanan, Bia sedikit melamun. Ia tidak konsen mengemudikan motornya, kepalanya pusing.  Bagaimana ia berbicara kepada laki-laki itu sekarang, menatapnya saja ia takut.


Astaghfirullah


Bia membantingkan stir motornya saat melihat motor lain melaju kearahnya. Membuat tubuhnya terjauh dan tergores oleh aspal.


Bia meringis, tangannya berdarah lumayan banyak. Untuk saja hanya sikunya yang berdarah dan kakinya yang gores. Beberapa warga menolongnya. "Mbak engga apa-apa?"


"Engga, Pa."


"Mbak berdarah biar di obati dulu." Bia menggelengkan kepalanya, ia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ia sedikit terkejut, beberapa menit lain Bia akan terlambat.

__ADS_1


"Makasih, pak. Engga usah, saya lagi buru-buru soalnya. Makasih banyak Pa."


Bia terletih saat berjalan kearah motornya, tangannya sakit. Darah masih keluar lumayan banyak. Bia kembali menjalankan motornya dengan hati-hati ia tidak pulang tapi melanjutkan perjalanannya menuju cafe.


Motor itu berhenti di parkiran khusus, lagi-lagi Bia meringis. Ia melihat sikunya, rupanya baju di bagian tangan robek. Bia juga melihat kakinya ada beberapa memar dan juga goresan di bagian kakinya.


Bia menghela napas, ia menghubungi Nana. Wanita itu tidak kuat untuk berjalan, tubuhnya sakit semua.


Nana berlari dengan khawatir. "Mbak engga apa-apa? Kenapa engga pulang aja? Biar Nana yang ijin sama Pak Bima."


Bia menggelengkan kepalanya. "Engga usah, Mbak masih kuat." Bia tersenyum.


"Kuat apa, Mbak? Ini lukanya kenapa engga di obati dulu?" tanya lagi Nana setelah melihat luka di tangan Bia.


"Nanti aja."


"Ayo, Mbak." Nana menuntun Bia masuk ke dalam. Wanita itu menyuruh Bia untuk duduk di kursi di dapur. "Duduk Mbak, aduh hati-hati Mbak."


Bia mengangguk, ia memutuskan untuk duduk. "Na, tolong ambil baju Mbak di loker. Engga enak pake baju gini kalau kerja."


"Mbak engga perlu kerja biar Nana yang ijin kalau Pak Bima sudah datang, Mbak duduk aja."


Bisma berlari kearah mereka berdua. "Kenapa Mbak?" tanya Bisma.


Bia hanya tersenyum. "Biasa luka kecil."  Nana menyimpan baju itu atas meja. "Biar Nana obati dulu, Mbak."


Nana menaikkan baju bagian lengan milik Bia. Wanita meringis saat bajunya mengenai luka di sikunya. "Maaf, Mbak."


Bia mengangguk. "Mas Bisma tolong bawain tempat obat-obatan." Bisma mengangguk.


Saat membawanya Bisma tidak sengaja bertemu dengan Bima yang baru saja datang. Laki-laki itu mengerutkan keningnya saat melihat apa yang sedang Bisma bawa.


"Mbak Bia tadi kecelakaan motor."


"Dimana dia?" tanya Bima.


"Di dapur."

__ADS_1


__ADS_2