Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
butik


__ADS_3

"Bima sebetulnya tidak ingin terlalu berangan-angan kembali, kalau memang antara kami berjodoh biarkan saja berjalan sesuai jalannya. Jodoh tidak akan salah tempat begitu pula Bia, Om. Jika memang Bia di takdirkan untuk Bima segala penolakan apapun yang Bia katakan itu tidak akan berarti jika Allah sudah berkehendak. Tapi jika sebaliknya, pasti salah satu di antara kita akan mundur."


Aldin mengangguk, menyetujui perkataan yang di ucapkan oleh Bima. Laki-laki parubaya itu merasa bangga jika memiliki menantu seperti Bima tapi minusnya laki-laki itu adalah tidak bisa menaklukkan hati putrinya, Bia.


"Om berharap Nak Bima masih mau bersilaturahmi dengan Om setelah kejadian ini."


Bima mengangguk. "Pasti, Om."


Bia yang berada di dapur, tiba-tiba mendongak kearah ruang tamu. Arga berada di sana sedang duduk menunggu Anita keluar dari kamar, sebenarnya ia ingin menemani laki-laki itu tapi Ibunya menyuruhnya untuk membantunya.


"Nak, anterin ini ke depan." Bia mengangguk, berjalan melewati Arga. Bia hanya tersenyum sembari menatapnya, mereka sekarang seperti orang asing. Sifat Arga begitu jauh, sekarang laki-laki itu sedikit menjauh. Menganggap Bia adalah adik iparnya.


Bia menundukkan kepalanya saat melihat Bima dan Ayahnya sedang bicara, ia tidak tau apa yang mereka katakan sekarang.  Bia hanya menyimpan piring yang tadi ibunya suruh anter di atas meja sembari tersenyum.


Bima yang sedang duduk di sana hanya menunduk, mencoba untuk tidak melihat Bia yang berada di sampingnya. "Sini duduk dulu."  Aldin menyuruh Bia duduk, wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Sini." Bia langsung setuju setelah di hadiah tatapan tajam dari sang Ayah.


Bia akhirnya duduk di sebelah Ayahnya, beberapa kali ia melihat Bima yang masih setia menunduk.  "Minta maaf sama Nak Bima sekarang." Bima langsung mendongak ke sumber suara, Bia melotot. Ia sudah minta maaf kemarin kenapa minta maaf lagi.


"Udah kemarin, Yah."


Aldin menghela napas. "Ayah engga denger permintaan maaf kamu kemarin."


Tubuh Bia mendadak lemas, bagaimana cara ia meminta maaf kepada Bima dihadapan Ayahnya. Pasti laki-laki parubaya itu akan mengoreksi permintaan maafnya kepada Bima.


"Yah!" Bia merengek.


"Cepat."


Bia menundukkan kepalanya. "Bia minta maaf."  Bima mengangguk.


"Udah."


"Yang benar, Nak Bima engga dengar."

__ADS_1


Bia menghela napas panjang sebelum berbicara. "Bia minta maaf soal kemarin, maaf."


Bima mengangguk. "Saya maafkan." Tapi perasaan kecewanya tidak bisa hilang setelah wanita itu meminta maaf.


Semua orang mendongak ketika melihat Arga dan juga Anita keluar. Aldin langsung berdiri sedangkan Bima dan juga Bia masih duduk di tempatnya masing-masing.


"Yah kita berangkat dulu."


"Kita semua pergi ke sana." Anita langsung terdiam, bukannya rencananya ia dan Arga yang berangkat ke sana.


"Bukannya Ayah engga mau ikut kemarin?" tanya Anita. Laki-laki parubaya itu tersenyum. "Sekarang Ayah mau ikut, sekalian ajak Nak Bima sama Adek kamu."


Bia yang namanya di sebut langsung menggelengkan kepalanya, tubuhnya masih sakit ketika jatuh kemarin. Malah sekarang di tambah hatinya yang sakit jika ia ikut pergi.


"Yah, Bia engga mau. Buat apa Bia ikut?"


"Buat pencerahan," jawab Aldin.


"Kan, Bia engga mau nikah dulu." Aldin menghela napas. "Ganti baju sana." Bia berjalan pelan, ia tidak mau ikut apalagi jika harus bersama dengan Bima.


"Nak Bima ikut saja, menjadi perwakilan keluarga Nak Arga." Bima melihat kearah Adiknya, Arga langsung mengangguk. Mengisyaratkan jika Bima boleh ikut dengannya.


Bia terdiam di dalam mobil, ia duduk di depan bersama dengan Bima. Laki-laki itu membawa mobil milik Ayahnya, kondisi Aldin yang baru saja sembuh membuat Anita melarangnya jadi Bimalah yang membawanya.


Orang tuanya di belakang sedangkan Anita dan juga Arga berangkat berdua. Bia menundukkan kepalanya, tangannya memainkan ponselnya yang sedang ia genggam sedangkan Bima fokus menyetir.


Bima mengikuti mobil Arga yang ada di depannya, ia tidak tau butik apa yang di pilih oleh Arga dan juga Anita.


Sesampainya di sana, Bima menghentikan mobil di parkiran. Bia langsung turun dengan hati-hati kaki masih sakit tapi tidak sakit seperti kemarin. Sekarang rasa sakitnya bisa di tahan.


Bima menyerahkan kunci mobilnya kepada Aldin yang berdiri di samping istrinya. "Om, kunci mobilnya."


"Simpan dulu, ayo ikut masuk." Bima mengikuti langkah kaki di depannya. Arga dan juga Anita berada di depan mereka bergandengan tangan begitu mesra. Bia hanya menghela napas panjang, ia berdiri di samping Ayahnya.


Mereka masuk ke dalam, Anita sudah memesan gaun yang ada ia kenakan nanti. Gaun putihnya lumayan sederhana, ia memilih gaun yang sedikit tertutup.

__ADS_1


"Bagus engga, Yah?" tanya Anita.


Aldin mengangguk. "Bagus." Postur badan Anita dan juga Bia tidak jauh berbeda. Hanya Anita sedikit lebih tinggi di bandingkan dengan Bia.


Bima berdiri di belakang, ia hanya ikut tanpa ikut campur tentang urusan ini. Baju seragam dengan keluarganya sudah di tentukan tapi Bima belum melihatnya.


Anita mencoba memakainya, gaun itu begitu cocok dengannya. Sedangkan Arga begitu tampan  berdiri di samping Anita, mereka sangat cocok satu sama lain.


Wajah berseri Ibu Bia begitu cerah, mereka bahagia melihat Anita menikah dengan Arga. Laki-laki yang bertanggung jawab dan juga baik.


"Biar Bia coba gaunnya," ucap Aldin. Semua yang ada di sana langsung terdiam, Bia yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya. "Buat apa, Yah?" tanya Bia, ia tidak mau memakainya. Toh bukan ia yang akan menikah.


"Coba aja, Bia." Bia menggelengkan kepalanya tidak mau, Anita yang berada di sana langsung menarik tangan Adiknya. "Ayo, cobain."


"Nah tuh yang punya juga ijinin."


Bia langsung mengangguk, ia mengikuti langkah kaki Anita yang berada di sampingnya. Sesampainya di ruang ganti, Bia masih terdiam. "Bia engga mau, Kak."


Anita menghela napas. "Coba aja, daripada Ayah marah. Ayah baru sembuh loh, Dek."


"Ya udah." Dengan terpaksa Bia mencoba gaun milik Anita, gaun itu begitu cocok dengannya.


"Tuh, Cantik." Anita tersenyum saat gaun itu di pakai Bia, ia seperti melihat dirinya sedang memakainya.


"Ayo keluar."


Pandangan Bima tertuju pada wanita yang sedang berjalan memakai gaun dengan hijab, wanita itu begitu cantik membuat dadanya berdebar kencang. Bima langsung menundukkan kepalanya, saat Bia berjalan mendekat.


"Udah." Aldin tersenyum melihatnya, matanya berkaca-kaca. Ia seperti menikahkan putrinya sekaligus di hari yang sama.


Aldin berjalan menuju putrinya, ia mengecup kening Bia. "Cantik." Tubuh wanita itu membeku, rasa kesalnya berubah menjadi kebahagian saat Ayahnya mengecup keningnya beberapa saat yang lalu.


"Nak Bima gimana putri Om cantik?" tanya Aldin.


Bima hanya mengangguk sembari melihat kearah Bia. 

__ADS_1


__ADS_2