
Bia yang sedang duduk di pinggir ranjang langsung menolehkan kepalanya saat mendengar pintu terbuka dari luar. Ia langsung menyimpan ponsel yang sedang ia genggam di ranjang, senyumnya merekah saat melihat Ayahnya berjalan menuju kearahnya.
"Nak." Bia langsung menoleh. "Iya, Yah."
"Ayah mau tanya, boleh?" tanya Aldin dengan suara khasnya, Bia menghela napas saat melihat Ayahnya menatapnya dengan harap.
Bia mengangguk. "Boleh, Yah. Tanya apa?"
"Adek punya pacar?" tanya Aldin. Bia terdiam mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Ayahnya. Untuk saat ini ia tidak mempunyai tambatan hati, tapi hatinya di isi oleh Arga calon Kakak iparnya.
"Engga ada, Yah." Aldin menghela napas lega. Tangannya menepuk tangan putri bungsunya sebelum berbicara. "Kenapa Adek engga mau sama Nak Bima?"
"Gimana, ya?" tanya Bia, ia takut salah mendengar apa yang di ucapkan oleh Ayahnya.
"Kenapa Adek engga mau sama Nak Bima, anak laki-laki itu baik menurut Ayah." Bia menggelengkan kepalanya, cinta tidak bisa di paksakan bukan. Ia mencintai orang lain, mereka berbeda.
"Bia engga ada rasa sama Mas Bima, Yah."
"Emangnya harus ada rasa dulu Nak baru nikah?" tanya Aldin, kening wanita itu mengerut. Pembicaraan dengan Ayahnya sudah keluar dari ranahnya. Pernikahan? Bia tidak ingin menikah sekarang, ia belum siap untuk itu.
"Kok bahas nikah sih, Yah."
Aldin tersenyum sembari menatap Putrinya. "Ayah hanya membahas pernikahan, kamu sudah besar sebentar lagi pasti nyusul Nita kakak kamu."
"Tapi Bia engga mau nikah sekarang."
"Engga ada yang suruh kamu nikah sekarang, toh yang nikah itu Nita." Bia menundukkan kepalanya.
"Ayah tanya pertanyaan yang tadi. Apa pernikahan harus ada cinta dulu?" tanya Aldin lagi.
Bia menundukkan kepalanya, menurutn logikanya pernikahan harus di landasi dengan cinta. "Harus, Yah. Kalau engga pernikahan pasti hambar."
"Bagaimana yang ta'aruf Nak, mereka juga nikah bukan karena saling suka. Nikah itu ibadah, cinta bakal pudar beberapa tahun setelah menikah, yang ada hanya rasa sayang dan rasa bakti sama suami."
"Mungkin pernikahan akan hambar awal-awal saja, keduanya fokus memahami pribadi masing-masing dan saling memahami. Tidak ada yang hambar dalam pernikahan kalau di landasi dengan cinta kepada yang Maha kuasa. Bukankah, menikah itu untuk menyempurnakan ibadah bukan untuk memperbanyak keturunan."
__ADS_1
"Tapi semua orang menikah karena ingin punya anak."
"Anak hanya titip, banyak sekarang suami istri yang memilih untuk tidak mempunyai anak."
Bila mengangguk. "Hal apa yang Adek engga suka dari Nak Bima?" tanya Aldin lagi.
Lagi-lagi Bila terdiam, ia tidak suka semuanya dari Bima. Ia tidak menyukainya walaupun laki-laki itu tampan.
"Adek engga suka semuanya." Bila menundukkan kepalanya lagi.
"Semuanya? Menurut Ayah dia baik Dek, pantes buat bersanding dengan putri bungsu Ayah."
"Yah."
Aldin tertawa. "Bercanda."
"Bia engga suka sifatnya Ayah. Dia terlalu banyak bicara, Bia engga suka."
Aldin menggelengkan kepalanya, saat mendengar ucapan itu di lontarkan oleh anaknya. "Bukannya pernikahan itu harus saling berkomunikasi, kalau sama-sama diam nanti hambar."
"Cinta."
Aldin menggelengkan kepalanya. "Salah satunya bukan karena cinta tapi mereka nyambung kalau bicara. Cinta nomor dua."
"Emang iya, Yah?" tanya Bia sambil keningnya mengerut. Bukannya dengan dirinya juga berbicara nyambung? Kenapa Anita yang di lamar oleh Arga.
Astaghfirullah.
Bia menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh iri dengan kakaknya sendiri. "Iya, tanya kakakmu. Kalau Anita jawab cinta Ayah jitak dia." Laki-laki itu tersenyum, tangannya mengelus pucuk rambut anaknya. "Ayah hanya ingin kedua putri Ayah menikah di hadapan Ayah."
"Ayah pasti ada buat jadi wali nikah Bia. Engga boleh ngomong gitu, ah. Bia parno kalau ngomong yang gitu."
"Umur engga ada yang tau." Bia mengangguk, ia memeluk tubuh Ayahnya dengan erat. "Jadi Ayah harus sehat, oke."
_
__ADS_1
Bia bersiap untuk bekerja hari ini, menyiapkan mental untuk bertemu dengan laki-laki itu. Dan berharap dia tidak muncul dihadapan Ayahnya, kalau tidak pasti Ayahnya akan membahas tentang pernikahan.
Pintu kamarnya di ketuk dari luar, suara panggilan terdengar memanggil namanya. Bia membuka pintunya menampilkan Ibunya yang berdiri di ambang pintu. "Ada Nak Bima di luar."
Seketika rahangnya seakan jatuh ke bawah, ia mengangguk langsung berlari menuju kamar. Mengambil tas yang ada sudah ia siapkan di ranjang.
Wanita parubaya itu menggelengkan kepalanya. "Ayah di mana?" tanya Bia sebelum turun.
"Di kamar." Bia menghela napas lega, memegang dadanya yang berdetak hebat.
Bia langsung berlari. "Jangan lari, nanti jatuh!"
Wanita itu tidak menghiraukan ucapan yang di lontarkan oleh Ibunya. Ia harus cepat sebelum Ayahnya keluar dari kamar, sesampainya di luar Bia mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Bima yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya. Keringat membasahi wajah wanita itu dan penampilannya begitu berantakan tidak seperti ia kenal.
"Ayo." Bia berjalan keluar terlebih dahulu. "Ayo, Mas."
Bima mengangguk lalu menyusul Bia yang sudah berjalan terlebih dahulu. "Abis di kejar apa kamu?" tanya Bima sebelum masuk ke dalam mobil.
"Lebih takut dari di kejar setan." Bia takut Ayahnya bicara dengan laki-laki itu, ia belum siap.
Bima menggelengkan kepalanya.
Bima mengambil tisu setelah mereka berdua berada di mobil. "Nih, lap dulu."
Bia menerimanya tisu yang berada di tangan Bima, mengusap kening dan juga wajahnya yang banjir oleh keringat. "Ayo."
"Hm." Mobil itu melesat jauh.
"Rame banget, Bun?" tanya Aldin pada istrinya. "Biasa anak bungsu."
"Bia sudah berangkat?"
"Sudah di jemput Nak Bima." Laki-laki itu tersenyum mendengar ucapannya istrinya, rupanya anak bungsunya tidak ingin ia bertemu dengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Dasar anak satu ini."