Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
penolakan


__ADS_3

Anita mengejar Bia yang keluar, wanita itu terkejut dengan permintaan Ayah saat ini untuk menikahkan Bia dengan Bima. Bia tidak suka dengan permintaan Ayahnya sekarang.


Anita menghela napas saat melihat Bia yang sedang menangis sendirian di luar. Keluarga Arga sebagian pulang, yang tersisa hanya Ayah dan ibu mertuanya yang sedang berada di kantin.


"Kak, Bia engga mau." Bia menangis di pelukan Anita.


"Kakak tau." Anita mengusap punggung Bia yang bergetar hebat. Dari gelagat Adiknya, Anita menyadari bahwa Bia tidak menyukai laki-laki itu.


"Bia engga mau nikah sama Mas Bima. Bia engga mau, Kak," ucap Bia sembari menangis.


"Nanti Kakak bicara sama Ayah, udah jangan nangis."


Bia mengangguk, Bima yang tadinya akan keluar hanya menghela napas berat ketika mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Bia. Rupanya gadis itu tidak mau menikah dengannya, Bima memutuskan kembali lagi masuk ke dalam.


Di dalam hanya ada Aldin, istrinya dan juga Arga. Bima langsung berjalan mendekati laki-laki parubaya itu.


"Om."


Aldin melirik Bima saat ia mendengar laki-laki itu memanggil namanya. "Sepertinya permintaan Om kali ini, engga bisa saya kabulkan. Bia tidak ingin menikah dengan saya. Maaf sebelumnya, om. Saya pamit, Assalamualaikum."


Aldin kembali memegang dadanya yang kembali sakit saat Bima pergi, Bia dan Anita yang sedang berada di luar mengerutkan keningnya. Saat melihat Bima berjalan dengan tergesa-gesa.


"Nak!"


"Nak, Ayah. Nak!"


Mereka langsung berlari masuk ke dalam. "Ayah, Nak."


"Panggil dokter, Mas. Cepet." Arga berlari keluar, memanggil dokter.


"Kenapa bisa seperti ini, Bu. Bukannya tadi baik-baik saja?" tanya Anita setelah mereka berada di luar. Dokter sedang memeriksa kembali kondisi terkini Ayahnya di dalam sana.

__ADS_1


Ibunya menghela napasnya sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Nak Bima menolak permintaan Ayah untuk menikah dengan kamu setelah Nak Bima keluar ruangan," ucap Ibu.


Anita langsung terdiam. "Apa Bima mendengar semuanya tadi?" tanyanya di dalam hati. Bia langsung melirik Anita yang ada di sebelah, kakaknya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau.


Bia menghela napas gusar.


"Bagaimana ini, kak?" tanya Bia sembari menangis, ia khawatir dengan kondisi Ayahnya sekarang. Sepertinya sekarang lebih parah dari tadi, dokter yang memeriksa beliau belum juga keluar.


"Engga ada pilihan lagi sekarang, Dek. Kamu harus menyetujui permintaan Ayah."


Bia menggelengkan kepalanya, bagaimana nantinya jika ia menikah dengan Bima. Apa yang akan terjadi di dalam pernikahannya, jika tidak ada rasa cinta di hati Bia untuk laki-laki itu?


Itu sama saja membuat lubang di hati Bima. Bia tidak mencintai laki-laki itu sama sekali, ia hanya menganggap laki-laki itu kakak iparnya tidak lebih.


"Bia engga mau, Kak."


"Bia engga mau." Bia terus mengucapkan kalimat tersebut. Ia tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai.


"Terserah kamu, Dek. Kamu yang menjalani semuanya sekaligus kamu engga sayang sama Ayah kalau gitu. Penolakan itu akan sangat melukai Ayah, Bia."


"Ibu, Bia engga mau." Bia memeluk tubuh Ibunya yang sedang duduk di kursi, Ibunya hanya menangis tidak ada kata yang di keluarkan oleh ibunya saat ini.


_


Bima menghela napas panjang saat keluar dari rumah sakit, ia memutuskan untuk tidak pergi dulu. Emosinya dan rasa sedihnya masih ia rasakan, tidak baik jika ia mengemudi di keadaan seperti ini.


Lagi-lagi Bima menghela napas sembari mengacak-acak rambutnya. Sampai kapanpun Bia tidak akan mau menikah dengannya, tidak baik jika di paksakan lebih baik ia mundur.


"Mas!" Bima membalikkan tubuhnya saat seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ternyata itu Bia, gadis itu memanggilnya sembari menangis.


"Bia akan menyetujui permintaan Ayah untuk menikah dengan Mas Bima." Tubuh Bima mendadak membeku, ia lalu menggelengkan kepalanya.  "Engga perlu, Bi. Saya sudah menolak permintaan beliau tadi di dalam."

__ADS_1


Bia menggelengkan kepalanya, ia berjalan mendekat kearah Bima yang sedang berdiri tidak jauh darinya. "Engga, Mas. Ayo kita menikah."


"Sudah saya katakan saya sudah menolaknya, Bia. Cari saja laki-laki lain, saya permisi."


"Kondisi ayah saya kritis, Mas. Bia mohon." Bia menjongkok sembari menangis tersedu-sedu.


Bima terdiam, pernikahan apa yang akan ia jalani jika mereka menikah? Hanya ada hambar dan sepi. Bima tidak menginginkan itu semua, ia hanya membutuhkan istri yang mencintai bukan yang tidak mencintainya sama sekali.


"Saya mohon, Mas. Kita menikah."


"Saya engga bisa, Bia. Saya engga bisa menikah dengan seseorang yang tidak mencintai saya, bukannya kamu tidak mau nikah sama saya tadi. Kenapa sekarang kamu kekeh mau nikah sama saya? Apa karena Ayah kamu sekarang kritis?"


Laki-laki memang mendengar. "Bia bisa coba, Bia mohon, Mas."


"Bia mohon." Bia memohon kepada laki-laki itu.


Bima menggelengkan kepalanya. "Saya engga bisa Bia, sudah saya katakan saya engga bisa. Saya permisi dulu."


"Mas! Bia akan coba untuk mencintai Mas ketika kita sudah menikah."


"Engga semudah itu, Bia."


"Bia pasti bisa, Bia yakin pasti bisa. Mas percaya sama Bia."


Bima menggelengkan kepalanya. "Kamu engga akan bisa, saya sudah mundur. Jadi kamu sekarang yang mundur, cari yang lain saja. Saya sudah tidak mau."


Bia berlari mengejar laki-laki itu, ia memegang tangan kekar milik Bia. "Bia mohon, Mas."


"Kamu engga bisa mencintai saya jika kita menikah. Waktu yang saya berikan dulu kamu sia-sia, kan? Bagaimana dengan nanti Bia!"


"Pernikahan bukan permainan, saya engga mau."

__ADS_1


__ADS_2