
Bia mencoba tersenyum kala melihat dirinya sendiri di cermin, hatinya memang sakit tapi ia juga tidak akan mengacaukan pernikahan kakaknya sendiri. Dia mencoba ikhlas seluas samudra, saat laki-laki itu sah menjadi suami Anita dan kakak iparnya.
Kalau saja yang menikah dengan Arga bukan Anita, pasti Bia akan terus mengejar laki-laki itu sampai ia mendapatkan Arga.
Pintu kamarnya terbuka, ternyata Anita datang menghampirinya. Wanita itu sangat cantik, kala gaun putih itu melekat di tubuhnya yang ramping. Anita memeluk tubuh Bia, wanita itu meneteskan air matanya. "Jaga Ayah sama ibu, ya, Dek," ucap Anita.
Bia mengangguk, mengusap air matanya. Ia mencoba ikhlas seikhlasnya untuk melepas Arga untuk Anita. Bukan untuk siapapun tapi untuk dirinya sendiri. Tidak baik jika mencintai kakak iparnya sendiri, rahasia itu harus tetap rahasia. Tidak boleh bocor pada siapapun termasuk Anita dan orang tuanya.
"Jangan nangis, kak." Bia juga ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang.
Anita melepaskan pelukannya, Bia mengambil tisu yang berada di nakas menyerahkannya pada Anita.
"Ayo kita berangkat," ucap Aldin di ambang pintu. Akad nikah tidak di adakan di rumah, mereka menyewa gedung yang tidak jauh dari perumahan milik keluarga Anita.
Di perjalanan, Bia tidak seceria dulu. Wanita itu tampak terdiam sembari tangannya menggenggam tangan Anita yang sedingin es. Bia dan keluarga memakai baju seragam berwarna biru. Laki-laki memakai kemeja batik yang senada dengan rok yang di pakai oleh para wanita.
Mobil yang di tumpangi mereka berhenti, semuanya turun. Bia membantu Anita untuk berjalan, wanita itu kesusahan karena gaun yang ia pakai. Bia mengantar Anita ke sebuah ruangan di dalam gedung. Ruangan tersebut sudah di sulap menjadi tempat make up untuk pengantin.
Bia memutuskan keluar saat ponsel yang sedang ia pegang berbunyi, rupanya Nana menghubunginya. Wanita itu mengatakan kalau ia sudah ada di depan bersama dengan Bisma. "Kak, Bia keluar dulu." Anita yang sedang di make up mengangguk.
Bia melambaikan tangannya saat netranya melihat Nana dan juga Bisma berdiri di luar. Nana memakai sebaya berwarna pink sedangkan Bisma dengan kemeja hitam miliknya.
Kening wanita mengerut saat melihat seorang laki-laki berdiri di belakang Bisma. Laki-laki itu memakai atasan batik yang senada dengan rok yang sedang di pakainya.
Mata mengerut, ternyata laki-laki itu adalah Bima. Mengapa laki-laki itu datang bersama dengan Nana dan juga Bisma, harusnya laki-laki itu datang dengan rombongan Arga dan keluarganya.
"Mbak Bia cantik banget," ucap Nana, wanita itu langsung memeluk tubuh wanita yang berdiri di depannya. Nana sangat merindukan Bia, sudah lama wanita itu tidak masuk kerja setelah kejadian kecelakaan ringan yang di alami oleh Bia.
Bima terpaku saat melihat wanita itu berjalan kearahnya dengan anggun. Bia berdiri tidak jauh darinya, wanita itu begitu anggun dan cantik dengan pakaian yang sedang ia kenakan.
Bia sangat cantik di mata Bima hari ini. Setelah melepas pelukannya, Bia sesekali melirik laki-laki yang sedang berdiri di belakang sembari melihat jam yang ada di tangannya. Laki-laki tampak lebih berkarisma saat mengenakan kemeja batik berwarna biru.
"Ayo masuk." Nana dan juga Bisma memutuskan untuk masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Kening Bia mengerut, ia menghampiri Bima yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Ayo masuk, Mas."
Bima membeku di tempat, sudah lama ia tidak mendengar wanita itu berbicara dengan anggun dan juga sopan sama seperti pertama kali mereka bertemu. Kata terakhir yang di sebut oleh Bia begitu membuat dada laki-laki itu berdebar, saat "Mas" terdengar di telinganya. Wanita itu kembali menyebutnya Mas untuk ke sekian lama.
"Eh, iya." Bima menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, ia mengikuti langkah kaki Bia yang berada di depannya.
Sesampainya di dalam, Bia menghampiri Aldin yang sibuk membantu membereskan kursi. Aldin langsung memeluk tubuh Bima, laki-laki parubaya itu sudah menganggap Bima adalah putranya sendiri.
"Apa kabar, Om?" tanya Bima.
"Seperti yang Nak Bima lihat." Tubuhnya semakin tua semakin lemah, tidak ada tenaga seperti dulu sewaktu muda. Dadanya sering berdebar kencang dan juga nyeri.
"Biasa penyakit tua." Bima mengangguk sembari tersenyum. "Harus pandai-pandai jaga pola makan, om."
"Benar-benar."
Setengah jam berlalu, keluarga dari Arga datang. Bima memutuskan untuk pergi terlebih dahulu, ia tidak ingin menjadi bahan obrolan semua orang karena ia di langkahi menikah oleh Arga, adiknya.
Bia menundukkan kepalanya saat melihat Arga dan keluarga masuk ke dalam. Laki-laki itu begitu tampan dengan jas hitam yang melekat di tubuh gagahnya.
Dada laki-laki itu berdebar saat tangannya di pegang oleh penghulu yang berada di depannya.
"Sudah hapal?" tanya Bapak penghulu.
Arga mengangguk.
Bia mengapit tubuh Anita dengan Nana, mengantarkannya pada Arga yang sedang duduk. "Jangan gugup, Mbak," ucap Nana pada Anita.
Anita hanya tersenyum, Bia berusaha untuk tidak menangis sekarang.
Anita duduk di sebelah Arga, akad nikah sudah bisa di lakukan sekarang. Tangan Arga gemetar saat di genggaman oleh Aldin.
"Sudah siap Nak Arga?" tanya Aldin.
__ADS_1
Arga mengangguk.
"Saudara Arga Mahesa bin Dimas Anditia saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Anita Hara Aldiana dengan maskawin seperangkat alat solat, dibayar tunai."
Arga menarik nafas terlebih dahulu sebelum mengucapkan ijab kobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anita Hara Aldiana binti Aldin Alfarizi dengan maskawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi, Sah?"
"Sah."
"Sah."
Bia merintihkan air matanya yang ia tahan dari tadi, semua pasti menganggapnya terharu karena kakaknya menikah tapi kenyataannya tidak. Titik terbesar dalam mencintai adalah melihat seseorang yang di cintai menikah di depan matanya sendiri dan berlaga baik-baik saja.
Nana yang berada di samping Bia ikut menangis. Senyum orang tua Bia begitu terpancar, Arga melirik Anita yang tersenyum.
Anita menyalimi tangan Arga yang sudah menjadi suaminya sedangkan Arga mengecup kening Anita. Bia yang melihat itu langsung membuang buka ke lain arah, sakit sekali melihatnya.
"Kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri." Arga dan Anita mengangguk. Tangan mereka saling menggenggam kuat.
Bisma yang di samping Bima langsung bertanya kepada laki-laki itu. "Kapan nyusul Adiknya, Mas?" tanya Bima. Semua orang yang menghadiri pernikahan ini tahu bahwa Bima adalah kakak dari Arga.
"Nanti jodohnya belum ada."
Bisma mengangguk. "Mbak Bia lagi jomblo Mas, siapa tau dia mau."
Bima tersenyum menanggapi ucapan yang di lontarkan oleh Bisma. Ia tau semua itu hanya candaan semata.
"Sayangnya di engga mau sama saya." Bima tersenyum miris, kenyataan memang begitu. Bia tidak menyukainya dan lamarannya di tolak.
"Kalau gitu Nana aja."
__ADS_1
Bima menggelengkan kepalanya. "Bukan tipe saya, buat kamu saja."
Bisma malah tertawa, semakin lama dengan bos barunya semakin tau seperti apa yang di inginkan oleh Bima. Yang tidak lain seperti Bia yang sedikit alim dan tidak bar-bar seperti Nana.