
Tubuhnya sekarang seperti jeli, tidak ada tenaga sama sekali. Ia menjatuhkan tubuhnya saat berada di luar, kakinya lemas. Pengorbanannya saat ini sia-sia? Apalagi yang harus Bia lakukan sekarang untuk mendapatkan lagi Bima.
Apa Bia menyesal?
Tentu saja iya.
Ayahnya hanya ingin melihatnya menikah itu saja dengan seorang laki-laki yang diidamkan oleh Aldin yaitu Bima. Bia merasa bersalah saat ini, jika tau akan seperti ini tidak mungkin Bia menolak laki-laki itu dulu hanya karena tidak cinta. Padahal cinta bisa memupuk dengan sendirinya seperti kata Aldin dulu.
Ia tidak akan mungkin mengeluarkan kata-kata ketidaksukaan pada laki-laki itu.
Bia mengusap air mata di pipinya, wajahnya sudah tidak bisa di jelaskan bagaimana kacaunya saat ini. Bedak yang di pakainya luncur dan wajahnya penuh air mata bercampur dengan keringat.
Bia masih mengunakan baju kebaya yang ia pakai di pernikahan Anita.
Ponselnya berdering, Bia langsung mengangkatnya ternyata itu dari Anita.
"Kesehatan Ayah makin menurun, Bia!"
Bia memejamkan matanya setelah telepon itu mati, air matanya terus menerus mengalir sekarang. Ia langsung beranjak dari duduknya, membalikkan tubuhnya lagi untuk menghampiri Bima.
Tapi saat ingin membuka pintu cafe. Pintu itu tertutup dari dalam, rupanya Bima menguncinya. Dengan brutal Bia mengetuk pintu itu bahkan memukul kuat supaya laki-laki itu membukakannya.
"Mas buka!"
"Tolong beri Bia kesempatan sekali lagi!"
"Mas, Bia mohon. Apa Mas engga perduli dengan kondisi Ayah saat ini?"
"Mas, Bia mohon. Bia akan berusaha semaksimal mungkin asalkan Mas bisa mengabulkan permintaan Ayah sekarang."
"Mas!"
"Mas buka, Mas. Kesehatan Ayah menurun sekarang." Bia kembali menjatuhkan dirinya sendiri, duduk bersandar sembari tangannya mengetuk pintu cafe berharap Bima akan membukakan pintu.
"Mas, Bia mohon."
__ADS_1
Tapi sayang semua angan saja, pintu itu tidak di buka sama sekali. Tangannya sekarang sudah merah karena terlalu keras memukul pintu cafe.
Dering ponsel kembali berdering, Bia langsung bangkit meninggalkan cafe saat mendapat panggilan dari Anita beberapa menit yang lalu.
"Ayah." Mulutnya tidak berhenti mengucapkan kata 'Ayah' dengan pelan.
Bia berlari, tangannya melambai saat ia melihat taxi. Bia langsung ke dalam menutup pintu itu dengan keras. "Rumah sakit, Pak. Bisa lebih cepat, Pak."
"Baik Mbak."
Bia yang berada di perjalanan terus saja memandang ponsel yang ada di tangannya. Cemas itu yang di rasakannya sekarang, tangannya ia gigit saat taxi yang ditumpanginya tidak sampai-sampai ke rumah sakit.
"Buat Bapak saja kembaliannya." Bia langsung berlari menuju ruangan Ayahnya.
"Kak ... gimana Ayah?!" tanya Bia setelah sampai di rumah sakit. Semua orang yang berada di sini tidak kalah memperhatinkan, apalagi melihat ibunya seperti kehilangan setengah hidupnya. Ibunya hanya menatap lurus ke depan pintu ruangan Ayahnya sembari menangis.
Anita menyerka air matanya. "Kesehatan Ayah kembali menurun, Bil."
"Yaallah, bagaimana ini kak. Bia engga bisa bujuk Mas Bima sekarang. Bia engga tau dengan cara apa lagi?" Bia menjatuhkan kepalanya di pundak Anita, ia lelah sekali saat ini.
"Nanti Kakak suruh Mas Arga buat bicara sama Bima." Anita melirik kearah suaminya yang sedang menatapnya, laki-laki itu menghela napas lalu beranjak.
"Percaya sama Mbak."
Bia mengangguk.
_
Bima mengerutkan keningnya saat melihat Arga berjalan kearahnya. "Ngapain lo ke sini?" tanya Bima saat Arga berada di cafe. Niatnya ia ingin pulang meluapkan semua di rumah tapi saat membukakan pintu laki-laki itu berdiri di sana menunggunya.
"Kalau gue engga di suruh sama istri gue ogoh gue ngomong sama lo," ucap Arga sembari mendengus. Seperti inilah mereka, sedarah tapi sepertinya tidak sedarah.
Bima tidak terima dengan panggilan yang di lontarkan oleh Arga. Ia lebih tua darinya harusnya Arga bersikap sopan santun. "Nyebut yang bener gue Abang lo!"
Arga mendengus kesal. "Ngapain lo kesini?" tanya Bima.
__ADS_1
"Gue mohon lo nikahin Bia sekarang juga, kondisi mertua gue makin kritis sekarang," ucap Arga spontan, Bima menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak mau sekarang, untuk apa menjalankan pernikahan dengan seseorang yang selalu menolaknya.
Bia tidak menyukainya, apa kurangnya Bima?
Laki-laki itu tampan, memiliki usaha yang mapan. Apa lagi yang kurang?
Kurang bersyukur mungkin.
"Engga, gue udah mundur," ucap Bima Final. Ia sekarang berjalan mundur, kalau berjalan maju tidak akan ada tujuan yang jelas. Seperti terus berjalan tapi ujungnya hanya jalan buntu.
Sebuah pernikahan harusnya saling melengkapi tapi ini malah saling menghakimi.
"Bukannya lo cinta sama dia, hah?" tanya Arga.
Bima menatap tajam laki-laki yang berada di depannya. Laki-laki sudah menikah tapi otaknya tidak bekerja. "Lo pikir pernikahan itu apa, Hah?"
"Engga semudah yang lo pikir, dia sudah mundur jadi sekarang gue mundur dan semudah itu yang lo pikirkan? Ga? Mentang-mentang lo udah nikah." Bima mengusap wajahnya kasar setelah mengucapkan kata tersebut.
"Demi Mertua gue, bukannya lo dekat sama dia? Apa lo engga kasihan sama beliau, hah?"
"Bahkan mertua gue lebih dekat sama lo ketimbang gue yang akan jadi menantunya," ucap Arga.
Ia merasa Aldin pilih kasih kepadanya apalagi jika ada Bima di antara mereka.
"Gue kasihan, gue prihatin tapi untuk menikah dengan Bia, gue engga bisa. Gue udah mundur Sekarang, engga ada gunanya lo datang ke sini. Ngomong ini itu karena keputusan gue udah final."
"Demi Mertua gue mohon sama lo, Bang. Minimal lo lihat keadaannya sekarang, jangan gini. Lo pergi setelah menolak menikah sama Bia."
"Kenapa bukan lo yang nikah sama Bia!"
Arga langsung membulatkan matanya. "Lo gila, gue udah nikah. Engga mungkin gue punya istri dua."
kalau itu terjadi, Arga bisa mati di tangan Anita. Wanita itu adalah segalanya untuk Arga, cinta pertamanya dan cinta terakhirnya.
Arga menarik tangan Bima untuk mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Lepas!"
"Engga, Lo harus ikut gue!"