Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
Bima pergi rumah sakit


__ADS_3

Bima melepaskan tangannya sembari menatap tajam Arga, keputusannya sudah bulat jika gadis itu inginkan dirinya. Entah bisa atau tidak meluluhkan hati Bima.


Bima bukanlah laki-laki pendendam hanya saja, penolakan yang di lontarkan Bia begitu membuat harga dirinya terjatuh. Apa kurangnya? Bima menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak kurang apapun.


Arga menjalankan mobil yang sedang ia tumpangi menuju rumah sakit setelah memaksa Bima untuk ikutnya dengan jutaan perdebatan dan akhirnya laki-laki itu mau.


Ponselnya berdering rupanya Anita mengirimkan pesan untuk mampir ke rumah. Mengambil baju yang sudah di siapkan oleh sodaranya yang masih berada di rumah.


Arga dengan cepat keluar dari mobil, berlari membawa tas yang dimaksud istrinya.  Sebuah tas yang berisikan baju-baju mereka semua. Semua orang belum mengganti pakaian kecuali Bima laki-laki itu sudah mengganti bajunya dengan kaos berwarna hitam.


Laki-laki itu kembali menyetir mobilnya menuju rumah sakit, Bima hanya diam di kursi penumpang.


"Turun!" Arga menyuruh Bima untuk turun setelah mereka sampai di rumah sakit.


Bima langsung turun setelah Arga mengambil tas yang berada di jok belakang. Arga meminta Bima untuk berjalan terlebih dahulu supaya laki-laki itu tidak menghilang. Bima jago sekali kalau soal menghilang apalagi jika bersama dengan Ayahnya. Yang tidak suka dari Bima menurut Arga adalah laki-laki itu selalu beradu mulut dengan Ayah dan ibunya, mereka tidak pernah akur.


Sewaktu kecil Bima selalu mengalah dengan apapun, barang miliknya selalu ia kasih kepada Arga ketika laki-laki itu menangis menginginkan. Arga sangatlah menyayangi Bima tapi beberapa tahun yang lalu mereka tidak akur karena suatu hal.


Anita langsung berdiri saat melihat suaminya berjalan kearahnya. Matanya berbinar ia segera berlari, menanyakan apa Arga bisa membujuk Bima atau tidak.


"Gimana, Mas?" Arga menunjukkan kearah belakang, menampilkan Bima yang sedang berjalan dengan santai di belakangnya. Mata Anita kembali lagi berbinar lalu bertanya kepada suaminya. "Dia mau, Mas?"


Arga menggelengkan kepalanya. Bima hanya mau menjenguk, untuk menuruti permintaan Aldin, Bima tidak tahu akan menyetujuinya atau tidak. Binar bahagia di wajah Anita kembali meredup, tapi tidak apa-apa yang penting Ayahnya bisa melihat Bima dan membuat kesehatan kembali lagi normal.

__ADS_1


Bia yang baru saja sampai dari kamar mandi langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Bima berdiri di samping Arga dan juga Anita.


Arga langsung menyerahkan tas yang di minta. Wanita itu langsung menyimpannya di atas kursi, mulai mencari baju miliknya. Kebaya yang di kenakan dirinya begitu tidak nyaman apalagi jika berkeringat. Anita mengambil bajunya dan baju semua orang.


Anita menyerahkan baju pada suaminya. "Ganti dulu."


"Ibu ganti baju dulu, yuk sama Anita." Ibunya mengangguk.


Anita melambaikan tangannya saat melihat Bia yang sedang berdiri, Anita langsung menghampiri Adiknya. Memberi baju ganti pada Bia. "Ganti dulu bajunya."


Bia mengangguk kembali lagi berjalan ke kamar mandi. Bia menghela napas setelah mengganti pakaiannya dengan baju yang di berikan oleh Anita. Bia mencuci mukanya, membiarkan air itu membasahi mukanya yang lelah. Matanya masih terlihat sembab.


Bia langsung keluar bersamaan dengan suara adzan magrib berkumandang. Ia kembali ke ruangan Ayahnya, Bima duduk di samping ibunya.


Baju yang tadi di pakai Bia, ia masukkan kedalam tas bersama dengan baju yang lainnya. "Mau ke musola, Dek?" tanya Anita.


Bima, Bia, Anita dan Arga bergegas pergi ke musola. Ibunya memutuskan sholat di ruangan suaminya sembari menunggu Aldin.


Sesampainya di mushola, mereka berwudhu. Bima yang menjadi imam,  laki-laki itu tidak berani menoleh ke belakang. Kata orang, wanita ketika memakai mukena akan begitu cantik. Bima mencoba mencegah guncangan hatinya jangan biarkan ia oleng jika melihat Bia kembali.


"Assalamualaikum wa Rahmatullah."


"Assalamualaikum wa Rahmatullah."

__ADS_1


Bia langsung menangis ketika sudah selesai, ia menyadari dosa yang ia buat kepada Ayahnya. Entah berapa banyak dosa yang ia perbuat dan ia belum tau apa Ayahnya memaafkannya atau tidak. Sekarang, ia juga kembali menambahkan lagi beban. Bia terlalu naif tentang perasaan hingga akhirnya menjatuhkan harga diri orang lain yang menginginkannya.


"YaAllah ya rob, ampuni dosa orang tua hamba. Berikan Ayah hamba kesehatan seperti semula, Ya rob. Jujur hamba bingung sekarang, apa ini takdir yang harus hamba jalankan? Hamba bingung, tentang semua ini. Hamba tahu hanya kepadamu hamba meminta pertolongan dan jika ini semua terbaik ... beri hamba jalan untuk bisa memenangkan hati laki-laki itu kembali dan jika dia bukan di takdirkan untuk hamba tolong luluhkan hati Ayah hamba untuk menerima jika laki-laki menolaknya."


"Beri Ayah hamba ketabahan untuk menerimanya. Aamiin."


Bia menutup wajahnya dengan tangannya, Anita yang ada di sampingnya mengusap punggung Adik perempuannya. Anita tahu Bia hancur ia juga hancur sama sepertinya, melihat kondisi Ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit.


Arga membalikkan tubuhnya dengan segera Anita menyambut uluran tangan. Mengecup punggung tangan yang menjadi suaminya, Arga mengecup kening Anita. Bima masih tidak berani menoleh kebelakang, ia tahu bahwa Bia sedang menangis karena tangisannya begitu terdengar di telinga sangat jelas.


Tubuh Bima ada di depan Bia tapi sekarang apa laki-laki itu akan mengiyakan, apa yang ia inginkan sekarang. Pasti jawabannya laki-laki itu menolaknya, Bia sudah tahu. Ia hanya memohon kepada penciptanya untuk meluluhkan hati laki-laki itu kembali.


Bia juga akan lebih menerima dan lapang dada dengan apa yang terjadi. Karena jodoh, maut, rezeki tidak akan pernah tertukar sampai kapanpun.


"Mas Bima," ucap Bia pelan.


Bima yang mendengar seseorang yang memanggilnya langsung membalikkan tubuhnya. Bia memandangnya dengan sendu, Bima langsung menundukkan kepalanya.


Bia sangat cantik jika memakai mukena walaupun wajahnya sayu dan penuh air mata.


"Bisa bicara sebentar? Bia mohon sekali saja," ucap Bia sembari menyatukan kedua tangannya. Arga melirik istrinya, Anita langsung mengangguk. "Bicaralah di luar, jangan dengan emosi. Apapun yang akan di katakan nanti jangan sampai ada kata-kata yang saling menyakiti khususnya untuk kamu, Dek. Semua keputusan ada di tangan kalian, kakak engga akan paksa kalian sekarang."


Mereka langsung pergi, menyisakan Bima dan Bia yang sedang merenung. Bia berdiri setelah melipat mukena miliknya diikuti Bima setelahnya. "Kita bicara di luar jangan di sini."

__ADS_1


Bima mengangguk.


Mereka memutuskan berbicara di taman, Bia menatap sendu ke depan lalu menundukkan kepalanya. "Bia minta maaf atas semuanya, Bia salah karena engga bisa jaga lisan, Bia juga mau minta maaf kalau Ayah banyak salah sama Mas Bima. Bia tahu bahwa Ayah naruh beban di pundak Mas untuk menikah dengan Bia."


__ADS_2