Cinta Untuk Bia

Cinta Untuk Bia
penolakan 2


__ADS_3

Tuk


Tuk


Bia mengetuk jendela mobil milik Bima, laki-laki yang berada di dalam hanya menghela napas. Ia menstater mobilnya dan meninggalkan Bia yang mengejar mobil laki-laki itu. "Mas!"


Bia menghela napas panjang, apa caranya supaya laki-laki bisa menikah dengannya.


Bia berjalan gontai ke ruangan sang Ayah, Anita yang melihat Bia langsung beranjak dari duduknya menghampiri Bia. "Gimana, Dek? Bima setuju?"


Bia menggelengkan kepalanya. "Engga, Kak."


"Bagaimana ini?" Bia mulai menangis kembali, Anita juga tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini. Sungguh ia menyesal sekarang, satu cara hanya Arga membujuk Kakaknya untuk menikah dengan Bia. Tapi Anita tidak bisa hanya mengandalkan suaminya, ia sangat tau bagaimana kondisi di antara mereka berdua. Tidak saling tegur sama walaupun mereka sodara sangat miris bukan.


"Biar Kakak yang pikir ke depannya, kamu duduk dulu." Bia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, tubuhnya lemas sekarang. Keadaan saat ini tidak bisa di ajak kompromi sama sekali dan kenap Ayahnya sangat kekeh dengan laki-laki itu.


Apa kelebihan Bima yang tidak bisa Bia lihat sekarang? 


Anita menyodorkan kopi yang di bawa oleh Arga untuk semua orang.  Bia menggelengkan kepalanya, sekarang kopi tidak akan menyelesaikan urusannya. "Minum dulu."


"Hm." Bia mengambil kopi di gelas  kecil itu langsung meneguknya hingga setengah.


Anita menatap suaminya, Arga mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Bisa engga Mas bujuk Mas Bima buat menerima permintaan Ayah sekarang."


"Kamu ikhlas kalau Bia menikah dengan laki-laki itu?"


"Dia abangmu, Mas."


"Iya." Ya, hubungan mereka memang tidak semudah yang di bayangkan. Arga dan Bima sama-sama egois, tidak mau memulai pembahasan. Keduanya sangat keras kepala tidak mau mengalah sama sekali.

__ADS_1


"Bukannya kamu tau yang, gimana hubungan Mas sama dia."


Anita menghela napas panjang. Ia mengetahui semua.


"Tapi kesehatan Ayah nomor satu."


"Mas tanya kamu ikhlas menukar kesehatan Ayah dengan Bia menikah dengan Bima?"


Anita terdiam. "Kamu ikhlas, Yang?"


"Yang akan menjalani itu Bia Mas bukan aku."


"Coba kamu tanya Sama Bia, dia ikhlas apa engga buat menjalani semua ini. Yang, pernikahan bukan satu tahun atau dua tahun. Pernikahan itu selamanya, bukankah ayah sangat membenci perceraian sampai-sampai beliau wanti-wanti sama Mas buat engga sampai kejadian itu. Ayah engga mau  anaknya ada yang gagal dalam rumah tangga Kamu atau Bia, yang."


"Tapi Ayah hanya ingin melihat Bia menikah."


"Bukannya dia sudah menolaknya di hadapan Ayah, itu berarti dia sudah mundur."


Arga mengangguk. "Oke."


Bia yang mendengar perdebatan Anita dan Arga hanya menunduk kepalanya. Sebenarnya ia tidak ikhlas sekarang, mana ada yang ikhlas jika di nikahkan dengan cara seperti ini ia tidak mau. Apalagi laki-laki itu bukan seseorang yang di cintainya.


Ayahnya berada di dalam bersama dengan Ibunya, kondisinya kembali drop sekarang setelah kejadian tersebut. Jika mengalami serangan jantung lagi nyawanya tidak bisa di tolong.


Bia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. "Bia kamu mau kemana?!" Teriakkan Anita tidak di dengar oleh Bia, gadis itu terus berjalan cepat entah akan kemana.


Bia menangis saat berada di dalam taxi, ia memutuskan untuk pergi ke apartemen laki-laki itu. Siapa tau Bima ada di sana dan ia akan membujuknya lagi dengan seribu cara.


Dulu seribu cara untuk menjauh tapi sekarang seribu cara untuk mengajaknya menikah. Bia seperti menelan air liurnya sendiri, ia yang menolaknya tapi ia juga yang menginginkannya sekarang. Begitulah takdir siapa yang tau.


Bia menekan bel apartemen laki-laki itu, tapi sayang tidak ada sautan sama sekali. Apa laki-laki itu tidak pulang?

__ADS_1


Bia memutuskan untuk pergi, ia akan mencari Bima di cafe. Siapa tau laki-laki itu berada di sana, cafe sekarang sedang libur.


Bia kembali pergi ke sana menggunakan taxi, untungnya ia membawa tas tadi saat ke rumah sakit.


Sesampainya di cafe, terlihat sepi tapi ada satu mobil yang terparkir di sana. Ya, rupanya laki-laki itu berada di sana.


Bia masuk ke dalam, Bima sedang duduk sembari merokok. Bia langsung berlari kearah laki-laki itu. "Mas!"


"Beri Bia kesempatan sekali lagi, Mas. Bia akan berusaha."


Bima menghela napas. "Engga bisa, Bia. Saya sudah tidak mau." Bima menyimpan rokok yang sedang ia pegang ke dalam asbak.


"Tapi, Mas. Bia yakin kali ini Bia bisa."


"Bia yakin, Mas."


Bima menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Semakin cantik seorang perempuan semakin bahaya, ya, Bia sangat bahaya sekarang.


"Bia lakuin semua ini demi Ayah Bima, ini permintaan terakhir beliau."


"Bukannya kamu sudah menolak saya dan kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyukai saya. Saya tanya sama kamu apa kurang saya untuk jadi suami kamu? Jawab, Bia. Apa kekurangan saya?"


Bima mendengus pelan. "Silahkan kamu pergi, diam kamu sudah menjawab semuanya. Semua penolakan harus ada alasannya, Bia."


"Anggap kita engga pernah seperti ini sebelumnya, kita hanya bos dan karyawan engga lebih. Silahkan kamu keluar."


"Saya mohon kamu keluar sekarang!"


"Tapi Mas Bia mohon satu kali lagi."


"Engga bisa, Bia. Silahkan kamu pergi sebelum saya seret kamu keluar, jangan macam-macam saya Bia!"

__ADS_1


"Keluar saya bilang!" Tubuh Bia mendadak kaku, ia langsung berlari keluar sembari menangis. Bima yang ada di dalam mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2