
Semua musibah terjadi begitu saja seperti kecelakaan beruntun. Setelah dipecat, aku juga harus mengulang satu semester , ditambah tunggakan uang sewa rumah yang tidak terbayar selama tiga bulan. Aku pun pindah ke tempat kos yang lebih kecil dengan ibu kos yang amat pelit dan tidak toleran, kemudian bekerja sebagai serabutan. Kalau ada yang heran, kenapa banyak sekali ketidakadilan dalam hidupku, aku juga tidak tahu kenapa.
Jangan bertanya tentang orangtuaku. Mereka masih ada. Tapi, aku dikenal sebagai anak yang mandiri sehingga aku tidak pernah minta dikirimi uang. Lagi pula pensiun ayah akan habis kalau dipakai untuk membiayaiku dari bulan ke bulan ditambah lagi, ayahku sedang sakit. Beliau juga membutuhkan biaya untuk pengobatannya.
Biasanya di saat sudah tidak tahu ke mana, aku meminjam uang kepada teman-temanku. Untungnya mereka sangat baik. Tapi, karena sudah terlalu banyak berhutang dan aku belum bisa membayarnya, aku merasa tidak enak hati. Untungnya mereka tiap menagih tiap sebentar, malahan saat aku ingin mencicilnya, mereka menolak menerimanya sementara waktu. Tapi, aku tidak bisa selamanya begitu. Mereka juga kuliah dan punya uang jajan terbatas. Jadinya, aku jarang bertemu dengan mereka dan bertekat mengumpulkan uang lagi untuk melunasi hutang-hutangku.
Di satu siang yang terik, aku kehausan dan bahkan aku tidak punya uang untuk beli minuman kemasan di jalan lalu bertemu sepasang kekasih kaya raya itu lagi.
“Hai, Sabin,” sapa perempuan cantik itu dan entah dari mana dia tahu namaku; dan bagaimana pula mereka ada di sini?
“Kami tanya ke pelayan restoran yang lain soal kamu, katanya kamu dipecat karena kejadian itu,” jelasnya dan aku merasa sangat takjub, aku tidak mau mengingatnya. Apalagi memandangi wajah lelaki angkuh itu.
Dia sama sekali tidak bicara. Dia hanya berdiri di sana seperti patung dan otakku masih dipenuhi pertanyaan—kenapa mereka mencariku?
__ADS_1
“Mereka juga kasih alamat rumah kamu, tapi waktu dicari ke sana, kamu udah pindah gara-gara ...”
“Telat bayar tiga bulan,” potongku dan mulai merasa lelah. Aku ingin pulang, tidur siang dan melupakan bahwa aku dicari-cari seperti buronan oleh orang yang pernah membuatku dipecat.
Perempuan itu lalu tiba-tiba menjulurkan tangannya. “Oh iya, aku Evania,” dia memperkenalkan diri. Nama yang cantik untuk orang cantik. Evania melirik lelaki di sebelahnya dengan kesal lalu menyikutnya. “Bilang sana!” desaknya.
Lelaki itu agak kaget. Melihat wajahnya saja aku sudah tidak tahan. Aku menatap ke segala arah kecuali wajahnya –yang dulu pernah membuatku terkesima. “Saya ... saya mau minta maaf soal hari itu,” katanya, lalu berdeham menjaga sikap angkuhnya.
“Maaf, saya harus pergi. Soalnya nanti bisa telat,” kataku ingin menyudahi pertemuan itu.
Permintaan maafnya tidak penting. Aku tidak peduli walaupun mereka mencariku sampai ke sini dan tidak mau ambil pusing.
“Kamu mau ke mana?” tanya Evania, tampak penuh perhatian. Dulu waktu kecil, aku pernah menonton film seri dengan tema Bidadari. Kurasa Evania mirip dengan bidadari itu.
__ADS_1
“Kerja,” jawabku singkat sambil melanjutkan langkahku yang terhenti karena kemunculan mereka yang tiba-tiba.
“Oh ya? Kamu kerja di mana?” tanya Evania lagi, sambil mengikutiku dan lelaki itu tampak terpaksa mengekori kekasihnya.
Sepertinya lelaki yang garangnya sadis itu tampak ciut dengan perempuan yang lembut begini. Ah, lelaki yang sangat tidak bersyukur ....
“Apatel,” jawabku.
“Ya sudah, kalau begitu selamat bekerja ya, Sabin. Sampai jumpa!” kata Evania disertai lambaian tangannya saat kemudian aku naik angkutan umum.
Dua orang yang aneh. Apa maksudnya sampai jumpa? Apa besok mereka akan muncul lagi untuk meminta maaf?
***
__ADS_1