
Harrish dan Evania; pasangan nama yang terdengar cocok. Mereka bekerja di perusahaan yang sama. Perusahaan keluarga milik Adisuna. Aku bisa bayangkan betapa mujurnya hidup mereka yang tidak perlu menggosok-gosok toilet demi mendapat penghasilan yang menurut mereka hanya recehan.
Mereka mengajakku ke coffee shop lain di mall yang untuk satu gelasnya saja dihargai lima puluh ribu –dengan harga itu aku bisa makan di warteg berkali-kali.
“Kami sudah tahu itu bukan salah kamu, tapi karena Harrish kamu tetap dipecat,” aku Evania saat aku kembali mempertanyakan mengapa mencariku setiap hari ke kampus. “Mungkin menurut kamu Harrish memang nggak merasa bersalah, tapi aku juga ada di sana. Aku merasa apa yang Harrish lakukan itu sangat jahat dan kekanakan ....”
Aku ingin mengulanginya sekali lagi. Lebih baik mereka meninggalkanku sendiri dengan keluh kesah soal hidupku karena setiap melihat ekspresi di wajah Harrish yang tidak menunjukan penyesalan itu, membuat pertemuan macam apa pun akan sia-sia. Aku hanya bertambah sakit hati karena sikapnya yang melecehkan.
“Aku nggak apa-apa ...,” kataku sambil melirik jam dinding dan mulai gelisah. Aku harus kerja sambilan. Kalau terlambat gajiku akan dipotong. “Aku pergi dulu ....”
“Sabin ...,” Evania memanggilku, tampak masih ingin menahanku menikmati mahalnya minuman coklat dingin yang dia pesankan untukku. Aku memang belum menyentuh minuman itu sebelumnya karena pikiranku sudah lebih dulu berada di apatel. Lagipula menghirup udara di tempat yang sama dengan Harrish, hampir seperti menghirup amoniak.
__ADS_1
“Maaf, Kak, aku harus pergi ...,” kataku.
“Kamu nggak perlu lagi ke sana. Kami sudah bilang kalau kamu nggak akan balik kerja di sana lagi,” kata Evania.
Aku terkejut. “Apa?”
“Harrish bakal ngasih kamu kerjaan yang lebih baik,” ujar dia sambil tersenyum.
“Sekarang bilang kamu minta berapa sebagai kompensasinya? Yang kemarin kurang banyak ya?” tanya dia setelah kembali menatapku. “Saya bayar sekarang juga, tunai.”
“Denger ya, Harrish Adrian Adisuna, lo kira ini ijab qabul apa pakai dibayar tunai segala?!” suara Evania meninggi. Seolah ini percakapan hanya antara mereka berdua, dan aku seorang penonton. “Ini bukan masalah uang. Lo emang bisa kasih dia uang dan nganggap semuanya selesai, tapi setelah itu apa? Uang lo juga nggak ada gunanya juga karena pasti bakal habis dipakai. Lo harus cariin Sabin kerjaan baru supaya dia bisa bertahan hidup. Lo itu udah merampas kerjaannya dia, bukan uang, Harrish! Jadi lo juga harus balikin kerjaannya dia!”
__ADS_1
“Gue nggak merekrut anak di bawah umur. Masih mahasiswa tingkat dua lagi. Paling nggak kalau mau kerja di tempat gue, harus cakep, tinggi semampai, kalau ini mah ‘semester nggak sampai’. Gayanya kampungan, dia juga nggak cocok pakai rok di atas lutut. Pakai lipstick juga kayaknya nggak pernah. Cara jalannya juga nggak seksi!” Kata-katanya itu, terdengar menyebalkan. Tapi, setiap katanya tersimpan sama persis di benakku. Aku tahu itu.
Evania dan aku terbungkam. Aku belum pernah melihat laki-laki sekasar itu sebelumnya. Entah mengapa air mataku mengucur tanpa permisi. Aku sering dieperlakukan dengan tidak manusiawi sejak datang ke Jakarta, tapi belum pernah ada yang mengasariku sampai seperti itu.
“Harrish ...?” Evania pun dibuat tercengang dengan kata-kata itu. “Apa lo cuma angkuh setinggi langit atau benar-benar nggak punya perasaan sih?”
“Gue mau ngasih dia kerjaan apa? Babu? Kebetulan tuh pembokat gue semuanya pada kabur. Kalau dia mau, boleh tuh,” kata Harrish lagi, tak hentinya menatapku dengan mata yang keji itu.
Aku menggeleng dengan pasti. Tinggal dan bekerja dengan orang seperti Harrish menjadi pembantunya? Ah, di mana harga diriku? Entah apa yang mungkin dia bisa lakukan padaku. Tapi, untuk terakhir kalinya aku meyakinkan mereka bahwa aku tidak butuh uang kompensasi atau pemberian macam apapun dari mereka. Aku hanya ingin menjauh dari masalah –mereka.
Sebelum mendengar mereka berdebat lagi, aku memilih berdiri dari kursiku lalu pergi. Aku membutuhkan siraman air dingin.
__ADS_1