
Sudah empat tahun lamanya aku tidak pernah pulang kampung. Dulu aku selalu merasa akan jadi gunjingan pulang tanpa ditemani suami yang dulu pernah dielu-elukan. Tapi, sepertinya, itu tidak penting bagiku. Saat aku menginjakan kaki di rumah kami yang sederhana, aku merasa sangat lega. Terlebih ketika dipeluk ibu dan melihat Sekar yang senang sekali karena kedatanganku yang tiba-tiba. Bagaimana pun dulu mereka pernah kecewa karena aku menolak untuk pulang.
Kami mulai bercerita banyak hal dan itu bisa sampai semalaman jika terus dilanjutkan.
“Terus gimana toh, sama pacar kamu yang katanya mau dikenalkan ke Ibu ?” tanya ibu, tampak penasaran. "Kok nggak jadi dikenalin?”
Bastian? Oh, mengingatnya saja aku sudah tidak ingin. Tapi, masih berat untuk menjelaskan keadaan yang sekarang. Walaupun, aku butuh untuk meluruskan benang kusut di kepalaku ini. Hanya saja… aku tidak ingin membuat ibu jadi memikirkan masalahku.
“Dia lagi sibuk, Buk…," jawabku, menerawang ke langit-langit kamar yang kurindukan. "Lagian juga masih segitu-gitu aja, belum tahu dia serius sama aku atau nggak…”
“Lha, terus ?” ibu jadi makin penasaran.
Aku angkat bahu. Antara aku dan Bastian masih terbang di awang-awang. Setelah kejadian itu, dia menghilang –itu wajar. Dan semuanya jelas-jelas berakhir.
“Dia nggak bisa nerima kamu apa adanya ?” tanya ibu, penuh perhatian. “Atau…kamu belum pernah bilang jujur kalau kamu udah pernah menikah…”
Aku tersenyum getir, hampa memandangi wajah ibu yang mulai tampak khawatir. "Aku mau jujur kalau aku benar-benar udah yakin sama orang itu kalau dia bakal nerima aku apa adanya, Buk," kataku. "Tapi, sekarang aku bahkan nggak yakin kalau dia beneran cinta sama aku…”
Ibu membelai rambutku, sambil tersenyum. "Yo wes, Ndhuk…," katanya lemah lembut. "Kamu pasti ketemu sama cinta sejati kalau udah saatnya. Ya sabar toh…”
Aku mengangguk-angguk. Bersyukur, ia masih ada bersamaku.
“Terus…kamu masih ketemu sama Nak Harrish ?” tanya ibu tiba-tiba dan aku sedikit terhenyak. Ibu tidak tahu bahwa sekarang mantan suamiku adalah bosku yang sekarang. Aku tidak pernah cerita. Tapi, kenapa tiba-tiba ibu berpikir seperti itu?
Ah, firasat seorang ibu tidak pernah bisa diragukan.
“Kamu ndak punya masalah toh ?” tanya ibu lagi.
Aku menggeleng. Lalu tersenyum. "Nggak, Buk…," ujarku.
Tapi, pertanyaan ibu membuatku kembali memikirkannya. Tidak lama lagi aku akan kehilangan pekerjaanku. Dan entah aku masih bisa mencari pekerjaan sejenis di tempat lain. Aku pulang, karena sudah tidak ada tempat bagiku di luar sana untuk bertahan hidup. Semua menjadi kian sulit bagiku, dan aku mulai merasa ke mana pun aku pergi, Harrish akan selalu hadir untuk merampas semua yang kumiliki –entah dia sadar atau tidak. Tapi,saat aku mengajukan surat permohonan cuti, dia sudah mencium usahaku untuk melepaskan diri darinya.
Dia menerima suratku, membacanya sebentar lalu tersenyum sinis. "Saya pikir kamu mau langsung mengundurkan diri," katanya –seperti cibiran karena beberapa hari setelah audit itu aku mungkin terlihat tertekan, walaupun aku berusaha untuk terlihat tenang.
Aku diam saja. Aku sudah mengundurkan diri sejak pertama dia masuk ke sini andai saja dia tidak mengancamku dengan masalah pemalsuan identitas.
“Kamu kuat juga," katanya.
Bagaimana tidak?, balasku. Setelah Pak Sendra menyiksaku lima hari dalam seminggu selama empat tahun dan sebelum itu lelaki angkuh ini menghina dan mencampakanku, lebih dari apa yang ia lemparkan padaku saat ini.
Begitu kembali dari sini, kira-kira kejutan apa yang menantiku di Jakarta? Aku tengah menunggu saat di mana Harrish tidak membutuhkanku lagi sehingga dia akan melepaskanku. Mungkin sebentar lagi dan itu artinya, aku akan menjadi perempuan biasa. Pak Sendra tidak akan bisa menolongku.
Meski tidak ada hubungannya, aku berada di daftar hitam pegawai yang pernah bermasalah sehingga aku tidak punya referensi untuk melamar pekerjaan sejenis. Tapi, toh, aku juga sudah capek dengan gemerlap Jakarta yang membuatku selalu merasa haus dengan posisi bergengsi. Lagipula…sekretaris hanya dipakai selagi mereka cantik, semakin berumur semakin banyak saingan yang akan membuat mereka tergeser. Barangkali inilah yang akan kualami nanti…
***
Sekar tampak senang dengan peralatan make up yang aku bawakan untuknya dari Jakarta. Rasanya jadi ingat diriku yang dulu saat Evania menghadiahkanku berbagai macam barang. Aku senang, aku bisa membaginya dengan adikku yang menginjak sembilan belas tahun sekarang. Dia seumuranku saat pertama kali Evania mengenalkan peralatan make up.
“Mbak, Eyang kangen lho," Sekar mengingatkan aku, dan aku tersadar dari lamunanku. "Nggak disamperin?”
Aku mulai bingung. Soalnya aku sudah merasa sangat jauh dari mereka. Pulang ke rumah saja hampir tidak pernah beberapa tahun belakangan ini, apalagi mengunjungi orang tua ayah. Aku selalu merasa bahwa aku harus menyembunyikan semua kegagalanku dari keluarga besar karena malu. Tentu. Pernikahanku sangat mendadak, mereka bisa syok mengetahui bahwa semua itu hanya berlangsung selama dua tahun.
Aku diam.
“Udah, Bin…," Ibu menyela, sambil menepuk bahuku, lalu membelai kepalaku dengan lembut. "Nggak ada gunanya terus disembunyikan…”
Aku masih berat untuk mengakuinya. Tapi… aku tahu Harrish tidak akan kembali…
__ADS_1
“Udah lima tahun toh, Nak…," Ibu mengingatkan.
Aku mengangguk. Ya, jujur itu perlu. Agar aku bisa tenang pulang ke kampung walaupun orang-orang akan bergosip sana sini, tapi harus bagaimana lagi. Terus menyembunyikannya hanya membuatku semakin jauh dari rumah dan keluarga. Terlebih setelah Harrish memecatku nanti, ke mana lagi aku bisa kembali?
Aku dan Sekar mulai menyusun rencana untuk menghabiskan liburan. Kami ingin mengunjungi Eyang di Banyuwangi dan menginap di sana beberapa hari. Mereka punya kebun pisang yang luas sekali dan dulu setiap ke tempat mereka, aku dan Sekar ikut memanen pisang. Aku jadi merindukan semua itu setiap mendengar Nenek bilang merindukan kelakukan nakal kami. Aku ingin tertawa, dulu kami masih kecil sekali saat menghabiskan hampir satu tandan pisang selama menunggu kakek selesai memanen. Pernah juga, Sekar sempat tersesat di antara pohon-pohon pisang dan semua warga kampung ikut mencari, sampai Sekar ketemu sebelum matahari terbenam. Saat itu, ia menangis sampai suaranya parau, dan sejak itu tidak mau lagi diajak ke kebun pisang.
Sekar sedang asyik berkemas, selagi aku sibuk dengan smartphone-ku. Sejak datang, tidak setiap hari aku bisa mengecek SMS atau email masuk, atau bahkan megangkat telpon. Kemarin Jessica yang menelpon, karena dia pikir aku dipecat dan menghilang setelah audit. Dan dia memberitahuku beberapa kabar penting yang sempat membuat degup jantungku bergerak cepat, dia terancam dipecat!
Harrish sudah mulai bertindak lagi ternyata. Setelah Pak Yudi, Pak Sonny, sekarang Jessica –yang namanya tertera pada bukti pembelian tiket ke Hongkong dan sebuah bill belanja tas Louis Vuitton salah satu branded store di Kowloon Hongkong. Meskipun itu tiga tahun lalu, aku tidak melupakan bahwa Jessica memang pernah punya affair dengan Pak Sendra. Rata-rata perempuan sekelas manager atau EAM pernah mendapatkan ‘pemberian’ dari mantan bosku. Entah itu tas, parfum, sepatu atau jam tangan dengan harga puluhan juta. Mereka mendapatkannya begitu saja hanya dengan merayu tanpa perlu kerja keras.
Aku kembali menjadi tidak tenang. Giliranku sudah semakin dekat!
Kembali ke layar smartphone-ku, aku menemukan satu tanda panah memantul di sudut kiri atas. Ada dua panggilan tidak terjawab tiga jam yang lalu. Evania. Ternyata dia sedang di Indonesia.
Ya, sudah lama sekali aku tidak mengadu padanya setiap Harrish ‘menjahati’-ku. Tapi, memang keadaannya sudah berubah, dan aku pun sudah bisa menghadapinya dengan caraku sendiri.
“Hai, Mbak…," aku memutuskan untuk menelpon balik. “Apa kabar?”
“Sabina…kamu ke mana aja sih ?” tanya dia, terdengar lega dan aku tertawa kecil. "Aku nyariin ke kantor tapi mereka bilang udah hampir seminggu kamu nggak masuk…
“Aku cuti dua minggu, Mbak. Sekarang lagi di Surabaya," jelasku. "Mbak Evania kapan datang ke Indonesia?”
“Baru dua hari yang lalu," jawabnya. "Rencananya sih mau ketemu sama Harrish juga, tapi… dia juga udah masuk kantor tiga hari ini. Bikin aku jadi curiga, kalian janjian?”
Aku tertawa. "Janjian ?” balasku.
“Ya, kali aja… soalnya dari pengalaman yang udah-udah kan aku juga ngga pernah dikasih tahu. Giliran udah ada masalah baru deh Harrish repot-repot nyariin aku…," candanya.
“Ah, Mbak Evania, itu udah lama banget. Harrish mana ingat," kataku.
“Iya, sih..tapi eh, kamu ke Surabaya sendiri ?” tanya dia lagi.
“Yai iyalah, Mbak. Emang aku bisa pergi sama siapa ?” jawabku.
Aku dan Harrish, sudah bercerai. Dan Harrish sudah menikah lagi.
“Aku sengaja datang karena Harrish lagi ada masalah," jelasnya kemudian. "Sebenarnya aku sih udah malas ngurusin yang gitu-gitu karena dia ngerasa bisa ngelakuin semuanya sendiri. Tapi, seminggu yang lewat, dia sempat nelpon aku lama banget”
“Oh ya ?” sepertinya aku tidak perlu mau tahu.
“Harrish curhat ke aku masalah Sendra dan Shanty," Evania mulai menjelaskan. "Tiba-tiba dia nanyain ke aku, apa aku tahu soal kelakukan Sendra dan Shanty tetap keukeuh mau bertahan. Ya aku jawab aja, aku tahu. Kan kamu yang bilang soal ribut-ribut di rumahnya Harrish waktu itu.”
Jadi… ini memang ada hubungannya denganku. Aku ingat saat dia terkejut mendengar penjelasanku setelah audit selesai. Dia tidak tahu sama sekali –tepatnya tidak ingat, kalau dia meninggalkan keluarganya karena tidak sepaham dan tidak ada yang mendengarkan bahwa Sendra adalah perusak yang benar-benar harus disingkirkan. Aku paham sekali bagaimana perasaan Harrish saat ia diusir keluar karena dianggap tidak menghargai pilihan kakaknya. Aku mengerti bahwa Harrish melakukan itu untuk melindungi sang kakak yang sudah banyak menangis dan menderita karena suaminya itu. Harrish sempat syok dan sedih, ketika ia merasa bahwa tidak seorang pun yang menganggapnya sebagai lelaki di rumah itu.
***
“Bin ?” Evania mengurku, mungkin karena aku terlalu lama diam di telpon dan ia mulai tidak sabar. "Hallo? Sabin?”
“Ah, maaf, Mbak…," sahutku, seketika merasa lelah, seperti baru melakukan perjalanan jauh –ke masa lalu.
“Hm…kamu pasti ngelamun…," godanya, sambil cekikikan di seberang sana dan aku jadi malu sendiri. “Aku lagi serius, tahu? Aku coba telepon Harrish tapi nggak pernah masuk”
“Mungkin dia juga liburan, Mbak…," jawabku. “Kenapa nggak tanya sama istrinya?”
“Eh, istrinya ?” Evania kedengaran heran. "Kamu nggak tahu kalau Harrish udah nggak sama istrinya?”
Apa?!
“Duh, kenapa bisa sih kamu ketinggalan informasi soal bos kamu sendiri ?” tanya Evania.
Aku jadi bingung. Sejak kapan?
__ADS_1
“Ternyata kamu beneran udah dingin sama Harrish ya sampai kamu nggak mau tahu apa-apa soal dia?”
“Bukannya gitu juga, Mbak. Kita nggak pernah ngomongin masalah pribadi kok…," jawabku berkilah –padahal dia sudah memukul pacarku sampai kami benar-benar berakhir.
“Oh ya, ya…," balasnya. "Yang jelas sekarang Harrish udah nggak sama istrinya… dibilang cerai sih belum, tapi…mereka udah nggak tinggal serumah”
“Kenapa ?” aku jadi mau tahu.
Sepenglihatanku, Harrish tidak menunjukan tanda-tanda bahwa rumah tangganya sedang bermasalah.
“Harrish pernah cerita sih, tapi nggak etislah, aku ngomongin masalah pribadinya ke kamu. Toh juga nggak ada hubungan…," kata Evania akhirnya –setelah dia membuatku jadi ingin tahu, sekarang malah ingin menutup mulutnya. “Tapi…ada sesuatu yang bikin aku khawatir, kalau nggak aku nggak akan ke sini, Bin…”
“Memangnya apa, Kak?”
“Harrish mulai nanya-nanya soal kamu," jawabnya dan jantungku kembali berdegup kencang. "Aku juga kaget, kenapa baru sekarang… tapi kayaknya, dia kedengaran serius mau tahu soal pernikahan kalian. Dia nanya kalian kenal di mana, gimana sampai akhirnya bisa nikah. Terus juga sejauh mana kamu tahu soal persoalan pribadi-nya. Pokoknya semua yang nggak bisa dia ingat.”
Aku terdiam.
“Terakhir yang aku tahu, dia ribut lagi sama keluarganya yang berusaha untuk menyembunyikan kenyataan soal keputusan dia mengundurkan diri dari perusahaan. Saat dia kembali, semua orang bilang kalau Harrish menjilat ludah sendiri. Harrish nggak ingat, kalau The Emperor sudah diwariskan ke Sendra langsung dari Papanya, dan begitu dia ingin merebut hotel itu dari Sendra, dia dianggap merusak banyak hal yang awalnya baik-baik aja. Dia pecat orang-orang Sendra karena sebenarnya The Emperor sedang bermasalah. The Emperor bakal collapse dan satu-satunya jalan adalah go public. Tapi, nggak ada seorang pun yang setuju. Puncaknya waktu Shanty meninggal dan Mamanya nggak pernah bilang kalau sebenarnya selama ini Shanty dirawat di rumah sakit di Paris karena depresi. Begitu Harrish tahu itu, dia langsung ngamuk, makanya hotel bisa kembali ke tangan Harrish setelah dia menuntut Sendra untuk banyak kesalahan. Dan yang paling gila adalah penggelapan pajak!”
Ya ampun,…
“Selama ini yang dia tahu dari Mamanya adalah yang bikin dia menjauh dari keluarga itu adalah kamu, Bin. Makanya dia setuju menceraikan kamu, dan sekarang Harrish udah tahu semuanya!”
Entah. Aku tidak tahu harus senang atau bagaimana, karena akhirnya dia tahu yang sebenarnya.
Aku hanya ingat saat dia meninggalkanku dengan berkata bahwa dia sudah tidak punya perasaan padaku. Aku menangis di depan pintu, sampai rasanya aku ingin mati. Dia tidak mendengarkan apapun yang aku katakan tentang kami, dia tidak pernah tersentuh oleh air mataku. Kembalinya sosok belakang yang menjauh itu ke ingatanku, membuat setetes air mata jatuh begitu saja di pipiku.
Kenapa tiba-tiba terasa sakit?, aku mengepalkan tanganku di dada sambil memejamkan mata –menguras cairan bening yang menetes di pahaku.
“Bin…," tegur Evania. "Kamu nggak apa-apa, Bin?”
“Nggak…," jawabku menahan nafas,karena jika aku menarik nafas, maka akan ketahuan bahwa aku menangis.
“Makanya sekarang aku cemas…," jelasnya. "Aku pikir Harrish bakal bertanya banyak hal sama kamu… karena aku yang suruh dia…tapi…kayaknya dia nggak pernah bilang apa-apa ya sama kamu?”
Aku pastikan tidak. Bukankah aku hanya masa lalu baginya?
“Bin, dia pernah bilang ke aku kalau kamu jauh berubah sampai dia…nggak punya cara untuk ngomongin masalah itu…”
Aku ingin tertawa terbaak-bahak. Kehabisan cara? Seperti bukan Harrish saja.
Setiap hari bertemu. Dia duduk di kursinya dan aku masuk membawakan berkas untuk ditanda tangan, aku bertanya tentang apa yang dia butuhkan dia tidak menjawab dan hanya menyuruhku keluar. Beberapa hari sebelum cuti, Harrish pernah beberapa kali menegur, tapi setelah aku menyahut, dia tampak urung, lalu menyuruhku pergi. Aku merasa dia memang aneh, tapi saat itu aku sudah sangat bersyukur tidak mendengarnya mengumpat atau marah karena kesalahan kecil. Atau mengungkit-ungkit soal Sendra.
Hilang ingatan atau tidak, sifat bawaannya memang tidak pernah berubah. Lalu apa masalahnya denganku? Apa setelah dia bertanya padaku tentang masa lalu kemudian aku menjelaskannya, kami akan kembali bersama?
Tidak. Aku sudah mencintai orang lain.
“Maaf ya, Bin," ucap Evania, mungkin karena aku lebih banyak diam dan ia kembali merasa bersalah. "Aku nggak bermaksud untuk bikin kamu bingung. Tapi, sekarang, semua yang dulunya nggak jadi masalah buat Harrish jadi persoalan besar di saat kamu udah merasa lega. Aku sahabatnya Harrish, gimana pun juga, aku tetap khawatir”
“Aku ngerti kok…," ujarku. "Kalau Harrish memang butuh penjelasan ya aku nggak keberatan. Lagian hanya sebatas itu..”
“Ya udah deh, kalau gitu. Aku masih harus nyari Harrish sampai ketemu. Soalnya, keadaan dia sekarang ini benar-benar down…," katanya. "Makasih ya…”
Teleponnya terputus dan aku kembali resah. Seolah ada benang tak terlihat yang tengah menarik-narikku kembali dan aku tidak bisa meronta melawannya.
Aku membuka galeri foto di smartphone-ku, ingin menemukan sedikit kebahagiaan lama yang sebenarnya kurindukan. Aku masih menyimpan semua foto-foto dengan Bastian saat jarak belum memisahkan kami sejauh ini. Memandangnya kembali ternyata hanya membuatku sedih. Teringat pada malam itu seharusnya aku tidak perlu emosi saat ia ingin menjelaskan semuanya. Andai saja aku tidak menutup pintuku, ia tidak akan memaksa dengan putus asa. Tapi,… kenapa Harrish datang ke tempatku malam itu?
Sudahlah…
__ADS_1
Bastian tidak pernah menghubungiku lagi sejak itu.