
Evania datang menengokku dengan gembira. Membawa beberapa tas belanjaan. Harrish mengikutinya di belakang dan wajahnya itu kembali merengut—selalu, setiap Evania beramah tamah denganku, ia kelihatan tidak suka. Mungkin karena setiap datang, Evania lebih memilih masuk ke kamarku dan mengobrol denganku. Sementara dia harus sendirian di luar. Padahal, tujuan dia mengajak Evania ke sini adalah untuk menemaninya karena sedang bosan. Aku merasa seperti penggangu di antara mereka.
Setibanya di kamarku, dia memberikan satu kantong belanja untukku. Aku sempat menolaknya. Siapakah diriku ini? Belum lama kenal dengan Evania, dia sudah memberiku barang mahal setelah kemarin membiayai perawatan wajaku di salon. Kali ini sebuah gaun terusan.
“Makanya kapan-kapan kamu ikut aku belanja,” kata Evania sambil memandangiku memakai gaun terusan yang sengaja ia belikan untukku.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Padahal menurutku, bentuk tubuhku sama sekali tidak bagus dan cenderung lebar. Aku pun mengepaskan baju itu untuk membuatnya senang.
“Kamu kelihatan cantik pakai gaun itu,” kata Evania sambil memandangiku.
Gaun polos ungu muda dengan keliman yang rapi di bagian bawah. Aku pernah melihat gaun ini dipajang di salah satu branded store yang pernah kulewati. Tidak kusangka aku mengenakannya sekarang.
“Hari ini aku sama Harrish mau makan malam di luar,” katanya. “Kamu ikut ya?”
__ADS_1
“Ih,enggak ...” kataku, langsung menolak.
Aku makan malam bersama dua orang menyilaukan ini? Kurasa tidak cocok.
“Kenapa nggak? Aku sengaja beli baju itu buat kamu, Bin,” katanya padaku.
“Tapi, kan ... nanti dia bisa protes ....”
“Harrish biar aku yang atur,” ujarnya, sambil menghampiriku dengan senyum kepastian bahwa malam ini semuanya akan baik-baik saja. Evania memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu membawaku duduk di depan kaca. “kamu perlu sedikit sentuhan magic dari si peri baik hati ....”
***
“Lo nggak bisa muji hasil karya gue dikit, ya?” celetuk Evania. Lagi-lagi kesal pada Harrish yang sedari rumah hingga ke restoran mewah ini seringkali menatapku dengan tatapan melecehkan.
__ADS_1
Sedangkan aku hanya duduk merapatkan kedua pahaku, memperhatikan mereka berbicara berdua. Rasanya jadi seperti obat nyamuk saja. Mereka duduk bersebelahan, karena sepertinya Harrish tidak suka berdekatan denganku.
“Muji apaan?” balas Harrish cuek, dan dia meneguk kopinya. Dia sepertinya memang suka kopi—tanpa garam pastinya. “Kalau hasil make over lo bagus, kenapa nggak buka salon aja sekalian? Mana tau cewek gendut bisa lo ubah jadi langsing, nggak perlu ke luar negeri buat operasi plastik.”
“Dasar nggak lucu!” Evania pun berhenti berdebat lalu menatapku. Rautnya yang tadi kesal, mendadak ramah. “Ayo dong, Bin, dimakan steak-nya. Di sini steak-nya terkenal enak banget lho.”
“Dia mana doyan makan steak,” celetuk Harrish mulai lagi. “Makannya ikan asin .... A-au!!” Tiba-tiba Harrish menjerit kesakitan. Evania baru saja menginjak kakinya dengan kesal –bahkan di saat wajahnya tersenyum seperti malaikat.
Aku diam saja dan Evania mulai merasa tidak enak padaku gara-gara semua ucapan melecehkan Harrish. Aku seolah duduk di sini hanya untuk jadi objek ledekannya. Padahal, aku saja kagum dengan penampilanku yang sekarang, soalnya ini pertama kali didandani.
Sedih ... tapi inilah resiko jadi orang miskin di depan orang super kaya yang angkuh. Parahnya, yang aku lakukan hanya diam.
“Besok kita pergi belanja, ya?” ajak Evania tiba-tiba, tidak lagi memusingkan Harrish di sampingnya. “Jam lima sore aku jemput.”
__ADS_1
Aku mengangguk dengan canggung, sambil sesekali melirik Harrish. Dia mulai sibuk dengan handphone-nya. Lalu kami mulai makan setelah makanan yang kami pesan tersaji, sambil mengobrol ringan. Hanya soal pekerjaan, dan aku sama sekali tidak mengerti yang mereka bicarakan. Sebelum pulang, aku sempat pergi ke toilet sebentar untuk bercermin. Apakah aku masih terlihat cantik dengan dandananku?
Menurutku, masih. Tapi bagi Harrish, apa pun barang mahal yang aku pakai di tubuhku, malah membuatnya menjadi murahan.