Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Pengakuannya


__ADS_3

Eyang Kangkung berusia 71 tahun sedangkan Eyang Putri berusia 68 tahun. Di usia senja mereka yang dihabiskan di Kota Pisang –julukan Banyuwangi, mereka hidup sederhana dan bahagia. Di rumah inilah ayah lahir dan tumbuh besar hingga berkeluarga. Kami mulai tinggal di Surabaya setelah ayah yang dulunya seorang pegawai negeri dipindahkan ke kantor pemerintahan tingkat satu, lalu Sekar lahir. Tapi, sesekali kami pasti berkunjung ke sini dan tentu mengunjungi kakek dan nenek menjadi kenangan menyenangkan tersendiri bagi aku dan Sekar, juga sepupu-sepupu yang lain. Ketika hari raya tiba setiap tahunnya, rumah ini akan ramai karena ayah mempunyai enam lagi saudara kandung yang tinggal berpencar-pencar di penjuru Jawa.


Di bangunan lama yang bertahan sejauh ini berkat renovasi, mereka tinggal bersama Sudah lama aku tidak bertemu dan merasa rindu sekali untuk memeluk mereka.


Mobil berhenti di depan pagar kayu yang dicat putih dan sepertinya masih baru. Halaman rumah cukup luas dan ditanami berbagai tanaman hias dalam polybag ataupun pot yang disusun rapi. Ya, nenek memang terkenal bertangan dingin, sehingga apapun yang ia tanam akan tumbuh dan ia merawatnya dengan sangat telaten. Masih kuingat waktu kecil, aku sering menemaninya menyiram tanaman di sore hari. Saat itu ia masihlah kuat dan berdiri dengan kokoh, terakhir ketika aku datang, ia sudah mulai sakit-sakitan, dan sekarang, tubuh kecilnya yang kurus mulai membungkuk. Namun penglihatannya masih bagus dan ingatannya masih kuat.


“Sabina ?” dia menyebutkan namaku ketika aku menghampirinya saat ia menyambut tamu yang masuk ke pekarangan rumahnya.


Aku menggamit tangannya dan menciumnya lalu memeluknya. “Aku kangen sama Eyang…," bisikku di telinganya dan ia membalas pelukanku dengan kerinduan yang sama.


“Kowe saka endi?”[1], tanya Eyang Putri padaku. Dengan suara yang gemetaran dan nada bicara yang lambat, serta wajah yang penuh dengan gurat keriput sebagai bukti perjalanan hidupnya yang keras dan penuh perjuangan. "Wis ora tekan kene? Eyang pikiraken wis lali yo sama eyang”[2]


Aku menggeleng, mana mungkin aku lupa? Selama ini, aku hanya berat hati untuk pulang. Karena takut, karena tidak ingin mereka ikut bersedih atas apa yang terjadi padaku.


“Maafin aku, Eyang…," ucapku, begitu melepaskan pelukanku dengan sedikit lega. Sampai aku lupa bahwa Harrish sudah berdiri di belakang kami.


“Iki bojomu yo?[3]" tanya Eyang Putri begitu matanya yang masih tajam menemukan Harrish. "Nak Harrish toh?”


Harrish mengangguk sambil tersenyum. Lalu meraih tangan Nenek dan…menyalaminya? Harusnya aku terharu, tapi aku masih tidak percaya Harrish bisa bersikap sama seperti dulu. Ya ampun…


Lalu Eyang Kangkung datang. Menyandang kain sarung dan pakai sepatu boot. Sepertinya baru kembali dari kebun, karena bajunya kotor sekali oleh tanah. “Sabina ?” dia menegurku dan aku pun menyalaminya diikuti oleh Harrish yang belum berkata apa-apa. Eyang Kangkung benar-benar memandangiku seksama, seolah dia tidak percaya bahwa yang berdiri di depannya adalah aku –cucunya. Lima tahun, sepertinya sudah lama sekali bagi mereka namun mereka tidak pernah lupa, mereka punya seorang cucu yang bernama Sabina ini.


Eyang Putri mengajak kami masuk rumah.  Sekar pun membantunya menyiapkan minuman di dapur saat Eyang Kangkung dan Harrish mulai mengobrol di palanta yang ada di samping teras. Di sana udaranya lebih sejuk dan dingin karena berada di bawah rindang pepohonan ditemani oleh suara anak-anak ayam mencari makan. Tapi, aku mulai khawatir, Harrish tidak akan bisa menghadapi situasi itu jika saja Eyang Kangkung bertanya soal kami. Aku rasa juga Harrish tidak akan terbiasa.


Begitu aku menyusun barang bawaan di dalam kamar, aku langsung keluar. Saat itu Sekar dan Eyang Putri sudah ikut duduk di palanta mengobrol dengan Harrish. Anehnya mereka tertawa satu sama lain, begitu juga dengan Harrish –kelihatan akrab sekali.


“Sabina itu udah lama ndak datang ke sini…ibunya bilang sibuk kerja di Jakarta. Wis pikir ndak ingat lagi yo sama dua orang tua ini…," kata Eyang Kangkung. "Dulu Sabina paling rajin ke sini…”


Sekar menoleh ke arahku sambil tersenyum –mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Mereka tidak curiga kalau Harrish yang sekarang mengobrol dengan mereka sudah bukan Harrish yang dulu –dia bukan suamiku lagi.


***


Malam menjelang, setelah adzan, kampung jadi makin sepi. Biasanya, akan terdengar suara serangga dan kodok yang saling bersahutan karena di belakang rumah ada sungai. Eyang Putri bilang sekarang sedang musim hujan. Ya, saat matahari akan terbenam, ia sudah kelihatan karena tertutup mendung. Dan malam, akan menjadi lebih dingin disertai gemuruh yang menyeramkan. Rumah yang terbuat dari kayu ini pun membuat kami harus bicara dengan keras agar bisa mendengar satu sama lain.


Segelas kopi hitam menemani Eyang Kangkung di depan radio jaman dulunya yang sengaja dimatikan karena sinyal sedang buruk. Sebagai gantinya ia ditemani Harrish.


Sebenarnya, Harrish sudah harus pergi siang tadi karena niat awalnya hanya mengantar. Tapi, Eyang Putri jadi bertanya-tanya kenapa dia tidak tinggal. Ah, aku dan Harrish jadi bingung. Tapi, Eyang Kangkung kemudian memaksa agar Harrish tetap tinggal. Aku tidak bisa melarang. Apalagi mengatakan dengan jujur bahwa kami  bercerai, karena akan semakin membingungkan –Harrish masih berada di sekitarku.


Aku pikir Harrish akan menolak, tapi dia dengan senang hati memenuhi ajakan Eyang Kangkung.


Aku di dalam kamar bersama Sekar mengeluarkan semua pakaian dari dalam tas untuk disimpan di lemari selama kami berada di sini.


“Jangan terlalu dipikirin, Mbak," ujar Sekar, mungkin dia melihat bahwa aku benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran Harrish yang membuat liburan ini menjadi tidak menyenangkan lagi. "Toh juga kita jadi nggak bisa bilang yang sebenarnya…kan kasihan Eyang Putri sama Eyang Kangkung, mereka bakal kepikiran, soalnya Mbak ‘kan cucu kesayangan…”


Aku diam. Sejak Harrish menampakan diri di rumahku, aku menjadi sangat pendiam di mana Harrish menjadi banyak omong. Dia meladeni adikku dan memonopoli Ibu untuk bicara dengannya.

__ADS_1


“Lagi ngobrol apa toh, cucu-cucu cantik Eyang ?” Eyang Putri sudah berdiri di pintu kamar, membawakan nampan dengan gelas yang berisi minuman hangat. "Nih Eyang bikinin wedang ronde, biar anget…”


Aku dan Sekar tersenyum lebar. Sementara berhenti membicarakan Harrish untuk menikmati wedang rondenya. Baunya harum membuat kami jadi ingat masa kecil.


“Nanti Sekar tidurnya sama Eyang," kata Eyang Putri. "Ndak mungkin kamu tidur sama Mbak-mu dan suaminya, toh?”


Sekar dan aku sama-sama terdiam.


Kami belum memikirkannya sama sekali. Tapi, sekarang jadi ingat kalau rumah ini hanya punya dua kamar. Yang satu dipakai Eyang dan satu lagi biasanya kosong buat tamu. Kalau aku dan Sekar tidur di sini berdua, berarti Harrish akan tidur di luar –itu terdengar ganjil. Sepertinya, jika Sekar pindah ke tempat Eyang Putri, berarti Eyang Kangkung bisa tidur di luar, terus Harrish…di sini?


Aduh!


***


Jam sembilan malam, aku sudah mulai menguap. Setelah berbincang-bincang dengan Sekar dan Eyang Putri, kami merasa ingin tidur karena kedua orang tua itu harus bangun pagi dan ke ladang. Aku dan Sekar juga lelah sekali setelah seharian  dalam perjalanan, apa lagi Harrish.


Begitu Sekar meninggalkanku dengan perasaan tidak yakin, jantungku mulai tidak kompromi. Sebentar lagi, Harrish akan masuk ke sini dan kami…


Aku memejamkan mataku rapat-rapat, membayangkan di tempat tidur kecil ini… kami akan tidur berdua?


Aku melompat ke tempat tidur saat kudengar suara pintu yang dibuka. Dengan membelakangi pintu, aku berpura-pura terlelap agar tidak ada percakapan yang membingungkan nanti. Aku memejamkan mataku rapat-rapat sekaligus menajamkan pendengaranku, apa yang akan Harrish lakukan? Bagaimana dia menghadapi situasi seperti ini?


Dia adalah bosku.


Dia adalah bosku.


Tapi, apa benar semuaya akan kembali seperti semula?


Setiap dia memandangku, aku merinding. Setiap mendengar ucapannya dan cara bicaranya yang melunak, membuatku yakin bahwa keadaan di kantor nanti bisa saja berubah. Akan seperti apa jadinya nanti?, aku mulai memusingkan semuanya di saat kurasakan sisi tempat tidur bergerak.


Oh tidak! Perasaan seperti ini menjadi nostalgia bagiku.


Tidak!


Tidak!


“Kamu udah tidur ?” Harrish menegurku, dan aku masih berusaha tidak bergeming selain mengusahakan tarikan nafas yang teratur bahkan di saat mungkin seluruh tubuhku mendingin –bukan karena udara, tapi suasana.


Harrish, tahu diri sedikit! Harusnya kamu tidur di lantai!, kataku membatin. Tapi, aku sangat yakin, dia tidak akan mau tidur di lantai, lebih-lebih belakangan dia mulai menatapku dengan tatapan itu –dalam, intens dan…lunak. Jangan-jangan,ingatannya memang sudah kembali!


Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.


“Apa…kita pernah seperti ini sebelumnya ?” tanya Harrish tiba-tiba, dan aku membuka mata seketika. Kenapa dia bertanya seperti itu? Dia sudah tentu tahu jawabannya! Tapi, itu malah membuatku teringat pada kejadian yang pernah kami alami di sini!


Oh tidak!

__ADS_1


Sisi tempat tidur bergerak lagi –gerakan sekecil apapun tentu akan terasa. Karena ini hanya tempat tidur kayu jati yang usianya sudah puluhan tahun. Ada banyak kenangan di sini –tentunya. Karena… Harrish termasuk lelaki yang memiliki libido tinggi. Bulu romaku kembali merinding, aku tahu dia sangat mudah terpancing oleh suasana.


Aku tidak berani membalikan badan, karena kurasakan ia mendekat dan aku berusaha menahan diri untuk tetap terlihat tidur. Karena tidak akan menjadi menyenangkan bercinta dengan orang tidur.


Tiba-tiba rasa menggelitik membakar pinggangku.


“Kamu mau pura pura tidur ya ?” suara Harrish mengejutkanku. "Kamu pikir kamu bisa bohong sama aku?”


Harrish menggelitik sekujur tubuhku dan aku mati kegelian sambil tertawa. "Mas Harrish, geli !” jeritku. "Geli!”


Jemarinya terus menggerayangi pinggangku sampai aku terpingkal, menahan geli dan tawa sambil menggelinjang ke sana ke mari. Ketika dia berhenti, mataku bertemu dengan matanya, sebelum wajahnya semakin dekat. Jemarinya tidak lagi menyentuh pinggangku, tapi kedua tangannya mulai bergerak untuk meraih punggungku untuk memeluknya selagi bibir kami bertemu. Ya, aku pernah merindukan sentuhan seperti itu sebelumnya. Sentuhan yang tidak memerlukan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan.


Aku merasa nyaman dalam dekapan kedua tangannya yang besar, dan tidak pernah melepaskanku sampai aku tersadar bahwa kami kembali bersatu dalam hubungan yang panas dan membakar. Aku mendengar desah nafasnya di telingaku, berbisik untuk bertanya apakah aku menyukainya saat kami seperti ini, dan aku menjawab dengan mengecup bibirnya.


Aku terpaku pada warna kuning langsat pada kulitnya yang berkeringat dan bergesekan denganku setiap ia bergerak teratur, dan aku menatapnya dengan cara yang tidak biasa –begitu menginginkannya sampai akhir. Namun, suara-suara lain yang terdengar bersamaan dengan gerakan cepat Harrish membuatku sedikit terganggu.


Suara tempat tidur kayu yang berderak, seakan ingin rubuh. Aku mulai khawatir, kalau tempat tidur ini tidak kuat menahan kami, maka suara ambruknya akan membuat semua orang di dalam rumah akan berhamburan kemari.


“Mas…pelan-pelan…," kataku dengan nafas tersengal.


“Aku nggak bisa, Bin…," balasnya di telingaku.


Harrish tidak bisa dihentikan dan aku berharap bahwa tempat tidur ini akan bertahan. Namun, saat memandang wajahnya, aku sudah tidak peduli lagi dengan suara-suara itu. mengganggu kesenangan Harrish, akan membuat kosentrasi kami buyar, dan aku juga tidak ingin melewatkan ini begitu saja dengan memikirkan hal yang tidak penting.


Oh, aku terhanyut oleh baunya yang menyelimuti sekujur tubuhku, ketika dia menekan, memelukku erat dengan erangan keras di telingaku. Sebelum, ia menjatuhkan seluruh berat tubuhnya dan aku berusaha untuk mengambil nafas.


Aku merindukan tawanya, ketika kami merasa sama-sama puas.


Ya, aku merindukannya.


Aku membuka mataku, begitu rasa itu hilang begitu saja. Tersadar, hujan di luar sana bergemuruh seperti badai yang akan menarik atap rumah Eyang. Aku tersengal, seperti baru saja mengalami mimpi buruk. Tiba-tiba termangu, itu bukan mimpi buruk…tapi mimpi aneh…


Bisa-bisanya…aku bermimpi tentang Harrish…


Ah, mungkin karena tempat tidur yang berderak ini.


Kutoleh ke samping, Harrish tidak tidur di sana! Ketika aku mendongak ke lantai, rupanya sesosok tubuh tinggi seorang pria berbadan tegap terlelap hanya beralaskan selimut dan ditemani bantal kurus. Aku sedikit merasa bersalah. Tapi,…dia sendiri yang tidak mau pergi.


Aku turun dari atas tempat tidur untuk melihatnya lebih dekat karena penasaran.


Benarkah dia bisa tertidur nyenyak di lantai?, aku memandangi wajahnya yang terlelap.


Seketika aku menyadari, bahwa ekspresi tidurnya sama sekali tidak berubah –sekalipun dia kembali jadi orang asing bagiku.


Harrish, Harrish, seandainya aku tahu apa yang kamu pikirkan…

__ADS_1


__ADS_2