
Evania tidak pernah datang lagi untuk berkunjung. Barangkali dia terlalu sibuk dengan tunangannya dan sepertinya mereka lama tidak bertemu –bisa saja. Tidak menutup kemungkinan mereka sedang pergi berlibur. Kupikir, itu membuat Harrish kesepian. Firasat ini makin terasa benar setelah Harrish melarangku pergi.
Sialnya, hari setelah malam dia mendendang koperku sampai gagangnya patah adalah hari Minggu. Hari Minggu yang berbeda karena memilih untuk di rumah –setahuku biasanya dia pergi pagi-pagi sekali dengan membawa raket tenis dan kembali siang hari. Duduk kaku di sofa kesayangannya dengan menghadap ke TV. Yang dia lakukan sejak pagi hanyalah mengutak-atik chanel TV tanpa memutuskan untuk menonton salah satunya. Apa dia sedang bosan? Aku sedikit khawatir apabila dia mendengar suara dariku sedikit saja dia akan kembali teranggu dan berteriak.
Aku berusaha untuk tidak memancing perhatiannya. Setelah kemarin membanting pintu kamar dan merusak koperku, apa lagi yang bisa dia lakukan? Mencekikku? Membunuhku?
Dengan sangat pelan, aku melangkah menyebrangi ruang tengah menuju dapur. Aku membuka lemari cabinet untuk mengambil gula dan teh. Sama sekali tidak terpikir olehku membuatkan kopi untuk Harrish –aku punya pengalaman yang buruk soal itu. Tapi, saat aku sedang asyik menyeduh teh di cangkir, aku menemukan Harrish sudah membuka kulkas.
Ia tampak mencari sesuatu dan karena tidak menemukan apa-apa di dalam sana, ia menoleh padaku. Aku pikir dia akan marah padaku karena untuk ukuran kulkas yang cukup memuat bahan makanan orang satu RT, isinya terlalu kosong. Aku tidak pernah diminta berbelanja kebutuhan makanan –tidak ada gunanya karena tak ada yang memasak. Harrish selalu makan di luar, begitu juga aku yang siangnya sering makan di warteg dan malamnya makan mie instan kalau lapar.
__ADS_1
“Aku mau pergi belanja,” kata dia –pertama kalinya aku mendengar nada suaranya merendah. Aku tidak sadar bahwa itu adalah ajakan untuk pergi bersama ke supermarket.
***
Sejenak aku berhenti berpikiran buruk tentang mengapa dia tidak mengizinkanku pergi dari apartemen. Meski tidak banyak bicara, sikapnya memang jauh berubah –bahkan dalam hitungan jam saja. Dia terlihat lebih tenang dan santai ketika mendorong troli dan memasukan berbagai jenis barang ke dalamnya. Sementara aku berjalan di belakangnya dengan keranjangku sendiri sambil melihat-lihat rak khusus keperluan wanita.
Silakan memanggilku kampungan tapi ini memang pertama kalinya aku belanja di mall.
Begitu banyak pilihan yang membuatku bingung sehingga aku hanya berputar-putar walau pada akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada produk dalam kemasan paling kecil. Meskipun pergi dengan Tuan Kaya Raya, aku tidak akan membiarkan dia membayar belanjaanku. Jadi setelah mendapatkan semua yang kubutuhkan aku segera membayarnya di kasir.
__ADS_1
Tak lupa aku memastikan apa Harrish sudah selesai atau belum, namun ia tampaknya ia masih sibuk memilih buah-buahan. Aku berjalan lagi untuk melihat-lihat berbagai macam produk kecantikan yang ditawarkan di sisi lain supermarket. Kupikir, tidak ada salahnya melihat-lihat sebentar selagi Harrish masih belanja.
Supermarket menjual banyak barang yang menggiurkan –khususnya bagi perempuan. Seperti kosmetik bermerek yang walaupun aku tak pernah memakainya ingin sekali kumiliki. Tapi, aku tidak membutuhkannya saat ini. Aku memang iri saat melihat teman-temanku selalu bercermin setiap saat untuk merapikan dandanan dan rambut. Tapi, dengan berpikir bahwa ada hal yang lebih penting dari lipstik ratusan ribu, aku sangat yakin menjadi apa adanya adalah bagian terbaik dari diriku.
Aku hanya menggeleng saat seorang pramuniaga menawarkan untuk mencoba tester parfum keluaran terbaru mereka. Tapi, gadis itu tetap memaksaku untuk setidaknya mencium wanginya parfum botol pink itu. Hidungku menangkap wangi yang diimpikan oleh gadis muda mana pun –wewangian bunga yang beraroma lembut dan menghanyutkan. Ah, kalau seandainya nanti aku sudah bekerja aku pasti membelinya. Aku harus bersabar sampai beberapa tahun ini untuk lulus kuliah dan menjadi mapan.
Setelah terhanyut beberapa saat oleh wangi itu, aku melihat Harrish dan trolinya sudah berdiri di depan konter. Semua barang yang dibelinya sudah berada di dalam beberapa kantong besar yang ditumpuk di dalam troli. Rupanya sudah cukup lama aku terhanyut oleh apa yang kulihat.
Kemunculan Harrish seakan membangunkanku bahwa saat ini aku masih bekerja menjadi pesuruhnya. Aku segera menghampirinya dan kami segera meninggalan mall untuk kembali ke apartemen.
__ADS_1