Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Dimana Dia Akan Pergi:(


__ADS_3

Malam itu buruk. Lebih buruk dari malam-malam yang kuhabiskan dengan menangis karena merindukannya. Tapi, semalam, aku meratap, berteriak pada kegelapan, membanting apa saja di sekitarku karena sudah tidak tahan lagi. Dan keesokan pagi, aku terbangun karena seseorang mengetuk pintu kamarku.


 


 


Aku tahu, itu pasti Harrish –selain dia siapa lagi? Kami masih tinggal di rumah yang sama.


 


 


Aku membuka pintu perlahan. Mendongakan kepala keluar agar Harrish tidak perlu melihat kekacauan yang kubuat semalam karena dirnya.


 


 


Ia berdiri di ambang pintuku dengan rasa bersalah yang sangat di wajahnya yang menatapku canggung. Sebelum ia sempat mengatakannya, aku sudah tahu bahwa ia akan mengatakan alasan kenapa semalam begitu mudahnya ia mengusirku dan membiarkanku pulang sendirian –bahkan ia baru menyadarinya saat aku telah tertidur dengan lelah.


 


 


“Hai, pagi…” sapa dia, ada yang aneh dengan nada suaranya.


 


 


Aku tersenyum lebar namun guratan kesedihanku berkumpul di kelopak mataku yang tentu saja sudah bengkak hampir menutupi mataku. Kurasa itulah yang membuat rasa bersalahnya kian meresahkan begitu melihat wajahku pagi ini.


 


 


“Maaf, aku…”


 


 


Aku sudah banyak mendengar kata maaf dari Sara sejak tadi malam, dan itu terdengar sama. Sama-sama menyepelekan kehadiranku.


 


 


Harrish tertunduk. Tiada lagi yang bisa ia katakan karena bingung. Entah mengapa setiap kami bicara tentang ‘kami’, ia selalu kebingungan. Seolah tidak punya alasan atau jawaban tentang mengapa semuanya menjadi tidak mudah untuk dibicarakan. Dalam sesaat aku bisa paham bahwa mungkin karena sifatnya yang angkuh menjadi filter dirinya agar tidak memohon atau menunjukan belas kasih. Tapi, akhir-akhir ini, ia terkesan tak punya jawaban karena apa yang ia miliki di hatinya adalah segala sesuatu yang akan membuatku kecewa. Dia mungkin terbebani karena perasaanku padanya, yang menjadi tak berbalas setelah ia kehilangan diriku –di dalam kepalanya, mungkin setelah ini di hatinya.


 


 


Sungguh, selama hampir satu menit kami berdiri berhadapan tanpa bicara. Dan aku menunggu hingga satu pertanyaan keluar dari kepalaku lewat bibirku yang gemetaran.


 


 


“Apa aku menyulitkan Mas Harrish?”, tanyaku, aku berharap kami bisa bicara dengan jujur dan terbuka. Aku merasa harus tahu dengan apa yang sebenarnya ia inginkan –sekalipun, bisa saja ia mengatakan bahwa hubungan ini tidak bisa terus berlanjut.

__ADS_1


 


 


Dia segera menggeleng, tanpa memandang wajahku. Ada banyak perasaan dalam rautnya yang tak terbaca. Bisa saja iba, bisa saja sedih, atau kecewa –karena ia tak juga bisa mengingat semuanya.


 


 


Ini membuatku pasrah, untuk selanjutnya menyerah.


 


 


“Hanya…”, dia berusaha mengatakan sesuatu, menatapku sejenak sebelum matanya kembali beredar ke segala arah dan aku menunggu lima detik seperti lima jam saja, “Semuanya sudah berubah…”


 


 


Aku mengangguk. Ya, memang.


 


 


“Terus apa yang Mas Harrish inginkan dari perubahan itu?”, tanyaku, semakin tidak sabar.


 


 


 


 


Tidak tidur di tempat yang sama dan tidak bicara selama berhari-hari, sudah menyiratkan kegagalan dari semua yang pernah kuusahakan untuk membuatnya jatuh cinta lagi padaku. Aku sadar, semua ini mungkin memang harus terjadi, untuk menunjukan apa yang bisa menjadi milikku dan tidak.


 


 


“Aku nggak mungkin menyakiti kamu lebih dari ini…”, katanya, “Aku nggak akan mengingkari kalau semua yang pernah kita alami dulu nyata. Tapi, sekarang, semuanya berbeda”


 


 


Aku diam. Masih tertunduk. Mendengarkannya dengan seksama.


 


 


“Kamu tahu, aku selalu berharap untuk bisa kembali mengingatnya dengan begitu aku nggak perlu menyakiti kamu…”, sambungnya, “Tapi, masalah perasaan… adalah sesuatu yang nggak bisa dipaksakan. Aku… cuma merasa asing… dan semakin kamu paksakan untuk terus hidup sama aku, hanya akan bikin kamu menderita…”


 


 

__ADS_1


Aku menggeleng. Aku memang menderita, tapi sesakit apapun itu, perasaanku tidak akan berubah sedikitpun. Apa dia tidak mengerti jika aku tidak ingin bersamanya, aku sudah pergi sejak dulu?


 


 


“Kamu masih terlalu muda untuk memikul beban seberat ini dari lelaki seperti aku… dan aku merasa, pernah menikahi kamu adalah keputusan gegabah yang mungkin pernah aku ambil seumur hidup…”, katanya lagi, suaranya melemah, “Karena…aku seakan nggak memikirkan masa depan kamu…aku tahu itu *****, dan aku benar-benar minta maaf, karena menyeret kamu dalam masalah…”


 


 


Aku masih menggeleng-geleng, tanpa kata. *****?


 


 


“Maaf, Sabina, aku harus melepaskan kamu dan sebaliknya…”, suaranya pelan, namun jelas dan padat. Menusuk ke jantungku yang terbakar. Rasanya, aku ingin mengobrak-abrik laci untuk menemukan benda tajam yang bisa melukai tubuhku.


 


 


Aku berani jamin, seberapa dalam pun sayatan pisau di nadiku, itu tidak akan menyakitkan bagiku lebih dari sakit di hatiku –dan itu lebih baik. Biar saja menjadi seperti luka yang terbuka tanpa pernah diobati. Kurasa ia akan membiarkannya kering sendiri dan meninggalkan bekas yang mengerikan.


 


 


“Apa aku nggak bisa melakukan sesuatu?”, tanyaku, akhirnya memperlihatkan air mata yang berusaha kusembunyikan sejak semalam, “Apa kamu nggak bisa mengingat sedikit aja soal aku, Mas?”


 


 


Harrish menatapku dengan sangat menyesal, “Aku selalu berharap, Sabina…”, jawabnya, ikut terlihat sedih saat ia mendekat selangkah, dan aku kembali tertunduk menarik nafas, menyeka air mataku “Aku selalu berharap, aku bisa ingat…”


 


 


Tapi, itu bukan jawaban. Jawaban yang sesungguhnya adalah dia tidak ingin bersamaku lagi.


 


 


“Aku mencintai kamu…”, kataku lagi kembali menatapnya.


 


 


Ia sempat tersentak, namun dengan tatapan yang dinodai penyesalan itu, ia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan, “Maafkan aku, Sabina…”, ucapnya. Sebelum pergi dan aku jatuh merosot di ambang pintu, menyaksikan ia dan langkahnya yang cepat.


 


 


Dia tak pernah menoleh kebelakang. Aku selalu berharap dia akan melihatku hancur hanya agar ia berubah pikiran. Tapi ternyata tidak pernah.

__ADS_1


__ADS_2