Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
EPILOG


__ADS_3

Aku kembali melihat sosoknya di sana. Aku pernah merasa bahwa sebenarnya itu hanya bayangan karena dia telah pergi dariku. Aku masih bisa merasakan sentuhan tangannya ditanganku yang kemudian sirna dalam sesaat. Layaknya udara disekitar kami, mengkonversi sosoknya menjadi debu yang menghilang. Namun, masih tersisa hawa dingin sentuhannya pada tanganku.


Aku pikir dia telah mati. Tapi, saat aku terbangun tengah malam dan dalam pikiranku yang terus menunggu ia akan datang saat itu, membuatku kecewa bahwa sebenarnya ia tidak akan kembali. Diriku lah yang telah mati dalam hidupnya. Ya, pagi itu aku mengemasi semua barang-barangku lalu menunggu sebuah pesta pernikahan yang kunanti bisa kudatangi dengan seorang pendamping. Tapi, di hari sebahagia itu, aku kembali menangis karena aku bahkan tidak berhak untuk tahu dengan siapa dia mulai hidup bersama.


Aku menuju stasiun kereta. Harapanku pada saat itu, sama dengan hari ini yaitu pulang. Semua kenangan lama kembali mengejarku pada dinding-dinding yang kulewati, seakan memanggilku untuk menoleh lalu mengingat bahwa jika sekali ini aku tidak kembali, aku akan dianggap benar-benar mati untuk siapapun yang pernah mengenalku. Lalu kenangan semasa ‘hidupku’ seakan terpapang jelas di hadapanku.


Tapi, kereta sudah datang saat aku baru saja berdiri di peron dan seorang wanita kembali bercuap-cuap lewat pengeras suara. Aku hanya menunggu beberapa saat sebelum bisa naik bersama penumpang lain.


Ya… aku akan pulang


Begitu aku duduk di dalam kereta, aku merasa tidak benar-benar lega. Masih ada sedikit perasaan berat yang agak menyiksa. Aku pun melirik layar ponselku dengan malu-malu –padahal milikku sendiri. Tapi, cukup mengecewakan karena tidak ada seorang pun yang menghubungi, meskipun juga tidak berharap… tapi alangkah baiknya bila…

__ADS_1


Cukup!, aku membatas pikiranku yang sudah melampaui awang-awang yang mungkin akan membuatku lebih kecewa lagi.


Apa… yang aku harapkan?


Telpon? Pesan singkat? Ucapan selamat tinggal? Atau adakah seseorang yang akan menghentikanku sebelum keretanya melaju?


Aku mendengar bunyi kereta mulai bergerak. Gesekan mesin dan roda pada rel yang keras.


Ah, siapa yang ingin menghentikanku?, aku pun membuang harapan konyol itu keluar dari kepalaku.


Aku tertegun, menatap ke depan, dan seketika ingin turun. Jika aku bergerak sekarang, mungkin masih bisa. Tapi, kupejamkan mataku. Mengingat kembali saat pertama kali datang ke Jakarta mengejar mimpi. Nyeri menusuk dadaku. Aku tahu meski sudah lama, luka itu masih tergores di sana dan tak pernah sembuh. Entah bagaimana aku merasa bahwa luka itu tak pernah ada di sana sedangkan setiap mengingatnya aku selalu kesakitan.

__ADS_1


Perlahan kereta bergerak, namun aku belum mengucapkan selamat tinggal sebagai ritual memulai kehidupan yang baru. Aku menoleh ke luar, menembus kaca jendela, di mana stasiun mulai tertinggal. Ya…, akhirnya aku telah meninggalkan semuanya walaupun aku belum dapat melepasnya…


 


 


My Evil Boss - End


------


Kecewa dengan endingnya? Aku bisa merasakan kekecewaan kalian dengan akhir yang tidak bahagia ini. Tapi, bukankah dari kemarin-kemarin aku pernah bilang kalau masih ada lanjutannya? Makanya, jangan langsung suudzon deh! Hahahha

__ADS_1


Sekedar mengingatkan, sekuel My Evil Boss sudah hadir dengan judul Getting Her Heart Back. Dari judulnya sendiri kalian sudah tahu 'kan bahwa sekuelnya akan diambil dari sudut pandang Harrish. Penisirin? Baca Sinopsis Getting Her Heart Back.


Sebelum kita lanjut ke chapter pertama Getting Her Heart Back, kalian boleh menyampaikan uneg-uneg, kesan, penilaian, kritik or anything tentang My Evil Boss yang sadly ends ini. Bukan apa-apa sih, aku hanya ingin pembaca lebih aktif sebagai tanda mereka menyimak setiap chapternya. Kalau masiih nggak mau? Ya, itu terserah kalian.


__ADS_2