Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Sangat Mengganggu


__ADS_3

Pameran tahun ini akan terasa sangat membosankan bagiku. Aku sudah menyiapkan ancang-ancang jika Bastian terlihat di antara salah satu perserta pameran wisata. Aku akan pura-pura tidak melihatnya dan kalaupun kami harus berpapasan, poker-face adalah senjata paling ampuh agar tidak ‘jatuh’ di hadapannya.


 


 


Dari satu hotel ke hotel lainnya, dari berbagai macam pameran dan pasar wisata, aku tidak merasakan hal yang berbeda. Hanya keramaian yang asing dan aku seolah tersesat jauh sekali. Mungkin aku hanya merasa sangat jauh darinya karena aku begitu merindukannya…


 


 


Padahal aku berdiri tepat di belakang Harrish yang sedang berbicara dengan general manager hotel penyelenggara pameran. Juga ada dua orang pria lainnya di dekat mereka. Aku melirik jam tanganku –jam dua siang. Makan siang sudah tersedia khusus tamu VIP seperti mereka, tapi obrolan tentang perluasan usaha lebih mengenyangkan dari Lasagna.


 


 


Kakiku yang berdiri sedari tadi ditopang dengan heels mulai pegal. Aku ingin meninggalkan gerombolan ini hanya untuk sekedar ke toilet. Tapi, aku tidak bisa mencuri jeda hanya untuk mengatakan permisi pada bosku. Jika tiba-tiba aku menghilang, dia akan berteriak padaku. Hanya saja panggilan alam tidak bisa diabaikan dan aku harus pergi ke toilet! Di sana, aku bisa melepas high heels-ku sebentar sambil duduk di atas tutup closet, ditemani sebatang rokok. Sedikitnya aku merenung tentang hubungan tidak jelas yang kujalani dengan seorang lelaki 25 tahun bernama Bastian Dewangga yang bekerja sebagai tour operator di Bali.


 


 


Kami bertemu pertama kali di sini. Mempunyai banyak kenangan indah di sini. Tapi, sepertinya hanya aku saja yang menganggapnya menakjubkan. Karena jika Bastian juga berpikir demikian, dia tidak akan mendiamkanku selama ini bukan? Harus aku akui, jadwal seorang tour operator sangat padat karena dia mengurus banyak hal yang lebih rumit dari pekerjaan kantoran biasa. Aku bisa memahaminya karena aku juga sekretaris yang sibuk dan bahkan tidak punya waktu hanya untuk membalas pesan singkat. Harus kuakui, terkadang aku tidak memperhatikannya atau menyepelekan semua kata rindunya. Tapi, semua itu menjadi berharga, ketika dia tidak lagi berkata rindu padaku. Dia bahkan tidak memberiku kepastian setelah berbulan-bulan. Kurasa ini adalah hukuman tapi…ini juga sudah ter-la-lu.


 


 


Rasanya aku ingin merengek seperti waktu itu. Berharap dia memikirkanku kalau perlu bahkan memimpikanku. Aku jadi seperti anak SMA yang patah hati saat tahu bahwa aku hanya dipermainkan. Sebulan, dua bulan, terasa berat menerima kenyataan bahwa aku dan Bastian sudah berakhir –meskipun tanpa putusan. Keadaan sudah menyimpulkan hubungan yang gagal, sehingga yang harus kulakukan adalah… menyibukan diri sama seperti saat sebelum aku melihat wajahnya yang rupawan lalu jatuh cinta.


 


 


Sekarang, aku kembali ke sini, masih berharap ada kesempatan yang sama untuk bertemu, untuk memulai semuanya dari awal lagi.


 


 


Handphone-ku berdering!


 


 


Aku buru-buru merogoh tasku, berharap doaku terkabul, tapi, nama yang muncul di layar adalah Harrish Adrian Adisuna. Nama yang membuatku jauh lebih kecewa dari SMS undian tidak jelas berkedok penipuan atau dari operator yang setia dengan promo-promonya.


 


 


“Kamu di mana?” sembur dia, tentu kedengaran sangat marah.


 


 


“Saya…di toilet, Pak. Saya menuju ke sana sekarang," kataku sebelum mendengarnya berteriak lagi.


 


 


***


 


 


Aku setengah berlari ke tempat terakhir aku menemaninya mengobrol –di depan pintu ballroom tempat pameran. Tapi, aku tidak melihatnya, begitu juga pria-pria berdasi lainnya yang tadi bicara dengan Harrish. Aku hanya menemukan keramaian biasa yang bercampur antara orang-orang asing dan lokal yang lalu lalang dengan tanda pengenal–merah untuk panita, hitam untuk pers, kuning untuk peserta dan hijau untuk anggota komite alias tamu kehormatan seperti yang dipakai oleh Harrish. Tapi, aku tidak mempunyai salah satunya sehingga aku hanya bisa melihat-lihat dari luar –berdiri tepat di depan plang bertuliskan ‘no badge, no entry’.


 


 


Aku mengambil handphone-ku, untuk mengetik sebuah pesan. ‘Saya sudah di depan, Pak’. Tapi, tidak ada balasan. Sehingga satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya supaya tidak dimarahi adalah menunggu dengan sabar. Aku sangat yakin Harrish ikut pria-pria itu ke dalam untuk melihat booth peserta yang lain sambil membicarakan bisnis dengan omset miliaran.


 


 


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dengan bosan. Sampai akhirnya bosku keluar juga dari ballroom. Dan ia masih tidak sendirian. Namun, aku tidak pecaya dengan apa yang kulihat!. Harrish sudah tidak lagi bersama pria-pria membosankan tadi. Ia tengah mengobrol sambil jalan dengan seorang lelaki yang lebih muda darinya dan membuatku terperangah beberapa saat sampai Harrish melihatku.


 


 


Bastian?, aku melihatnya tepat memandang ke arahku saat Harrish menghampiri. Kenapa bisa?


 


 


“Hm, Sabina," Harrish menegurku saat aku malah terpaku memandang Bastian yang melangkah dengan pasti ke arahku, dengan senyum tenang di bibirnya yang tampak ingin menyapa.


 


 


Aku tidak memperhatikan bosku yang ingin bicara tentang sesuatu yang penting selagi Bastian mendekat. Ia tampak biasa melihatku jika dibandingkan dengan aku yang syok –seolah tahu bahwa kami akan bertemu lagi dengan cara seperti ini.


 


 


Mereka kenal?


 


 


“Sabina ?” tegur Harrish lagi dan aku segera menoleh padanya.


 


 


“Ya ?” sahutku, masih bingung karena Bastian sudah berdiri di belakang Harrish.


 


 


“Hai…," sapa dia padaku dan aku hanya melongo.


 


 


Harrish ikut menoleh ke belakangnya. Walau sekilas, aku tahu dia tampak heran. Dia tidak mengatakan sesuatu sampai Bastian dengan berani menghampiriku.


 


 


Aku diam dan berusaha untuk tenang. Aku ingin bertemu, tapi bukan begini!


 


 


“Jadi…gimana makan siangnya ?” tanya Harrish tiba-tiba sambil melihat jam tangannya. "Lo bilang ada tempat yang bagus dekat sini”


 


 


What the…? Mereka seakrab itu?


 


 


“Tenang, Bro..," kata Bastian santai. "Kita ke sana sekarang deh daripada kelaperan bikin lo jadi kayak kakek-kakek”


 


 


***


 


 


Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi  di depanku saat ini.


 


 


Harrish dan  Bastian , mengobrol akrab layaknya teman baik?


 


 


Dan aku, duduk di depan mereka, hanya bisa menangkap apa yang kudengar untuk menyimpulkan alasan masuk akal tentang kenapa mereka bisa saling mengenal.


 


 


“Nih, gue pesenin yang paling enak buat lo, Bro," kata Bastian dengan gaya santai dan blak-blakannya sambil memperhatikan menu.


 


 


“Terserah lo deh, Bas," balas Harrish.

__ADS_1


 


 


Harrish tampak menunggu, dan sekali ia melihatku –masih dengan tatapan mencurigai itu, aku jadi tidak nyaman ikut duduk di sini bersama mereka. Tapi, Bastian yang mengajakku ikut serta dengan alasan kami juga saling kenal dan dia tampak senang kami bisa berada di meja yang sama hanya untuk santap siang. Belum membayangkan makanan saja, dengan keadaan seperti ini saja sudah membuat perutku kenyang!


 


 


Kenapa malah jadi seperti ini?


 


 


Tapi, kalau dipikir-pikir, dunia ini memang sempit. Khususnya dunia kerja kami yang berhubungan satu sama lain. Hotel dan tour operator –wajar saja bertemu di pameran wisata. Tapi, kenapa harus kebetulan yang seperti ini?


 


 


Seharusnya tadi aku pamitan saja untuk kembali ke kamar lebih cepat. Dengan begitu kebetulan ini tidak menjadi demikian menyedihkan bagiku. Tapi, membayangkan Harrish bisa saja cemberut marah padaku karena menolak, lebih tidak diinginkan lagi. Tapi, walaupun begitu, mereka tidak melibatkanku dalam obrolan yang sepertinya serius itu. Bisnis dan bisnis. Membuatku sedikit muak, karena aku hanya berdiam diri di sana, mendengarkan di saat hatiku merasa begitu sedih.


 


 


Bertemu, tapi dia seolah tidak merasakan apa yang kurasakan…


 


 


Benarkah apa yang kupikirkan selama ini bahwa dia sudah tidak menginginkanku?


 


 


Ya-Tu-han, aku merasa bahwa aku sedang melihat satu kesatuan dari dua orang laki-laki yang tidak menginginkanku…


 


 


Ini benar-benar kutukan!


 


 


 Bastian  tidak pernah tahu apa yang pernah ada di antara aku dan Harrish. Sebaliknya, Harrish juga tidak tahu apa yang pernah ada di antara aku dan  Bastian .


 


 


“ Bastian !” seseorang menghampiri kelompok kecil kami.


 


 


Aku mengalihkan perhatianku dari layar handphone ke pemilik suara riang dan manja itu. Seorang gadis berambut panjang dan pirang sudah berdiri di belakang  Bastian . Seorang gadis cantik –agak kebule-bulean, dan tentu saja berpenampilan menarik. Tubuhnya ramping dan tinggi. Lekukan pinggangnya hanya ditutupi tank top merah dan kaki jenjangnya hanya dibalut hotpants yang membuatku ingin mengelus dada.


 


 


Cantik sekali perempuan ini…


 


 


Seketika aku menjadi miris karena begitu mengangkat kepalaku, aku disuguhkan dengan pemandangan cipika-cipiki yang membuat dadaku terbakar.


 


 


Mereka mesra sekali!


 


 


“Oh iya, kenalin, ini Clara," Bastian  berdiri dari kursinya, memperkenalkan teman perempuannya yang cantik pada Harrish, juga aku.


 


 


Aku ikut berdiri sambil tersenyum. Seketika membuat pertahanan itu di sekelilingku –poker-face.


 


 


 


 


Aku jadi berkecil hati. Ketiga orang yang berdiri di depanku ini, dunianya sangat terbalik dengan duniaku. Dan aku seharusnya tidak berada di sini, ikut tertawa bodoh, dan terus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja…


 


 


***


 


 


Bastian  tidak pernah mengatakan apa-apa padaku. Dia tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Dia tidak mengatakan dengan terus terang bahwa dia sudah tidak menginginkanku. Jika ini balasan bagiku karena pernah terlalu sibuk dan tidak memperhatikannya, ini TIDAK setimpal! Aku tidak pernah mengkhianatinya!


 


 


Ya Tuhan…apa salahku…?


 


 


Aku mondar-mandir dengan gelisah di balkon kamar. Pemandangan pantai yang indah pun menjadi tidak menarik lagi bagiku. Sekarang, betapa aku membenci Legian dan apapun tentangnya…


 


 


Aku pun meneteskan air mata lagi, setelah lama rasanya tidak menangis karena memikirkannya.


 


 


Dan tiba-tiba saja…aku menemukan Harrish.


 


 


Aku melihatnya di seberang sana –balkon kamar lain yang berhadapan dengan kamarku. Dia tengah berdiri seorang diri dan jelas-jelas melihat kemari –seperti mengawasi.


 


 


Sial!, gerutuku dan seketika menarik gorden menutup setiap jengkal jendela. Aku tidak ingin terlihat kacau seperti ini! Ya ampun, kenapa cobaan ini belum berakhir? Apalagi yang harus kulakukan agar aku bisa bahagia? Apa aku tidak pantas untuk bahagia?


 


 


Aku mulai putus asa. Saat tubuhku merosot jatuh dan aku hanya duduk di jendela, meringkuk di lantai sambil terisak.


 


 


 Bastian … aku pikir kamu akan mengakhiri penderitaanku…


 


 


 Dan…kenapa harus aku?


 


 


TING TONG! TING TONG!, bel pintu berbunyi.                                                       


 


 


Aku meringis kesal, karena ini sudah hampir larut malam. Lagipula mana ada room service yang berkeliaran jam segini?, gerutuku sambil bangkit dan sadar  bahwa aku nyaris ketiduran di lantai saking sedihnya.


 


 


“ Bastian ?” aku terbelalak, melihat Bastian berdiri di depan pintu kamarku.


 


 

__ADS_1


“Aku mau bicara sebentar," katanya, terlihat murung dan…merasa bersalah.


 


 


“Apa lagi sih ?” celetukku, tidak membuka pintu lebih lebar lagi untuknya.


 


 


Ia mendorong pintuku, ingin masuk, tapi aku menahannya.


 


 


“Nggak ada lagi yang bisa diomongin," kataku, ingin menutup pintunya tapi dia menahannya.


 


 


“Bin, dengar dulu, kamu salah paham…," katanya, dan tangannya mendorong pintuku.


 


 


Tapi, aku memaksa untuk menutupnya. Sehingga Bastian mendorong lebih keras, hingga aku terkejut setelah tiba-tiba ia berada di dalam dan…


 


 


“Kamu cuma salah paham…," desisnya, saat tubuhku seketika ada di dalam dekapannya. "Clara itu bukan pacarku, dia cuma ngaku-ngaku…”


 


 


Aku terdiam. Tapi, tidak bisa memungkiri bahwa aku merindukan pelukan ini. Hanya saja…aku terlanjur kecewa, sehingga aku harus melepaskan diri darinya. “Tapi, kamu nggak membantahnya…," kataku.


 


 


“Aku merasa nggak enak, Bin. Di sana juga ada bos kamu kan ?” jelasnya. "Sumpah, aku sama Clara nggak ada hubungan apa-apa…”


 


 


“Aku juga nggak peduli…," kataku, mulai kesal. "Mau ada hubungan atau nggak, kita juga sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kenapa aku harus tau dia pacar kamu atau bukan…”


 


 


“Bin, aku…”


 


 


“Apa alasan kamu nggak pernah hubungin aku lagi ?” tanyaku, menjauh beberapa langkah, berusaha untuk tidak terpengaruh setiap memandang wajahnya dan aku selalu berubah pikiran karenanya. Kali ini tidak boleh. Aku  harus tegas, mempertahankan alasanku untuk pantas merasa marah. Dia sudah mengabaikanku selama hampir enam bulan!


 


 


 Bastian  tidak langsung menjawab. Seharusnya dia sudah menyiapkan semua jawaban sebelum ia menemuiku untuk menjelaskan kesalahpahaman, sehingga aku tidak perlu menunggu lama atas jawaban perasaanku padanya. Dari hati kecilku, aku masih sangat mencintainya…tapi aku sudah tidak bisa percaya pada orang yang tanpa alasan sanggup menelantarkanku begitu saja. Lalu memungutku ketika ia menginginkannya.


 


 


“Sibuk? Ke luar negeri? Atau kamu punya Clara yang lain di samping kamu?”


 


 


“Bin…," dia tampak ingin membantah semuanya. Tapi, aku sudah lebih dulu berteriak.


 


 


“Keluar !” hardikku sambil menunjuk ke pintu yang tertutup.


 


 


 Bastian  masih berdiri di tempatnya. Menatapku bingung!


 


 


“Keluar, Bastian! Aku nggak mau lihat kamu lagi, ngerti? !” hardikku lebih keras dengan menyingkirkan perasaan terlukaku sementara hanya untuk mengusirnya.


 


 


Aku tidak butuh cinta yang seperti ini tapi…


 


 


 Bastian  tiba-tiba mendekat. Satu langkah saja ia mendekat, ia langsung meraih tubuhku untuk menyeretku ke atas tempat tidur!


 


 


“Bastian? !” aku menjerit, saat ia menindih tubuhku dan aku meronta saat kurasakan panas di leherku.


 


 


Dia mulai memaksa mendekatkan wajahnya, menyentuh bibirku dengan bibirnya.


 


 


Aku bepaling. Memejamkan mataku rapat-rapat dan menghindar setiap dia ingin menciumku!


 


 


“Jangan !” jeritku, setengah berteriak. "Jangan,  Bastian!”


 


 


Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus memaksa dan aku semakin ketakutan. Rasanya aku akan mati oleh berat tubuhnya yang tak sebanding dengan tubuhku yang kecil.


 


 


TING TONG! TING TONG!, bel pintu berbunyi, mengagetkan Bastian dan aku langsung mendorongnya dariku dengan sisa tenagaku.


 


 


 Bastian  terjatuh ke lantai.


 


 


TING TONG! TING TONG!, bel pintu masih berbunyi saat aku berlari ke sana.


 


 


Segera aku menarik gagangnya dan pintu itu terbuka.


 


 


“Mas Harrish? !” aku senang begitu melihatnya berdiri di depan pintuku dan entah apa yang membawanya datang ke sini.


 


 


Wajah Harrish tampak tegang saat ia melihatku. Segera, ia melihat ke dalam dan langsung berhadapan dengan Bastian yang ingin mengejarku. Aku berlari keluar melewati pintu dan bersembunyi di belakang Harrish saat Bastian terperanjat menemukan Harrish.


 


 


Semua terjadi begitu cepat, saat Harrish menerjang ke dalam dan ia membuat Bastian tersungkur dengan satu pukulan di wajah.


 


 


Semua menjadi lebih mengerikan sekarang! Mereka berkelahi!

__ADS_1


__ADS_2