Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Dia Mencuri Hatiku


__ADS_3

Ballroom ini begitu penuh oleh orang-orang baik dari pengunjung ataupun yang berasal dari biro perjalanan wisata yang bisa saja menawarkan kerja sama. Itulah yang Jessica tunggu –sebuah deal. Dengan begitu ia bisa pulang ke Jakarta dengan lega. Aku sudah melihat berbagai macam orang yang mampir ke sini untuk sekedar bertanya atau mengambil brosur –dari yang rambutnya hitam, sampai yang pirang. Mereka dengan cepat berlalu, tanpa kesepakatan apa-apa.


“Lo sih enak, Bin…," gerutu Jessica. "Masih bisa beberapa hari lagi di sini. Nah gue, sama Pak Sony, kalau kita pulang ke Jakarta dengan tangan kosong, bisa dibantai sama Pak Sendra…”


 


 


“Yang sabar, Jes, gue juga sebelumnya dibikin nangis darah sama Pak Sendra. Masih mending elu, kalau jualan banyak, bisa jalan-jalan ke Hongkong segala. Lo juga Sales Executive kesayangan Pak Sendra. Kalau gue mah, cuma makan gaji sama service yang gitu-gitu doang," kataku dan kami hanya mengawasi para buyer kami lalu lalang untuk melihat-lihat.


 


 


Jessica terdengar mendengus. “Eh, Bin, lo jagain ‘warung’ gue sebentar yah. Gue mau ke toilet dulu," kata dia tiba-tiba pergi.


 


 


Aku memperhatikan sekitarku. Tidak kelihatan sang DoS (Director of Sales) –Pak Sony, yang tadi berdiri di depan booth. Dia menghilang begitu saja seperti Oom Jin.*


Sampai ada seseorang yang masuk ke booth, dan aku sedang menguap. Tentu itu kelihatan konyol dan kulihat ia menahan tawa. Aku bergegas menjadi poker-face –yang menjadi keahlianku sekarang.


 


 


Ia membawa goody bag yang ia dapatkan dari tempat lain –dan jumlahnya sampai lebih dari tiga sehingga dia tampak kerepotan membawanya. Dengan santai ia megambil brosur dan duduk di kursi yang disediakan.


 


 


Oh, sial, kenapa Jessica belum kembali juga? Pikirku sambil celingak-celinguk dengan bingung keluar booth. Pak Sony juga tidak kelihatan!


 


 


Dan aku bukan marketing yang baik, tentu…


 


 


Aku tidak tahu cara memulai. Aku tersenyum tipis, sambil duduk di kursi di depannya.


 


 


“Selamat siang," aku menyapa dan lelaki itu menoleh, tersenyum ramah.


 


 


“Siang…," balas dia, menatapku beberapa saat seperti ada yang memencet tombol ‘pause’ hingga itu menjadi cukup lama.


 


 


“Ada yang bisa dibantu?” balasku, menunggu pertanyaannya soal rate kamar dan promo-promo lainnya yang sedang kami tawarkan lewat beberapa standing banner dan spanduk di belakangku yang terpapang jelas sebuah gambar hotel bintang lima di pusat kota Jakarta.


 


 


“Oh ya…," dia segera mengembalikan tatapannya ke brosur yang sedang dia pegang. Lalu berdehem dan ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja putih yang ia kenakan. Selembar kartu nama.


 


 


Aku menerima kartu nama itu. Bastian Dewangga. Dari namanya ketahuan kalau dia bli-nya Bali. Dengan logo perusahaan bernama Skyline Tour. Ada nomor telpon di bawah namanya. Aku memandang beberapa saat sebelum wajahnya yang terus terang saja sedikit membuat deg-degan.

__ADS_1


 


 


Beberapa saat tidak ada percakapan berarti. Aku juga tidak tahu cara memulai karena ini pekerjaan Jessica. Dan dia belum juga kembali. Apa dia tidak tersangkut di satu tempat karena bertemu pria asing yang sedari kemarin sudah dia incar? Oh tidak…


 


 


“Mbak…," dia menegurku, berisyarat agar aku menyebutkan namaku.


 


 


Oh iya!


 


 


Aku segera mengulurkan tanganku. "Mohon maaf… saya Sabina," kataku dan dia segera meraihnya.


 


 


“Bastian," jawabnya dengan senyum yang menawan.


 


 


Aku mulai bingung. "Sebenarnya saya nggak terlalu paham soal jual menjual," kataku, mudah-mudahan tidak terdengar konyol. "Saya cuma menggantikan Sales yang lagi ke toilet…”


 


 


“oh ya?” dia tertawa pelan. "Kalau bukan Mbak yang berdiri di sana, saya juga belum tentu singgah”


 


 


 


 


“Ah, nggak, saya cuma bercanda…kayaknya Mbak juga suka bercanda…," kata dia segera, tawanya lebih lepas dan memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi seperti bintang iklan pasta gigi.


 


 


Aku juga ikut tertawa. Dia sok akrab, aku sok kenal. Itu sudah cukup! Supaya ini jadi tidak kelihatan aneh.


 


 


“Saya udah keliling dari tadi," katanya, menutup brosur dan menatapku. Sepertinya kami tidak akan membahas soal rate kamar dan fasilitas ruang meeting yang dijual. “Kayaknya waktu sehari penuh itu nggak cukup buat ngobrol apalagi kalau ngobrolnya sampai melantur kemana-mana”


 


 


Aku masih tertawa.


 


 


“Ya kayak sekarang ini. Saya jadi nggak suka ngomongin soal ruang meetingnya, karena semua penjelasan udah ada di brosur. Kalau Mbak yang jelasin, percuma dong cetak brosur bagus-bagus dan mahal…," kelakarnya.


 

__ADS_1


 


“Iya, benar…," balasku.


 


 


Dia terdiam sejenak, tapi masih tertawa.


 


 


Itu adalah pertemuan pertama kami yang diatur sedemikian rupa oleh Tuhan untuk memberiku satu pelajaran lagi tentang cinta dan hidup.


 


 


***


 


 


Musik jazz mengalun lembut. Banyak orang asing yang berdansa di atas pasir pinggiran pantai yang terasa romantis bagi pasangan yang dimabuk asmara. Aku memperhatikan sekitarku sambil menikmati lemonade dingin yang menyegarkan dan sesekali melirik jam tanganku. Jam sembilan malam, namun suasana baru hidup saat larut menjelang. Sehingga aku tetap duduk di sana, merasakan tiupan angin yang menghembus rambutku. Sejenak aku bisa melupakan pekerjaanku yang menunggu di Jakarta.


 


 


“Hei," seseorang menyapaku dan aku terkesima dengan sosok yang tiba-tiba hadir di depanku.


 


 


Aku bertemu dengannya tadi siang. Dan sempat tertawa dan mengobrol. Itu sebelum Jessica datang dan mereka mulai bicara serius. Hingga akhirnya Jessica mendapatkan deal yang ia tunggu dari orang ini. Sempurna.


 


 


“Hei…," aku menyahutnya sambil memperhatikannya duduk di kursi yang kosong di depanku. "Kebetulan…”


 


 


“Nggak bisa dibilang kebetulan juga, saya tadi lihat kamu keluar dari gala dinner," kata dia. "Rupanya ke sini…”


 


 


Aku tersenyum simpul. Dari berbagai macam pesta, makan malam, dan jamuan yang mewah, aku lebih memilih berada di luar –menyendiri di tengah keramaian. Mungkin aku lelah, mungkin juga bosan.  Dan aku tidak pernah minta didatangi oleh siapapun ataupun ditawari keindahan yang ia sebut dengan cinta.


 


 


Aku wanita dewasa. Usiaku 24 tahun, aku sudah jauh dewasa sejak dicampakan begitu saja tanpa apapun pada diriku. Itu membuatku sangat berhati-hati atau…tepatnya tidak pernah jatuh cinta. Aku tidak membutuhkan cinta melebihi pekerjaan, sehingga dalam tiga tahun ini berkarir sudah ada banyak nama dalam daftar pria yang kutolak mentah-mentah. Aku menyandang gelar Miss Independent atau Miss No-Commitment, dan bagiku itu bukan sindiran, tapi kenyataan.


 


 


Lelaki ini menawarkan wajah tampan dengan satu set kekayaan yang mungkin akan membuat perempuan pada umumnya terjerat dengan mudah. Lalu merasa sakit sendiri dan kecewa di kemudian hari. Aku memahami pola itu lebih dari siapapun yang menganggap bahwa aku tidak tertarik pada pria. Tapi, aku tidak siap bahkan hanya untuk memandang ke wajahnya.


 


 


Aku tertawa dan itu sudah sewajarnya kulakukan pada orang yang bersikap ramah. Dia mengajakku berkeliling di Legian, membuat liburan jadi lebih terasa dengan berjalan di pantai di bawah sinar matahari, berenang, naik banana boat dan mencoba diving. Liburan menjadi makin sempurna dengan makan malam spesial di Legian dan nonton tari kecak keesokan harinya.


 

__ADS_1


 


Sampai akhirnya aku harus pergi dan aku tidak pernah mengatakan apapun selain terima kasih yang banyak untuk semua pengalaman yang menyenangkan. Aku melambaikan tangan dan pergi begitu saja karena di awal semua terasa begitu biasa saja bagiku.


__ADS_2