Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Pengakuan Yang Di Tunggu-tunggu


__ADS_3

Kami kembali ke Jakarta dengan membawa kesedihanku akan kehilangan Bapak serta kebingungan tentang pernikahanku yang mendadak. Tak lama liburan ujian semester pun menyambut dan aku mulai tidak fokus. Rasanya sudah tidak perlu kuliah lagi karena menyandang nama Nyonya Harrish Adrian Adisuna.


Saat Ully, Metta dan Chin bertanya kenapa aku menghilang cukup lama, aku hanya menjawab bahwa ayahku meninggal dunia –tidak lebih. Mereka turut berduka cita dan marah padaku karena tidak mengabari. Teman-temanku mungkin mulai gerah dengan sifatku yang terlalu tertutup dan menyembunyikan banyak hal. Terus terang, itu membuatku mulai berpikir untuk membatasi diri dalam bergaul. Aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku sudah menikah. Seharusnya aku membagi hal itu dengan mereka tapi aku khawatir karena aku menikah dengan seseorang dari keluarga Adisuna. Menurutku itu hanya akan mempersulit keadaanku.


Harrish juga tampak masih ingin menyimpan pernikahan itu rapat-rapat dari semua orang bahkan termasuk keluarganya. Bahkan Harrish juga tidak memberitahu Evania –bayangkan. Aku mulai merasa bahwa pernikahan ini hanya untuk memenuhi tanggung jawab saja. Aku sempat berpikir kalau nanti Harrish bertemu dengan wanita lain dan benar-benar jatuh cinta, dia akan menceraikanku –aku selalu dihantui pemikiran seperti itu karena tak tahu apa yang dia lakukan di luar sana.


Tanpa kusadari aku telah menanggung beban yang tidak seharusnya ditanggung oleh gadis berusia dua puluh tahun. Bukan berarti punya uang banyak bisa memberi kebahagian –seperti yang kukira saat aku masih menjadi gadis miskin. Aku bisa mengirimi keluargaku uang yang lebih dari cukup untuk keperluan Ibu dan biaya sekolah Sekar, namun aku merasa ada sesuatu yang salah di sini. Harrish sering tidak bersamaku. Ya, dia selalu sibuk dengan pekerjaan dan pertemuan di luar kota bahkan luar negeri selama berhari-hari.


Meski pun tidak pernah marah, tapi bukan pula kebisuan seperti ini yang kuharapkan darinya. Aku butuh untuk merasakan sesuatu –bukan hanya sekedar hubungan fisik dan setelah selesai dia memberikanku punggung yang dingin.

__ADS_1


Aku pikir aku masih bisa bertahan, aku membutuhkan dirinya. Itu saja.


Tapi, apa saat dia melakukan apa yang dia inginkan di luar sana, aku bisa melakukan hal yang sama? Setidaknya untuk membuatku bahagia dengan uang yang kumiliki.


***


Ah ya, benar juga. Mana mereka tahu selama dua bulan aku tinggal di gedung setinggi 16 lantai dengan seorang suami yang tidak mempedulikanku? Harusnya aku bersenang-senang dengan teman, menikmati masa mudaku. Lagipula aku baru menjelang dua puluh tahun, tapi dia sudah menjadikanku seperti perempuan tiga puluh tahunan yang makan hati oleh sikap suaminya setelah menikah bertahun-tahun.


“Yuk!” kataku seketika menjadi bersemangat.

__ADS_1


Hidup cuma sekali. Harrish sudah mengambil setengahnya dan setengahnya lagi harus kujalani dengan caraku –mau tidak mau. Tapi, sebenarnya aku hanya terlalu merindukan dia yang terlalu tidak mempedulikanku. Aku mulai mempertanyakan apa ini caranya menjagaku? Tahukah dia menyembunyikan hal seperti ini dari orang-orang di dekatku sangat tidak mudah?


Aku banyak berbohong tentang mengapa perubahan pada diriku begitu drastis. Dimulai saat aku mengembalikan semua uang yang kupinjam dari Metta. Kebohongan pertamaku adalah mengatakan padanya bahwa aku menabung dengan rajin untuk mengembalikan semua pinjaman. Sejak Harrish membuatkan rekening tabungan atas namaku, aku bisa membeli saja apa yang kuinginkan. Baju, sepatu, dan tas baru. Bagi mereka itu sesuatu yang mengherankan –mereka tahu betul bagaimana keadaanku. Tapi, aku juga berbohong lagi dengan bilang, Evania yang membelikannya. Ketika mereka bertanya soal Evania yang tak pernah kelihatan lagi, aku sedikit bingung. Aku juga bahkan belum menanyakan soal Evania pada Harrish.


Pernah mereka berniat untuk bermain ke tempat tinggalku karena sejak aku membatalkan kosan yang mereka carikan untukku, aku tidak menjelaskan dengan detail alasannya. Aku hanya mengatakan kosan dekat kampus malah jauh dari tempat kerjaku –di binatu seseorang bernama Harrish. Mereka masih mempercayai itu namun belakangan agaknya mulai curiga padaku.


Harrish tidak pernah mengerti, aku butuh seribu kebohongan lagi hanya untuk menutupi sebuah kebohongan atas nama pernikahan yang suci. Aku terlalu takut mengakui pernikahan itu pada orang lain karena bahkan ibunya saja tidak tahu dia sudah beristri. Tidak akan terdengar lucu bila aku mengatakan telah dinikahi oleh pemilik hotel bintang 5 di Jakarta dan bertitel Adisuna. Siapa yang mau percaya karena bahkan dia tidak pernah muncul bahkan hanya untuk menjemputku ke kampus? Harrish selalu sibuk dan sering tidak pulang. Bahkan pernikahan kami belum terdaftar di catatan sipil –Ibu sangat mencemaskan ini dan setiap menelepon ia selalu menanyakannya. Sekali lagi, aku selalu tidak bisa menceritakan kegelisahanku pada Ibu karena takut mereka cemas. Aku berbohong lagi pada Ibuku bahwa Harrish sudah mengurusnya. Kami sudah mempunyai buku nikah yang resmi.


Mengapa Harrish menikahiku hanya untuk memperlakukan seperti ini? Apa karena aku tidak cantik? Tidak seperti wanita-wanita di sekelilingnya selama ini? Itu membuatku sangat putus asa. Aku tidak pernah seputus asa ini ....

__ADS_1


__ADS_2