Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Awal Bertemu Dengan Dia


__ADS_3

Aku masih ingat pertama kali aku melihatnya, bertemu berkali-kali, hingga dia melamarku secara tiba-tiba dan mencampakanku dua tahun kemudian. Aku tidak pernah marah padanya. Sama sekali. Karena juga bukan salahnya. Ini hanya tentang takdir yang mempertemukan lalu memisahkan kami untuk menjalani kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya sama seperti saat kami belum saling mengenal.


Sederhananya, aku hanya seorang gadis yang masih kuliah, berusia sembilan belas tahun, dan bekerja paruh waktu menunggui meja tamu di sebuah coffee shop bernama Castew. Aku meninggalkan kampung halaman di Surabaya dengan merantau ke Jakarta. Sama seperti gadis-gadis pada umumnya yang memiliki impian kosong tentang cinta sejati dari sosok yang sempurna seperti yang ada di film-film, aku pun juga seperti itu.


Sedangkan dia, Harrish, laki-laki kantoran dengan setelan rapi yang selalu datang untuk minum kopi dengan seorang perempuan yang sama selama hampir satu jam di pojokan yang sama pula. Dia tak pernah datang lewat dari jam satu siang. Aku pikir perempuan cantik itu adalah teman sekaligus kekasihnya, karena mereka selalu datang bersama dengan mengendarai sedan Camry. Dari digit angka yang bisa dibaca pada plat nomor Camry itu aku tahu bahwa dia bukan orang sembarangan; begitu juga dengan perempuan berambut pendek yang memiliki senyum menawan yang kelihatan ramah itu.


Mereka adalah pasangan yang serasi, karena lelaki itu adalah lelaki paling tampan yang pernah kutemui. Maklum saja, di kampung tidak ada lelaki yang terlihat begitu gagah dengan tubuh tinggi semampai dan berjas seperti dia. Di kampus pun aku hanya bertemu dengan mahasiswa setelan jeans dan kaos ditambah sepatu kets yang slengekan.


Beberapa rekan kerja ku pun sering juga memperhatikan dia; seakan juga tidak pernah bertemu seorang eksekutif muda yang tampan. Tapi, sesempurna apa pun dia dari kejauhan, semua itu jadi tidak berarti ketika aku mendekat.


Aku mengantarkan kopi pesanan dengan perasaan berdebar; karena itulah pertama kalinya aku melayani langganan tetap yang kabarnya punya selera tinggi. Satu-satunya yang membuat dia datang ke Castew adalah cita rasa kopinya yang khas dan selama ini dia belum pernah kecewa dengan racikan kopi di sini. Tapi, satu hal lagi yang semua orang tidak menyangka tentang hari itu adalah mengapa dia memuntahkan kembali kopi yang ia seruput dari cangkirnya hanya sepuluh detik dari saat aku meninggalkan mejanya.


Aku baru menyadari itu saat tiba-tiba aku mendengar suaranya yang berteriak ‘Hei, kamu!’ dengan suara keras sampai semua kepala yang ada di dalam sana menoleh kepadaku.


Jantungku menendang dadaku seakan ingin keluar dari rongganya pada saat aku kembali menghampiri dengan perasaan khawatir. Ya, dia berdiri dari kursinya, menatapku dengan wajah merah dan marah. “Ya, Pak?” aku menyahut panggilan kasar itu dengan sangat hati-hati seakan itu dapat mengubah keadaan.

__ADS_1


Tapi, aku tahu, tampaknya orang ini sebentar lagi akan menyemburku dengan umpatannya.


“Saya minta Espresso! Kenapa kopinya manis?!” dia memakiku dan perhatian orang-orang kian mengerucut pada kami.


“Udah dong, Ris ... Jangan marah-marah, kasihan,” ujar teman perempuan yang datang bersamanya.


Peraturan dasar seorang pelayan adalah dilarang berdebat dengan pelanggan.


“Kalau begitu, kopinya saya ganti aja ya?” ujarku, mencoba untuk tidak panik. Lalu aku bermaksud mengambil kopi salah racikan itu dari atas meja untuk melaporkannya pada barista agar diganti. Tapi, dia menyingkirkan cangkir itu dengan kasar dari mejanya.


“Lo kelewatan deh, Ris. Bukan salahnya dia. Tapi, yang bikin kopinya,” ujar teman perempuannya yang ikut mendamaikan. Tapi, orang ini sudah terlanjur emosional.


“Maaf, Pak Harrish. Mungkin ada miskomunikasi antara barista dan waitress-nya,” kata  manajerku.


“Gimana mungkin sih Espresso rasanya manis?!” Harrish masih terlihat kesal. Dia sudah tahu kalau bukan salahku tapi tatapannya masih tampak menyalahkanku.

__ADS_1


“Sabin, sana kamu pesankan yang baru!” kata Wito, sang manager. Dia juga ikut kesal padaku.


Ada apa dengan orang-orang hari ini? Apa mereka memang seperti itu karena beban hidup pribadi atau hanya aku sajalah yang bernasib naas?


Aku masih bisa mendengar suaranya mengumpat saat aku kembali ke barista; orang itu masih menyesalkan layanan coffee shop kepada langganan tetap. Mungkin dia tidak mengerti dibalik pelanggan merasa paling benar ada pelayan yang merasa selalu salah.


Joe, si peracik kopi hanya tertawa ketika aku menceritakanapa yang terjadi di depan. “Lo nggak bilang itu Espresso,” jelas dia santai. Kedua tangannya dengan terampil membuatkan Espresso yang baru.


Aku hanya mendengus. “Aku memang nggak bilang tapi pesanan itu tertulis di sini,” kataku memperlihatkan nota yang kubuat saat orang itu memesan. Aku ingin meyakinkan semua orang di sini bahwa itu bukanlah kesalahanku. Tapi, tampaknya satu-satunya orang yang bisa disalahkan di sini adalah aku.


“Pesanan itu mungkin tertukar dengan pelanggan lain. Mungkin lo salah ambil, Sabin,” Joe masih berkelit padahal jelas-jelas saat memberikan nota itu padanya tidak ada pelanggan lain yang juga memesan kopi. Mana mungkin tertukar sedangkan seingatku dia memanggilku beberapa menit kemudian setelah kopinya jadi?.


“Sudahlah. Memang pelanggan kadang suka aneh-aneh,” ujarnya. Joe mungkin menyadari kesalahannya akan semakin kelihatan jika kami terus berdebat. Lalu ia memberikan secangkir Espresso sesuai pesanan yang sudah jadi. “Sudah cepat antar sana, gue nggak mau ikut-ikutan dapat masalah gara-gara lo.”


Hari-hariku sekarang adalah milik orang-orang yang individualis. Melihat mereka memperlakukanku seenaknya, kadang membuatku ingin berhenti bekerja. Tapi, menyerah karena perlakuan orang itu hanya membuat diriku semakin terpuruk. Aku datang ke Jakarta dengan sejuta mimpi dan harapan. Jumlahnya terlalu banyak untuk bisa dihancurkan oleh orang-orang seperti itu. Kenapa aku harus menyerah hanya karena secangkir Espresso yang pahit?

__ADS_1


__ADS_2