
Kupikir nasibku terselamatkan saat melihat pesawat telepon di ruang tengah. Tapi, Harrish sudah melarang keras aku untuk menyentuh apa pun yang menurutnya bisa rusak karena tanganku. Aku memang gadis kampung, tidak pernah punya ponsel, tapi setidaknya aku tahu cara menggunakan telepon. Hanya saja, aku juga terlalu takut menelepon tanpa izin. Sebenarnya, aku bisa saja menggunakannya selagi Harrish tidak ada, tapi itu sama saja dengan mencuri. Aku bukan pencuri. Aku bersyukur dia masih mau memungutku, meskipun aku harus menerima sikap tidak manusiawi darinya. Tidak semestinya aku mencuri kesempatan hanya untuk bicara dengan keluargaku –itu terlalu menyedihkan untuk kulakukan. Kupikir ... itu adalah hak asasi setiap manusia yang tak mungkin dilanggar oleh Harrish sekalipun dia tak berperasaan.
Namun, aku harus menelepon Ibuku. Aku harus tahu kabar keluargaku karena sudah hampir sebulan aku belum meghubunginya. Jadi, dengan ragu-ragu, aku menghampiri Harrish yang sibuk mengutak-atik siaran TV sejak tadi. Memperhatikan mood-nya, ia tampak tak nyaman dengan kehadiranku –mungkin karena sudah terbiasa tinggal sendirian.
“Ng ... Mas Harrish ...,” aku menegur dengan hati-hati dan ia langsung menoleh.
Rautnya terlihat biasa saja.
“Sa ... saya ... boleh pakai teleponnya untuk menelepon ibu saya di kampung?” kataku, sedikit gemetaran.
“Kamu nggak punya pulsa?” tanya dia.
Aku tersenyum kecil. “Saya nggak punya HP,” jawabku dengan lugu.
Harrish tertawa –menertawaiku. “Ya sudah,” balasnya sambil kembali menghadap TV.
Aku mengangguk dan seketika menjadi bersemangat. “Makasih ...,” jawabku dan segera menuju meja telepon.
Syukurlah! Aku tidak sabar ingin segera mendengar suara Ibu dan Bapak!
Dengan cepat aku memencet nomor telepon Bu Ati –tetangga sebelah rumah yang punya telepon. Tidak lama telepon diangkat, Sardi, putranya yang menyuruhku menunggu sebentar sebelum ia segera keluar memanggilkan Ibu, Bapak dan Sekar, adik perempuanku. Tapi, yang mengambil telepon adalah Ibu.
__ADS_1
“Halo, Nak ...,” sapa Ibu dan air mataku mengucur seketika. “Kamu apa kabar toh? Pasti sudah kehabisan uang ya?”
“Ibu jangan ngomong gitu, bikin aku jadi sedih ...,” kataku, sambil menyeka air mataku. Aku ingin sekali menceritakan apa yang terjadi padaku tapi aku sedang berada di rumah Harrish. Kalau dia mendengarnya, dia pasti marah dan mengusirku.
“Maaf ya, Nak .... Ibu belum bisa ngirimi kamu uang ...,” jelas Ibu dan sudah kuduga ia merasa bersalah padaku. “Bapakmu sakitnya kambuh lagi. Kemarin habis dirawat seminggu di rumah sakit ....terpaksa uang kuliahmu harus ibu bayarkan ke rumah sakit ....”
“Nggak apa-apa, Bu. Aku kerja sambilan kok ...,” ujarku, menyimpan semua curahan hatiku sambil menyeka air mataku yang terus mengalir. Entah mengapa hatiku teriris mendengarnya. “Aku kangen Ibu, kangen Bapak, kangen Sekar, kangen rumah ... rasanya mau pulang kampung ....”
“Baru semester kemarin kamu pulang, Bin ...,” Ibu mengingatkan bahwa enam bulan pertamaku di Jakarta, aku dilanda ‘rindu rumah’ yang parah. “Harus biasa toh, Nak ....”
Aku mengangguk-angguk sambil menelan ludah, menahan nafas –karena kalau menarik nafas akan ketahuan kalau aku menangis. “Apa sakitnya Bapak parah?”
“Yah, Bapakmu sudah tua, Nak ...,” kata Ibu, lembut. Aku semakin merindukan rumah.
“Bu, aku pulang aja ...,” kataku, akhirnya terisak. “Kesehatan Bapak lebih penting dari kuliahku ....”
“Jangan ngomong gitu, Cah Ayu ...,” balas Ibu. “Sudah jadi keinginan terbesar ayahmu melihat putrinya pakai baju wisuda ....”
“Tapi, Bu ... Bapak harus menderita gara-gara aku ....”
“Bapakmu senang walaupun badannya sakit, Nak ...,” ujarnya. “Ibu juga ndak setuju kalau kamu berhenti kuliah ....”
__ADS_1
Aku semakin terisak. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku sudah tidak sanggup dengan semua kesialan yang kuterima, tapi aku tidak ingin menghancurkan harapan mereka yang berharap aku pulang dengan ijasah sarjana. Aku hanya merasa semua ini akan sia-sia. Sia-sia jika aku ... kehilangan ayahku ....
“Kamu harus kuat, Bin ...,” Ibu kembali berujar. “Sabar ya sampai pensiun Bapakmu bulan depan terima. Nanti pasti Ibu kirimkan ya, Nak ... kamu belajar yang rajin, jangan sampai ngulang semester lagi ....”
“Iya, Bu ...,”
“Ibu ndak bisa lama-lama ... Sekar pergi beli obat Bapak. Bapak sendirian di rumah. Kemarin Bapak jatuh karena kakinya ndak bisa gerak ....”
“Iya, Bu .... Salam buat Bapak, Sekar. Kalau aku ada rezeki dari kerja sambilan, nanti libur semester aku pulang ....”
“Ya, Cah Ayu Ibu .... Jangan sampai sakit karena kelelahan kerja ya, Nak. Bapak, Ibu, Sekar, sayang kamu, Sabin ....”
Aku menutup teleponnya dan melepaskan semua isakan tangisku. Aku tidak peduli di mana pun aku berada, karena setiap merindukan keluargaku rasa sakitnya sama saja. Bahkan saat aku tahu bahwa Harrish berdiri di belakangku –dan sepertinya sudah lama di sana, aku masih tidak dapat menghentikan air mataku. Kurasa Harrish mendengar semuanya –tentu saja isak dan tangis sekeras itu mengalihkan perhatiannya. Aku tertunduk, berusaha mengendalikan kesedihanku dan menghapus air mataku.
“Memang sudah berapa tunggakan uang kuliah kamu?” tanya Harrish tiba-tiba padaku saat aku ingin pergi.
Aku tidak langsung menjawab. Kenapa Harrish menanyakannya?
Walaupun tahu aku belum bisa melunasi dalam waktu dekat, membiarkan Harrish mengasihaniku lagi, itu tidak ada dalam daftarku. Aku tidak ingin berhutang budi pada orang lain –apalagi pada orang seperti Harrish.
Aku menggeleng. “Aku hanya nungguin kiriman untuk sewa kosan baru. ‘Kan nggak mungkin aku tinggal di sini terus ...,” jelasku.
__ADS_1
“Oh,” hanya itu reaksi dari Harrish yang hanya mengangguk sekenanya lalu kembali ke depan TV. Lalu kami tidak bicara lagi.
Apa yang kuharapkan? Bantuan uang dari Harrish untuk semua masalah keuangan yang kualami? Mendengarnya berhenti menghinaku saja sudah lebih dari cukup ....