
Aku terbangun dari tidur yang gelisah –bahkan itu tidak bisa disebut dengan tidur, setelah berhari-hari yang kuhabiskan sampai ia membuka matanya. Hampir sebulan lamanya Harrish koma. Perban putih membalut kepalanya yang cedera. Dokter bilang tengkoraknya retak dan harus di operasi. Tapi, setelah di operasi pun ia masih belum bangun dari tidurnya.
Seperti yang aku tahu selama ini, pendarahan di otak bisa berakibat fatal. Kehilangan penglihatan, menjadi emosional atau dungu, dan juga…kehilangan ingatan. Yang terburuk dari semua itu sudah pasti adalah hilang ingatan. Sedihnya, itulah yang terjadi padanya. Hilang ingatan secara permanen.
Genap 40 hari, Harrish ‘mati suri’. Dengan perjuangan yang berat, akhirnya ia membuka mata secara tiba-tiba dan nama yang ia panggil seketika adalah ‘Papa…’. Aku mengerti, kenapa ia memanggil ayahnya yang sudah meninggal dunia itu. Mungkin saja mereka bertemu di alam bawah sadar Harrish saat ia masih koma. Semasa hidupnya, ada banyak kenangan yang tak terlupakan dalam benak Harrish mungkin hingga saat ini.
“Harrish…”, Ibu Widya, mertuaku, segera menggenggam tangannya, “Kamu sudah sadar, Nak?”
“Ma…aku kenapa…?”, tanya dia, memandangi ibunya dan suaranya terdengar masih kesakitan, “Kenapa…badanku nggak bisa gerak?”
“Kamu sakit, Nak…”, ujar Ibu Widya sambil membelai-belai rambutnya, menenangkan Harrish yang tampak takut.
Ya, itu pertama kalinya aku melihat Harrish seperti anak kecil yang ketakutan terhadap sesuatu. Aku berdiri di belakang ibunya, untuk melihat dari dekat, untuk menyapanya dan kalau bisa aku ingin langsung memeluknya.
“Mas Harrish…”, hanya itu yang bisa aku katakan padahal ada banyak sekali rasa di dalam hatiku yang bahagia, terlalu bahagia sebelum kusadari ada yang aneh dengannya.
Harrish menatapku asing. Dia memandangku –bukan seperti seharusnya di mana ia menyebutkan namaku.
“Ma… siapa perempuan ini?”, ia bertanya dengan heran pada ibunya yang seketika menoleh ke belakang, ke arahku.
Ibunya tentu juga heran. Lalu kembali menatap putranya. “Kamu nggak ingat?”, tanya dia.
Dengan pelan, Harrish menggerakan kepalanya yang masih dibalut perban putih. Ia menggeleng, sambil terus menatapku.
Ibu Widya menoleh padaku dengan tatapan peringatan. Jika selama ini dia selalu mencari cara untuk menyingkirkanku, dia sudah mendapatkannya. Dia melarangku mengatakan sesuatu yang tersangkut di ujung lidahku karena tatapannya itu!
Aku tertegun.
“Mas Harrish, aku istri kamu…”, kataku akhirnya, walaupun dengan ekspresi yang kacau balau.
__ADS_1
Harrish tampak syok! “Istri?”, ia melirik ibunya yang tampak tak punya jawaban, “Kapan Harrish menikah, Ma?”
“Kamu jangan banyak pikiran dulu ya?”, ujar sang ibu akhirnya. Tampak tak ingin menjawabnya, lebih-lebih masih ada aku. Sekali lagi ia menoleh padaku, “Tolong panggilkan dokter”, pintanya kepada seorang perawat yang berdiri tidak jauh dari kami.
Tanpa mengatakan apapun, aku pergi. Aku tidak akan bisa bersikeras. Lagipula, kenapa ia harus hilang ingatan? Kenapa harus dia yang menerima semua ini? Dan kenapa… ini harus terjadi padaku?
***
Ibu Widya menghela nafas, menatapku iba dan sedikit rasa bersalah di wajahnya yang sudah tidak dipasangi make up lagi. Aku mengerti siapapun saat ini yang dekat dengannya bahkan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak. Seperti itu pula ibunya –terlebih.
“Dengar, Sabina, saya nggak membenci kamu walaupun saya nggak merestui pernikahan kamu dengan anak saya”, kata dia, tampak berat mengatakannya namun masih terasa pedih bagiku. “Tapi, kamu dengar sendiri apa yang dokter bilang kan?”
Aku diam.
Aku tidak mengerti.
Sama sekali.
Apa ini caranya menghukumku?
“Karena itu biarkan Harrish pulang ke rumahnya…”, kata dia, “Dia harus pulang, Sabina…”
Oh ya? Sekarang semuanya jadi salahku. Seolah-olah akulah yang tidak mengizinkannya pulang ke rumah. Padahal, jauh sebelum bertemu dengankulah Harrish tidak pernah ingin pulang. Kenapa Ibu Widya seolah-olah juga lupa ingatan bahwa kepergian Harrish karena dirinya –karena sebagian besar adalah salahnya. Dan aku bukannya tidak pernah tahu itu.
“Kamu mencintai dia kan?”, tanya Ibu Widya tiba-tiba.
__ADS_1
Aku mengangguk.
“Kalau gitu lakukan sesuatu”, kata dia sesuatu yang dia maksud tidak berarti banyak bagiku. Yaitu hanyalah sebuah pemaksaan.
“Saya nggak bisa, Bu…”, kataku, “Saya istrinya, saya yang akan merawat Harrish walaupun dia nggak percaya bahwa dia sudah menikahi saya. Dan saya nggak akan memaksa Harrish untuk ingat. Saya hanya ingin mendampingi dia, karena itulah yang harus dilakukan seorang istri sama suaminya. Sama seperti ibu dengan Papa-nya Harrish kan?”
Ibu Widya terdiam. Setelah itu, ia tidak pernah lagi memaksaku menyerah.
***
Harrish menatapi sekelilingnya asing. Seperti tersesat di suatu tempat yang tidak ia kenali sama sekali. Padahal, ia berada di tengah-tengah rumah kami.
Aku baru menaruh kopernya di tengah ruangan, lalu menghampirinya. “Nanti Mas Harrish juga terbiasa kok…”, ujarku, sambil menggamit lengannya bermaksud untuk mengajaknya berkeliling. Dia pasti tidak bisa mengingat di mana kamar tidur, dapur atau kantornya sendiri. Tapi, dia menepiskan tanganku.
“Aku mau istirahat”, kata dia padaku, datar dan kedua matanya tampak menolak untuk memandang wajahku.
Aku berdehem, membersihkan tenggorokanku yang rasanya tersumbat sesuatu, “Aku antar ya…”, kataku. Hanya untuk menghilangan perasaan terlukaku setiap memperhatikan sikapnya.
“Nggak, nggak usah, tinggal bilang aja di mana tempatnya”, balasnya, masih sedingin salju.
Aku mengangguk, memasang senyum tabah di bibirku yang gemetaran, “Gampang kok, tinggal naik tangga terus belok ke kiri, kamarnya ada di sebelah kanan pintu nomor dua”
Dia mengangguk-angguk. Masih tampak tidak percaya bahwa rumah ini adalah rumahnya sendiri. Lalu ia raih tasnya, dan berjalan sendirian, menaiki tangga dan mengikuti arah sesuai petunjukku. Lalu aku?
Entah untuk yang ke berapa kalinya, aku pergi ke tempat yang sunyi untuk menangis. Menahan nafasku dengan membekap mulutku sendiri. Meneteskan semua air mata yang kupunya lalu mengumpulkannya lagi untuk menangis di keesokan hari.
Sejak pulang ke rumah, kami tidak pernah membicarakan masa lalu lagi. Dia tampak tidak menyukainya, karena menurutnya aku memaksa agar ia mengingatnya. Padahal tidak, aku hanya ingin merasa lebih baik, tapi sepertinya itu juga egois. Karena kenyataannya dia tidak akan pernah bisa ingat. Kata dokter satu-satunya yang harus kulakukan adalah mendampinginya, memberinya perhatian yang cukup untuk kembali menumbuhkan cintanya. Karena sesungguhnya, bibit itu masih ada, hanya saja terkubur sangat dalam di hatinya.
Ibarat biji yang tertimbun di tanah, jika ia terus disiram dan dipupuk ia akan tumbuh hinga menembus tanah. Seperti itu pula cinta Harrish akhirnya. Karena kami menikah karena cinta –ataukah aku keliru?
__ADS_1