Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Ketika Semua Harus Terjadi


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


 


 


“Hei, lihat tuh!”


 


 


Dari kejauhan aku bisa mendengar sekelompok gadis saling berbisik saat seorang wanita cantik memasuki kafetaria dan ia melenggok dengan anggunnya. Aku yakin setiap jenis barang yang dipakai Jessica –wanita itu, pastilah membuat mereka iri. Memang, Jessica adalah sosok perempuan yang tidak pernah mengenakan barang murahan di tubuhnya. Mulai dari sepatu, baju, tas, handphone dan tentu model rambut yang selalu gonta-ganti. Kehidupannya yang glamor bagai Paris Hilton memang membuat banyak orang iri atau mungkin bertanya-tanya dari mana dia mendapatkannya.


 


 


Jessica Dimilia hanyalah seorang Sales Manager dan semua orang tahu berapa gajinya –yang juga semua orang tahu tidak cukup membeli sebuah tas Hermes kulit buaya yang harganya ratusan juta. Dan Bayangkan Jessica punya lebih dari tiga –khusus untuk merek Hermes dan belum lagi untuk merek yang lainnya. Dia memakai jenis tas berbeda-beda setiap ke kantor lima hari dalam seminggu. A life that all the girls want –kecuali aku.


 


 


Harus aku akui, aku tahu harga setiap barang yang Jessica pakai itu dan di mana membelinya. Aku yang memesankannya dan akulah yang membayarkannya.


 


 


“Selamat siang, Honey….,” Jessica menghampiriku dengan bibirnya yang sengaja dimonyongkan manja dan aku hanya mendengus.


 


 


Aku ingin makan siang dengan damai tanpa tatapan dari segala penjuru. Tapi, perempuan itu tidak peduli. “Ngapain lo di sini?” cetusku. “Lo ‘kan nggak level makan di kafetaria.” Kupikir itu cukup untuk membuatnya tidak duduk di meja yang sama denganku –walau kenyataannya aku memang duduk sendirian menikmati sup ayam dan nasiku.


 


 


“Siang-siang lo udah serem banget sama gue, Bin…,” wajahnya berubah cemberut seperti gadis manja yang ingin minta dibelikan tas mahal pada kekasihnya. Dan Jessica memang seperti itu setiap dia meminta kepada Sendra.


 


 


Sambil mengibaskan rambut pirang panjangnya, dia mengambil ancang-ancang untuk mengatakan sesuatu yang kelihatannya penting –Jessica bahkan sampai keluar dari ruangannya yang nyaman dan dipenuhi bunga-bunga dan datang ke ruangan panas dengan langit-langit yang rendah ini. Mulai dengan tatapan meyakinkan seakan itu berita bagus, dia mendongak ke arahku dengan gaya menggoda dan dia membuatku menjadi tidak sabaran.


 


 


Aku harus kembali ke ruangan karena bosku ada rapat penting jam dua. Aku harus hadir lebih dulu di sana sebelum dia. Tapi, Jessica masih tampak bertele-tele dan sengaja membuatku penasaran.


 


 


“Apa sih? Lo senyum-senyum nggak jelas sama gue! Geli tau?!” celetukku sambil memakan suapan terakhir supku.


 


 


“Lo nggak tahu sih, gue mau ngasih lo tiket liburan ke Bali …,” kata dia dengan santainya sambil menyeringai selagi aku hampir memuntahkan supku dari mulut saking kagetnya.


 


 


“Seriusan lo?!” semburku.


 


 


“Ya iya dong, Sabina. Gue, gitu …,” kata dia membanggakan diri sambil mengibaskan rambutnya. “Lagian kita udah rencanain ini dari lama dan sayangnya lo nggak pernah punya waktu belakangan ini karena sibuk kerja. Plus karena kegalauan lo yang udah akut itu, Honey ….”


 


 


“Sialan lo …,” gerutuku tiba-tiba menjadi sebal.


 


 


Jessica menarik nafas. “Lo butuh jeda, that’s it …,”


 


 


“Lo ‘kan tau bos gue …,” aku masih menggerut dengan sebal lalu berdiri diikuti oleh Jessica. “Dia selalu bikin gue sibuk! Ngurusin surat-surat, juga ngurusin lo.”


 


 


Kami berjalan keluar dari kafetaria dan mengabaikan tatapan itu. Aku sudah terbiasa dengan semua itu karena Jessica dan aku ‘berteman’.


 


 


“Bos lo itu mah urusan kecil buat gue …,” kata dia lagi menyombongkan diri. Kembali dengan gaya sok anggunnya itu ia menunjukan tatapan rayuan itu padaku sembari menunggu di depan lift.


 


 


“Terserah lo!” balasku dan langsung masuk begitu pintu lift terbuka. Kami terpaksa berhenti mengobrol karena ada karyawan lain di dalam lift tapi aku tidak bisa menahan tawa saat kami mengambil posisi paling belakang di dalam lift dan Jessica mulai bergaya centil lengkap dengan mimic dan ekspresi menggodanya.


 


 


Seorang perempuan menoleh ke belakang dan Jessica mematung, begitu tak ada yang melihat temanku yang gila itu menempeli dinding bersikap seolah-olah dia sedang bersama lelaki yang ingin dia goda. Dia sengaja memperlihatkannya padaku karena dia memang gila.


 


 


Kami turun paling terakhir karena kantor kami berada di lantai paling atas. Dan seperti dugaanku, bosku sudah berada di ruangannya karena kami punya rapat penting kurang dari sepuluh menit lagi.


 


 


Kupikir dia akan bertanya ‘What takes you so long?’


 


 


Tapi, dia menyunggingkan senyumnya karena menemukan Jessica lebih dulu daripadaku. Aku bahkan tidak sempat bertanya apakah dia ingin langsung ke ruang rapat karena Jessica menghampirinya dengan cepat.


 


 


“Baby …,” begitulah sapaan Jessica pada bosku. Bila padaku Jessica memanggil ‘honey’ dengan pelukan manja, maka dengan bosku –Sendra, yang notabene adalah ‘kekasih’-nya, ia menyertainya dengan ‘ciuman-seakan-dunia-ini-milik-berdua’.


 


 


Tapi, aku sudah terbiasa. Aku sudah sangat terbiasa dengan mereka.


 


 


“Lima menit lagi,” aku mengingatkan Sendra agar dia tidak meladeni Jessica terlebih dahulu.


 


 


Karena ini pertemuan dengan orang penting, aku tidak ingin maju sendirian di rapat hanya karena Sendra tidak bisa menolak godaan Jessica yang selalu bergairah terhadapnya.


 


 


Jessica terlihat gusar padaku saat Sendra melepas pelukannya.


 


 


Tanpa bicara Sendra, merapikan jasnya dan bergerak keluar ruangan. Aku mencibir Jessica sebelum mengikuti langkah bosku.


 


 


Kami memang kombinasi yang aneh –antara seorang sekretaris yang mempunyai seorang bos yang playboy dan bersahabat dengan ‘selingkuhan’ bosnya sendiri. Kami sama-sama memiliki sejarah yang panjang untuk diceritakan. Tapi kisahku adalah yang paling rumit dari semuanya. Aku tahu banyak hal yang mungkin akan menyeretku ke dalam masalah suatu hari nanti.

__ADS_1


 


 


Aku hanya tersenyum kecut sebelum memasuki ruangan dan rekan bisnis Sendra sudah menunggu di dalam. Mereka akan membuat kesepakatan yang mungkin akan merubah masa depan hotel ini, juga masa depanku. Sebelumnya aku dan Sendra sudah pernah membicarakannya tapi Sendra masih menunggu saat yang paling tepat untuk mengambil tindakan.


 


 


Aku tidak pernah tahu keinginan besar untuk menghancurkan seseorang semakin menjadi-jadi di saat kita punya kesempatan untuk itu. Sendra berada di dalam keinginan itu sejak lama dan masalah pelik dalam hidupnya membawanya dalam kebencian yang sangat-sangat luar biasa.


 


 


Sendra melirikku sejenak sebelum dia duduk dan menyapa semua orang. Aku dan Sendra memiliki sebuah ‘koneksi’ yang bahkan Jessica tidak pernah tahu itu. Jessica tidak pernah tahu seberapa besar keinginan Sendra untuk menghancurkan seseorang yang dulu amat penting bagiku. Jangan bertanya mengapa aku membiarkannya, aku hanya … merasa bahwa itu bukan urusanku. Aku bekerja untuk Sendra dan aku dibayar untuk menyelesaikan pekerjaanku. Walaupun aku tahu, bosku lebih dari sekedar ******** yang dicintai mati-matian oleh temanku yang tak ingin menikah karena dirinya.


 


 


Aku tidak memiliki sesuatu atau seseorang untuk diperjuangkan, karena pada dasarnya aku tidak mempunyai apa-apa jika itu di luar pekerjaan dan materi. Tapi, terkadang sesaat saja aku ingin berhenti memikirkannya. Masa lalu yang buruk, cinta yang menyakitkan dan kenangan yang belum luput dari ingatanku. Aku malah merindukan diriku yang miskin. Seorang gadis yang berusaha mati-matian mengejar cita-cita keliling dunia dan tinggal di Bali, lalu menikah dengan orang yang kucintai. Semua itu buyar dan menghilang seperti debu. Yang tersisa dariku hanyalah kehampaan. Entah dari mana aku memulainya, semua ini tidak akan terjadi kalau saja aku … tidak memberikan hatiku padanya.


 


 


Aku bahkan tidak pernah jatuh cinta lagi. Aku tidak membiarkan siapa pun mendekatiku. Aku bahkan tidak bisa mempercayai siapa pun –termasuk Jessica. Aku juga tidak mempercayai Sendra. Sebagai seorang perempuan pun, aku bahkan kehilangan keinginan untuk memberitahu istri Sendra bahwa suaminya berselingkuh. Semua barang yang dimiliki Jessica adalah pemberian Sendra dan aku yang membelikannya. Aku tahu perempuan lain selain Jessica yang mengelilingi Sendra. Aku membiarkannya karena bukan urusanku.


 


 


Dia sudah menikah lagi dan bahagia. Aku bahkan datang ke pernikahannya dan mengucapkan selamat. Aku memang naif, dan kenaifan itulah membuatku tidak bisa lepas. Bahkan sampai detik ini.


 


 


Apa yang terburuk dari tidak mempercayai apa pun?


 


 


Kehilangan segalanya.


 


 


***


 


 


Kami dalam perjalanan menuju tempat yang paling menyenangkan, namun entah mengapa Jessica yang suka travelling dan liburan menjadi begitu lesu saat kami terbang dari Jakarta menuju Denpasar. Padahal sejak awal dia tahu bahwa dia tidak akan bisa mengajak Sendra –laki-laki berusia 37 tahun itu sudah beristri. Kupikir dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa apa yang dimiliki Sendra bukanlah miliknya sendiri melainkan keluarga istrinya yang konglomerat. Tapi, kali ini dia benar-benar patah hati.


 


 


“Gue ****** ya, Bin…,” dia kembali mengajakku bicara setelah kami selesai bicara tentang rencana Sendra yang ingin menjual hotel yang dia kelola. “Padahal gue tahu banget kalau Sendra menjual hotel karena ingin pindah ke Prancis dan tinggal sama wanita itu.”


 


 


Jessica memang temanku. Tapi, aku tidak suka setiap itu menyebut Shanty dengan istilah ‘wanita itu’. Bagaimana pun Shanty istrinya Sendra dan semua milik Sendra adalah kepunyaan Shanty Adisuna. Jessica menikmati semua itu dengan mengenyampingkan kenyataan bahwa apa pun yang terjadi Sendra akan tetap kembali pada istrinya yang sakit-sakitan. Jessica selalu berharap Shanty meninggal dalam tidurnya sehingga Sendra menjadi miliknya seutuhnya. Tapi, aku tahu Sendra. Dia hanya mencintai istrinya dan perempuan lain dalam hidupnya hanyalah mainan –termasuk Jessica yang beberapa kali harus menggugurkan kehamilannya karena Sendra tidak menginginkannya.


 


 


Sendra adalah pria yang sangat berhati-hati dalam bertindak. Dia mempelajari itu dengan baik dari keluarga Adisuna yang tidak toleran. Sendra berusaha bertahan dalam keluarga di mana dia terlihat seperti tikus got yang kotor dan dianggap tengah membuat lubang yang suatu saat akan meruntuhkan rumah. Sendra berhasil mengatasi tekanan dari mereka sampai detik ini dan tidak seperti diriku yang tersingkir dengan naas dari keluarga itu.


 


 


Jessica Dimilia tidak tahu itu. Dia hanya ingin memiliki Sendra apapun yang terjadi. Tapi, Sendra memintaku untuk menghentikannya sebelum Jessica berani menemui Shanty dan membeberkan perselingkuhan mereka. Sendra membayar mahal aku untuk menangani Jessica setiap kali dia merajuk. Namun, ketika mereka bertengkar karena Sendra tak juga memberinya kepastian, Jessica selalu mundur karena seringkali diancam akan ditinggalkan. Semua barang yang dibelikan Sendra hanyalah agar dia tidak berurusan terlalu banyak dengan Jessica. Tapi, belakangan Jessica tampak sudah tidak menginginkan barang-barang itu lagi. Keinginan terbesarnya adalah memiliki Sendra.


 


 


Itulah yang aku khawatirkan. Kalau saja Jessica akhirnya nekat, ‘bom waktu’ akan meledak. Aku tahu aku akan terseret kembali ke dalam pusaran itu.


 


 


 


 


 ***


 


 


Aku menatap diriku di hadapan cermin sambil memandangi rambutku yang menurutku sudah panjang lagi.


 


 


“Kayaknya gue harus potong rambut lagi deh,” kataku padanya selagi Jessica sibuk tiduran sambil mengutak-atik smartphone-nya. Dia mungkin menunggu sepucuk pesan dari Sendra.


 


 


Jessica bangkit dari ranjangnya. “Kenapa nggak dibotakin aja sekalian?” celetuk dia. “Rambut lo itu cuma seujung kuku, panjang apanya?”


 


 


Aku memandangi rambutku sekali lagi. Aku tidak pernah memiliki rambut yang panjangnya hingga ke leher. Aku tidak menyukai rambut panjang beberapa tahun ini. Aku sangat nyaman dengan rambut super pendek karena lebih rapi dan mudah diatur. Tapi, menurut Jessica aku terlalu paranoid dengan rambut panjang.


 


 


“Penampilan lo sih oke. Tapi, sekali-sekali coba panjangin rambut kek. Hair-extension kek…” dia mulai cerewet lagi seperti biasanya.


 


 


“Gue pernah punya rambut panjang,” kataku teringat bahwa aku dulunya tidak seperti ini –tidak berkaca mata dan bermuka serius. Aku gadis yang penuh semangat dan manis –tidak pesimis dan pahit seperti ini. Itulah kenapa terkadang aku sedikit merindukan masa lalu –masa lalu sebelum bertemu Harrish.


 


 


Jessica tampak berpikir lalu berdiri dan menghampiriku. “Gue tahu, lo pasti trauma sama rambut panjang kan?” tebak dia setengah berteriak di belakang telingaku. “Pasti gara-gara mantan yang pernah bilang lo cantik dengan rambut panjang, terus setelah bubaran lo merasa sakit hati. Ya ‘kan? Ya ‘kan?”


 


 


“Sembarangan lo!” celetukku sambil menjauh dari kaca dan menghempaskan pantatku di atas tempat tidur.


 


 


Jessica tertawa terbahak-bahak. Aku mencoba mengingkari bahwa tebakannya benar. Sangat-sangat benar. Tidak hanya rambut, banyak hal yang tidak lagi kulakukan sejak perpisahan itu.


 


 


Dulunya aku suka menulis diari. Aku menulis hal-hal kecil dalam buku catatan baik yang menyenangkan atau pun menyedihkan. Tapi, sejak kepedihan lebih mendominasi kisahku aku berhenti menulis. Aku ingin melupakan hal-hal menyakitkan yang kualami. Menuliskannya sama saja dengan mengingatkanku di kemudian hari. Aku mulai berpikir bahwa menulis diary hanya untuk gadis cengeng dan aku tidak mau meneteskan air mata di atas kertas setiap aku menuliskan kisahku.


 


 


Aku juga mengurangi sifat malasku dan berusaha untuk tetap sibuk agar tidak mengigat masa lalu. Karena bekerja di tempat yang menuntut penampilan, aku berhenti mengemil dan mengurangi berat badan. Aku yang tak suka berdandan akhirnya menjadi perempuan kantoran yang tak bisa lepas dari make up. Banyak hal yang berubah dari diriku. Mungkin jika Harrish bertemu denganku, dia tidak akan mengenaliku lagi.


 


 


Ah, tapi, kenapa aku jadi memikirkannya?


 


 


“Kita ke klub, yuk? Gue bosen nih!” ajak Jessica tiba-tiba.


 


 

__ADS_1


Aku langsung setuju dan segera bersiap pergi ke klub yang ada di hotel tempat kami menginap.


 


 


Selama masih tidak ada yang bisa kulakukan di sini, aku tidak pernah menolak musik, rokok dan minuman keras. Ya, itulah perbedaan yang mencolok dari Sabina yang dulu dengan Sabina yang sekarang. Jika Harrish melihat diriku yang sekarang, dia pasti tidak akan merasa menyesal karena tidak memilihku. Ah, ya, dia memang tidak pernah mencintaiku. Tidak peduli apapun yang aku lakukan, dia tetap seperti itu. Tidak mudah tergoyahkan. Dia seperti baja yang solid dibalut dengan kharisma flamboyan serta keangkuhan yang membuatnya tak tersentuh.


 


 


Sekarang dia sudah hidup bahagia dan memiliki seorang anak –paling tidak itulah kabar terakhir yang kudengar dari orang-orang tentangnya.


 


 


***


 


 


Bali mempunyai kenangan tersendiri bahkan jauh sebelum aku akhirnya mampu menginjakan kaki berkali-kali di sini. Mereka bilang Bali adalah surga dunia dengan pantai yang indah dan eksotis. Tak heran, sewaktu masih jadi mahasiswa di Fakultas Perhotelan, aku begitu memimpikan untuk bisa bekerja di sini. Aku ingat Harrish pernah bertanya, apa yang paling kuinginkan jika aku mempunyai cukup uang selain dari membiayai kuliahku. Dengan lugu, aku menjawab ‘Bali’. Dan dia berjanji akan mengajakku pergi. Tapi, janji itu tak pernah ditepati.


 


 


Akhirnya aku berhasil menginjakan kaki di Bali seorang diri, tiga tahun yang lalu. Meski begitu Bali tetaplah pulau yang selalu kurindukan karena itu aku selalu kembali. Hanya untuk menyaksikan matahari terbenam dan berjalan di pantai sendirian, menikmati tiupan angin senja. Aku pernah mengatakan pada Sendra bahwa aku ingin menetap di sini setelah kontrak kerjaku habis.


 


 


Handphone-ku berbunyi saat aku baru saja menyulut sebatang rokok yang baru kuraih dari dalam tas. Kulihat nama bosku muncul di layar. Aku pun memperhatikan kanan kiriku –memastikan Jessica sudah terjun ke kolam renang dan tidak akan mendengarku.


 


 


“Bagaimana?” Tanya dia begitu aku mengangkat teleponnya.


 


 


“Aku nggak tahu apa ini cukup bisa menahannya,” jawabku sambil beranjak dari kursiku dan menjauh dari kolam renang di mana Jessica sedang berendam.


 


 


“Tinggal saja di sana,” kata Sendra. “Bukannya kamu mau menetap di Bali?”


 


 


“Maksudnya?”


 


 


“Aku dan investor itu sudah sepakat tentang jual beli tapi masih ada sedikit masalah,” jelas Sendra. Aku mendengar suara-suara lain yang menyertai suaranya. Sepertinya dia sedang berada di luar.


 


 


Aku menarik nafas. “Harrish?” tanyaku.


 


 


“Justru karena itu. Jangan kembali ke Jakarta,”


 


 


“Lalu Jessica?” balasku.


 


 


“Bereskan dia,”


 


 


“Itu nggak semudah yang kamu pikir …,”


 


 


“Itu perintah, Sabina!” tegas Sendra dan membuatku terhenyak. “Tidak ada gunanya terlibat secara emosional dengan orang lain. Aku menyelamatkan kamu karena kita pernah memiliki perjanjian.”


 


 


“Perjanjian apa? Kalau kamu bicara hal-hal di luar kontrak kerjaku, itu nggak masuk akal, Ron. Itu dendam kamu, bukan aku ….”


 


 


“Kita nggak sedang membicarakan masalah di luar dari kontrak kerja, Sabina. Aku membayar kamu sangat mahal untuk mengurusi perempuan-perempuan semacam itu. Aku dan Shanty akan pindah ke Paris. Kamu pikir aku akan tetap mengurusi ******* itu?”


 


 


“Itu nggak adil,”


 


 


“Tapi, itu sangat adil buat kamu. Kalau kamu kembali, kamu akan bertemu dengan dia lagi. Apa yang bisa dilakukan seorang Harrish terhadap kamu setelah dia tahu apa yang kamu lakukan selama ini?”


 


 


“Memangnya apa yang aku lakukan? Aku bekerja dan nggak pernah meminta uang sepersen pun dari dia. Aku nggak mencuri apa-apa dari dia. Apa kamu nggak bisa membedakan aku bekerja menjalankan perintah atau sengaja muncul untuk mengganggunya? Itu nggak ada hubungannya dengan Harrish!”


 


 


“Harrish nggak akan mau tahu itu. Kamu mengerti, Sabina? Tetaplah di sana sampai aku menyelesaikan kesepakatan dan The Emperor sialan itu akan terjual untuk melunasi hutang perusahaan. Kamu perlu untuk menjauhkan diri dan awasi perempuan itu. Kalau kamu nggak bisa mengatasinya aku akan mengirim orang untuk menghabisinya.”


 


 


“Apa kamu gila?”


 


 


Kenapa semuanya jadi seperti ini?


 


 


 “Lo teleponan sama Sendra?” tiba-tiba Jessica sudah berdiri di belakangku. Aku sempat terkejut. Kali ini aku tidak yakin aku masih bisa menyembunyikannya. “Dia bilang apa?” Jessica mulai tampak berharap. “Gue coba telepon dia tapi nggak aktif. SMS juga nggak dibalas. Apa … apa dia nanyain gue?”


 


 


Aku menggeleng dengan berat hati. “Jessica, gue …”


 


 


“Ada apa sebenarnya? Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang kalian bicarakan? Apa yang pernah terjadi?” Jessica semakin meracau. “Dendam apa yang kalian bicarakan? Apa hubungan lo sama Harrish?”


 


 


Aku sempat tertunduk beberapa saat. Aku mungkin belum pernah membahasnya dengan siapa pun. Bahkan dengan Sendra. Tanpa menceritakannya pun Sendra sudah memahaminya tanpa perlu bertanya. Karena kami pernah mempunyai posisi yang sama di keluarga Adisuna –orang luar. Aku tersingkir dengan mudahnya tanpa perlawanan. Sedangkan Sendra dia berusaha untuk mengambil apa yang dia bisa.


 


 


Aku bisa saja menetap di Bali tapi itu akan membuatku seperti seorang buronan. Harrish pasti akan mencariku karena berpikir aku bersekongkol dengan Sendra dan tidak akan pernah mengampuniku. Tapi, selalu ada harga yang dibayar untuk mobil, apartemen, dan melihat Sekar akhirnya duduk di bangku kuliah. Aku tak punya pilihan selain harus menghadapi Harrish sebagai bosku yang baru.

__ADS_1


__ADS_2