Cinta Yang Berawal Dari Benci

Cinta Yang Berawal Dari Benci
Tidak Ada Kembali


__ADS_3

Sial, aku berjanji pada adikku pagi ini pergi ke tempat orang tua almarhum ayahku. Sesuai rencana dari kemarin kami akan berangkat ke sana jam enam pagi dengan bus. Tapi, sekarang aku tidak percaya, aku baru membuka mataku tepat jam delapan!


 


 


Begitu keluar kamar, Sekar sudah menyambutku dengan muka masam. Rencana kami gagal total.


 


 


“Aku udah bangunin dari tadi tapi nggak bangun-bangun…," Sekar terdengar menggerutu dari ruang tengah.


 


 


Aku menguap. Kepalaku sakit dan sekujur tubuhku seperti baru saja berguling di tangga. Semua persendianku pegal. Entah kenapa, bangun pagi ini terasa tidak enak. Aku menggeliat, berniat ingin kembali ke kamar dan tidur lagi. tapi, aku lupa sesuatu.


 


 


Harrish!


 


 


Aku melihat dia di ruang depan bersama ibu dan sepertinya sedang mengobrol.


 


 


Aku pikir kedatangannya hanya mimpi. Tapi, dia benar-benar ada di rumahku.


 


 


“Ya ampun, Bin, kamu…," ibu geleng-geleng kepala, menemukanku menghampiri mereka.


 


 


Aku sadar, penampilanku pasti sangat berantakan sampai Harrish tampak menahan tawa.


 


 


Aku sudah berhasil mempertahankan sikap tenangku selama ini setiap di depannya. Dan sekarang, aku terlihat sangat konyol! Ketika aku melihat diriku ke kaca, aku baru sadar bahwa rambutku sangat kusut dan wajahku kusam! Seberapa cantik orang cantik ketika baru bangun tidur?


 


 


Aaargh!, aku menjerit sambil mengacak-acak rambutku sendiri, sampai aku benar-benar terlihat mengerikan!


 


 


Apa salahku, Harrish Adrian Adisuna?


 


 


***


 


 


Aku tidak pernah peduli pada apa yang kupakai di wajahku –sejak pulang ke rumah. Hidupku juga mulai tidak teratur. Bangun siang, ikut-ikutan Sekar makan mie instan, dan tentu saja malas-malasan seharian . Apa yang kulakukan tercermin pada penampilanku yang lusuh. Aku lebih sering menguncir rambut daripada membiarkannya tergerai –bahkan walaupun rambutku hanya di atas bahu. Mengenakan kaos longgar dan celana selutut ke mana pun pergi, lengkap dengan kaca mata yang membuat gayaku makin tidak menarik –bahkan sampai ke mall.


 


 


Aku tidak pernah peduli tidak ada seorang pun yang melirikku. Aku lebih menyukai diriku yang seperti ini. Santai dan nyaman.


 


 


Tapi, sekarang, aku membongkar tas make up-ku. Mengoles pelembab, foundation, eyeliner, blush-on dan lipstick!


 


 


Ya ampun!, apa-apaan ini?


 


 


Aku menatap diriku di cermin.


 


 


Tidak…


 


 


Aku tidak sedang janji kencan dengan seseorang sampai harus berdandan selengkap ini! Dia hanya Harrish, sekali pun dia bosku! Dan aku selalu tampil anggun (?) di depannya.


 


 


Tapi, aku benci dia mengacaukan hari-hariku yang tenang. Bahkan di rumahku sendiri!


 


 


Aku merengut memandangi bayanganku dan dengan kesal menghapus semua yang kutempel di wajahku! Yang benar saja, aku tidak sedang bekerja! Ini rumahku!


 


 


Yah, seingatku dia juga tidak suka melihatku berdandan. Ah, dia pernah menghapus lipstick di bibirku dengan paksa di saat aku merasa diriku cantik.


 


 

__ADS_1


Di luar sana, dia hanya menunggu bicara denganku setelah itu pergi. Untung semalam Evania menelponku dan aku tahu apa yang mungkin bisa kukatakan –tanpa mengurangi rasa hormat, sekalipun dia bosku.


 


 


Ya, aku harus tetap tenang. Poker-face.


 


 


Aku melangkah keluar dari kamar dengan yakin. Ibu dan Sekar pasti heran, tidak biasanya aku mandi sampai dua jam… nanti mereka malah berkesimpulan lain saat melihatku berdandan.


 


 


Benar-benar serba salah!


 


 


Aku mendengar tawa Sekar dari dapur. Tawa gembira seolah ada sesuatu yang begitu menyenangkan.


 


 


“Seingatku sih Mas Harrish nggak suka mie instan," suaranya terdengar jenaka. "Waktu itu kan Mas Harrish pernah bilang sama aku kalau dari kecil memang nggak pernah makan mie instan. Katanya bisa sakit usus buntu”


 


 


“Oh ya ?” Harrish terdengar menanggapinya serius.


 


 


Aku menemukan mereka berdiri di depan kompor dan Seperti biasa, Sekar lagi-lagi masak mie goreng instan kesukaannya untuk makan pagi.


 


 


“Aku dari kecil suka makan mie, tapi nggak pernah sakit usus buntu," sambung Sekar, bercandanya semakin menjadi sampai dia tidak sadar aku berdiri di belakang mereka mendengarkan dan bingung.


 


 


“Kapan saya pernah bilang gitu ?” tanya Harrish.


 


 


“Mas Harrish mana ingat !” Sekar mulai terdengar sok-sok an. “Dulu kan sering main ke sini kalau Mbak Sabina lagi libur kuliah…”


 


 


Harrish terdiam.


 


 


 


 


Untuk apa?


 


 


Kenapa semua itu seolah menjadi penting bagi Harrish setelah dia pernah mengatakan padaku, bahwa keadaannya sudah jauh berubah? Dan juga dengan alasan itu dia pergi dariku?


 


 


Aku tidak tahu harus bagaimana. Semuanya jadi makin membingungkan. Semua jawaban dari pertanyaan yang mungkin ingin dia ajukan padaku, buyar dalam kepalaku, melihat dia tampak sudah menemukan celah lain untuk mengungkap segalanya.


 


 


Aku bersandar ke pintu dengan lemas, sampai kurasakan seseorang menggenggam bahuku.


 


 


“Kamu nggak makan dulu, Bin ?” tegur Ibu.


 


 


Seketika kedua orang yang asyik berbincang itu menoleh ke belakang.


 


 


Aku tahu ibu sengaja bersuara, agar aku tidak semakin gelisah memandangi mereka.


 


 


“Eh, Mbak… aku udah bikinin mie goreng nih," kata Sekar. "Enak lho!”


 


 


Aku mengangguk, lalu melirik Harrish yang beranjak dari tempatnya semula untuk ikut duduk di meja makan bersama aku dan ibu.


 


 


Sekar mulai menyajikan mie goreng dengan piring yang ia bagikan kepada kami seperti pengurus rumah tangga sungguhan.


 


 


Aku kembali gelisah. Duduk di ruang yang sama, satu meja dengan Harrish seperti ini, mengembalikan kilasan di masa lalu, di mana aku dan Sekar sibuk menyiapkan makanan dan Harrish menunggu. Aku menaruh piring berisi makanan dan kami mulai duduk bersama membahas hal-hal tidak penting yang ajaibnya bisa membuat kami tertawa.

__ADS_1


 


 


“Assalamuaikum…," suara seorang ibu-ibu terdengar dari pintu depan. Ada tamu yang mengharuskan ibu untuk menghampirinya dan meninggalkan kami.


 


 


Aku menatap ke segala arah, kecuali sisi depan yang membuatku berhadapan langsung dengan Harrish yang tampak sama denganku. Mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi canggung. Jika ingin bicara, mungkin kami harus menunggu saat yang tepat, sampai Sekar sama sekali tidak bisa menguping karena aku yakin dia sangat mau tahu dengan urusan pribadiku.


 


 


“Ayo dimakan !” kata Sekar setelah sepiring mie goreng terhidang di hadapanku dan Harrish.


 


 


Harrish tampak ingin memakannya.


 


 


“Jangan dimakan," kataku. "Nanti alergi”


 


 


Harrish melongo.


 


 


Aku menatapnya serius. "Itu alasannya kenapa Mas Harrish nggak pernah makan mie instan. Bumbunya, bisa bikin alergi," jelasku.


 


 


Aku dengar Sekar cekikikan seolah itu lucu. Ya itu memang tidak lucu.


 


 


“Saya nggak yakin," kata dia, sambil tetap makan mie instan itu.


 


 


Tiba-tiba kami didatangi. Ada dua orang ibu-bu yang sebenarnya tidak asing bagiku –tetangga sebelah yang biasa bertandang ke rumah untuk sekedar ngobrol.


 


 


“Duh, kamu, Bin… pulang ndak pernah bilang-bilang toh…," sapa Ibu Narti, tetangga ujung gang. "Udah lama Ibuk ndak lihat kamu. Tambah cantik aja kamu, Ndhuk…”


 


 


Aku berdiri dari kursiku tersenyum, menghampiri mereka untuk salaman.


 


 


“Iya nih. Kalau ndak ada kejadian tadi malam juga  kami ndak bakal tahu lho…," kata ibu yang satu lagi yang aku lupa namanya tapi dia tinggal dua rumah dari sini.


 


 


Kenapa tiba-tiba mereka datang?


 


 


Oh, aku mendapati mereka tengah memandangi Harrish –seolah inilah titik yang menarik mereka untuk datang. Sudah kuduga, kejadian tadi malam pasti lumayan heboh di sekitar sini. Makanya mereka datang untuk memastikan.


 


 


“Ini suami kamu, toh ?” tanya Ibu Narti.


 


 


Ya, mereka masih salah paham. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa status kami sudah berubah. Tapi, keadaan yang sekarang menunjukan bahwa kami masih berada di dalam ikatan itu.


 


 


“Wah, masih sama gantengnya kayak dulu ya…,"


 


 


Ah, si ibu itu mulai centil. Walaupun hanya menggoda, aku tetap terganggu.


 


 


Mereka datang hanya untuk memastikan aku datang dengan suamiku. Oh, mungkin saja sudah banyak yang curiga telah terjadi sesuatu padaku di Jakarta. Karena pernikahan kami yang dadakan dan semua warga tahu kalau Harrish seorang anak konglomerat –intinya status sosial adalah masalah serius. Ditambah kejadian semalam yang bikin kampung jadi heboh. Kalau Harrish tidak dibawa ke sini sudah pasti dia akan dijadikan bulan-bulanan pemuda siskamling.


 


 


Tapi, kenapa?


 


 


Kenapa di saat aku sudah ingin memberitahukan keadaanku yang sebenarnya pada dunia, dia malah membuatku kembali berpura-pura –parahnya, kali ini kami harus bertingkah seperti sedia kala?


 


 


Ya Tuhan….apa aku bisa bertahan?

__ADS_1


__ADS_2