
Taksi yang membawaku berhenti tepat di depan pintu khusus karyawan yang ada di parkiran. Aku menurunkan kaki kananku yang masih dibalut perban lebih dulu, sebelum ujung tongkatku menyentuh aspal parkiran yang kasar. Setelah benar-benar yakin, kaki kiriku mulai menyeimbangkan tubuhku keluar dari dalam taksi yang mengantarku.
Aku tidak begitu yakin akan melangkah dengan tegap begitu berada di dalam. Tapi, aku sudah muak bersembunyi seperti pengecut. Aku tidak bersalah. Aku bukan seorang pengacau. Itulah yang berulang kali kutegaskan pada diriku sendiri. Aku masih akan bekerja sesuai dengan kemampuanku.
Sebuah lift menuntunku ke lantai tiga di mana kantorku berada.
Tepat seperti dugaanku, setiap mata yang mengenalku akan memandangiku, memelototiku, seakan aku mengenakan pakaian yang salah atau baru pulang dari pesta semalam di mana Cinderella kehilangan gaun cantik dan sepatu kacanya. Lalu mereka berbisik satu sama lain.
Biar saja.
Aku tetap melangkah, meskipun tertatih dengan sebatang tongkat yang membuatku tampak tidak berdaya. Hanya sementara, pikirku, menguatkan hati untuk melangkah dan mendorong pintu di mana mungkin aku akan melihat Harrish lagi.
Aku sudah siap. Aku bisa mengatasinya.
Aku kembali mengambil tempat di kursi yang sudah cukup lama kutinggalkan. Aku memang merindukannya. Terus terang, ini adalah pekerjaan terbaik yang pernah kumiliki sekaligus pekerjaan pertama yang mengesankan. Tiba-tiba aku ingin kembali menjadi sibuk mengurus segala hal seperti menyusun pertemuan dan mengurus keperluan Sayangnya, aku punya keterbatasan sekarang –walaupun tidak lama, tapi cukup membuatku sedih.
Selagi menghidupkan komputer, seseorang tiba-tiba membuka pintu.
Harrish!
Biasanya aku langsung berdiri tegap untuk menyambutnya. Tapi, sekarang aku butuh waktu hanya untuk meraih tongkatku dan berdiri.
Ternyata bukan Harrish yang melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Melainkan Tanti yang membuatku jadi tak berkutik karena dia menggendong seorang anak kecil berusia tiga tahun –buah cintanya dengan Harrish. Anak itu gagah sekali, seperti ayahnya.
“Harrish ada ?” tanya dia sambil lalu dan membuka pintu kantor Harrish seketika.
Aku berusaha mengejar. Aneh, bila aku berusaha menghentikannya. Tapi, aku hanya tidak tahu apa Harrish sudah datang atau belum. Pintu kembali menutup begitu wanita itu masuk bersama putranya. Dan aku terdiam di hadapannya… karena aku bisa mendengar suara percakapan yang samar sebagai pertanda bahwa Harrish sudah berada di dalam.
“Aku sama Alfie mau belanja di mall sebelah," suara Tanti terdengar berbicara. "Kita mau ngajakin Daddy nih…”
Aku merapatkan pintu itu, supaya tidak mendengarkan apa-apa lagi. aku kembali duduk di kursiku, meskipun semangat pagiku lenyap seketika. Tapi, sudahlah, aku akan terbiasa dengan sendirinya.
Sepuluh menit kemudian, pintu itu terbuka. Tanti dan balitanya keluar lebih dulu sebelum Harrish yang menyusul, lalu cukup terkejut menemukanku. Tapi, segera ia mengalihkan perhatiannya untuk menggendong putranya –ya, itu membuatku hanya bisa tertunduk sampai mereka bubar.
“Ya udah, kalau gitu kita pergi dulu ya, Daddy…," kata Tanti sambil melambai-lambaikan tangan bocah kecil yang tampak tidak mau berpisah itu.
Mereka keluarga yang utuh. Dan aku membatu seperti patung, memandangi mereka tanpa ekspresi dengan nanar.
“Makasih…," ucap wanita itu saat ia menoleh ke arahku.
__ADS_1
Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu itu ditujukan untukku. Lalu ia menghilang di balik pintu keluar. Lalu hening selama beberapa saat.
“Kamu sudah sembuh ?” tanya Harrish tiba-tiba.
Aku mulai memperhatikan bahwa kelihatannya dia bersikap normal. Paling tidak itulah yang kubutuhkan.
Aku mengangguk.
“Bagus kalau gitu…," katanya, sebelum kembali masuk ke ruang kantornya.
Aku menghembuskan nafas panjang. Untung segera berlalu dari hadapanku…
***
Jam dua belas, waktunya makan siang. Biasanya, telponku akan berdering. Jessica menelpon untuk makan siang eksklusif dari Irish yang khusus memasak menu spesial untuk kami. Tapi, tentu kami harus menyelinap ke kitchen. Ya, aku merindukannya. Tapi sekarang aku harus membiasakan diri makan di kantin karyawan dengan makan siang jatah yang sudah disiapkan di meja prasmanan.
Aku mengambil piring styrofoam pada satu tumpukan untuk mengambil nasi. Tapi, tiba-tiba benda itu terjatuh dari peganganku. Aku berniat untuk meraihnya, tapi… aku tidak bisa… aku tidak bisa bertahan dengan satu kaki.
Sial, ujung jariku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Ada banyak orang di sekitarku yang lalu lalang dan mengantri, tapi tidak seorang pun yang membantuku mengambilnya.
“Honey, kamu ngapain sih mungutin sampah? Bikin eyke sebel…," tegur seseorang yang tiba-tiba menarik tubuhku untuk kembali berdiri. Suara dengan gaya yang khas itu –kemayu dan melambai, membuatku amat lega. Irish mengambilkan piring Styrofoam itu lalu membuangnya ke tong sampah. "Pergi sama eyke aja, Cantik….," ajaknya sambil menggangeng lengan kiriku. Ia tampak mengabaikan orang-orang yang sibuk mengulitiku sejak tadi.
Ya, Irish kembali membuatkanku menu makan siang spesial –khusus untukku.
Ternyata masih ada yang peduli padaku.
“Seneng deh bisa lihat yey lagi… eyke kirain si Prince Charming itu udah mecat yey juga… eyke sampai kepikiran… tau nggak sih ?” katanya. "Eyke nggak punya temen lagi, jeung…”
Aku membalasnya dengan tersenyum hampa. Apa Irish tahu apa yang terjadi padaku dan Jessica sekarang?
Tapi, sebutan Prince Charming itu agak menggelitik. Sejak kapan ia menyebut orang yang fotonya ia suruh lempar dengan telur adalah Prince Charming; bahkan Jessica sampai terinspirasi untuk melemparnya langsung dengan telurs secara terang-terangan?
Aku diam.
“Jeung Jessica emang kelewatan, Chin…," katanya. "Temen nggak bakal mau jelek-jelekin teman sendiri sampai kayak gitu…”
Aku masih belum ingin berkomentar soal Jessica sekarang. Aku ingin melupakannya karena itu hanya membuatku kembali terpuruk.
“Tapi, eyke jadi heran, Chin. Yey beneran ada hubungan sama si big boss ?” tanya dia, kelihatan penasaran. "Kenapa bisa sih? Yey kenal ama eyke… yey kan lebih suka ama brondong daripada yang agak tuir gitu, jeung…”
__ADS_1
Irish membuatku tertawa. Tapi, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi ingin berterus terang. Setidaknya menjawab rasa penasarannya. Agar ia tahu bahwa posisiku sekarang bukanlah seorang perempuan yang membuat Harrish pisah ranjang dengan istrinya. Gossip belakangan semakin keterlaluan padaku. Tapi, dengan memberitahu satu orang saja kebenarannya, gossip itu tidak lagi membuatku gelisah berada di keramaian. Untuk selanjutnya terserah.
***
Aku kembali ke kursiku, di belakang meja dan mulai mengerjakan laporan harianku. Aku lega, tidak terlalu banyak pekerjaan yang menghampiriku namun aku jadi sedikit curiga.
Tiba-tiba telponku berbunyi. Kode DIREKSI berkedip-kedip di layar LED-nya.
“Halo, selamat siang," sapaku begitu mengangkat panggilan itu.
“Ke ruangan sekarang," perintah Harrish, cepat sebelum telponya langsung ditutup di ujung kalimat singkatnya.
Ya, aku segera meraih tongkatku, dan berdiri dari kursi. Aku tidak perlu mempersiapkan diri hanya untuk berdiri di depannya tanpa cela. Karena ada kekurangan yang bisa dilihat dengan jelas sekarang.
“Kamu sudah benar-benar sehat ?” tanya Harrish padaku, dan ia duduk di kursinya bergaya ala big boss. Dia tampak mengendalikan udara di sekitar sini menjadi menegangkan bagiku.
“Masih penyembuhan, Pak," jawabku dengan yakin. "Tapi, nggak apa-apa”
“Sabina, berjalan aja kamu sudah susah," kata dia mengingatkan keterbatasanku. "Kamu nggak akan produktif seperti dulu…”
“Tapi, hanya sementara, Pak…," aku bersikeras.
“Urat kaki kamu sobek !” dia mengingatkan lagi dengan saura lebih keras, hingga aku benar-benar terdiam dan tertunduk. “Jangan kamu kira aku nggak tahu!”
Terus terang, aku agak terkejut. Ternyata dia tahu…
“Aku nggak bisa maksa kamu untuk tetap kerja di sini…," katanya. "Walaupun kamu mau… tapi fisik kamu nggak akan sanggup! Belum lagi gossip belakangan yang bikin kamu jadi bulan-bulanan”
“Aku nggak peduli. Aku nggak takut…”
“Ini bukan masalah kamu takut atau berani, " tegasnya. "Aku nggak bisa membiarkan ini lebih lama…”
Apa maksudnya?, aku menatapnya bingung.
“Kamu dipecat, Sabina," kata dia dan aku berharap aku tidak salah dengar.
Aku masih membeku di depannya. Masih mencoba memahaminya. Dipecat? Akhirnya aku juga dipecat?
“Iya, kamu dipecat. Mulai besok kamu nggak perlu lagi harus pergi ke kantor," ia memberi peringatan itu dengan jelas.
__ADS_1
Ya-Tu-han, akhirnya-aku-dipecat!